THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Selamat


__ADS_3

"Bi!"


Suara itu?


Albi sangat hafal dengan suara itu, suara merdu yang selalu terngiang dalam pikirannya baik itu pagi, siang ataupun malam. Suara itu terdengar lembut menyerukan namanya.


Lantas Albi menoleh saat ada sebuah tangan yang menyentuh bahunya, netranya beralih pada wajah si pemilik tangan.


"Er!"


Secepat kilat Albi berdiri dan reflek memeluk tubuh yang berada di hadapannya. Erina melingkarkan tangannya pada tubuh Albi.


"Loe beneran selamat kan Er? Gue nggak mimpi kan?" Tanya Albi tepat di telinga Erina.


"Iya Bi, loe nggak mimpi." Erina mengangguk dalam pelukan Albi.


Beberapa saat mereka merasai dan menikmati pelukan penuh haru itu. Albi mendekap Erina semakin erat, mengindikasikan jika dia teramat takut kehilangan perempuan yang sangat di kasihinya itu.


Antara sedih, bahagia dan rasa haru melebur menjadi satu di dalam kalbu. Mereka bisa merasakan debaran jantung satu sama lain dalam dekapan itu.


Perlahan Albi melepaskan Erina, beralih menatap wajah perempuan itu yang sangat berantakan.


"Gue nggak tau gue bakalan masih waras atau nggak kalau sampai loe nggak selamat. Maafin gue karena gue nggak bisa selamatin loe." Albi menangkup wajah Erina.


Erina memegang tangan Albi yang menyentuh pipinya.


"Nggak Bi, loe udah berusaha keras buat selamatin gue. Makasih buat semuanya." Ucapan Erina terdengar tulus.


Keduanya saling melempar senyum, antara senyum kebahagiaan dan senyum kesedihan tak bisa di pisahkan. Sekali lagi mereka saling berpelukan, menyalurkan seluruh rasa yang terendap di dalam jiwa.


Tak perduli dengan bau aneh minyak tanah yang keluar dari tubuh Erina.


Devan tersenyum hangat melihat Erina dan Albi, sedikit banyak dia mulai bisa menerima kenyataan jika Erina mencintai Albi, pun sebaliknya. Dirinya tak lebih hanya dijadikan Erina sebagai pelarian saat kecewa terhadap Albi.


Pelarian lagi, kenapa semua perempuan gemar sekali menjadikannya tempat pelarian? Entahlah, Devan pasti akan menemukan perempuan yang mencintainya dan yang ia cintai suatu saat nanti. Mungkin di kampus baru.


Papa Heri dan mama Sofi menatap hunian yang selama lebih dari 18 tahun menjadi tempat mereka bernaung dari teriknya matahari dan dinginnya hujan itu dengan pilu.


Kini semua itu sudah hancur dan menyatu dengan tanah. Tak ada yang tersisa selain kenangan indah tentang kebersamaan keluarga mereka. Papa Heri harus membayar semua kesalahannya di masalalu dengan harga yang sangat mahal.


Kemudian pasangan suami istri itu saling berpelukan, merasa bersyukur karena setidaknya mereka bisa selamat dan diberi kesempatan untuk tetap hidup. Harta bisa dicari, namun nyawa tak bisa kembali.


Mereka tau, karma pasti berlaku. Mungkin semua ini harus mereka lalui sebab dosa yang pernah mereka lakukan di masalalu. Mama Sofi dan papa Heri menerima dengan lapang dada dan berharap jika kejadian ini bisa menggugurkan sedikitnya dosa.


Mereka bertekad untuk memulai semuanya dari awal lagi, menjalani hidup baru dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Tentu saja tanpa melupakan sejarah.


Baim menangis sejadi-jadinya saat melihat rumahnya habis terbakar. Mama Sofi berusaha menenangkan bocah itu dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja selama mereka masih bersama.


Sesekali papa Heri menghapus air yang berhasil lolos dari pelupuk mata sang istri menggunakan ibu jarinya.

__ADS_1


Iqbal menyandarkan punggungnya pada pagar besi yang tak ikut terbakar itu, merasai lelah dan nyeri di seluruh tubuhnya. Sepertinya dia harus segera di larikan ke IGD setelah ini.


"Gimana sama Via?" Tanya Erina sesaat setelah Albi melepaskannya.


"Via udah di bawa sama polisi. Loe tenang aja, dia nggak bakalan nyakitin loe lagi mulai sekarang." Erina mengangguk mengerti.


"Apa badan loe ada yang sakit?" Albi meraba tangan Erina dari atas hingga bawah. Erina menggeleng lemah. Luka di tubuhnya tak seberapa dibandingkan saat dirinya melihat lebih banyak luka di tubuh Albi.


"Loe yang sakit Bi. Ini muka loe babak belur gini, tangan loe juga memar-memar kayak gini." Erina memegangi pipi Albi yang bonyok, bahkan darah di wajah Albi sudah muali mengering.


Albi tersenyum saat tangan Erina menyentuh pipinya. Sentuhan telapak tangan Erina terasa hangat menembus hingga ke rongga hatinya.


"Gue nggak apa-apa. Oh ya, gimana ceritanya loe bisa bebas?" Tanya Albi kemudian.


Erina melirik Dea yang sedari tadi terlupakan, Dea hendak pergi karena merasa malu telah ketahuan, dirinya sedari tadi memperhatikan Albi dan Erina yang terus saja berpelukan.


"Dea!" Seruan Erina menghentikan langkah Dea. Perlahan Erina mendekat ke arahnya.


"Dea datang di waktu yang tepat..."


***


Flash Back beberapa saat sebelum kebakaran terjadi.


Dea yang melihat Albi, Devan dan Iqbal bergulat dengan para preman merasa bingung harus berbuat apa.


Dea lantas kembali menghubungi polisi untuk menanyakan mereka sudah sampai mana? Kenapa belum sampai juga, sedangkan Dea melihat ada beberapa kompan minyak tanah yang tergeletak di teras rumah itu.


Dan Dea juga tidak melihat keberadaan Erina di sana. Sebenarnya siapa orang yang berusaha untuk menyakiti Erina itu? Kemudian Dea ingat akan terror yang kerap kali di dapatkan oleh Erina. Apa mungkin si peneror itu yang menculik Erina?


Lantas Dea berpikir untuk mencari tau, tak mungkin Dea masuk ke dalam saat orang-orang sedang berbaku hantam. Bisa jadi dirinya yang dijadikan mangsa oleh para penjahat itu.


Dea menyusuri halaman samping yang berhubungan langsung dengan halaman belakang. Saat tiba di halaman belakang rumah itu, dia dikejutkan dengan pemandangan dibalik jendela dapur yang tak tertutup gorden sepenuhnya.


Dimana orang yang sangat dia kenal sedang menampar Erina yang tubuhnya diikat. Orang itu adalah Via, iya Via. Sahabat Erina. Apa Dea sedang salah lihat?


Dea bersembunyi di balik pohon dan memperhatikan gerak-gerik Via di posisinya. Teriakan demi teriakan terdengar hingga ke telinga Dea. Via sedang memaki Erina.


Tapi kenapa? Bukankah selama ini hubungan keduanya terjalin dengan sangat baik?


Tunggu dulu! Jangan bilang Via adalah penjahat itu? Dia ingin melukai Erina begitu? Tapi kenapa?


Seribu satu pertanyaan berkerumun dalam pikiran Dea. Dea melihat Via dan perempuan paruh baya yang penampilannya seperti anak muda itu pergi. Perlahan Dea mendekati teras belakang rumah Erina itu, sedikit mengintip apa Via benar-benar sudah pergi?


Dan benar saja, Via sudah tak terlihat batang hidungnya. Terdengar suara jeritan Erina dari dalam sana yang menyentuh hati Dea.


"Tolooong! Viaaaaa!"


Rasa kemanusiaan dalam hati Dea tergerak, dia tak bisa tutup mata apalagi membiarkan orang yang sedang membutuhkan bantuan. Nalurinya mengatakan jika dirinya harus segera melepaskan Erina, bukan hanya Erina, ada 3 orang lain juga disana, satu di antaranya seorang bocah. Mendadak Dea jadi teringat akan adiknya dirumah.

__ADS_1


Apalagi saat sadar jika bocah itu adalah bocah yang pernah ia tolong waktu itu. Dia adalah adik Erina.


Dea memutar handle pintu di hadapannya, namun terkunci. Sejenak dia berpikir, apa yang harus dia lakukan? Memecahkan kaca jendela? Tidak mungkin, itu pasti akan menimbulkan bunyi berisik yang bisa saja mengundang para penjahat untuk datang.


Berpikir, berpikir!


Untung saja Dea memiliki otak yang cerdas, dia membuka jepit kecil yang tersemat di rambutnya.


Dan pintu pun berhasil terbuka, Erina dan kedua orang tuanya menoleh saat mendengar pintu terjelabak. Binar penuh harapan terpancar dari sorot ketiga pasang mata itu.


Bau menyengat yang berasal dari minyak tanah langsung menyeruak dan menusuk indra penciuman Dea tatkala pintu terbuka.


"Dea, tolong bantuin gue De, plis. Via mau membakar rumah ini."


"Apa?" Dea syok mendengar kata membakar. Api tidak bisa di jadikan bahan mainan.


"Iya, nanti gue jelasin. Sekarang tolong lepasin kita dulu. Waktunya nggak banyak."


Dea dengan segera melepaskan tali yang mengikat tangan, kaki dan tubuh Erina. Setelah berhasil, Erina membuka tambang yang membelenggu papanya, Dea melepaskan ikatan pada mama Sofi. Terakhir Baim.


"Ayo kita keluar sekarang! Sebelum rumah ini dibakar sama Via!" Erina memboyong keluarganya untuk keluar.


"Tunggu dulu Er, badan kamu habis di siram minyak tanah juga?" Tanya Dea saat mencium bau menusuk dari tubuh Erina.


"Iya." Jawab Erina.


Dea masuk ke kamar mandi yang ada di dapur itu, lalu kembali sambil menenteng satu ember berisikan air penuh. Dan...


Byuuur!


Tubuh Erina kini sudah basah kuyup karena Dea mengguyurkan seember air tadi padanya.


"Biar kalau ada api nggak menyambar badan kamu."


Dea benar, setelahnya, merekapun segera keluar. Dan saat mereka baru saja menginjakkan kaki di teras belakang, api dengan cepat menjalar. Beruntung Erina sudah disiram air oleh Dea sehingga sedikit banyak melunturkan minyak tanah itu dari tubuhnya.


Dan tiba-tiba saja....


DUAARRRRR!!


Sebuah ledakan terdengar dari dalam, tanah yang mereka pijaki terasa bergetar sampai-sampai membuat mereka hampir terjatuh. Mereka lantas menjauh dari kobaran api, tak mungkin mereka bisa keluar dari sana mengingat halaman belakang rumah Erina di kelilingi oleh pagar tembok yang menjulang.


Mereka hanya bisa berharap api segera padam dan mereka segera bisa keluar dari sana.


______________________


Jadi begitu ceritanya guys, maaf kalau nggak nyambung, ini hanya cerita fiktif karangan


author belaka...

__ADS_1


__ADS_2