THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Cemburu


__ADS_3

Albi melayangkan protes saat tiba-tiba saja nomor Devan masuk dan bergabung ke dalam grup chat rahasia yang Erina buat.


Apa-apaan ini nomor nyasar kesini? Albi menambahkan emoticon marah.


Welcome Dev. Via malah memberikan senyum.


Thank Vi, Devan menanggapi Via tapi tak menggubris Albi.


Sialan!


Albi mengumpat dalam hati.


Mana nih pemilik grupnya? Albi.


Gue disini, kenapa Bi? Erina muncul kepermukaan.


Maksudnya apa sih Er? Ini kan grup chat rahasia. Kenapa loe masukin orang sembarangan? Protes lagi


Devan bagian dari kita sekarang. Erina


😎 Devan


Kalau ternyata dia penyusup gimana? Albi


Ngaco loe Bi. Gue orang baik-baik juga loe curigai. Tak terima Devan membela diri.


Mana ada orang baik ngaku baik. Yang nilai loe baik atau nggak itu orang lain bukan diri loe sendiri. Sewot Albi.


Astaga Bi. Biarin lah, semakin banyak yang bantu kita semakin cepet kita nemuin pelakunya. Via


Masukin aja sekalian semua kontak temen sekelas kita! Pak Bambang sama guru BP juga sekalian. Albi mengetik pesannya dengan gemas.


Tak ada yang menanggapi lagi setelah itu, Albi merasa kesal sendiri. Erina benar-benar menduakan dirinya.


Satpam sekolah juga


Ibu kantin


Sama kepsek juga sekalian. Albi


Selang beberapa menit, Erina mengirim pesan balasan.


Udah-udah jangan berisik. Mendingan kalian semua cepet tidur! Besok kan ujian.

__ADS_1


Yang berisik disini sebenarnya hanya si Albi, yang lain sih sepertinya sudah pada pindah ke alam mimpi. Jam juga sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Di rumahnya Albi merenggut kesal. Jadilah dia memaki-maki ponselnya yang tidak bersalah.


***


Hari pertama ujian nasional adalah pelajaran IPA, alhamdulillah berjalan dengan lancar, Erina bisa mengerjakannya dengan cukup baik meskipun agak sedikit kesulitan di beberapa soal.


Pukul 10 pagi ujian telah usai, suasana sekolah tidak seramai biasanya karena kelas X dan XI diliburkan selama kelas XII mengahadapi ujian nasional berbasis komputer ini.


Albi, Erina dan Via berjalan beriringan menuju parkiran.


"Nggak kerasa ya beb, udah ujian nasional ini kita bakalan jarang menginjakan kaki di sekolah ini lagi." Ucap Erina tiba-tiba dengan nada sendunya. Dia seperti berat jika harus meninggalkan sekolah yang memberikannya banyak kenangan itu.


"Iya beb. Perasaan baru kemarin ya kita ikut MOS disini, ehh sekarang udah mau lulus aja." Via tersenyum mengingat momen pertamanya di sekolah ini.


Kenapa Albi jadi merasa sedih mendengar percakapan kedua perempuan itu? Diapun merasa tak rela kalau harus pergi dari sekolah yang telah mempertemukan dirinya dengan Erina.


"Waktu itu cepet berlalu ya. Nanti kalau kita wisuda terus dapat kerjaan, pasti nggak lama setelah itu kita bakalan nikah." Celetuk Albi menimbrung percakapan Via dan Erina.


Via dan Erina menoleh bersamaan ke arah Albi dengan dahi yang sama-sama mengerut.


"Masih jauh kali, udah mikirin nikah aja loe. Cari kerja dulu tang bener, entar anak sama bini loe mau di kasih makan apa?" Ucap Via.


Devan tiba-tiba bergabung dan menyeimbangi langkah mereka.


"Hai, kenalin member baru." Devan menimbrung percakapan mereka.


Albi buang muka tak suka.


"Member lapuk." celetuknya kemudian.


Erina menyikut perut Albi dengan sikutnya memberi kode padanya agar bersikap biasa saja. Namun sepertinya Albi tak mau mengerti atau pura-pura tak mengerti.


"Apaan sih Er?" Protes Albi.


"Loe kenapa sih Bi sewot terus sama gue dari kemarin?" Tanya Devan yang merasa aneh dengan sikap Albi.


"Tanya aja sama sepatu gue." Jawab Albi asal.


"Astaga Bi, udahlah loe jangan ke kanak-kanakan kayak gini." Ucap Via yang merasa geram dengan sikap Albi yang seperti ini. Ingin rasanya Via berteriak biar si Albi mengerti.


"Tau, lagi PMS kali loe ya?" Devan nyinyir.

__ADS_1


"Loe kalau nggak suka mendingan cabut dari sini deh Dev!" Seru Albi menantang.


"Nggak bisa gitu dong, baru aja gue gabung sama kalian, masa udah mau cabut lagi. Lagian loe punya masalah apa sih sama gue Bi?" Devan tak mau kalah.


"Oh oke kalau loe nggak mau cabut, biar gue aja yang cabut." Albi lantas berbalik badan dan meninggalkan mereka.


Astaga!


Bukankah sesama tim harus kompak ya? Tapi kenapa jadi serumit ini ceritanya?


"Bi!" Seru Erina saat melihat Albi berlalu begitu saja. Erina merasa harus menyusul Albi karena bagaimanapun juga laki-laki itu sudah banyak membantu Erina selama ini. Via dan Devan dia tinggalkan.


"Bi, tunggu!" Erina berhasil menyamai langkah Albi. Keduanya berhenti.


"Apalagi sih Er? Loe kan udah punya yang baru, jadi gue udah nggak loe perluin lagi kan?" Tanya Albi, intonasinya cukup pelan namun penuh penekanan, setelahnya Albi kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Erina yang tertegun dengan perkataannya.


"Loe kok gitu sih Bi? Loe kan udah janji sama gue bakalan bantuin gue sampai gue nemuin orang yang udah bunuh Ameera. Tapi kenapa sekarang loe malah jadi gini sama gue? Loe mau ninggalin gue gitu aja?" Ucap Erina dengan setengah berteriak, kecewa dengan sikap Albi yang seperti ini. Itu berhasil membuat langkah Albi terhenti. Albi terdiam di tempatnya.


Menghela nafas dengan berat, diapun bingung kenapa dirinya jadi egois seperti ini jika bersangkutan dengan Devan. Albi menganggap Devan adalah saingan terberatnya karena Erina menyukai Devan.


"Janji adalah sesuatu yang harus di tepati Bi, kalau nggak, itu bakalan loe bawa sampai mati." Perkataan Erina mampu menyadarkan Albi akan niatnya untuk menolong Erina karena memang perempuan itu tidak bersalah. Seharusnya dia tidak perlu melibatkan hati untuk urusan ini.


Albi berbalik badan dan mendapati Erina yang tengah tertunduk lesu, terlihat sedih. Albi perlahan mendekatinya, tak kuasa juga melihat kesedihan di wajah perempuan itu.


Perlahan Albi meraih dagu Erina, memaksa wajah perempuan itu untuk menatap ke arahnya. Terlihatlah wajah ayu itu dimata Albi.


"Maafin gue Er. Nggak seharusnya gue kayak gini. Gue nggak akan tinggalin loe kok, loe tenang aja ya! Gue bakalan selalu ada buat loe sampai akhir nanti." Ucap Albi terdengar tulus ditelinga Erina.


"Janji?" Bibir manis Erina berucap, masih ragu. Tapi dia tak menangkap kebohongan di mata Albi.


"Iya, gue janji." Balas Albi sambil tersenyum.


"Makasih ya Bi. Gue nggak tau gimana jadinya kalau nggak ada loe, nggak ada Via. Jangan berpikir buat tinggalin gue lagi ya!"


"Nggak akan. Kalau gue udah janji, gue nggak mengingkari. Gue cuma kebawa emosi aja tadi." Tuturnya lirih


"Emangnya loe emosi kenapa?" Pertanyaan Erina yang membuat Albi bingung untuk menjawabnya.


Karena gue cemburu.


Ingin rasanya Albi berteriak seperti itu, tapi nyatanya dia hanya mampu bergumam didalam hati.


___________________

__ADS_1


Lanjut nanti malam ya guys...


__ADS_2