
Disini Erina sekarang, berhadapan dengan orang yang akan mendakwanya. Raganya memang disini, namun hati dan pikirannya masih tertinggal di kostan Ameera. Kewarasannya hampir saja hilang saat sadar jika sahabat terbaiknya telah tiada, dan sekarang dirinya dituduh telah menghabisi nyawa Ameera. Dia dipaksa mempertanggung jawabkan sebuah kesalahan yang tak pernah ia buat.
Ingin rasanya Erina menangis meraung-raung dan berteriak di depan wajah pak polisi itu jika dirinya tidak bersalah. Namun apalah daya Erina, dia terjebak dalam situasi ini akibat kebodohan yang ia lakukan.
"Jadi saudari Erina, apa alasan anda menusuk korban hingga korban meregang nyawa?" Pertanyaan pertama yang polisi lontarkan.
Erina mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Wajah sembab itu menatap polisi dengan tajam. Tak terima jika dirinya dituduh seperti itu. Erina bukan pembunuh!
"Bukan saya pembunuhnya!" Dalam satu kali helaan nafas Erina berteriak.
"Lantas, kenapa saudari berada di TKP saat itu?" Pertanyaan kedua dilayangkan.
"Saya... Saya di telpon sama Ameera, dia minta bantuan ke saya karena dia bilang ada seseorang yang lagi mengincar nyawanya." Jawab Erina dengan tegas.
"Apa anda memiliki bukti?" Tanya Polisi. Erina menggeleng lemah.
Tap... Tap... Tap...
Suara langkah kaki yang tergesa terdengar memenuhi ruang sidang Erina. Erina menoleh ke belakang, tepat sumber suara berasal.
"Papa!"
"Er!"
Erina lantas berhambur menghampiri sang papa yang baru saja tiba, ingin memeluknya namun apalah daya, tangannya masih terbelenggu borgol.
"Apa yang sebenarnya terjadi Er? Kenapa kamu bisa sampai ada disini?" Tanya papa dengan wajah cemasnya.
"Erina nggak bersalah pa, bukan Erina yang udah bunuh Ameera!" Ucap Erina berurai air mata.
"Silahkan duduk terlebih dahulu pak!" Seru polisi.
Papa Heri patuh kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kursi yang berada tepat di hadapan polisi, begitupun Erina.
"Putri bapak telah melakukan penusukan terhadap saudari Ameera. Kami telah mengamankan barang bukti dan akan melakukan sidik jari. Lalu kami juga akan mengotopsi jasad korban untuk pemeriksaan lebih lanjut." Jelas pak Polisi.
Wajah papa Heri memucat saat mendengar penuturan polisi, ini kasus yang sangat berat. Pikirnya.
"Nggak pa, percaya sama Erina, bukan Erina yang udah nusuk Ameera." Erina menyangkal perkataan polisi.
"Saya mohon pa polisi, jangan tahan anak saya. Sebentar lagi dia harus menghadapi ujian sekolah. Saya tidak ingin masa depan putri saya hancur karena mendekam di sini." Ucap papa Heri.
"Namun putri anda harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Jawab polisi.
"Buat apa saya harus bertanggung jawab atas kesalahan yang nggak pernah saya lakukan? Sedangkan pelaku sebenarnya masih berkeliaran bebas di luar sana?" Entah mendapat keberanian dari mana Erina berani membentak polisi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar pak polisi, saya perlu bicara dengan putri saya!" Seru papa Heri.
"Silahkan!"
"Jelaskan semuanya kepada papa Er!" Desak papa Heri.
"Tadi Ameera telpon Erina pa, dia bilang dia tau siapa orang yang selama ini neror Erina. Dan Ameera juga bilang kalau orang itu ngancam Ameera kalau dia sampai kasih tau ke orang lain, peneror itu bakalan bunuh Ameera pa. Erina pergi ke sana saat itu juga. Dan waktu sampai disana, Erina liat Ameera lagi sekarat." Di akhir kalimatnya, tangis Erina kembali pecah, kata sekarat sungguh sangat memilukan, apalagi saat di sandingkan dengan nama Ameera.
"Jadi, Ameera sudah tau siapa orang yang meneror kamu selama ini?" Tanya papa Heri.
"Iya pa. Tapi Ameera belum sempat bilang siapa orangnya. Erina yakin kalau orang yang nusuk Ameera itu adalah orang yang sama sama orang yang udah neror kita selama ini."
"Pak polisi dengar sendiri kan? Selama ini ada orang yang meneror keluarga kami. Putri saya disini hanya menjadi kambing hitam." Ucap papa Heri.
"Begini saja pa, kumpulkan semua barang bukti untuk membela saudari Erina ini. Sambil kita menunggu hasil otopsi dan sidik jari keluar." Jelas pak polisi.
"Saya bisa membawa pulang putri saya sekarang kan pak?" Tanya papa Heri.
"Tidak untuk saat ini, putri bapak harus menjawab beberapa pertanyaan dari kami."
Sidak itu berlangsung hingga berjam-jam lamanya. Erina ditanyai ini dan itu, tentang keseharian mereka di sekolah, apa mereka terlibat konflik atau tidak.
Erina berhasil menjawab semua pertanyaan itu dengan cukup baik meskipun pikirannya sedang kacau. Tak ada satupun yang Erina lewatkan tentang Ameera, tentang perubahan sikap Ameera satu bulan terakhir ini pun tak luput ia ceritakan.
Polisi itu geleng-geleng kepala melihat Erina dengan ngototnya mengatakan kalau dirinya tidak bersalah.
"Baik pa, saya mengerti. Saya pastikan putri saya tidak akan kemana-mana selain pergi ke sekolah."
Erina bisa sedikit bernafas lega, dirinya masih diberi kesempatan untuk membuktikan jika dirinya tidak bersalah. Tapi dengan waktu yang hanya kurang dari satu minggu saja.
Astaga!
Mungkin sekarang Erina bisa terlepas dari jeratan hukum. Namun saat hasil sidik jarinya keluar nanti? Ahh, entahlah, Erina sudah tak sanggup untuk sekedar membayangkan bagaimana dinginnya tidur di balik jeruji besi.
"Baiklah, kita berjumpa lagi disini setelah hasil otopsinya keluar. Tim kami yang akan menjemput langsung saudari Erina ke kediaman anda."
***
Hari beranjak pagi saat Erina dan papa Heri keluar dari polres. Ternyata hampir semalaman mereka berada di sana. Cukup melelahkan. Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Papa Heri nampak sedang berpikir keras, bagaimana caranya agar putrinya terbebas dari jeratan hukum. Sambil fokusnya tetap tertuju pada jalanan yang mobilnya lalui.
"pa, Erina mau liat Ameera." Ucap Erina memecah keheningan di dalam mobil.
Papa Heri sedikit menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Jangan gila kamu Er. Mau habis kamu di caci maki oleh keluarganya Ameera? Disini kamu ditetapkan sebagai tersangkanya." Tanya papa Heri menatap putrinya dengan jengkel.
"Tapi Erina mau liat Ameera buat yang terakhir kalinya pa." Ucap Erina, bahkan kini bola matanya hampir tak terlihat akibat terlalu banyak menangis.
"Tidak tidak! Lebih baik kamu istirahat, apa kamu lupa yang di katakan polisi tadi? Kamu jangan banyak berkeliaran dulu." Balas sang papa.
Erina menunduk, merenungi semua yang terjadi. Saat hari berganti, ia sadar semua yang ada di dalam hidupnya takan pernah sama lagi. Dia telah kehilangan separuh kehidupannya. Jika bisa, Erina ingin menghiba kepada takdir agar mau sedikit saja mengasihi dirinya.
***
Suasana haru menyelimuti pemakaman Ameera, awan mendung siang itu mengiringi kepergian Ameera.
Banyak sekali orang yang mengantarkan Ameera menuju peristirahatan terakhirnya, tentu saja, Ameera adalah orang berhati baik. Semua teman seperjuangannya di sekolah nampak hadir di pemakaman itu, ucapan bela sungkawa mengalir tak henti-hentinya.
Mereka tak menyangka dengan kepergian Ameera yang terbilang mendadak itu. Bahkan kemarin saja Ameera masih masuk sekolah dan berada di tengah-tengah mereka.
Ayah Ameera dan Devan adalah orang yang duduk di barisan paling depan, bersimpuh di depan pusara sambil menabur bunga. Lantunan surat Yaasin terus mereka kumandangkan.
Ayah Ameera merasa sangat terpukul dengan kepergian satu-satunya putri kandung yang ia miliki. Ameera adalah harapan terbesar dalam hidupnya, namun sekarang ia telah pergi untuk selama-lamanya.
Namun, egois jika dirinya tidak dapat mengikhlaskan kepergian Ameera. Putrinya pasti takan merasa tenang disana.
Devan sesekali menyusut air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya. Kematian Ameera bagaikan mimpi buruk di dalam tidurnya. Tak sangka jika kemarin adalah kali terakhir dirinya menggenggam tangan lembut milik perempuan itu.
Tak di duga senyum indah nan menawan yang belakangan ini jarang menghiasi bibir Ameera kemarin adalah senyum perpisahan untuk dirinya.
Devan ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya kepada Ameera. Adil kah itu? Ameera adalah cinta pertama bagi Devan, tak ada satu perempuan pun yang mampu menggetarkan hati Devan selain Ameera. Namun cinta pertamanya ternyata bukan cinta terakhirnya. Ameera terlebih dulu pulang menghadap sang ilahi.
Devan mencoba ikhlas, mungkin ini yang telah di gariskan oleh sang maha pencipta. Semua makhluk yang bernyawa, pasti akan menghadapi sebuah kematian. Hanya tinggal menunggu giliran saja. Tentang cepat atau lambatnya, itu akan menjadi misteri yang tak terpecahkan.
Satu lagi, Via. Via menatap gundukan tanah merah di depannya dengan nanar. Dia tak percaya jika yang berada di bawah sana adalah Ameera, sahabat karibnya sendiri. Bagaimana Via bisa lupa? Saat setiap pagi dirinya datang menjemput Ameera untuk pergi ke sekolah, tertawa bersama saat kebut-kebutan di jalan. Saat mereka nongkrong sambil meng-ghibah di kedai ice cream? Saat karaokean bareng meskipun suaranya fals. Saat menonton web series dan tanpa sadar mereka ketiduran berjamaah. Semua kenangan indah itu berkelebatan silih berganti dalam benak Via.
Akankah semua itu bisa kembali Via rasakan setelah Ameera tak ada? Dan kini Erina pun nasibnya sedang terancam, gosip beredar dengan sangat cepat, secepat angin berhembus. Namun Via yakin jika Erina takan mungkin sekejam itu menghabisi nyawa Ameera. Via sangat hafal betul siapa Erina, meskipun dia keras kepala, tapi hatinya sangat lembek. Saat jari Via terkena pisau ketika sedang masak seblak pun Erina yang paling histeris saat darah Via menetes. Mana mungkin Erina sanggup menancapkan sebilah pisau ke perut Ameera?
Via menoleh pada dua perempuan berbeda generasi yang berdiri tepat di belakang ayah Ameera. Mereka adalah Violla dan ibunya.
Via tak melihat ada kesedihan di wajah kedua perempuan itu. Justru senyum penuh kemenangan yang mereka tunjukkan.
Jangan bilang ini ulah mereka!
Kemudian Via beranjak, menghampiri Albi yang berdiri di antara pelayat.
"Kita harus ke rumah Erina sekarang Bi!" Ucap Via.
__________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...