THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Ternyata dia


__ADS_3

"Terus kalau bukan Dea, siapa anak papa dari Devi itu?"


"Gue!"


Semua mata yang ada di tempat itu menoleh. Dahi Erina mengerut sebab tak terlalu jelas melihat wajah si pemilik suara tadi. Orang itu perlahan menurunkan hodie yang menutupi kepalanya.


Mata Erina seketika membelalak, begitupun dengan papa Heri dan nama Sofi. Mereka tahu betul siapa orang yang sedang berdiri di hadapan mereka saat ini.


"Beb." Ucap Erina lirih, ingin rasanya dia tak percaya. Seluruh tubuhnya sudah gemetar sekarang, namun sejurus kemudian Erina malah tertawa seperti orang bodoh. Berharap jika ini hanya gurauan semata.


Mama Sofi dan papa Heri tak bisa berkomentar apapun karena mulut mereka disumpal lakban.


Sedangkan orang yang Erina panggil beb itu tersenyum sinis sambil melipat kedua tangannya di dada, terlihat meremehkan dan sangat angkuh.


"Beb, loe ada disini? Gue tau loe pasti datang buat menyelamatkan gue sama keluarga gue kan?" Ucap Erina yang berusaha untuk tersenyum, senyum penuh kegetiran. Meskipun dia sendiri tau jika apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.


Via, orang itu adalah Via. Orang yang bahunya selama ini Erina jadikan sandaran. Yang kakinya dulu melangkah bersama dirinya.


Via perlahan berjalan mendekat ke arah Erina dengan wajah pongahnya. Mencengkram kedua pipi Erina cukup kencang


"Loe pikir gue bakalan bebasin loe gitu aja setelah gue susah payah nangkap kalian? HAH? Jangan harap. Malam ini adalah malam terakhir buat kalian." Kemudian Via membuang wajah Erina dengan kasar.


Erina kembali menatap ke arah Via. Senyum Via yang dulu selalu terlihat manis, kini berubah jadi mengerikkan. Wajah menantang yang biasanya terlihat saat Via bersitegang dengan Violla atau siapa saja yang berani mengusik Erina.


Apa selama ini itu hanyalah sebuah topeng?


"Jadi, loe adik tiri gue beb? Loe anaknya Devi?" Tanya Erina dengan bibir yang gemetar meskipun dia sendiri sudah tau apa jawaban yang akan dilontarkan sahabatnya itu.


"Ya, gue adalah adik tiri loe yang selama ini loe cari-cari. Gimana kabar loe, KAKAK TIRI? Hahaha." Bahkan tawa Via kini berbeda, tawanya tak serenyah dulu, tawanya kini terdengar menyeramkan.di telinga Erina.


Erina menggeleng, dia berkeyakinan jika semua ini hanyalah mimpi buruk semata.

__ADS_1


"Well, gue bener-bener udah enek banget liat muka loe itu Er. Loe itu so kecantikan, loe bangga di rebutin sana dua cowo terkeren di sekolah. BANGGA LOE HAH?" Via berteriak tepat di depan wajah Erina, membuat mata Erina terpejam karena kaget mendengar sentakan dari Via. Setelah tak terdengar suara teriakan Via, Erina kembali membuka mata.


"Nggak nggak, ini pasti ada yang salah. Loe pasti cuma mau ngeprank gue kan beb? Bilang kalau ini cuma becanda plis! Atau ini pasti mimpi, ya! Pasti gue lagi mimpi sekarang." Nada bicara Erina meninggi.


Plak!


Telapak tangan Via mendarat dengan mulus tepat di pipi kiri Erina. Sejurus kemudian Via tertawa melihat Erina yang tertegun dengan perbuatannya.


"Hahaha. Sakit? Sakit kan? Masih mau bilang ini mimpi? HAH?" Menyentak.


Erina merasakan perih di pipinya yang baru saja Via tampar.


"Beb!" Lirih Erina, matanya kini mulai berkaca-kaca. Dadanya begemuruh dan sesak. Via menatapnya dengan sorot mata tajam dan membunuh.


"Kenapa loe tega lakuin ini semua sama gue beb? Loe sahabat terbaik gue beb!" Ucap Erina sendu.


"PERSETAN sama yang namanya sahabat! Dan loe bilang apa tadi? Gue tega? Bokap loe ini yang lebih tega, dia lebih milih PELAKOR ini di bandingkan mama gue. Dia buang mama yang lagi ngandung gue gitu aja seperti sampah. Kalian hidup bahagia diatas penderitaan mama gue!"


"Hmmmpt, hmmmpt!" Papa Heri bersuara. Via mendekatinya lalu melepaskan lakban yang melekat di mulut papa Heri dengan kasar, sampai-sampai papa Heri merasakan kesakitan saat kumisnya mungkin ikut terbawa oleh lakban.


"Bulsyit! Loe nggak pernah niat buat cari gue sama mama. Loe cuma sibuk sama PELAKOR dan keluarga baru loe tanpa loe mau tau gimana kerasnya mama berusaha bertahan hidup!" Bahkan Via berbicara dengan tidak sopannya kepada papa Heri. Dia membentak dan memaki, meluapkan kemarahan yang selama ini ia pendam. Dan kini Via merasa puas melihat wajah-wajah penuh penyesalan di depannya.


"Dimana Devi sekarang? Papa ingin bertemu dengannya."


"Terlambat, mama udah nggak ada dan loe yang udah bunuh mama secara perlahan!"


"...dan satu hal yang perlu loe tau. Manusia kayak loe ini nggak pantes di sebut PAPA. Loe itu setara sama kucing liar di jalanan, masuk lubang sana masuk lubang sini!" Via sangat kehilangan rasa hormatnya kepada ayah kandungnya.


"Apa? Devi sudah meninggal?" Sungguh demi apapun, papa Heri menyesalkan semua yang terjadi dengan Devi. Putrinya itu pasti sangat terpukul, terlebih dirinya tidak ada sebagai figur ayah sehingga kini Via memiliki prilaku yang menyimpang.


Via terdiam saat mengingat sang ibu yang telah berpulang, hatinya selalu rapuh jika membahas soal kematian ibunya. Via melihat bagaimana Devi meregang nyawa di depan mata kepalanya sendiri. Saat itulah Via bertekad untuk membalaskan dendam kepada papa kandungnya yang telah menyebabkan ibu kandungnya meninggal.

__ADS_1


Via segera menguasai kembali dirinya.


"Tolong nak, jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan baik-baik dan kita busa memulai hidup baru." Papa Heri berusaha meyakinkan Via.


"Diam loe! Semuanya nggak baik-baik aja setelah mama meninggal. Hidup gue udah hancur dan kalian semua yang udah menghancurkannya!" Sentaknya lagi.


"Tidak nak, ini semua hanya salah paham!"


"BERISIK! Lakban lagi mulutnya!"


"Hmmmpt! Hmmmpt!" Papa Heri tak bisa bicara saat lakban kembali di rekatkan pada mulutnya.


Erina sudah menangis sekarang. Dia tak menyangka, ternyata adik tiri yang dia cari-cari selama ini berada sangat dekat dengan dirinya. Dan itu adalah Via, sahabat terbaik dalam hidupnya.


"Dimana tante Sari? Drama bakalan segera dimulai. Harusnya dia udah datang kesini." Tanya Via pada suami Sari yang sedari tadi berdiri di belakangnya menyaksikan drama itu.


"Sebentar lagi Sari datang dan membawa anak itu kemari."


"Oke, sambil nunggu tante Sari datang bawa si Dea culun itu kesini, mari kita main-main sebentar." Via kembali melipat kedua tangannya dengan angkuh. Dia berjalan memutari kurai Erina, menatapnya dengan penuh kebencian.


"Gue pikir selama ini Dea itu adik tiri gue karena nama ibunya Devi. Tapi kenapa loe juga mau nyakitin Dea? Apa hubungan loe sama Dea? Apa kalian kerja sama buat hancurin gue?" Erina bertanya dengan berlinang air mata.


"Loe itu bener-bener bego ya Er? Gue greget banget sama loe, pengen nyakar muka so kecantikan loe itu dari dulu. Loe pikir di dunia ini nama Devi cuma satu? HAH? Tapi itu jadi sebuah keberuntungan buat gue. Gue bisa jadiin si Dea kambing hitam dan selama ini nggak ada seorangpun yang curiga kalau gue yang udah neror loe! Hahaha."


"...dan setelah ini juga nggak bakalan ada orang yang nyangka kalau gue yang udah ngabisin kalian. Karena mereka pikir gue lagi ada di Jakarta sekarang. Gue bakalan ngelimpahin semua kesalahan ini sama si Dea itu. Hahaha. Gimana? Bagus kan ide gue?"


"Gue nggak nyangka beb loe bisa berpikir sejauh itu. Selama ini gue percaya banget sama loe. Tapi ternyata loe itu MUSUH DALAM SELIMUT!"


Cuih!


Via meludahi Erina saat Erina bicara dengan lantang padanya. Erina memejamkan mata saat air liur Via membasahi wajahnya. Menjijikan sekali

__ADS_1


_________________________


Nah, buat yang nebak si Via pelakunya 🤚👏👏👏👏👏👏👏👏 Jadi selama ini si Dea cuma dijadikan kambing hitam ya... Semoga nggak pada kabur ya para readers setelah tau pelaku yang sebenarnya 🤭🤭🤭 Masih banyak yang belum di kupas, kita bahas nanti sampai tuntas...


__ADS_2