THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Teror belum berakhir


__ADS_3

"Mama mau nyusul papa." Ucap mama Sofi sambil beranjak dari duduknya. Kemudian berjalan keluar kamarnya, menyusul sang suami yang sudah tak terlihat lagi wujudnya.


Erina terperanjat, berarti dia akan sendirian di kamar mamanya itu? Oh tidak tidak! Bagaimana kalau nanti hantu itu muncul lagi? Hiiii.


"Ma, jangan tinggalin Erina. Tunggu!" Melempar bantal sembarangan, dia berteriak memanggil manggil mamanya minta jangan di tinggalkan.


***


Erina menyembunyikan dirinya di balik tembok pintu kamarnya. Masih terngiang bagaimana rupa hantu menyeramkan itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Sangat mengerikan. Ia berharap ini adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan makhluk itu.


Mama Sofi dan papa Heri terdengar sedang berdebat kecil di dalam kamar Erina.


"Orang nggak ada apa-apa juga ma. Anak itu mimpi kayaknya." Ucap papa Heri. Erina yang mendengar itu merasa tak terima, jadi menurut ayahnya Erina sedang berbohong begitu? Padahal Erina sudah ketakutan setengah mati sekarang.


"Tadi beneran ada pa. Pas habis tutup jendela Erina mau balik lagi ke kasur. Tau-tau hantunya udah ada di depan Erina." Berkoar dari tempat persembunyiannya.


Papa Heri menoleh ke arah jendela saat merasa hembusan angin menampar pipinya.


"Itu jendelanya masih ke buka Er! Kamu nggak jadi menutupnya tadi?"


Erina melongok, menatap mama dan papanya.


"Erina udah tutup tadi pa." Jawab Erina.


"Terus kenapa jendelanya bisa kebuka lagi?" Tanya Papa Heri. Erina sendiri merasa aneh, padahal dia ingat betul jika dirinya telah mengunci jendela itu tadi sebelum di sapa oleh hantu wajah datar itu. Dan, kejanggalan lain muncul saat Erina ingat jika sebelum tidur pun jendela kamarnya sudah ia kunci, namun saat dia terbangun karena mimpi buruk, jendelanya sudah terbuka.


"Kayaknya ada orang yang sengaja menakut-nakuti kamu. Dan orang itu kabur lewat jendela." Mama berspekulasi.


"Hah? Masa iya?" Tanya Erina tak percaya.


"Mama kamu benar. Atau jangan-jangan orang itu adalah orang yang sama dengan yang meneror kita belakangan ini?" Tanya papa.


Erina jadi merinding sendiri, ia mengusap tengkuk yang bulunya sudah pada berdiri semua sedari tadi. Kenapa sih? Hidup keluarganya jadi tidak bisa tenang belakangan ini? Apa sebenarnya yang si peneror itu inginkan? Apa keuntungan yang dia dapatkan dengan meneror keluarga Erina? Erina benar-benar tak habis pikir.


"Kita harus cari Sari secepatnya pa! Mama yakin ini ada sangkut pautnya sama dia. Teror ini bermula setelah papa berusaha ngejar dia kan?" Ucap mama, wajahnya sudah terlihat panik.


"Iya ma. Papa akan berusaha lebih jeras lagi untuk mencari keberadaan Sari." Jawab papa.


"Ya sudah. Kamu lanjut tidur disini. Jangan menganggu mama sama papa." Seru papa Heri kemudian.


"Nggak mau pa. Plis Erina tidur di kamar mama ya malam ini. Pliiis." Sudah memasang wajah melas, siapa tau saja papanya kasihan.


"Tidak bisa!" Tegas papa Heri.


"Terus nanti kalau makhluk itu datang lagi gimana?" Merengek.


"Kamu tidur di kamar Baim saja!"


Erina mencebik. Tapi, apa boleh buat. Daripada dia harus tidur sendirian di kamarnya yang nyaman namun kini berubah menjadi horor.


***


Pagi harinya, Erina kembali ke sekolah dengan kantung yang terlihat jelas di bawah kedua matanya. Setelah kejadian mengerikan semalam, Erina tak benar-benar bisa tidur. Ada dua ketakutan yang ia rasakan.

__ADS_1


Pertama takut mimpi buruk itu terulang lagi, kedua takut kalau makhluk itu kembali muncul di hadapannya.


Perempuan itu menguap beberapa kali, rasa kantuk terua saja menyerang. Dia melipat tangan di atas meja, lalu menenggelamkan wajahnya disana. Boleh kan tidur sebentar saja sebelum guru yang akan mengajar datang?


"Beb, pa Zian udah datang tuh!" Via menyenggol bahu Erina, menyuruhnya untuk mengangkat kepala.


Namun, sahabatnya itu ternyata sudah berpindah ke alam mimpi sehingga senggolan Via sama sekali tidak berpengaruh.


"Ppsst!" Bisik-bisik tetangga pun tak mengusik tidur Erina.


"Oke anak-anak, kita absen dulu ya." Ucap pak Zian.


Via menepuk keningnya sendiri. Bisa mati sahabatnya itu kalau sampai ketahuan tidur dikelas. Tapi untuk membangunkan, Via pun tak tega. Setelah mendengar cerita Erina panjang lebar tentang kejadian semalam, Via merasa tak berguna sebagai seorang sahabat. Ia tak bisa membantu apa-apa untuk menyelesaikan masalah sahabatnya itu.


"Abdul Aziz."


"Hadir pak!"


"Albiansyah."


"Hadir pak."


"Ameera Sifanya?"


Tak ada sahutan. Via jadi merasa sedih saat pak Zian menyebut nama Ameera, keadaan kedua sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. Erina yang kerap mendapat ancaman, Ameera yang entah dimana rimbanya.


"Kemana Ameera?" Tanya pak Zian.


"Ameera nggak masuk pak dari kemarin." Devan yang menjawab.


"Tidak ada pa. Saya juga tidak tau kenapa."


Apa? Jadi Devanpun belum tau bagaimana keadaan Ameera sekarang? Lantas, apa hasil dari pencariannya kemarin di rumah orang tuanya Ameera?


Via semakin cemas.


"Tanya aja ke Violla pa, dia kan adiknya Ameera." Ucap Via. Kalau pada dirinya mungkin Violla tidak mau menjawab dengan benar. Tapi kalau kepada guru, kan dia tidak mungkin tidak bicara jujur.


"Iya, Ameera kenapa Violla?" Tanya pak Zian.


"Saya tidak tau pa." Menjawab dengan ogah-ogahan.


"Ya sudah. Kita lewat saja."


Via menghembuskan nafas kecewa. Ternyata cara itu tidak berhasil mengorek informasi dari Violla.


"Anggita Ikhfina Azhari?"


"Hadir."


"Bayu Saloka?"


"Ada."

__ADS_1


"Cindi Aurora?"


"Ada pak."


"Deni Wijayanto?"


"Hadir."


"Devan Mahendra."


"Hadir pak."


"Erina Hana Salsabila?"


Hening. Pak Zian mengerutkan alisnya, kemudian mencari keberadaan si pemilik nama itu. Matanya terbelalak saat mendapati Erina sedang tertidur di bangkunya.


Guru Matematika itu berjalan mendekati bangku Erina.


Glek!


Via menelan saliva nya dengan kasar saat melihat kemarahan di wajah pak Zian. Apa yang akan dia lakukan kira-kira. Erina pasti tidak akan selamat hari ini.


Pak Zian mengambil ancang-ancang lalu melayangkan tangannya ke udara.


BRAKKKK!


Dengan kekuatan maksimal pak Zian menggebrak meja Erina.


"Aaaaaaaaaaa." Erina berteriak, terlonjak kaget saat terdengar hantaman keras memukul benda padat. Seketika kesadarannya mulai pulih, masih dengan dada yang kembang kempis, rasanya seperti sport jantung. Untung saja dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. kalau iya, maka sudah dipastikan Erina akan lewat.


***


Disini Erina sekarang, di tempat yang ramai jika jam istirahat tiba namun sangat sepi jika pelajaran sedang berlangsung seperti sekarang ini. Hukuman yang diberikan pak Zian tidak kaleng-kaleng. Erina harus membersihkan toilet perempuan sampai mengkilap.


Astaga!


Benar apa kata mamanya, kalau tidak mandi pagi pasti bisa terkena sial. Dan Erina sedang merasakannya saat ini.


Setelah membersihkan kloset dan lantainya, Erina beralih mengelap cermin besar yang menggantung di dinding, sudah buram karena banyak uap yang menempel. Erina bisa melihat pantulan dirinya di cermin itu, mata bengkak menjadi hal yang paling menonjol di wajahnya.


Jika bicara tentang wajah, Erina jadi ingat kejadian semalam. Dimana dengan jelasnya ia melihat wajah yang tak memilki mata, bibir dan hidung. Dia bergidig ngeri, lalu berusaha untuk tak mengingatnya lagi. Itu hanya akan membuat dirinya semakin parno. Padahal ia sendiri tau kalau itu bukanlah hantu, melainkan ada orang yang berusaha untuk menakut-nakutinya.


Tetap saja ngeri.


Swing!


Erina merasakan hembusan angin menerpa tubuhnya. Merinding. Spontan dia membalikan badan untuk melihat siapa yang baru saja lewat di belakangnya, namun ia tak melihat keberadaan siapapun disana. Bahkan dia tak melihat ada orang yang melintas di pantulan cermin.


"Siapa?" Suaranya menggema di setiap sudut toilet. Setelahnya terjadi keheningan yang luar biasa.


Kenapa mendadak suasananya berubah menjadi seram seperti ini? Padahal ini kan siang?


Dia berusaha untuk melupakan tentang ketakutannya, berpikir harus cepat-cepat menyelesaikan hukumannya agar cepat pula keluar dari toilet itu. Namun saat membalikan badan dan menatap cermin, Erina mendapati sosok berpakaian putih sedang berdiri di belakangnya. Hampir saja Erina terjatuh karena saking kagetnya. Namun saat sadar jika itu adalah sosok yang dia kenal, ketakutan Erina berubah menjadi kemarahan.

__ADS_1


________________


Hayoo, siapa itu yang berdiri di belakang Erina? Tetap tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2