
Erina menggigit bibir bawahnya saat melihat ibu kost Ameera menatapnya dengan tatapan pemangsa. Terlihat sangat murka. Erina nyengir kuda sambil memperlihatkan deretan gigi rapihnya.
"Kita mau cek ke dalam bu. Apa bisa kita pinjam kuncinya sebentar?" Tanya Albi dengan hati-hati. Meskipun dia tak yakin jika permintaannya akan di kabulkan. Melihat dari air wajah ibu kost itu saja Albi sudah menduga kalau dia tak suka dengan kedatangan mereka.
"Apa? Berani sekali kalian ini. Dan kamu!" Ibu kost menunjuk ke arah Erina. Erina bersiap menerima apapun yang akan di katakan wanita paruh baya berdaster itu.
"...berani-beraninya kamu menginjakkan kaki di tempat saya lagi setelah kamu menghabisi nyawa anak kost saya. Seharusnya sekarang kamu berada di balik jeruji besi." Ucapan pedas keluar dari mulut ibu kost. Erina menelannya dengan pahit. Percuma dia membela diri, ibu kost pasti tidak akan mempercayainya.
"Gara-gara ulah kamu itu, para penghuni kostan saya pada ketakutan dan akhirnya pindah semua. Bisa-bisa usaha saya bakalan bangkrut kalau seperti ini terus. Tempat ini sudah menjadi tempat terkutuk." Tidak akan menang melawan emak-emak, Erina pasrah saja mau di katai apapun juga.
"Tapi bu, kejadiannya nggak seperti apa yang ibu lihat. Ibu hanya salah paham." Albi berusaha untuk meluruskan kesalahpahaman ini.
"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau dia memegang pisau berlumuran darah malam itu. Kamu pikir saya buta apa?" Semprotnya pada Albi.
"Udahlah Bi, biarin aja dia mau bilang apa." Erina berbisik di telinga Albi.
"Ya tapi kan Er..." Belum sempat Albi menyelesaikan kalimatnya, ibu kost sudah nyeroscos lagi.
"Pergi sekarang juga! Kalau tidak, saya akan buat kalian menyesal sudah berani datang ke tempat ini." Tegasnya.
"Emm, begini bu. Saya cuma mau ambil buku punya saya yang waktu Ameera pinjam dan belum sempat di kembalikan. Buku itu penting banget bu buat saya. Saya nggak bisa belajar karena materinya ada di buku saya itu." Devan berusaha untuk menjinakan ibu kost. Namun sepertinya si ibu tetap tidak bisa di ajak kompromi, dia sama sekali tak terpengaruh dengan alasan Devan.
"Semua barang yang ada di dalam sudah di ambil sama keluarganya. Jadi mendingan kalian sekarang pergi dari sini sebelum saya panggil polisi untuk menangkap kalian semua mau?!" Mata Ibu kost bahkan hampir keluar. Sangat menyeramkan.
"Udah lah beb, kita cabut aja yuk. Percuma di dalam udah nggak ada barang-barangnya Ameera juga." Ucap Via.
"Pergiiiiiii!" Teriakan si ibu kost sungguh memekakan telinga, sampai-sampai keempat anak remaja itu menutup telinga berjamaah. Bahkan mereka merasa tanah yang mereka pijak terasa bergetar saat si ibu kost berteriak dengan suara fullnya.
Tanpa membantah lagi, Erina, Albi, Devan dan Viapun pergi dengan berat hati. Lagi-lagi usaha mereka tak membuahkan hasil. Erina mendengus kecewa sambil menatap kostan Ameera dari motor Via.
"Er, gue ada yang perlu di omongin sama loe. Loe pulang sama gue ya!" Ucap Albi, Erina yang hendak naik ke atas motor Via mengurungkan niatnya.
Devan yang sudah masuk kedalam mobilnya pun menurunkan kacanya sehingga bisa melihat jelas Albi dan Erina yang kini sedang bicara sambil berhadap-hadapan. Kepo, mereka sedang membicarakan apa? Padahal sebelum ini, Devan adalah tipe laki-laki yang kurang minat mencampuri urusan orang lain. Tapi kenapa sekarang dia jadi merasa penasaran dengan kedekatan antara Albi dan Erina? Apa mungkin ini ada kaitannya dengan Ameera.
__ADS_1
"Mau bicara apa Bi? Disini aja." Jawab Erina yang bisa di dengar jelas oleh Devan karena motor mereka terparkir tepat di samping mobil Devan.
"Nggak bisa Er, gue maunya bicara berdua aja sama loe." Balas Albi.
"Jadi menurut loe gue penganggu gitu? Songong banget sih loe Bi!" Yang nangkring di atas motornya sewot sendiri. Via.
"Itu loe sendiri ya yang bilang, bukan gue." Albi terkekeh mendengar Via sesewot itu.
"Ya udahlah, gue cabut duluan deh. Males jadi kambing conge!" Via mulai menyalakan mesin motornya.
"Jangan marah dong beb." Erina merasa tak enak hati.
"Nggak nggak, ya elah baperan banget sih. Awas loe Bi, ini anak orang harus loe anterin sebelum malem. Nanti emaknya nyariin lagi." Via berpesan.
"Haha, iya iya. Gue rasa loe yang lebih pantes jadi emaknya Erina deh. Udah cocok banget lho, loe nyeroscos mulu kerjaannya." Ucap Albi
"Hah, sialan loe. Kalau gue jadi emaknya, nggak bakalan gue kasih loe restu." Sungut Via.
"Ampun mak, ampuun." Albi berkata dengan lebaynya. Membuat Erina tertawa geli melihat kelakuan mereka berdua yang terdengar sangat tak masuk akal itu.
"Loe jangan ngikutin kita ya!" Albi menunjuk ke arah Devan yang sedari tadi memperhatikan perdebatan mereka.
"Kurang kerjaan banget gue ngikutin kalian." Padahal di dalam hati tadi sudah berniat untuk membuntuti mereka. Di urungkan niatnya karena sudah ketahuan duluan.
***
Motor Albi melaju cukup tenang membelah jalanan yang ada, desir angin yang menerpa membuat rambut Erina berterbangan dengan bebas.
"Kita mau kemana sih Bi?" Tanya Erina di tengah perjalanan itu.
"Kita ke KUA Er, gue mau ngehalalin loe sekalian." Jawab Albi yang diiringi dengan kekehan kecil. Erina memukul bahu Albi cukup kencang karena merasa di kerjai.
"Loe itu bener-bener ngeselin ya Bi!" Ucap Erina pura-pura merajuk, dia memanyunkan bibirnya, namun tak bisa dipungkiri, ada gurat senyum di bibirnya yang mengerut.
__ADS_1
***
Erina menatap danau berair hijau di hadapannya dengan terkagun-kagum. Dia baru tau, di tengah kota ini ternyata ada danau buatan yang tempatnya terbilang masih cukup asri. Ilalang yang menjulang di tepianan danau, menambah kesan indah pada danau itu.
Tempat ini cukup ramai pengunjung, banyak pasangan muda mudi yang memadu kasih sembari menikmati suasana sejuk nan syahdu. Air yang tenang mampu membuat setiap mata yang menatapnya ikut merasakan ketenangan.
Begitupun dengan Erina, perempuan itu seolah melupakan sejenak tentang masalah hidup yang belum menemukan titik penyelesaiannya. Di hirupnya dalam-dalam oksigen yang di keluarkan oleh pepohonan, terasa rilex, paru-paru dan otaknya membutuhkan tempat seperti ini.
"Kalau masalah nggak ada jalan keluarnya, mendingan kita yang keluar buat jalan-jalan." Ucap Albi yang berdiri tepat di samping Erina.
"Hah, bisa aja loe Bi." Balas Erina.
"Ini tempat favorit gue lho Er, kalau gue lagi gabut gue sering datang ke sini." Albi menatap jauh ke ujung danau sana, laman yang putih terlihat sangat serasi di padu padankan dengan warna hijau air danau itu.
"Memangnya loe suka gabut kenapa?" Tanya Erina kemudian. Albi tersengar menghela nafas sebelum menjawab.
"Loe beneran pengen tau gue gabut kenapa?" Lali-laki itu malah balik bertanya. Erina mengangguk samar.
"Saat gue bingung harus gimana lagi buat bisa deket sama perempuan yang gue suka, gue pasti datang ke sini Er. Dan di tempat ini gue suka nemuin ide-ide konyol buat cari perhatiannya dia." Albi bicara sambil menerawang jauh ke depan sana. Entah apa yang dia lihat, ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman.
Deg!
Erina merasa jika Albi sedang membicarkan dirinya sekarang. Perempuan itu menoleh ke samping, tepat Albi berada. Wajahnya terlihat sendu saat bicara, namun seulas senyum berusaha untuk ia ukirkan.
Kenapa Erina baru menyadari semuanya sekarang, jika apa yang Albi lakukan selama ini adalah karena laki-laki itu hanya ingin bisa dekat dengan dirinya. Tapi dengan teganya Erina malah menampik, tanpa ingin tau sebesar apa keseriusan yang Albi miliki untuk dirinya.
Dia merasa jadi orang paling jahat di muka bumi ini, mematahkan hati laki-laki sebaik Albi. Cinta butanya terhadap Devan membuat pandangannya kabur, sehingga yang bisa ia lihat hanyalah Devan, Devan dan Devan.
Melihat Erina yang hanya diam saja, Albi kembali melanjutkan kalimatnya.
"Gue sadar kok, gue masih banyak kekurangan. Tapi cinta yang gue miliki buat dia itu sangat sempurna Er. Sayangnya dia nggak pernah tau seberapa besar gue cinta sama dia." Lirih Albi kemudian.
"Emm, Bi, fotoin gue dong!" Erina tak sanggup jika harus melihat wajah sendu Albi. Perasaan bersalah semakin menyiksa hatinya. Erina tak ingin dirinya tenggelam dalam perasan bersalah ini lebih dalam lagi. Dia segera mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
________________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...