
Fokus Erina sekarang adalah belajar, karena ujian nasional akan dilaksanakan esok hari. Erina sudah berdebar-debar karena merasa grogi akan menghadapi ujian yang menentukan dirinya lulus atau tidak ini. Seperti malam itu, Erina dengan giatnya belajar, membaca satu buku ke buku yang lain. Mencoba memahami soal yang selalu muncul saat try out ataupun pemantapan.
Saat tiba-tiba saja pintu kamarnya di dorong dari luar. Menandakan ada yang masuk kedalam.
"Mama." Ucap Erina saat melihat mama Sofi berdiri di ambang pintu.
"Lagi sibuk Er?" Tanyanya kemudian.
"Lumayan ma, Erina lagi belajar, besok kan ujian." Jawab Erina.
"Itu di depan ada temen kamu yang nungguin." Balas mama Sofi sambil mengedikan bahu.
"Siapa ma? Via?" Tanya Erina lagi.
"Bukan Via, tapi cowo, ganteng lagi." Jawab mama Sofi sambil cekikikan saat mengatakan kata ganteng. Dasar mak-mak genit. Erina bilangin papa nanti baru dia tau rasa.
"Siapa ma? Albi?" Tanya Erina yang semakin penasaran.
"Udahlah, kamu liat aja sendiri di depan. Mama mau nyetrika baju papa kamu." Mama Sofi menjawab sambil berlalu meninggalkan kamar Erina. Tinggal Erina seorang diri dan bertanya-tanya siapakah gerangan orang yang kurang kerjaan datang ke rumahnya malam-malam seperti ini?
Akhirnya tanpa berpikir apapun lagi, Erina beranjak untuk turun kebawah dan melihat siapa orang kurang kerjaan itu.
Erina membuka pintu utama rumahnya yang memang sudah sedikit terbuka itu, dia melihat seorang laki-laki dengan perawakan tinggi tegap tengah berdiri membelakanginya.
Dari postur tubuhnya, Erina seperti mengenali orang itu. Dia adalah...
"Devan?" Pekik Erina sedikit tak percaya apa yang ia lihat itu benar atau tidak.
Laki-laki itu menoleh saat Erina memanggil namanya.
"Er!"
"Loe ngapain malam-malam gini ke rumah gue? Bukannya belajar! Besok kan ujian!" Cecar Erina sambil mendaratkan pantatnya ke atas kursi yang ada di teras itu.
Entahlah Erina harus merasa senang atau tidak saat tiba-tiba saja laki-laki yang ia taksir selama ini datang menemuinya langsung ke rumah. Harusnya Erina merasa bahagia sih.
"Er, sory kalau gue ganggu loe malam-malam gini. Tapi ada beberapa hal yang mau gue omongin sama loe." Ucap Devan yang sudah menyusul Erina dan duduk di kursi sebelah, hanya terhalang oleh satu meja bundar.
"Ada apa? Manganya nggak bisa besok lagi ya di sekolah? Gue ikut ujian kok besok." Tanya Erina.
__ADS_1
"Sebenarnya, gue cuma mau minta maaf sama loe karena waktu itu bola gue nggak sengaja menghantam kepala loe sampai loe pingsan lagi." Tutur Devan menyampaikan alasannya datang kemari malam ini.
"Oh ya udah nggak apa-apa. Gue udah maafin loe kok, dan gue juga baik-baik aja nggak sampai geger otak." Balas Erina.
Lantas Devan terdiam, dia mencoba menyusun kalimat agar Erina tak merasa tersinggung dengan apa yang akan ia sampaikan.
"Gue denger loe kemarin di tahan ya Er?" Devan melirik ke arah Erina.
"Apa gosipnya menyebar secepat itu di seantero sekolah?" Bukannya menjawab, Erina malah balik bertanya.
"Iya begitulah. By the way, apa sekarang loe udah tau siapa orang yang sebenernya menghamili Ameera dan bunuh dia?" Jawab dan tanya Devan.
"Kalau gue udah tau siapa orangnya, pasti gue udah menyeret dia dan gue arak dia keliling satu sekolahan." Jawab Erina dengan kesal.
"...dan gue juga bakalan viralin pelakunya, gue bakalan taruh muka orang itu di semua sosial media gue."
Devan hanya manggut-manggut mendengar Erina yang bersungut-sungut dengan kesalnya.
"Kalau loe butuh bantuan, loe jangan segan-segan telfon gue ya Er. Karena gue juga penasaran sebenernya Ameera selingkuh sama siapa." Ucap Devan.
Erina sedikit berpikir. Apa keputusan untuk mengikutsertakan Devan dalam misi pencarian ini sudah tepat atau tidak? Pasalnya Erina masih merasa curiga kepada laki-laki ini. Bisa saja kan Devan berbohong untuk menutupi kelakuan bejadnya terhadap Ameera.
Tapi, Erina kembali berpikir ulang. Reputasi Devan di sekolah cukup baik, dia anaknya tidak neko-neko dan juga religius di mata Erina. Apa mungkin orang sebaik Devan bisa sekejam itu memperkosa Ameera dan membunuhnya? Setaunya, Devan sangat mencintai Ameera. Karena meskipun banyak perempuan yang mendekatinya, Devan tidak pernah melirik mereka. Hanya Ameera perempuan pertama dan satu-satunya yang pernah digandeng Devan selama 3 tahun ia bersekolah di sekolahan yang sama dengan Erina.
Astaga!
Kepala Erina rasanya ingin pecah memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan itu. Baiklah baiklah, saat ini kecurigaan Erina lebih kental terhadap Violla dan mamanya. Jadi, tidak ada salahnya Devan ikut bergabung. Siapa tau saja dia bisa sedikit membantu.
"Loe bisa libatin gue dalam hal apapun Er. Insyaallah gue amanah, bisa di percaya dan bisa jaga rahasia." Ucap Devan terdengar tulus di telinga Erina.
"Oke, gini deh, loe gue masukin ke grup chat pasukan gue. Anggotanya cuma kita berempat, gue, Via, Albi sama loe. Biasanya kita kalau ada apa-apa diskusinya lewat grup itu." Ucap Erina yang akhirnya memberi kesempatan kepada Devan untuk bergabung.
"Oke Er, gue janji gue bakalan bantu loe buat cari siapa pelaku yang udah bunuh Ameera mulai sekarang. Jadi, siapa orang yang lagi loe curigai?" Tanya Devan.
"Kita lagi cari info tentang mamanya Violla. Gue curiga kalau dia adalah adik tiri gue." Jawab Erina. Devan yang tidak tahu apa-apa disini hanya mengernyitkan dahi.
"Adik tiri? Sejak kapan loe punya adik tiri?" Pertanyaan yang tepat. Erina menarik nafas sebelum dia menceritakan awal mula semua kerumitan masalah yang sedang ia hadapi.
Dari mulai dirinya yang diterror, sampai kenapa Erina bisa ada di kostan Ameera dimalam sahabatnya itu terbunuh.
__ADS_1
Devan menyimaknya dengan serius, lalu ia teringat akan kejadian saat Erina mendapatkan terror bangkai tikus di kolong mejanya. Erina benar-benar tidak sedang main-main. Setelah mendengar cerita panjang secara langsung dari mulut Erina, laki-laki itu semakin yakin jika Erina hanya korban, dia di jadikan kambing hitam oleh pelaku yang sebenarnya.
Dan akhirnya malam itu, Devan sah menjadi member baru dalam pencariannya Erina.
"Tapi gue salut sama loe Er, loe bisa bertahan sampai sejauh ini, ini masalah bukan masalah yang sepe. Loe bisa sekuat dan sebijak itu menghadapinya, kalau gue jadi loe, gue nggak yakin gue bisa bertahan." Devan menatap Erina dengan tatapan yang sulit di artikan, ada rasa kagum tersendiri terhadap gadis itu.
"Gue nggak akan bisa sekuat ini kalau nggak ada mereka yang selalu berdiri di samping gue. Mereka yang percaya sama gue dari awal, mereka sumber kekuatan buat gue."
Setelah percakapan panjang yang mereka lalui, kemudian keduanya saling terdiam. Hanyut dengan pikiran masing-masing, dan tinggal suara binatang malam yang terdengar nyaring di tengah kebisuan itu.
"Loe juga termasuk cowo yang sabar dan kuat Dev, loe nggak marah sama gue meskipun loe tau waktu itu gue jadi tersangka atas pembunuhan Ameera. Kalau pacarnya Ameera itu bukam loe, pasti gue udah habis di hajar." Di ujung kalimatnya Erina menyunggingkan senyum.
Devan ikut tersenyum meskipun Erina tau itu hanya seulas senyum yang dipaksakan.
"...loe termasuk orang yang pandai menyembunyikan kesedihan loe dari orang-orang. Loe tetep bisa melanjutkan hidup meskipun loe kehilangan seseorang yang sangat berarti buat loe." Lanjutnya kemudian.
"Dan itu juga kalimat yang tepat buat menggambarkan loe Er. Kepergian Ameera memang sempat membuat jiwa gue terguncang, gue nggak nyangka orang yang gue sayangi meninggal dengan cara seperti itu. Gue tau, Ameera juga salah satu orang terdekat loe, pasti nggak mudah menerima kenyataan ini. Gue juga merasakan hal yang sama dengan loe."
"Keadaan yang memaksa gue buat kuat Dev. Kalau gue lemah dan terus-terusan terpuruk, gue pasti bakalan terus di gunjing sama orang-orang dan gue nggak bakalan bisa menemukan siapa pelaku yang sebenarnya." Ucap Erina sambil menatap lurus kedepan.
Ehh, kenapa Erina bisa seterbuka ini kepada Devan? Bahkan Erina meluapkan semua isi hatinya di hadapan laki-laki itu. Bukankah sebelum ini, mereka jarang sekali terlibat perbincangan apapun disekolah?
Sadar akan hal itu, Erina jadi malu sendiri. Dia merubah posisi duduknya yang sedikit melorot kemudian berdehem. Apalagi saat sadar jika Devan terus menatapnya sedari tadi. Membuat grogi saja.
"Hidup harus tetap berjalan meskipun kita kehilangan seseorang yang sangat berarti buat kita kan?" Ucap Erina.
"Loe tau nggak Er?" Ucap Devan tiba-tiba.
"Nggak tau." Erina menyahuti sesingkat itu.
"Mata sama bibir loe itu ternyata mirip Ameera." Ujarnya kemudian.
Hah? Apa dia bilang? Mata sama bibir gue mirip Ameera? Apa jangan-jangan sedari tadi dia merhatiin gue karena dia lagi mengenang Ameera? Sialan! Mana gue sudah berbesar kepala sedari tadi.
"Gue baru sadar waktu loe pingsan kena lemparan bola gue kemarin. Pantesan aja waktu kita ketemu di depan toilet gue kayak liat ada sosok Ameera di dalam diri loe. Gue pikir itu cuma karena loe yang terlalu sering barengan sama Ameera. Tapi ternyata ada kemiripan antara kalian." Ucap Devan yang akhirnya mengutarakan uneg-unge di dalam hatinya belakangan ini.
Apa mungkin Erina masih berharap kepada Devan?
Entahlah! Erina sendiri masih bingung dengan hatinya. Yang jelas untuk saat ini, fokus Erina hanya pada dua hal. Pertama, ujian nasional, yang kedua menemukan pelaku pembunuhan Ameera. Soal cinta-cintaan Erina masih nomor sekiankan.
__ADS_1
_______________________
Like dan komentari dulu bagian ini sebelum lanjut nanti siang ya...