THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Pencarian Albi


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu dengan cepat, malam itu Albi duduk sendirian di balkon kamar sambil menopang gitar kesayangannya. Rencananya Albi akan menyumbangkan satu buah lagu di malam acara perpisahan sekolah nanti.


Konsentrasinya dalam latihan buyar, mengingat malam perpisahan sebentar lagi tiba sedangkan pelaku pembunuhan Ameera belum juga di temukan. Lantas, apa Erina akan kembali menolak dirinya karena Albi tak berhasil membantu perempuan itu? Padahal selama ini, Erina menunjukkan respon yang positif kepada dirinya.


Saat Albi menggombali perempuan itu, biasanya dia akan memecak-mecak sambil menggerutu dan memarahi Albi. Namun belakangan ini, perempuan itu selalu tersipu malu saat Albi menggodanya. Lalu, saat Albi kembali menyatakan perasaannya dan mengutarakan niat baiknya untuk menjadikan Erina kekasih, perempuan itu tak langsung menolaknya mentah-mentah seperti waktu Albi menembaknya dulu.


Setidaknya Erina memberinya sebuah harapan. Bukankah itu pertanda baik? Semoga saja.


Huft.


Albi berjalan masuk kedalam kamarnya sebab udara di atas balkon terasa semakin dingin dan menusuk-nusuk pori-pori. Kemudian pemuda itu meletakkan gitar di samping meja belajarnya. Netranya tak sengaja menangkap sebuah buku yang tergelak di atas meja belajar itu, perlahan tangan Albi terulur dan mengambilnya.


"Ini kan novelnya Dea?" Gumam Albi. Dia mengangguk-anggukan kepalanya. Entah apa yang sedang ada di pikiran laki-laki itu sekarang.


Ia melirik jam yang menggantung di dinding. Pukul 8 malam, masih terlalu sore. Albi berjalan menuju lemarinya dan mengeluarkan sebuah jaket levis kemudian memakainya dengan gerakan cepat. Tak lupa ia menyambar kunci motor dan buku tadi yang tergeletak di atas meja belajarnya sebelum ia keluar dari kamarnya itu.


***


Albi berjalan menyusuri gang sempit itu, motornya sengaja dia simpan di depan gang karena motornya pasti tidak akan masuk apal lagi saat melewati belokan nantinya.


Pemuda itu pernah datang ke tempat ini bersama Erina dan juga Via waktu itu. Dua perempuan yang menyatakan jika mereka bersahabat itu pasti akan menolak jika Albi mengajaknya lagi ke tempat ini, dengan alasan trauma lah, menjijikan lah. Jadi dia memutuskan untuk datang sendiri saja. Pasti akan ribet juga urusannya jika mereka ikut.


Albi berjalan lebih dalam menyusuri gang itu, melewati kandang kambing yang waktu itu mereka jadikan tempat persembunyian.


Suasana gang cukup sepi, mungkin para penduduk gang ini sudah berpindah ke alam mimpi. Padahal menurut Albi ini masih terlalu sore.


Albi tiba di ujung gang, dan dia mendapati sebuah tanah luas seperti lapangan yang terhubung langsung dengan jalan kampung.


Sepertinya menyusuri gang tadi hanya sia-sia belaka, seharusnya Albi langsung saja membawa motornya ke jalan kampung ini. Tapi waktu Albi cs mengikuti Dea, perempuan itu melewati gang sempit ini. Atau Dea sengaja melakukan itu untuk mengelabui mereka karena dia sadar sedang si buntuti dan membuat Albi bersama kawan-kawannya jadi kebingungan?


Entahlah!


Baiklah, Albi menjumpai seorang pedagang mie tek-tek yang mangkal di pinggir lapangan itu. Segera Albi menghampirinya.


"Maaf bang, mau numpang tanya. Abang tau rumahnya Dea yang sekolah di SMA BINA MUDA nggak?" Tanya Albi setelah tiba di depan gerobak abang mie tek-tek itu.


"Oh, si Dea anaknya almarhum bu Devi itu?" Jawab pedagang mie tek-tek.

__ADS_1


Deg!


Glek!


Apa? Jadi ibunya Dea bernama Devi? Albi tertegun mendengar jawaban yang abang mie tek-tek itu lontarkan. Dia menelan saliva nya dengan kasar. Apa benar jika Dea adalah orang yang sedang mereka cari? Dea adalah adik tirinya Erina begitu?


Pijakan kaki Albi serasa runtuh. Tapi, apa iya Dea yang polos dan lugu bisa setega itu meneror Erina dan membunuh Ameera?


Albi tak ingin berasumsi sekarang. Dia harus segera menemui Dea dan menanyakan kebenarannya. Iya.


"Iya bang. Rumahnya sebelah mana ya?" Tanya Albi setelah tersadar dari lamunannya tentang Dea.


"Rumahnya di belakang rumah cat biru itu." Abang mie tek-tek menunjuk rumah di sebrang lapangan. Albi mengangguk paham.


"Oh gitu. Iya makasih ya bang." Ucap Albi yang hendak nyelonong pergi.


"Hati-hati kalau mau ngapelin si Dea, bapaknya galak banget. Kamu harus minum obat jantung dulu biar jantungmu kuat nanti." Kemudian si abang terkekeh renyah menanggapi perkataannya sendiri.


Albi tertawa sumbang, apa dia kata? Albi mau ngapelin si Dea? Hah, ada-ada saja. Kemudian dia menggelengkan kepala.


"Oh, kirain pacarnya si Dea. Tapi kamu tetap harus berhati-hati ya?" Sekali lagi si abang mewanti-wanti.


Memangnya bapaknya Dea kenapa? Albi mengedikkan bahu menganggap perkataan si abang hanyalah sebuah guyonan.


"Ya udah bang makasih ya udah ngingetin. Saya permisi dulu." Pamit Albi. Kemudian laki-laki itu berjalan mengelilingi lapangan untuk sampai di sebrang. Albi berbelok saat sudah sampai di depan rumah cat biru yang tadi di tunjuk si abang, rumah Dea ada di belakang rumah itu.


Albi berdiri mematung sambil memperhatikan rumah kumuh di hadapannya. Benarkah Dea tinggal di rumah yang hampir roboh itu? Rumah yang berdindingkan triplek, berlantaikan papan dan beratapkan genteng yang kebanyakan sudah melorot, mungkin tersapu angin kencang.


Rasa kasihan mulai menyeruak memenuhi hati Albi. Ini sih lebih cocok jadi kandang ayam ketimbang jadi rumah tinggal.


Albi merasa prihatin saat melihat rumah Dea itu.


***


Dea yang baru saja turun dari ojek langsung berjalan melewati lapangan untuk mencapai rumahnya. Namun sebuah suara dalam keheningan menyentak perempuan itu.


"Ehh Dea, dari mana kamu?" Dea menoleh, ternyata yang menegur adalah tukang mie tek-tek yang sering mangkal di depan lapangan.

__ADS_1


"Pulang kerja bang. Duluan ya." Dea menjawab tanpa melihat ke arah si abang, dia hanya menundukkan kepala. Sedikit merasa risih karena si abang memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah.


Meskipun Dea kini membungkus rok di atas lututnya dengan kulot panjang, namun make up yang melekat di wajahnya belum sempat ia cuci. Rambut yang bergelombang di bagian bawahnya masih terbentuk dengan indah sengaja ia gerai untuk menutupi wajahnya yang berpoleskan make up.


"Tadi ada cowok yang nyariin kamu tuh." Ucap si abang yang membuat Dea menatap ke arahnya karena penasaran.


"S... Siapa bang?" Tanya Dea.


"Katanya sih temen kamu, anaknya ganteng lho. Kirain abang kamu lagi ada di rumah." Jawabnya.


"Kalau gitu aku duluan ya bang." Dea pun bergegas pergi untuk melihat siapa sebenarnya orang yang di maksud si abang mie tek-tek itu.


***


Dea menghentikan langkahnya saat melihat orang yang berdiri di depan pintu rumahnya itu. Dari postur tubuh bagian belakangnya, Dea bisa sangat mengenali laki-laki itu. Laki-laki yang selama ini ia kagumi dalam diam, kini datang menemui dirinya, di rumah kumuhnya.


Untuk apa?


Untuk kembali menuduh Dea lagi? Terakhir kali Dea merasa sangat sakit hati atas semua tuduhan-tuduhan yang Albi, Erina dan Via layangkan kepadanya. Padahal Dea sudah berbesar kepala karena Albi mendekati dirinya. Dia pikir Albi tulus, ternyata ada udang di balik batu.


Tok... Tok... Tok...


"Dea!" Albi mengetuk pintu reyot di hadapannya dan menyerukan nama Dea. Tak ada tanggapan dari dalam sana.


"Kamu mau apa kesini?" Ucap Dea dari posisinya.


Albi menoleh kebelakang, tepat sumber suara berasal. Kenapa pemilik rumah malah muncul dari belakang bukannya dari dalam?


Pemuda itu merasa pangling dengan Dea yang berdiri di hadapannya sekarang. Penampilan perempuan itu sangat jauh berbeda dengan yang terakhir kali Albi temui di sekolah. Kapan terakhir kali Albi melihat Dea? Sepertinya waktu hari terakhir ujian nasional.


Albi menatap Dea, satu yang menarik perhatiannya, rambut bergelombang yang indah dan make up sederhana yang melekat di wajah perempuan itu.


"Loe beneran Dea?" Tanya Albi sambil menuding ke arah Dea.


_________________


Jangan lupa jejaknya guys, jangan jadi pembaca gelap ya... Tinggalkan juga corat-coretnya di kolom komentar, kritik dan sarannya juga ditunggu....

__ADS_1


__ADS_2