THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Curiga


__ADS_3

"Siapa?" Suaranya menggema di setiap sudut toilet. Setelahnya terjadi keheningan yang luar biasa.


Kenapa mendadak suasananya berubah menjadi seram seperti ini? Padahal ini kan siang?


Dia berusaha untuk melupakan tentang ketakutannya, berpikir harus cepat-cepat menyelesaikan hukumannya agar cepat pula keluar dari toilet itu. Namun saat membalikan badan dan menatap cermin, Erina mendapati sosok berpakaian putih sedang berdiri di belakangnya. Hampir saja Erina terjatuh karena saking kagetnya. Namun saat sadar jika itu adalah sosok yang dia kenal, ketakutan Erina berubah menjadi kemarahan.


Erina berbalik badan dan menatap tajam perempuan yang kini berdiri di hadapannya.


"Heh Dea, loe ngapain ngagetin gue kayak gitu? Pake muncul tiba-tiba segala lagi, loe sengaja ya mau nakut-nakutin gue?" Erina menyemprot Dea dengan caci makinya.


Sejak kejadian penculikan Baim, entah kenapa Erina jadi sensi kepada Dea. Apalagi kedekatan antara Dea dengan Albi yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Membuat Erina semakin tak menyukai Dea.


"A aku cuma mau pipis kok." Sudah menjadi kebiasaan si Dea ini kalau bicara dengan sesama manusia pasti terlihat ketakutan. Semakin mencurigakan di mata Erina.


"Mendingan sekarang loe jujur deh sama gue. Loe kan yang selama ini neror-neror gue. Gelagat loe itu bener-bener mencurigakan." Ucap Erina dengan tegas.


"Nggak kok." Jawab Dea, dia menunduk semakin dalam.


"Kalau nggak, ngapain loe waktu itu ada di Kiara Condong?" Tanya Erina lagi.


"A... Aku..." Gelagapan Dea bicara, setelahnya tak ada lagi kalimat yang keluar dari mulutnya. Erina semakin geram dengan sikap tutup mulutnya Dea.


"Loe nggak bisa jawab kan? Hah?" Bentak Erina.


"Hiks... Hiks..." Eh buset, itu anak malah menangis. Dasar mental tempe, baru di gertak segitu saja sudah mewek. Erina semakin sebal kepada Dea.


"Nggak usah mewek. Kalau gue tanya itu dijawab pake kata-kata, bukan pake air mata!" Seru Erina sekali lagi.


"Hey! Er, loe kenapa marah-marah sama Dea?" Seseorang datang ke toilet dan menegur keduanya.


"Albi, loe ngapain pake masuk ke toilet cewek segala? Loe mau habis di gebukin hah?" Ucap Erina saat melihat lawan jenisnya masuk ke area perempuan.


"Tadinya gue mau ke toilet cowok. Tapi gue nggak sengaja denger loe marah-marah, pintunya nggak di tutup jadi gue masuk ke sini. Lagian loe kenapa lagi sih Er? Loe masih curiga sama Dea?" Jawab dan tanya Albi.


"Habisnya gelagat dia mencurigakan banget." Jawab Erina. Sedangkan Dea masih menangis sesegukan. Entahlah dia sedang ber-akting atau tidak. Rasa kasihan yang dulu sering ia rasakan kepada Dea, kini berangsur memudar.


"Gini aja deh, kita bicara nya diluar ya biar enak." Ajak Albi. Dia menggiring dua perempuan berbeda kepribadian itu keluar dari toilet wanita.


"Udah De, loe jangan nangis lagi. Maafin Erina juga ya!" Albi memegang pundak Dea sesampainya mereka di luar toilet. Dea mengangguk patuh.


Mata Erina membelalak saat melihat tangan Albi menyentuh Dea. Apa-apaan ini? Dia sengaja apa ingin memanas-manasi Erina. Erina tak bisa melihat pemandangan seperti itu di depan matanya. Menghindar mungkin lebih baik. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Erina berlalu pergi meninggalkan Albi yang sedang menguatkan Dea.


Albi tersadar saat Erina sudah tak ada disana. Belum juga Albi membuat dua perempuan itu berdamai.


"Er, tunggu!" Cegah Albi. Namun terlambat, Erina sudah menjauh dari pandangan matanya. Hendak mengejar, namun Dea menahan tangannya, sehingga niat untuk mengejar Erina dia urungkan.

__ADS_1


"Makasih ya." Ucap Dea lirih. Albi menatap tangan Dea yang menyentuh tangannya, entah apa yang dia pikirkan saat itu.


Cepat-cepat Dea kembali menarik tangannya, takut Albi merasa keberatan dengan sikapnya ini. Dan entah mendapat keberanian dari mana pula Dea bisa berbuat demikian.


"Emm, maaf." Salah tingkah Dea berkata.


"Nggak apa-apa. Jangan di masukin hati ya ucapan Erina yang tadi." Ucap Albi sambil tersenyum.


***


Hari yang sangat melelahkan bagi Erina, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, baru kali ini ia mendapatkan hukuman. Membersihkan toilet lagi. Setelah membersihkan diri dengan berendam di air hangat, kini Erina terlihat lebih fresh.


Giliran perutnya yang berdendang sekarang, sepertinya minta diisi. Baiklah, Erina akan menyumpal perutnya agar berhenti berdendang. Dia berjalan ke arah dapur, membuka kulkas untuk mencari cemilan yang mungkin bisa mengganjal perutnya di jam-jam tanggung seperti ini.


"Er!" Terdengar mama Sofi memanggilnya. Erina yang baru saja membuka pintu kulkas, harus kembali menutupnya. Dia beralih menatap sang mama yang berdiri di ambang pintu dapur.


"Kenapa ma?" Tanya Erina.


"Itu di depan ada temen kamu." Jawab mama Sofi.


"Siapa ma? Via atau Ameera?" Erina berharap Ameera yang datang, mengingat sahabatnya itu sudah dua hari ini menghilang tidak ada kabar.


"Bukan. Mama lupa nanya siapa namanya tadi. Tapi Baim seneng banget keliatannya sama dia." Jawab mama Sofi.


"Hah? Baim seneng sama dia?" Jadi penasaran, siapa sebenarnya yang datang?


Tunggu-tunggu. Apa yang mamanya bilang tadi? Kedai ice cream?


Seketika curiganya tertuju pada Albi, sebab waktu itu dia berjanji untuk mengajak Baim ke kedai ice cream. Apa iya Albi yang datang berkunjung? Tanpa menghiraukan lagi mamanya, Erina berjalan. Bahkan mama Sofi yang berdiri di ambang pintu dapur pun Erina lewati begitu saja. Ia ingin segera membuktikan ke curigaannya itu.


***


Erina keluar dari rumahnya, lalu mendapati Baim sudah nangkring di bagian depan motor matic yang terparkir di halaman. Dia sudah menduganya kalau yang datang pastilah Albi.


"Nanti Baim mau ice cream yang topping nya boba ya bang." Terdengar suara imut Baim berkata.


"Boleh. Asal kamu harus dukung abang sama kakak kamu ya!" Albi menyahut.


Hey! Apa-apaan dia ini? Apa maksudnya coba? Bukan kah dia sudah punya gebetan baru? Si introver itu? Erina jadi sebal dengan sikap plin-plan nya Albi ini. Segera Erina berjalan menghampiri keduanya dan menegur.


"Hey Baim, kamu nanti pergi ke kedainya bareng kakak aja, sama kak Via sama kak Ameera juga. Cepetan kamu turun sini!" Erina melambaikan tangannya, menyuruh Baim turun. Dia mengabaikan Albi, menganggapnya tidak ada.


"Baim nggak mau nanti. Maunya sekarang aja sama abang pengamen ini. Lagian kak Erina suka bohong, nanti Baim nggak jadi di ajak ke kedai ice cream nya." Ucap Baim.


"Ehh, ini anak di bilangin juga." Erina tak habis fikir dengan jawaban yang di berikan bocah itu.

__ADS_1


"Udahlah Er. Biarin aja, lagian juga gue kan udah janji waktu itu mau ngajak Baim ke kedai. Loe boleh ikut juga kok. Biar gue teraktir loe juga sekalian." Ucap Albi. Erina masih acuh.


Tanpa Albi menyuruhnya ikut pun Erina pasti akan menguntit, sebab mamanya tadi sudah berpesan. Lagi pula, kenapa sih Baim keras kepala ingin sekali pergi dengan Albi? Apalagi kekesalan Erina kepada Albi karena membela Dea tadi di sekolah masih belum hilang sepenuhnya. Lantas, Erina harus bersikap seperti apa kepada Albi nanti?


***


Baim memesan ice cream boba sundae, sedangkan Erina dan Albi sama-sama memesan rasa bery beans sundae. Jika Albi dan Erina melahap ice cream mereka dengan cukup tenang, maka lain halnya dengan Baim. Bocah itu dengan gerakan cepat melahap ice cream nya.


"Pelan-pelan dong Baim!" Tegur Erina.


"Harus cepet kak, nanti keburu cair." Pintar sekali menjawabnya, kenapa tidak bilang saja kalau ingin cepat-cepat nambah? Dasar bocah!


"Ya kalau cair juga nggak bakalan tumpah, kan itu pake cup." Balas Erina. Baik hanya nyengir, menunjukan giginya yang baru tumbuh.


Meskipun terlihat tenang, namun Albi menjadi orang pertama yang berhasil menghabiskan ice cream nya. Dia meletakan cup bekasnya di atas meja.


Beberapa saat suasana menjadi hening. Sampai akhirnya Albi buka suara.


"Er!" Seru Albi memanggil Erina. Namun Erina tak menyahut, masih malas untuk sekedar berbicara kepada Albi.


"Loe mau sampai kapan diemin gue kayak gini terus Er?" Tanya Albi kemudian. Erina pura-pura tak mendengar, dia sibuk menyuapkan ice cream ke dalam mulutnya.


"Loe masih marah sama gue karena gue belain Dea tadi?" Nah, dia tau kenapa masih bertanya. Jika Erina menjawab iya, Erina pastikan jika hidung laki-laki itu akan terbang ke awan.


"Loe jangan bertindak gegabah Er, jangan terang-terangan nuduh dia kayak tadi. Loe harus main cantik buat membuktikan kalau dugaan loe itu bener." Ucap Albi yang membuat tanda tanya besar di kepala Erina. Apa maksudnya?


Lama Erina terdiam, dia tak bisa lagi menahan diri untuk bertanya.


"Maksud loe apa?" Tanya Erina akhirnya mau buka suara.


"Loe pikir gue nggak curiga juga sama dia? Gue juga curiga kali. Maka dari itu gue lagi berusaha deketin dia dan mengorek informasi." Jawab Albi.


Erina tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Benarkah? Benarkah Albi sedang berusaha untuk membuktikan kecurigaannya kepada Dea? Kalau Dea lah yang sudah menculik Baim lalu meneror keluarganya. Jika iya, berarti selama ini Erina sudah salah paham. Tapi, apa keuntungan yang akan Dea dapatkan dengan meneror keluarga Erina?


Ini benar-benar tidak masuk akal.


"Terus, loe udah dapet info apa?" Erina mulai kepo dengan misi Albi.


"Dia orangnya tertutup, agak susah buat gue bikin dia buka mulut. Tapi loe tenang aja Er, gue bakalan berusaha lebih keras lagi buat membuktikan kecurigaan loe itu bener atau nggak."


Erina tak percaya, benar-benar tak percaya. Albi mau membelanya mati-matian untuk menemukan siapa orang yang menerornya.


Ada perasaan malu karena sudah menuduh Albi yang tidak-tidak. Erina menunduk, merenungi semua kecurigaannya kepada Albi selama ini, tuduhan demi tuduhan, menyangka Albi itu buaya yang suka tebar pesona ke semua perempuan.


"Makasih ya Bi!" Malu sebenarnya berkata maaf. Namun, Erina tetap harus melakukannya. Lagi-lagi Erina sudah salah menuduh Albi.

__ADS_1


_________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2