THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
In A Relationship


__ADS_3

"Plis Er, gue udah tanggung disini. Temenin gue bentar aja ya!" Albi memasang wajah melas, siapa tau saja Erina akan merasa kasihan kepadanya.


"Udahlah Bi, loe mendingan pulang aja sekarang. Gue lagi sibuk bantuin nyokap di dapur." Mengusir dengan halus, siapa tau saja laki-laki itu paham. Erina tak ingin mengusir seperti ini sebenarnya. Namun kelakuan Albi yang memaksanya untuk berbuat demikian. Jujur saja, Erina merasa sangat terganggu dengan keberadaan Albi disana.


"Kakak bohong bang, dia cuma lagi galau-galauan di kamarnya." Celetuk bocah yang berdiri manis di samping Erina itu.


Sontak mendapat hadiah pelototan dari Erina.


"Pssst!" Erina menaruh jari telunjuknya di bibir, menyuruh adiknya itu untuk diam dan jangan bicara lagi.


"Tuh kan dari pada loe galau-galauan sendiri, mendingan kita mojok aja Er. Gue yakin abis itu loe nggak bakalan galau lagi." Nah kan, gayanya yang pecicilan itu yang membuat Erina enggan berlama-lama berhadapan dengan Albi.


"Sory ya Bi. Gue lagi nggak enak badan. Nggak bisa kena angin malam. Gue mau istirahat sekarang. Loe pulang ya, by!"


Erina menutup pintu rumahnya, sedangkan Albi masih berdiri mematung di luar sana.


Albi tertunduk lesu. Malam minggu yang sudah di rencanakan Albi untuk mojok bareng Erina nyatanya gagal total. Perempuan itu benar-benar tega. Dia mengusir Albi. Namun bukan Albi namanya jika menyerah begitu saja. Masih ada hari esok untuk mengejar cinta perempuan itu. Albi yakin, suatu saat hati Erina pasti akan luluh kepadanya. Seperti kata pepatah, batu yang terus-terusan tertimpa hujan pasti akan bolong juga.


Tapi, apa iya Erina sedang sakit? Albi rasa itu hanya tipu muslihatnya saja untuk menghindari Albi.


Albi berjalan mendekati motornya. Kemudian naik ke atasnya, meletakkan gitar yang tadinya akan ia gunakan untuk menghibur Erina di bagian depan. Lama dia berdiam diri di atas motornya, belum berniat untuk pergi. Di liriknya kamar Erina yang berada di lantai dua rumah itu.


Klik!


Lampu yang tadinya menyala, kini sudah berubah dimatikan sang pemilik kamar. Albi menghembuskan nafas bertanya.


"Harus dengan cara apa lagi gue bikin hati loe luluh Er?" Lirihnya sendu. Dia merogoh ponsel di saku jeansnya kemudian mengerikan sesuatu.


'Loe beneran sakit Er? Jangan lupa minum obat ya. Harus banyak istirahat biar cepet sembuh.' Tulisnya dalam pesan itu. Centang dua, pesannya terkirim, namun selang beberapa menit tak kunjung ada balasan, padahal tanda centangnya sudah berubah warna menjadi biru.


Tak apalah, setidaknya perempuan itu sudah membaca pesan dari Albi meskipun tak berniat untuk membalasnya.

__ADS_1


Akhirnya malam itu Albi pulang dengan membawa sejuta kekecewaan dalam hatinya. Diapun menyalakan mesin motor, perlahan motor itu melaju meninggalkan pekarangan rumah Erina, sebelum akhirnya hilang di telan kegelapan malam.


***


Saat Erina hendak menutup tirai kamarnya, dia melihat Albi yang masih berada di atas motornya. Laki-laki itu benar-benar pantang menyerah. Andai saja sikapnya bisa sedikit lebih kalem, tidak sepecicilan itu dan tidak terang-terangan mengejar Erina dengan segala caranya yang konyol itu. Mungkin Erina mau mempertimbangkan untuk menerima Albi. Jika boleh jujur, Erina merasa ilfil dengan semua sikap Albi yang seperti itu.


Bip... Bip...


Ponsel Erina bergetar. Cepat-cepat dia berjalan mendekati meja belajar dan menyambar ponselnya.


Pesan dari Albi. Meskipun Erina tidak menyimpan nomor kontak laki-laki itu, namun Erina tau betul jika itu adalah Albi. Nomor itu acap kali wara-wiri masuk kedalam antrian daftar chat Erina. Mengganggu ketentraman hidup Erina dengan kata-kata sok puitisnya. Hah, dia pikir Erina akan luluh dengan dia selalu mengiriminya kata-kata puitis seperti itu? Nyatanya Erina malah semakin geli dan makin ilfil. Apa Erina blokir saja ya nomornya?


Klik!


Erina menekan saklar lampu sebelum dia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Semoga saja Albi tidak mengejarnya sampai ke alam mimpi.


***


Mama Sofi menjualnya secara online maupun offline, paling-paling sebentar lagi si abang kurir datang untuk mengambil pesanan online.


Terkadang Erina suka memposting kegiatan membuat kuenya bersama sang mama di WhatsApp, tak jarang beberapa teman Erina yang ikut-ikutan memesan brownis buatan mamanya itu karena penasaran dengan rasanya. Apalagi dengan tampilan topingnya, membuat orang-orang tertarik untuk mencobanya.


"Hah, akhirnya selesai juga. Panas banget dari tadi berhadapan sama kompor." Erina menyusut peluh di pelipisnya dengan punggung tangan.


"Ya udah, sana kamu mandi! Biar mama yang beresin sisanya." Mama Sofi masih berjibaku dengan wadah kotor bekas adonan.


"Ya udah deh. Jangan lupa lho ma, upahnya." Erina menaik turunkan alisnya. Mama Sofi tertawa geli melihat cara anaknya menagih.


"Iya, mama nggak akan lupa. Kamu mandi dulu sana!" Mama Sofi mengedikkan bahunya menyuruh Erina mandi.


"Siap ibu negara!" Erina menaikan empat jarinya, menirukan gaya orang hormat.

__ADS_1


Erina pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk. Berjalan sambil jingjrak-jingkrak karena dia akan mendapat uang tambahan. Lumayan buat beli kuota data. Hihi.


***


Erina keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di kepalanya. Segar yang perempuan itu rasakan. Dia menjatuhkan tubuhnya di kursi meja belajar. Dia melupakan ponselnya beberapa jam terakhir karena sibuk membantu mamanya. Seperti ada yang kurang jika dirinya belum mengecek media sosial.


Instagram yang selalu ramai menurut Erina menjadi aplikasi pertama yang ia buka. Banyak teman sekelas Erina yang memamerkan kegiatan mereka di akhir pekan ini. Termasuk Via yang sedang berada di Gunung Tangkuban Perahu dengan gebetan barunya. Erina tersenyum melihat itu, cepat sekali dia move on dari satu laki-laki ke laki-laki lain. Tak lupa Erina menuliskan sesuatu di kolom komentar.


'Cieee yang lagi holiday, jangan lupa pulang bawa oleh-oleh ya beb!' Begitu Erina mengomentari postingan sahabatnya beberapa jam yang lalu.


Kemudian dia men-scroll lebih jauh lagi.


Dan... Deg!


Erina melihat itu. Dimana seorang perempuan yang sangat dia kenal sedang bersanding dengan laki-laki yang ia kagumi. Ameera bersama Devan dengan caption In A Relationship. Apa? Apa mereka sudah jadian sekarang? Itu adalah postingan semalam dan sudah di banjiri lebih dari 100 komentar.


Dengan tangan gemetar Erina membaca satu persatu komentar waganet.


'Selamat ya Meer, kalian serasi banget.' Tulis akun bernama LolyLolypop yang Erina ketahui salah satu teman sekelasnya.


'Iya serasi, ceweknya cantik banget, cowoknya ganteng.'


'Moga langgeng ya Meera sama Devan. Ditunggu teraktiran nya.'


'Thanks semua atas do'anya. Buat teraktiran kalian pesen aja di kantin sekolah, terus kalian bayar deh masing-masing.' Di ikuti dengan emot tertawa.


Komentar mereka bagaikan siraman bensin di atas hati Erina yang sedang terbakar, sehingga api itu berkobar dengan hebat sekarang.


Setetes air berhasil lolos dari pelupuk matanya. Patah, hatinya telah patah terbagi menjadi dua bagian.


__________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca... Masih part-part awal, belum kelihatan misterinya...


__ADS_2