
Kebakaran yang melahap rumah Erina seketika menjadi topik pembicaraan yang hangat di media massa dan juga online, dengan kisah di balik kejadian itu adalah balas dendam. Berita itu viral dan menjadi sorotan beberapa wartawan, mereka ingin mengklarifikasi apakah cerita dibalik terjadinya kebakaran itu benar atau tidak.
Namun papa Heri dan mama Sofi serta Erina memilih tutup mulut, mereka tak ingin kembali mengungkit kejadian yang hampir saja merenggut nyawa semua anggota keluarganya.
Karena bagaimanapun juga Via adalah anak kandung papa Heri, dia tak ingin nama putrinya itu menjadi jelek di mata publik. Sebisa mungkin papa Heri menutupi aib keluarganya.
Beruntung rumah itu mendapat jaminan asuransi. Sembari menunggu rumah selesai di renovasi habis-habisan, Erina sekeluarga menyewa sebuah rumah tinggal yang letaknya tak terlalu jauh dari kompleks.
***
Selang benerapa hari, Erina mendapat kabar jika neneknya Via atau mantan mertua papa Heri tutup usia, dia di temukan meninggal oleh tetangga selang dua hari setelah Via dan Sari di tangkap.
Sedangkan Bayu, suami Sari, dia mengalami koma sebab cedera otak yang di alaminya.
Sari mendekam di balik jeruji besi setelah mendapatkan pengobatan pada kakinya yang tertembak kala berusaha untuk melarikan diri.
Via di tahan di sel yang berbeda dengan Sari, dia terlihat duduk di sudut sel sambil membenamkan wajahnya di antara kedua lutut.
"Hahaha." Dia tertawa sendiri saat membayangkan Erina dan keluarganya kini sudah terkubur di dalam tanah, mayat mereka pasti tak bisa di kenali, tubuh mereka pasti hangus terbakar.
Hatinya merasa puas, akhirnya orang-orang yang menyebabkan penderitaannya kini sudah lenyap.
Via mengangkat kepalanya, mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru sel tahanan.
"Huhuhu." Kemudian Via menangis sendu saat sadar jika dirinya kini mendekam di tempat itu sampai batas waktu yang tidak dia ketahui dengan pasti.
Sejak mendapat kabar jika neneknya telah tiada, Via terlihat seperti orang tidak waras, kadang tertawa sendiri, lalu di detik berikutnya menangis meraung-raung sambil memanggil-manggil neneknya.
"Arrrgggh!" Via menjambak rambutnya dengan kasar, dia harus memikirkan cara agar bisa keluar dari tempat ini.
Bahkan tahanan lain di dalam sel itu sering merasa kerkejut saat Via tiba-tiba menjerit histeris tanpa sebab.
"Via! Ada orang yang ingin bertemu dengan anda." Seorang polwan membukakan pintu sel.
Via beranjak, dengan tergesa dia menghampiri polwan itu.
"Apa saya bisa bebas Bu?" Tanya Via dengan berbinar.
"Tidak, ada orang yang mengunjungi anda. Ayo ikut saya!"
__ADS_1
Raut wajah Via berubah kecewa.
***
Darah Via terasa berhenti mengalir saat melihat orang yang kini sedang duduk menunggu dirinya di ruang besuk. Matanya membulat dengan sempurna.
Nggak, ini nggak mungkin. Dia udah mati. Via tertegun sambil menatap tajam ke arah Erina yang ternyata datang bersama Albi.
"Via!" Seru Albi saat menyadari keberadaan Via. Erina ikut menoleh.
"Beb!" Spontan Erina beranjak, lalu berjalan menghampiri sahabatnya itu dan memeluknya.
Via tersadar saat Erina memeluknya, perasaan marah dan benci semakin ganas menggerogoti hati Via. Pengorbanannya masuk bui ternyata hanya sia-sia jika ternyata Erina masih hidup.
"Gimana keadaan loe beb? Loe baik-baik aja kan?" Tanya Erina sehalus mungkin. Yang di tanya hanya bergeming, sorot matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa.
BUKKK!
Via mendorong tunuh Erina hingga membentur tembok.
"Awwh!" Erina merintih saat punggungnya menyentuh tembok keras itu. Albi terkesiap, beranjak dan menghampiri Erina.
Via menyingkirkan Albi dari sisi Erina, sejurus kemudian Via mencekik leher Erina dengan membabi buta, rasa bencinya sudah menjalar hingga ke ubun-ubun. Via tak terima, bagaimana bisa Erina masih hidup sedangkan dirinya berada di jeruji besi? Ini tidak adil.
"Beb! Lepasin gue beb!" Dengan susah payah Erina berkata, tenggorokannya tercekat oleh tangan Via. perempuan itu kesulitan bernafas.
"Loe harus mati Er!" Via mencekik Erina tanpa ampun, tenaganya sudah seperti orang kesurupan sehingga Erina sulit melepaskannya.
"Via. Loe jangan gila Vi, lepasin Erina!" Albi berusaha untuk melepaskan tangan Via dari leher Erina dengan susah payah.
Dua orang petugas datang saat mendengar ada keributan, lalu membantu Albi menyingkirkan Via yang mencekik Erina seperti sedang kesetanan.
Dan akhirnya Via berhasil di lepaskan setelah tiga orang terjun.
"Uhuk! Uhuk!" Erina terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang terasa sesak. Albi mengusap pundaknya, siapa tau saka itu bisa sedikit membantu dan membuat Erina tenang.
"Kenapa loe nggak mati? Loe harusnya mati Er! Loe harus mati!" Via yang kini di pegangi oleh dua petugas masih saja berteriak sambil berontak.
"Loe kenapa sih beb? Gue kesini cuma buat liat keadaan loe. Gue ini kakak loe. Gue peduli sama loe." Ucap Erina yang kini matanya mulai memerah dan berkabut.
__ADS_1
"PERSETAN sama yang namanya peduli. Kalau loe peduli harusnya kalian nggak biarin gue ada disini." Via berteriak.
"Kalau loe mau berubah dan menyesali perbuatan loe, papa pasti bakalan lepasin loe dari sini. Tapi liat kelakuan loe yang nggak ada rasa bersalahnya sama sekali, gue ragu buat bebasin loe. Bisa aja kan nantinya loe berusaha buat celakain kita lagi?" Ucap Erina.
"Gue nggak terima, kalian masih bisa hidup sedangkan gue ada disini. Ini nggak adil. Loe harusnya mati Er!"
Petugas yang menyadari jika situasinya mulai tak terkendali, membawa Via untuk kembali di masukan ke dalam sel.
"Maaf, waktu berkunjung cukup untuk hari ini." Kemudian Via diseret oleh dua petugas, Via berontak karena masih ingin membunuh Erina.
"Awas loe Er! Gue bakalan kembali buat balas dendam dan BUNUH LOE! Inget itu Er, gue bakalan BUNUH LOE!" Sebelum dirinya hilang, Via terus saja berteriak.
Erina menatap Via dengan nanar, setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya dan jatuh melalui pipi. Erina pikir Via akan berubah setelah dia mendekam disini dan mereka bisa memperbaiki semuanya. Namun sepertinya harapan Erina terbang tertiup angin, Via tetap tidak berubah, malah semakin menggila ingin membunuhnya.
"Loe nggak usah khawatir lagi Er. Via nggak bakalan bisa nyakitin loe lagi, dia aman disini." Ucap Albi lirih.
Segera Erina mengusap pipinya dengan punggung tangan. Dia mencoba tegar di depan Albi.
"Gue nggak nyangka aja Bi. Via, orang yang paling deket sama gue sama Ameera tega lakuin ini semua. Kenapa sih dia nggak berubah Bi? Padahal gue berharap kita bisa kayak dulu lagi. Gue sayang sama Via."
"Mungkin Via masih butuh waktu buat merenungi semua perbuatannya. Biar dia disini dulu sampai dia menyadari semua yang dia lakukan itu salah."
Erina berusaha tersenyum sambil mengangguk.
***
Albi mengajak Erina dan juga Baim ke kedai ice cream, wajah Erina terlihat sedih saat Albi membahas tentang kepergiannya. Seperti biasa, Baim memesan Boba Sundae, sedangkan Erina dan Albi Berry Bean Sundae.
"Besok gue udah harus berangkat Er." Ucap Albi tiba-tiba. Erina mendongak dan menatap ke arahnya, kecewa memang, tapi apa yang bisa dia lakukan? Mencegah? Erina bukan siapa-siapa.
"Semoga loe selamat sampai tempat tujuan Bi. Gue do'a in loe betah disana dan cita-cita loe bisa terwujud. Makasih buat semuanya yang udah loe lakuin buat gue. Dan gue juga minta maaf atas semua kesalahan gue sama loe. Gue sering marah-marah nggak jelas sama loe padahal niat loe sebenarnya baik."
"Amin. Loe harus janji satu hal sama gue."
Erina menaikan sebelah Alisnya.
"Loe jangan trauma menjalin persahabatan. Dea orang yang baik, gue harap setelah ini kalian bisa berteman. Dan jaga diri loe baik-baik ya!"
____________________
__ADS_1
Tunggu satu episode terakhirnya ya...