THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Terror lagi?


__ADS_3

"Mungkin loe udah bosen denger kalimat gue itu. Tapi gue nggak akan bosen buat bilang kalau gue bener-bener sayang sama loe Er." Ucap Albi sungguh-sungguh.


Tatapan Albi terasa sangat menusuk mengenai mata lalu menembus hingga ke hati Erina.


Perasaan apa ini?


Erina masih terpaku, mulutnya seolah terkunci, hanya debaran di jantungnya yang bicara.


"Gue mau loe jadi cewek gue Er. Meskipun loe udah sering nolak gue, tapi gue masih sangat berharap sama loe. Meskipun gue tau loe pasti bakalan nolak gue lagi. Gue akan berusaha sampai loe mau dan bilang iya."


"Sory Er, kalau loe nggak mau jawab juga nggak apa-apa kok. Gue udah tau jawabannya. Gue cuma pengen ngungkapin aja sama loe." Albi melepaskan tangan Erina saat perempuan itu hanya bergeming.


Erina diam karena dia sedang menormalkan detak jantungnya yang berdebar tak karuan. Setelah bisa mengendalikan jantungnya, Erina baru tersadar.


"Sok tau loe Bi. Emangnya loe tau jawaban gue kali ini apa?" Tanya Erina sambil terkekeh, dia berusaha mencairkan suasana yang mendadak jadi terasa canggung setelah pengakuan Albi tadi.


"Apa? Gue udah sering di tolak sama loe. Dan kali ini jawabannya pasti sama." Albi ikut terkekeh. Erina menggeleng pelan.


Eh, apa artinya itu? Apa kali ini gue bakalan di terima?


Erina terdengar menghembuskan nafasnya.


"Gue bakalan jawab pertanyaan loe itu. Tapi nggak sekarang. Nanti setelah kita berhasil memecahkan kasus ini dan gue tau siapa orang yang sebenernya udah bunuh Ameera. Hidup gue nggak bakalan tenang sebelum pelakunya tertangkap."


Yah, di PHPin lagi.


"Gue harap jawaban loe berbeda dari sebelum-sebelumnya." Ucap Albi


"Berdo'a aja yang banyak dan berusaha lebih keras!" Seru Erina.


Kode sepertinya! Baiklah, Albi sudah menunggu selama 2 tahun, Albi akan menunggu 2 tahun lagi atau bahkan akan ada 2 tahun 2 tahun berikutnya.


Tidak tidak, Albi tidak akan menunggu, menunggu itu menyakitkan dan melelahkan. Albi akan mengejar Erina. Ya, perempuan itu memang pantas untuk di kejar dan di perjuangkan.


Albi mencintai Erina.


***


Erina berjalan memasuki pekarangan rumahnya setelah di antar pulang oleh Albi tadi. Namun saat kakinya menginjak teras, suara deru motor terdengar. Segera Erina berbalik badan dan melihat siapa pengendara motor itu.


"Paket!" Seru si pengendara motor yang ternyata adalah tukang paket. Erina segera berjalan mendekatinya.


"Paket punya siapa pa?" Tanya Erina sambil menaik turunkan tali tas selempangnya.


"Erina Hana Salsabila." Jawabnya sambil membaca nama yang tertera di bungkusan.

__ADS_1


"Itu saya, tapi perasaan saya nggak lagi pesen apa-apa." Ucap Erina kebingungan.


"Tapi benar ini alamatnya, coba mbaknya ambil aja, paketnya udah di bayar lunas kok." Ucap kurir itu.


Dengan ragu Erina mengambilnya, toh tidak perlu bayar ini. Kira-kira siapa yang mengirim paket dengan ukuran yang cukup besar itu?


Apa mungkin Albi yang ingin memberi Erina hadiah? Kenapa tidak memberikannya secara langsung? Kenapa harus lewat jasa pengiriman segala?


"Ya udah pa, makasih ya." Ucap Erina sambil memeluk paket itu di dadanya. Cukup berat, Erina segera meletakannya di teras.


"Ya sudah. Saya permisi." Kemudian kurir itupun kembali melajukan motornya meninggalkan kediaman papa Heri.


Erina membolak-balik paket itu, namun tak menemukan alamat si pengirimnya. Aneh sekali. Tiba-tiba mama Sofi keluar dari dalam rumah.


"Er, kamu sudah pulang?" Tegurnya kemudian.


"Iya udah ma, baru aja." Jawab Erina sambil sedikit menoleh.


"Loh, itu paket kamu Er? Apa isinya?" Tanya mama Sofi saat melihat Erina sedang membolak-balik paket yang di letakan di teras.


"Erina juga nggak tau ma, nggak ada nama sama alamat pengirimnya." Jawab Erina.


"Kok aneh ya Er? Jangan-jangan salah kirim lagi." Mama Sofi ikut mengamati paket tersebut.


"Beneran atas nama Erina kok cuma nggak tau siapa yang ngirimnya." Jelas Erina.


Erina cepat-cepat mengambil cutter Albi di dalam tas selempangnya, waktu menyelinap masuk ke kamar Ameera, Erina lupa belum mengembalikannya.


Erina merobek plasik hitam yang membalut isi paket itu dengan cutter. Ternyata isi paketnya masih terbungkus dus, Erina lanjut membuka dus itu. Tiba-tiba saja bau busuk menyeruak masuk ke indra penciuman Erina dan mama Sofi sesaat setelah dus itu terbuka.


"Huaaaaaaa!!!" Mama Sofi dan Erina menjerit histeris bahkan sampai jatuh terjungkal dan tersungkur ke belakang saat tiba-tiba saja segerombolan kecoa mendesak keluar dari dalam dus paket itu.


Mama Sofi dan Erina berpegangan satu sama lain karena ketakutan. Dada anak dan ibu itu terlihat kembang kempis saking terkejutnya. Erina menghentak-hentakkan kakinya agar kecoa-kecoa yang keluar dari dus mau menjauh darinya.


"Kenapa isinya kecoa Er? Siapa yang udah kirim paket ini sebenarnya?" Mama Sofi mengguncang tubuh Erina yang sepertinya masih syok.


"Erina juga nggak tau ma. Apa mungkin peneror itu yang ngirim?" Ucap Erina dengan bibir gemetar, dia menelan salivanya susah payah, berusaha untuk mengontrol kepanikan yang menguasai dirinya.


"Iya Er, sepertinya memang peneror itu. Mereka belum berhenti ganggu kita ternyata."


"Tapi kalau isinya kecoa kenapa paketnya lumayan berat ya ma?" Tanya Erina.


"Coba biar mama liat dulu." Mama Sofi memberanikan diri, dia menendang dus itu sehingga posisinya berubah jadi terbalik, tak sudi jika harus menyentuhnya dengan tangan. Sontak semua isi di dalamnya berhamburan keluar.


Mata Erina membulat dengan sempurna, sedangkan mama Sofi menutup mulutnya menggunakan tangan. Keterkejutan ketika kecoa-kecoa keluar dari dalam dus itu saja belum sepenuhnya hilang, kini keterkejutan lain kembali harus mereka rasakan.

__ADS_1


Saat potongan tubuh manusia berserakan di lantai teras rumah itu. Sepasang tangan dan sepasang kaki yang berlumuran darah merah, lalu satu kepala dengan rambut yang masih utuh menggelinding begitu saja tepat di hadapan Erina.


Astaga!


"Huaaaaaaa." Erina menutup matanya rapat-rapat sambil menjerit saat sepasang mata yang hampir keluar di kepala itu melotot ke arahnya. Sangat menyeramkan.


"Tenang Er, ini cuma mainan kayaknya." Ucap mama Sofi saat menangkap kejanggalan pada kepala yang menggelinding tadi. Mama Sofi menginjak salah satu tangan yang sekat dengan kakinya. Dan seketika tangan itu penyok yang menandakan jika benda itu hanyalah plastik.


Teriakan Erina seketika senyap, perempuan itu kembali membuka matanya, namun tak bisa di pungkiri, dia masih sangat ketakutan.


"Ini kertas apa?" Mama Sofi memungut secarik kertas yang ikut terbawa keluar dari dalam dus.


Erina berdiri sari duduknya lalu menghampiri sang mama yang berdiri mematung sambil menatap kertas itu.


BERHENTI MENCARI TAHU KEBENARANNYA ATAU KALIAN AKAN HANCUR!!!!!!!!


Erina harus kembali terperangah sesaat setelah membaca tulisan dengan tinta merah di kertas itu.


"Sebenarnya siapa sih orang pengecut itu? Kenapa dia beraninya cuma main terror terroran begini?" Tanya Erina dengan kesalnya.


"Kamu harus tenang Er, kalau kamu panik kamu nggak akan bisa menemukan siapa pelakunya." Seru mama Sofi.


Erina mengangguk paham. Semakin pelakunya menyuruh untuk berhenti, semakin Erina yakin untuk terus mencari tau kebenarannya.


***


Hari-haripun berlalu dengan cepat, Erina dan kawan-kawan masih belum menemui titik terang dari pencariannya. Sedangkan malam perpisahan semakin dekat saja. Erina ragu apa dirinya akan berhasil menemukan pelakunya sebelum malam perpisahan tiba atau tidak?


Mamanya Violla ternyata bukan Devi, Iqbal yang mengaku telah menghamili Ameera namun menyangkal telah membunuhnya. Dea masih misterius, Sari masih menjadi buronan mereka. Bahkan rencana mereka untuk memancing Sari di restoran Asolali seperti apa yang di katakan papa Heri waktu juga tak membuahkan hasil. Sari tak menampakkan batang hidungnya disana. Perempuan itu seperti tau kalau mereka berencana akan menjebaknya.


Entahlah!


Malam itu malam minggu, Devan berencana mentelaktir Via, Erina sambil nongkrong di alun-alun. Sepet juga karena tak ada kegiatan. Albi tidak di ajak sebenarnya, tapi dengan tidak tau malunya Albi berjanji akan datang. Dia rasa dirinya masih bagian dari mereka, bukan?


Via dan Erina datang paling awal, sedangkan yang punya hajat belum kelihatan juga batang hidungnya.


"Ehh, ada tukang kacang rebus. Gue mau beli dulu ya beb." Seru Erina sambil beranjak dari duduknya. Via hanya mangut-mangut, pandangannya tak beralih dari layar ponsel, sepertinya sedang chattingan dengan doi-nya.


Erina bergegas meninggalkan Via, melewati banyak remaja yang juga sedang nongkrong di alun-alun ini. Ada yang sembari memainkan gitar, banyak juga yang sedang melakukan selfi. Memang keindahan alun-alun akan terpancar lebih cantik pada malam hari, lampu hias yang menyala di setiap penjuru jalan membuat suasana alun-alun menjadi semakin hangat.


Saat tiba-tiba saja...


"Er! Awas!"


___________________

__ADS_1


Jejaknya tinggalin ya guys, coret2 juga di kolom komentar, jangan jadi pembaca gelap... othor nggak bisa lihat kamu 🙈


__ADS_2