THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Malam perpisahan


__ADS_3

Erina memperhatikan sekali lagi penampilannya di depan cermin, dress berwarna olive sebatas lutut nampak indah melekat di tubuh perempuan delapan belas tahun itu, rambutnya di biarkan tergerai, sudah catok keriting juga tadi di bagian bawahnya, dia lantas menyematkan jepit korea yang kemarin dibelinya di aplikasi belanja online. Tak lupa ia menyampirkan tas kecil berwarna putih di pundaknya.


Perfect.


Kemudian netranya beralih pada benda pipih yang tergeletak di atas meja belajar. Segera ia raih. Sepi, tak ada pesan dari Albi yang meramaikan ponselnya. Apa mungkin laki-laki itu mulai lelah karena Erina selalu mengabaikan pesan darinya?


"Er, itu teman kamu sudah ada di depan nungguin!" Teriak mama Sofi dari luar kamar.


"Iya ma, Erina turun sekarang." Membalas sambil berteriak pula. Erina segera memasukkan benda kesayangannya itu kedalam tas yang ia gunakan.


***


Bulan purnama mengambang jauh diatas sana, ditemani bintang kejora yang berkelipan, awan hitam ikut serta meramaikan langit malam.


Malam ini adalah malam perpisahan, yang itu artinya setelah malam ini Erina bukan lagi siswa di Bina Muda, hasil kelulusan kemarin menyatakan jika semua murid angkatan tahun ini lulus semua.


Erina turun dari mobil Devan tepat di area parkir sekolah. Perempuan itu dibuat menganga dengan suasana sekolah malam ini, sekolah di sulap seperti tempat konser.


Terdengar MC sedang melakukan cek sound di atas panggung megah yang berdiri kokoh di tengah lapangan. Sudah banyak murid yang berkerumun dan mengelilingi panggung hiburan itu. Ada juga yang baru datang dan langsung ikut bergabung.


Lampu berwarna-warni berkelipan di atas panggung bak lampu disko. Semakin memeriahkan dan membuat hangat suasana malam ini. Erina dan Devan datang sedikit terlambat, acara sudah mulai dari sekitar satu jam yang lalu.


Devan menyusul Erina turun, dia ikut memperhatikan keramaian yang sedang di tatap Erina.


"Rame banget ya Dev." Ucap Erina.


"Iya, ini kan malam yang paling di tunggu-tunggu, bakalan ada penyanyi solo yang lagi naik daun itu. Pasti anak-anak pada antusias buat datang." Balas Devan


"...ya udah, kita gabung sama yang lain yuk!" Ajak Devan.


"Emm, loe duluan aja Dev. Gue mau ke toilet dulu bentar."


"Ya udah."


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata jahat yang sedang mengintai gerak-gerik mereka. Kemudian orang itu kembali bersembunyi di tempat persembunyiannya.


Erina dan Devan pun berjalan kedua arah yang berlawanan. Untuk menuju toilet, Erina harus berjalan masuk ke gedung sekolah yang suasananya agak sepi, kebanyakan orang lebih memilih berada di depan panggung untuk menikmati hiburan dari pada pergi ke tempat sepi ini. Tentu saja jika tidak mendesak Erina pun tidak akan pergi ke tempat ini, sendirian pula.

__ADS_1


Hanya ada dua lampu penerangan di koridor yang akan membawa Erina ke toilet, mungkin sebagiannya lagi dipindahkan ke lapangan untuk dijadikan sumber penerangan disana.


Deg!


Netra Erina menangkap sosok yang ia kenal berjalan di koridor hendak menuju ke arahnya. Itu Albi.


Erina merindukan Albi.


Langkah perempuan itu semakin lama semakin pelan, matanya tak terlepas dari laki-laki yang kini juga tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


Ada apa dengan Albi? Apa dia marah? Atau mungkin dia lelah menghadapi sikap kekanakan Erina?


Dan saat tubuh mereka berpapasan, langkahnya terhenti, kedua pasang mata itu masih tetap menatap satu sama lain dengan bibir yang terkunci rapat.


Cukup lama mereka terdiam dalam keheningan yang tercipta.


Gue memang cinta sama loe Dev!


Gue kecewa sama loe!


Kecewa!


Kecewa!


Albi telah berubah.


"Er!"


Langkah Erina kembali terhenti saat Albi menyerukan namanya. Kedua insan itu kemudian membalikan badan sehingga kini keduanya saling berhadapan.


"Ada yang mau gue bicarain sama loe." Ucap Albi. Erina berharap jika hubungan mereka akan kembali seperti dulu lagi. Albi yang selalu ada untuk dirinya. Erina akan memaafkan semua kesalahan Albi jika seandainya Albi meminta maaf sekarang.


"Bilang aja."


"Gue diterima di Akademi militer, sekolah kemiliteran." Ucap Albi, raut wajahnya terlihat murung, Erina menangkap ada kesedihan di sana.


"Ya bagus dong kalau gitu. Itu kan cita-cita loe dari dulu." Balas Erina.

__ADS_1


"Gue bakalan pergi dari pulau ini dan menetap disana selama sekolah kemiliteran itu Er."


"Apa?" Erina terlihat syok mendengar penuturan Albi.


"Gue mau minta maaf atas semua kesalahan yang udah gue lakuin selama ini ke loe Er. Gue bener-bener nggak bermaksud buat bohongin loe kemarin. Gue nyesel." Ucap Albi sendu.


BUK!


Tanpa diduga, Erina mendorong bahu Albi cukup kuat, membuat Albi sedikit terseret ke belakang. Mata perempuan itu sudah berkaca-kaca sekarang.


"Loe bener-bener pembohong Bi!" Seru Erina, nada bicaranya sudah mulai naik. Namun tak bisa dipungkiri, dia merasa sedih saat Albi mengatakan akan pergi dari pulau ini.


Albi bergeming, membiarkan Erina melakukan apa saja kepada dirinya.


"Loe bilang loe bakalan selalu ada buat gue! Tapi mana buktinya? Loe mau pergi, Via pergi, Ameera pergi. Semua orang aja pergi ninggalin gue! Huhuhu." Erina tak bisa membendung lagi rasa sesak di dadanya, tangisnya pecah seketika.


"Jahat loe Bi!" Seru Erina disela tangisnya.


"Loe kan udah punya Devan Er. Dia yang bakalan selalu ada buat loe kalau gue nggak ada. Devan pasti bisa jagain loe." Albi memegang bahu Erina saat melihat perempuan itu kini menangis.


Dalam tangisnya Erina mengernyit mendengar penuturan Albi.


"Kenapa Devan?" Tanya Erina.


"Woy Bi! Gue cariin loe kemana-mana taunya loe disini!" Iqbal tiba-tiba saja datang dan menepuk bahu Albi. Kedatangannya membuat percakapan antara Albi dan Erina terhenti.


"Kenapa Bal?" Tanya Albi.


"Habis ini giliran loe yang tampil. Cepetan gih loe siap-siap, panitianya udah ngomel ngomel terus dari tadi nanyain loe!" Jawab Iqbal.


Sekali lagi Albi menoleh ke arah Erina, perempuan itu masih terisak. Entah apa maunya. Dia menerima cinta Devan dan tak menginginkan Albi pergi.


"Udah buruan jangan banyak mikir!" Iqbal mendorong tubuh Albi sehingga mau tak mau laki-laki itu harus segera pergi untuk menyumbangkan satu buah lagu untuk mengisi acara di malam perpisahan ini.


"Er, ngapain loe masih disini? Ayo kita kedepan. Kita liat penampilan si Albi. Kalau suaranya jelek kita timpukin nanti pake botol bekas." Erina yang semula galau mendadak ingin tertawa mendengar candaan dari Iqbal.


"Hah, bisa aja sih loe Bal." Erina akhirnya menerbitkan sebuah senyuman. Merekapun berjalan beriringan menuju ke lapangan. Erina menyusut pipinya menggunakan punggung tangan. Make up nya pasti sudah luntur sekarang. Biarkan saja, toh di sana pencahayaannya remang-remang. Orang-orang pasti tak akan menyadari jika make up Erina luntur.

__ADS_1


____________________


Pelaku yang sebenarnya akan ketahuan di malam acara perpisahan ini... Mendekati ending nih guys, mau sad ending atau happy ending? kasih coret-coretnya di kolom komentar...


__ADS_2