THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Masih mencari


__ADS_3

Hampir semua isi di dalam kardus-kardus sudah berhasil mereka obrak-abrik dan di keluarkan, isinya berceceran dimana-mana. Kamar Ameera lebih mirip kapal pecah sekarang. Bahkan Erina sampai membuka satu persatu buku milik Ameera, siapa tau saja ada petunjuk yang terselip seperti test pack waktu itu.


"Ameera apa suka nulis diary atau semacamnya gitu?" Tanya Albi sambil tangannya tak berhenti membongkar baju Ameera.


"Setau gue sih Ameera nggak suka curhat di diary ya. Kalau ada masalah apa-apa, dia pasti curhatnya ke gue atau ke Via. Suka juga curhat di sosmed, update status. Dan gue juga baru tau kalau Ameera nyimpen foto beginian selama ini." Jawab Erina.


Mereka menyerah, mereka tak menemukan petunjuk apapun lagi selain foto tadi.


"Udah lah Er, gini aja. Buka fotonya dari bingkai itu. Terus kita bawa, nanti kita cari tau juga siapa kira-kira itu cowo. Sekarang kita cari foto nyokap nya Violla." Ucap Albi sambil masukan kembali barang-barang Ameera kedalam dus secara sembarangan. Tentu saja tak bisa serapih sebelum mereka membongkarnya. Ternyata menghancurkar lebih mudah daripada membereskan.


"Kita seriusan mau cari foto mamanya Violla?" Tanya Erina.


"Iya, nanti kalau dapat, kita kasih tunjuk ke bokap loe." Jawab Albi. Erina mengangguk mengerti.


Setelah menyimpan kardus-kardus itu kembali ke kolong kasur, Albi dan Erina bergegas mendekati pintu kamar itu.


"Nggak dikunci Bi!" Seru Erina setelah memutar gagang pintu tersebut.


Albi yang hendak mengeluarkan linggis kecil dari saku celana, mengurungkan niatnya.


"Hah? Seriusan?" Erina mengangguk.


Albi melongok keluar, memastikan kalau tidak ada penghuni rumah yang berkeliaran. Setelah yakin jika situasinya aman terkendali, Albi keluar terlebih dulu. Memberi syarat kepada Erina melalui kibasan tangannya untuk keluar. Erinapun segera menyusul Albi.


Mereka mengendap-endap menyusuri setiap sudut rumah itu.


"Bi! Itu foto nyokapnya Violla." Erina berbisik sambil menepuk pundak Albi kemudian menunjuk pada satu titik saat melihat foto pernikahan ayahnya Ameera dengan mamanya Violla yang terpajang di dinding ruang keluarga.


Albi mengikuti arah tekunjuk Erina.


"Waduh, itu gede banget Er. Mereka nanti pasti curiga kalau foto segede gitu hilang dari bingkainya." Ucap Albi saat melihat ternyata foto itu berukuran sangat besar. Namanya juga foto pernikahan.


"Iya juga sih." Erina mendesah.


"Kita cari yang agak kecilan biar mereka nggak sadar kalau ada satu foto yang hilang."


Merekapun kembali mengendap, untuk mencari foto yang agak kecilan katanya.


Saat hendak berbelok untuk menuju ruangan berikutnya, tanpa di dugan ada seseorang yang muncul dari balik tembok yang berlawanan dengan arah mereka sehingga mereka sama-sama terkejut.


"Aaaaaaaa."


Erina dan orang yang muncul tiba-tiba itu menjerit ketakutan, apa lagi saat Erina melihat kalau wajah sosok itu putih semua. Perempuan itu jadi ingat dengan hantu wajah datar yang pernah dia lihat di kamarnya. Yang ternyata bukanlah hantu melainkan penyusup.


Albi yang berada di belakang Erina dengan cepat membekap mulut Erina. Dia yang lebih tenang karena dia sudah mempersiapkan hal apa yang harus mereka lakukan kalau seandainya mereka ketahuan.

__ADS_1


"Ayaah, mamaa! Ada maliiiiing!" Itu suara Violla, dia berjerit histeris sambil menghentak-hentakan kakinya.


"Kita kabur cepet!" Bisik Albi, merekapun cepat-cepat lari menuju kamar Ameera.


"Ada apa Violla? Kenapa kamu teriak malam-malam seperti ini?" Masih bisa Erina dan Albi dengar suara pak Nandi yang terdengar panik.


"Iya, bikin orang panik saja!" Seru mamanya Violla.


Albi dan Erina baru sampai di depan kamar Ameera saat itu.


"Ada maling! Mereka lari ke arah kamarnya Ameera." Ucap Violla yang masih berusaha melawan rasa terkejutnya.


"Apa?" Tanya pak Nandi tak percaya.


"Ayo ceper Er!" Albi dan Erina segera masuk kedalam kamar Ameera, tak lupa Albi mengunci pintu dari dalam dengan selot yang ada.


Lalu terdengar ribut-ribut lagi diluar pintu kamar Ameera. Sepertinya mereka sudah berada di balik pintu ini sekarang.


"Gimana nih Bi?" Tanya Erina panik, bahkan sekarang perempuan itu ingin kencing saking tegangnya. Jangan sampai Erina kencing di celana.


"Kita kabur lewat tangga tadi lagi. Ayo!" Albi menarik tangan Erina, siap tidak siap Erina tertarik oleh Albi.


Sesekali Albi melirik ke arah pintu yang di gedor-gedor dari luar.


"Loe duluan Er, hati-hati!" Seru Albi. Erina berusaha keras untuk turun. Albi lalu menyusulnya.


"Mereka menguncinya dari dalam." Ucap pak Nandi.


"Ayah lihat kebawah saja, sepertinya mereka kabur lewat balkon." Seru mamanya Viola.


"Iya, mama benar. Ayah akan turun untuk menangkap mereka." Pak Nandipun berlari kecil menuruni anak tangga untuk sampai di lantai bawah rumahnya.


"Kamu ngapain malam-malam seperti ini mukanya putih-putih gitu? Udah kayak hantu aja tau." Geruru mama Violla sambil menunjuk pada wajah anaknya itu.


"Maskeran lah ma, memangnya apa lagi?"


***


Pak Nandi membuka pintu utama rumahnya setelah susah payah membuka kunci. Di situasi genting seperti ini sesuatu yang biasanya kita lakukan dengan mudah selalu berubah jadi sulit.


Saat dia tiba di teras, laki-laki paruh baya itu melihat dua orang berpakaian hitam-hitam baru saja berhasil menerjang pagar rumahnya.


Dia kecolongan, malingnya berhasil kabur.


Pak Nandi tak hanya tinggal diam, dia berjalan dengan cepat menuju pagar rumahnya. Lalu dia melihat dua orang tadi menaiki motor, motor itupun bergerak maju menembus kegelapan malam.

__ADS_1


Pak Nandi memukul pagar rumahnya dengan kesal.


"Sial!" Umpatnya.


Diapun kembali berjalan masuk kedalam rumahnya, dia akan memeriksa CCTV jika ada benda berharga yang digondol oleh maling tadi.


***


"Huh huh huh, untung aja kita berhasil kabur ya Bi!" Nafas Erina tersengal karena habis lari maraton di tengah malam seperti ini. Keringat dingin membasahi pelipis ya, padahal udara di atas motor terasa dingin.


"Ya, foto Ameera yang tadi nggak ketinggalan kan?" Tanya Albi yang masih sibuk mengemudi. Tangannya gemetar memegangi pedal gas, masih syok juga dengan kejadian ini.


"Nggak kok Bi, tenang aja."


***


Keesokan harinya.


Siang itu pasukan lengkap Erina sedang kumpul di kedai ice cream favorit mereka.


Albi melempar foto yang semalam dia temukan di kamar Ameera ke atas meja yang mereka kelilingi. Sontak kepala Via dan Devan melongok.


"Ameera bareng siapa nih? Kenapa mukanya dicoret-coret kayak gini?" Tanya Devan.


"Itu yang jadi pertanyaan gue. Kira-kira siapa cowok di dalam foto itu?" Erina balik melempar pertanyaan.


"Loe dapetin ini dari mana?" Tanya Via.


"Dari kamarnya Ameera. Semalam gue kesana sama Albi." Jawab Erina.


****, si Albi selangkah di depan gue!


"Terus loe dapetin foto nyokapnya Violla juga?" Tanya Via.


"Nggak, kita cuma nemuin itu aja." Jawab Erina.


"Sekarang kita bagi tugas deh. Loe Dev, tolong loe kerumahnya Dea ya. Loe cari foto nyokapnya dia sama nama nyokapnya siapa. Bisa kan?" Perintah Erina.


"Gue nggak tau rumahnya dimana." Jawab Devan.


"Loe kan pinter Dev, loe bisa tanya ke orang-orang disana. Nanti gue kirim alamat gangnya." Ucap Albi. Devan mendelik tak suka ke arahnya.


"Oke, gue sama Via. Kita ke rumah Ameera lagi, kita pancing mamanya Violla buat keluar. Dan nanti loe diem-diem fotoin dia ya Bi!"


_________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2