THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Ringan tangan


__ADS_3

"Hey! Siapa loe?!" Pria paruh baya itu menunjuk ke arah Albi, tatapannya terlihat sangat tajam.


Glek


Albi menelan saliva nya susah payah. Bukankah dia salah satu preman yang dia lihat bersama Dea di gang sempit waktu itu? Dea memberinya uang kala itu. Jadi dia bapaknya Dea?


Bukannya menjawab, Albi malah berdiri mematung seperti orang bodoh di sana memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang Dea dan keluarganya. Banyak pertanyaan yang singgah di benak Albi, namun sepertinya situasinya sedang tidak mengizinkan.


Albi sedang dalam bahaya sekarang. Jika memang mereka adalah pelaku dibalik peneroran Erina dan pembunuhan Ameera, bukan tak mungkin kalau merekapun akan melenyapkan Albi karena kini dirinya telah menjadi saksi.


Bapak Dea terlihat sangat marah saat mendapati Albi ada di rumahnya malam-malam seperti ini.


"Berani loe bawa masuk laki-laki kedalam rumah, Dea? HAH? Dasar pela**r!" Tangannya mulai terangkat ke udara.


Albi terkesiap. Kenapa ada seorang ayah yang tega menuduh anaknya sebagai pelac*r? Hatinya mulai mencelos. Sepertinya Albi telah salah datang ke tempat ini. Tapi kalau tidak, Albi tidak akan pernah tau kebenarannya.


PLAK!


Satu tamparan mendarat dengan mulus tepat di pipi sebelah kiri Dea, sekuat tenaga bapaknya Dea menampar Dea dengan sangat tak berkeprimanusiaan. Dia murka.


Seketika rasa perih dan panas muncul di bagian pipi yang terkena tamparan itu, lalu mulai menjalar ke seluruh tubuh Dea.


Sakit.


Sekuat tenaga Dea mempertahankan keseimbangan tubuhnya, beruntung bayi yang di pangku Dea tidak sampai terjatuh. Hingga tak terasa cairan bening mulai mendesak keluar dari pelupuk mata Dea. Perempuan itu menangis. Malu, dia sangat malu. Kenapa Albi harus menyaksikan ini semua?


Oke, Dea bisa terima jika perlakuan ayahnya samgat buruk kepada dirinya dan juga kedua adiknya. Tapi, menuduh Dea sebagai pelac*r dan menamparnya di hadapan laki-laki yang ia sukai itu sungguh sangat memalukan.


"Bapak." Lirih Dea sambil memegangi pipinya yang kini sudah basah akibat air mata. Perempuan itu membetulkan posisi adik bayi yang sesikit meloror dalam pangkuannya agar tidak terjatuh. Bayi itu semakin kencang menangisnya.


Astaga!


Albi segera menghampiri Dea dan adik bayinya, kasihan juga kalau bayi itu terjatuh dari pangkuan Dea. Dia tak menyangka, sangat tak menyangka jika bapaknya Dea itu ternyata ringan tangan.


"De!" Seru Albi, tangannya terulur siap untuk mengambil bayi yang ada di pangkuan Dea.


Namun, secepat kilat Dea menepis tangan Albi. Albi mundur beberapa langkah karena terkejut mendapat penolakan dari Dea.


"Jangan dekat-dekat! Aku kan udah bilang sama kamu pergi, pergi!" Ucap Dea dengan nada tinggi, persis seperti sada bicara bapaknya tadi.


"Tapi De..." Ucapan Albi terpotong oleh pertanyaan bapaknya Dea.

__ADS_1


"Hey!" Tubuh Albi di sorong kasar hingga menyentuh dinding triplek.


"Siapa loe? HAH? Berani-beraninya loe datang kesini dan rusakin rumah gue!" Tanya bapaknya Dea dengan sorot mata tajam dan menusuk.


Tanpa Albi rusakin juga r**umahnya memang sudah rusak, bung!


"Saya temannya Dea om!" Albi berusaha untuk besikap tenang.


"Cepat ganti rugi! Atau jangan harap loe bisa keluar dari sini hidup-hidup?!" Gertaknya kemudian.


"Iya pa, saya bakalan ganti rugi kok." Jawab Albi, diapun segera mengeluarkan dompet dari saku jaketnya.


Sebuah sunggingan terlihat di sudut bibir bapaknya Dea saat melihat dompet tebal Albi. Dia mengintip isi dompet yang sedang di hitung Albi. Dia tak sabaran, diapun menyambar dompet itu dari tangan Albi.


"Hahaha." Tawanya terdengar sumbang, dia mengambil semua isi di dalam dompet Albi dan melempar kembali dompetnya pada sang pemilik. Bapal Dea menghitung berapa banyak uang berhasil dia raup.


"Jangan pak, balikin lagi uang dia. Biar Dea aja yang ganti rugi nanti." Ucap Dea memelas. Sungguh, dia sudah sangat tidak punya muka lagi di depan Albi.


"Diam loe! Loe mana ada duit buat ganti rugi, buat makan sehari-hari aja susahnya setengah mati!" Bapaknya melotot ke arah Dea. Dea nampak ketakutan pada bapaknya itu.


"Nggak apa-apa kok De, pintunya memang gue yang rusakin." Ucap Albi terdengar pasrah.


"Ya sudah pa, saya maaf atas semuanya. Dea, maafin gue ya." Ucap Albi bersungguh-sungguh. Namun tak ada yang menanggapi perkataannya. Dea membuang mukanya ke sembarang arah, enggan menatap Albi. Sedangkan bapaknya sibuk menghitung uang merah yang beberapa saat lalu resmi menjadi miliknya. Dia sedang merancang sebuah rencana untuk bersenang-senang malam ini.


Albi melangkahkan kakinya keluar dari rumah kumuh itu, sebelum benar-benar pergi, sekali lagi Albi menoleh ke arah Dea, ternyata Perempuan itu masih menangis.


"Cepat pergi!" Bapaknya Dea menghentakan kakinya menggeretak sehingga rumah panggung itu bergetar. Akhirnya Albi benar-benar berlalu dari sana meskipun sebenarnya dia masih tidak rela. Dia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan-perranyaannya.


Baiklah, Albi akan datang lagi nanti saat bapaknya Dea sedang tidak ada.


***


Pagi itu, Erina sudah nangkring cantik di rumah Via. Dia tidak bisa tenang saat diam di rumah, bayang-bayang terror selalu saja menghantuinya.


Untuk kesekian kalinya dia melahap kentang goreng buatan neneknya Via. Via datang sambil membawa dua gelas teh hangat dari arah dapur. Kemudian sahabatnya Erina itu duduk di kursi samping Erina.


"Nenek gue lagi sakit beb." Dongeng Via setelah bokongnya mendarat dengan mulus.


"Lagi sakit kok masih sempetin bikin kayak ginian sih beb?" Balas Erina sambil menyumpalkan satu kentang goreng lagi ke mulutnya.


"Itu nenek-nenek ngeyel beb. Di bilingin susah banget nurutnya." Balas Via sebelum akhirnya dia menyeruput teh yang masih mengepul asap di atasnya.

__ADS_1


"Suruh istirahat beb, jangan sampe nenek loe kecapean. Udah waktunya buat dia menikmati masa tau." Ucap Erina.


"Itu lagi jemuran dulu di belakang katanya." Erina hanya mangut-mangut saja.


"Gimana beb, apa udah ada info terbaru tentang si peneror itu?" Tanya Via.


"Belum, grup chat juga sepi. Nggak tau Albi sama Devan pada kemana." Jawab Erina.


Via ikut menyomot kentang goreng dari wadah, keduanya nampak menikmati makanan itu. Rasanya yang gurih membuat siapa saja yang memakannya tidak bisa berhenti untuk mengunyah.


"Gue belum cerita ini sama loe ya beb." Ucap Erina tiba-tiba.


"Cerita apa?" Tanya Via dengan mulut yang masih penuh dengan kentang goreng.


"Albi nembak gue kemarin." Jawab Erina santai, setelahnya dia kembali memasukan kentang itu kedalam mulut.


Via menatapnya tak percaya, mengunyah kentang goreng yang ada di dalam mulutnya dengan kasar kemudian dengan susah payah dia menelannya.


"Loe serius beb? Terus loe jawab apa?" Tanya Via sambil mengguncang bahu Erina karena penasaran. Dia menatap sahabatnya itu dengan intens,


"Iya gue serius, Tapi gue belum jawab iya atau nggak beb." Jawab Erina sambil mengedikkan bahu.


"Loe PHP-in si Albi? Astaga! Kenapa loe nggak langsung terima dia aja sih beb?" Via jadi gregetan sendiri.


"Gue nggak PHP-in dia kok. Gue cuma masih belum bisa bernafas lega aja. Gue bakalan jawab dia nanti setelah pelakunya ketangkap." Jawab Erina dengan mantap.


"Gue saranin loe jangan tolak dia lagi Er. Kasian itu anak orang udah jamuran nungguin loe dari jaman kuno. Astaga! Bucin banget sumpah itu orang." Kemudian Via terkekeh, Erina jadi ikut-ikutan.


"Gue sepet banget sumpah liat mukanya si Albi waktu loe tolak mulu. Kalau gue jadi dia mendingan gantung diri aja karena malu. Ehh, anak ini mah emang dasarnya nggak punya malu udah di tolak juga masih aja mepet-mepetin loe." Ucap Via sambil tertawa sumbang.


Keduanya kemudian lanjut membahas tentang Albi yang konon katanya tidak tau malu itu. Sesekali di selingi oleh gelak tawa dari keduanya.


BRAAKKKKKK!


Suara Via dan Erina seketika senyap mendengar suara hantaman itu. Mereka saling melirik satu sama lain.


"Suara apa tu?"


________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak guys, berupa like atau komentar.... Kritik dan saran juga dibutuhkan... Makasih buat yang masih setia nungguin othor update, dan yang masih sabar nunggu pelaku sebenarnya terungkap, semoga nggak bosen sama alurnya yang bertele-tele iniπŸ˜πŸ™‚

__ADS_1


__ADS_2