
"Astaga guys! Fokus fokus! Kalian lupa tujuan kita datang ke tempat ini buat apa?" Erina jadi kesal sendiri karena Via dan Albi sama-sama kompak untuk menjahili dirinya.
"Yaah, si Dea nya jadi hilang lagi kan. Gara-gara siapa coba?" Ucap Erina setelah tak mendapatkan Dea di tempat sebelumnya dia berada. Kedua preman yang bersama Dea juga ikut menghilang.
"Iya, si Dea pergi kemana ya?"
"Kita nggak boleh kehilangan jejak, kalau perlu kita labrak dia sekarang juga." Ucap Erina dengan menggebu, tangannya terkepal, sudah sangat gatal ingin menyemprot Dea dengan caci dan maki.
"Nggak Er, jangan sekarang. Ini terlalu bahaya, yang kita hadapi ini adalah pembunuh. Mereka nggak segan-segan menghabisi nyawa lawannya. Apalagi, ini kawasan mereka, kita nggak akan menang. Lebih baik besok kita introgasi Dea di sekolah, itu udah ada bukti fotonya kan tadi?" Ucap Albi mengenukakan pendapatnya.
"Cakep loe Bi. Gue setuju sama pendapat loe. Gimana kalau nanti kita yang malah di serang sana orang-orang suruhannya si Dea itu? Bisa-bisa kita bukannya pulang ke rumah malah ke rumah sakit. Hiiiii." Via bergidig ngeri.
Erina sejenak terdiam, mencoba mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Albi. Cukup masuk akal. Laki-laki itu bisa berpikir jernih meskipun dalam situasi menegangkan seperti ini. Albi dapat berpikir dengab bijak sebelum bertindak. Ahh, kenapa Erina baru tau sekarang. Kemana saja dirinya selama ini?
Ya, seperti itulah. Tak kenal maka tak sayang. Kita tak bisa menilai seseorang hanya dari satu sudut pandang saja, tanpa mengetahui seseorang itu dari sudut yang lain.
"Oke, kita labrak dia besok aja di sekolah Jadi, sekarang kita mau kemana lagi?" Tanya Erina pada Albi.
"Kita cari lagi si Dea, kita harus tau dimana rumahnya." Jawab Albi.
"Loe bener. Tapi bukannya loe pernah nganterin dia ke rumahnya ya waktu pulang dari Kiara Condong itu?" Tanya Via.
"Gue cuma nganterin sampai depan gang yang tadi aja." Jawab Albi. Via manggut-manggut tanda mengerti.
***
"Nah loh, ini kita harus ambil jalan yang mana nih? Ke kanan, ke kiri atau lurus?" Via di hadapkan dengan pilihan jalan yang sulit. Apalagi saat tak menemukan tanda-tanda keberadaan Dea.
"Iya nih Bi, kita harus kemana sekarang?" Tanya Erina. Yang ditanya malah garuk-garuk tengkuk, pertanda jika dirinya juga merasa bingung.
"Gue juga nggak tau." Albi berkata dengan pasrah.
"Kita udah bener-bener kehilangan jejak." Ucap Erina fruatasi.
Weeek! Weeek!
Astaga!
Suara apa itu? Kenapa perasaan Erina mendadak jadi tidak enak mendengar suara itu. Via dan Erina menoleh ke bawah, sepertinya suara tadi berasal dari sana.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya Via saat melihat ada pasukan angsa yang sedang berkerumun mengelilingi mereka.
"Awww!" Via menjerit kesakitan saat salah satu angsa itu mematuk betisnya.
"Huaaa, lari beeeb!" Erina berteriak, tak ingin dirinya yang menjadi korban patukan angsa itu selanjutnya. Diapun secepat kilat ngacir dari tempat itu.
"Huaaa, Tunggu gue beeeb!" Via dengan langkah seribu mengambil ancang-ancang, sejurus kemudian dia berlari untuk menyusul Erina yang sudah berada di ujung gang.
"Hey, kalian mau kemana?" Teriakan Albi bahkan tak di hiraukan kedua perempuan itu.
"Astaga! Ketimbang angsa doang." Albi geleng-geleng kepala sambil menatap Erina dan Via yang lari kucar kacir. Albipun bergegas menyusul mereka, melewati angsa-angsa itu begitu saja.
Tanpa mereka ketahui, Dea di balik tembok sana tersenyum saat melihat Erina dan Via lari terbirit-birit. Entah apa arti dari senyumnya itu. Ternyata Dea tau kalau dirinya sedang di buntuti saat sepatu Erina sedikit keluar dari tempat persembunyian mereka tadi.
Diapun cepat-cepat pergi setelah urusannya di tempat itu selesai.
***
”Haduh, halah, cape banget gue." Erina menghentikan lariannya saat sudah tiba di depan gang, tepat dimana motor Via dan Albi terparkir. Memegangi kedua lututnya dengan tangan, ngosngosan. Via sampai beberapa detik setelahnya. Dia menirukan gaya Erina.
Nafas keduanya terdengar memburu, lelah karena mereka berlari dengan segenap kekuatan yang mereka miliki.
"Kalian kenapa lari sih?" Tanya Albi yang baru tiba. Dia terlihat baik-baik saja tidak seperti Via dan Erina.
"Loe nggak liat kaki gue di patuk sama angsa tadi? Sakit banget tau. Gimana kalau gue rabies coba?" Jawab Via sambil memperlihatkan betisnya yang kena patuk tadi.
"Itu anak beneran tinggal di dalam gang sana apa? Gila serem banget." Tanya Erina.
"Iya kali, kalau gue sih harus mikir seribu kali buat tinggal di gang sempit kayak gini." Sahut Via.
"Ini sih bukan pemukiman warga namanya, tapi udah kayak kebun binatang tau nggak." Jawab Erina.
"Heeh lah, semua macam binatang ada di sana. Hiiii." Lalu Via dan Erina kompak bergidig.
"Kalian itu berlebihan tau. Udah lah, kita balik aja sekarang. Lagian ini udah mau sore juga, kita harus banyakin belajar biar lulus ujian nanti." Ucap Albi yang langsung di setujui oleh Via dan Erina.
"Nggak mau-mau lagi gue ngikutin si Dea sampai ke tempat beginian."
***
__ADS_1
Malam itu, Erina duduk termenung di kamarnya seorang diri. Memikirkan semua yang telah berlalu di dalam hidupnya. Ameera kini telah menjadi cerita. Namun, kisah lain hadir setelah kepergian Ameera. Yaitu kisah tentang Albi.
Erina tak mengerti, terbuat dari apa Albi itu. Terkadang tawanya terdengar sangat menyebalkan, namun detik berikutnya senyumnya terlihat sangat menawan.
Dia menscroll foto-foto yang tadi berhasil di ambil oleh Via. Senyumnya mengembang saat melihat Albi yang sedang menatapnya dengan tatapan sehangat itu. Sorot matanta memancarkan cinta.
Albi terlihat lebih berkarisma jika sedang diam dan tak banyak tingkah seperti itu.
Astaga!
Apa yang Erina pikirkan? Kenapa pikirannya jadi ngelantur seperti ini? Tak seharusnya ia memiliki pemikiran seperti itu kepada Albi. Segera Erina menepis semua pikiran kotornya itu.
Ini semua tidak benar, pikiran Erina susah terkontaminasi gara-gara hasutan dari Via. Albi tampanlah, Albi baiklah, Albi perhatianlah, Albi bla bla bla.
Ada saja cara sahabatnya itu untuk membuat dirinya dan Albi semakin dekat.
Oke, lupakan Albi untuk saat ini. Mari kita fokus belajar untuk ujian nanti.
Erina mulai membuka buku pelajarannya, mencoba fokus meskipun terkadang wajah Albi tiba-tiba muncul di dalam buku itu. Erina segera menutup kembali buku itu agar bayangan Albi enyah dari pikirannya.
Meskipun dia berusaha untuk fokus, nyatanya hatinya mendesak untuk terus merindukan Albi.
Erina beralih pada buku berikutnya. Matanya menyipit saat sadar jika buku itu bukan miliknya. Itu adalah buku yang tempo hari ia pinjam dari Ameera. Malam itu ia belum sempat buka karena Ameera menelpon dan menyuruhnya untuk segera datang.
Tanpa di duga malam itu adalah awal kehancuran hidupnya.
Ameera. Dia pasti sudah tenang di sana. Ahh, entahlah dia merasa tenang atau tidak sementara pelaku pembunuhannya masih belum di temukan.
Sadar jika materi pelajaran yang di rangkum Ameera disana akan diikut sertakan dalam ujian nasional, Erina mulai membaca dan menghafalnya.
Namun saat memasuki halaman kedua, Erina dikejutkan dengan benda panjang tipis yang terselip di sana. Dahi perempuan itu mengerut, tangannya memungut benda kecil itu dan mengangkatnya ke udara, mendekatkannya tepat di depan mata untuk memastikan jika dia tidak sedang salah lihat.
Semakin di lihat-lihat, semakin Erina yakin kalau benda itu adalah.
"Test pack." Gumamnya pelan.
"Garis merah dua." Imbuhnya kemudian.
________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...