
Uummmh.
******* kenikmatan semakin kuat terdengar dari bibir Ameera saat kedua tangan Iqbal merayap masuk kedalam dress yang Ameera kenakan. Lalu tangan itu meraup dua gundukan yang masih terhalang bra.
Bulu roma Ameera mendadak berdiri semua, tak bisa dipungkiri, bagian bawan Ameera sudah banjir sekarang. Bibir Iqbal sudah kembali mencecap bibir Ameera, Ameera menutup matanya, guna mendalami kenikmatan yang Iqbal berikan melalui setiap belaian tangannya di dalam dress sana.
Tangan Iqbal tak mau diam di sana, melepaskan pengait bra yang di kenakan Ameera. Iqbal mengeluarkan tangannya, kemudian dengan lincahnya laki-laki membuka satu persatu kancing dress Ameera dengan bibir yang masih saling mencecap.
Iqbal lalu beralih menaiki bukit kembar, bibirnya masih tak mau diam disana, dia menghisap satu persatu bukit milik Ameera dengan lembut, dan gerakan berikutnya semakin kuat. Iqbal menemukan sebuah kehangatan saat berada di antara bukit kembar itu. Dia memainkan kumis tipisnya disana. Membuat pemilik bukit itu menggelinjang semakin gelisah tak karuan karena kegelian.
Iqbal tak sabaran, miliknya sudah mengeras di dalam boxer sana. Dia membuka dress yang sedari tadi kancingnya sudah terbuka lalu melemparnya ke sembarang arah.
Iqbal membopong tubuh Ameera yang kini sudah tak berdaya karena hasrat yang membuncah ke atas kasur, lalu merebahkannya perlahan. Lalu dia membuka semua pakaian yang ia kenakan. Menindih tubuh Ameera yang kini hanya tertutup kain tipis di bagian bawahnya.
Sekali lagi Iqbal mencecap bibir Ameera, cukup lama lidahnya bermain-main di dalam gua hangat itu, lalu beralih pada leher jenjang putih milik Ameera, mencecapnya lagi hingga sudah tak terhitung seberapa banyak tanda merah yang ia tinggalkan disana.
Lalu bibir Iqbal turun menjelajahi bukit kembar, mencecapnya lagi dan lagi, bahkan kini semakin kuat yang Ameera rasakan.
Nikmat.
Ameera semakin gelisah di bawah sana, Iqbal melakukannya dengan sangat baik dan membuat Ameera menginginkan hal yang lebih. Kemudian bibir Iqbal turun dari bukit kembar, tangannya dengan sigap membuka underware yang menjadi penutup bagian terpenting tubuh Ameera. Bibirnya beralih menyusuri lembah hitam di dalam underware itu. Baunya sangat khas, Iqbal tak pernah mencium bau ini sebelumnya. Tapi Iqbal menyukainya.
Iqbal membuka paha Ameera semakin lebar, lidahnya memaksa masuk kedalam lembah hitam itu, bermain-main cukup lama. Hangat, nikmat. Iqbal bisa merasakan kalau milik Ameera kini sudah basah.
"Bal." Ameera yang matanya kini sudah di penuhi kabut gairah, memanggil Iqbal. Setiap sentuhan bibir Iqbal di pangkal pahanya membuat kewarasan Ameera terguncang. Dia sudah tak bisa memikirkan apapun lagi, yang ada si pikirannya saat ini adalah bagaimana hasratnya bisa terpenuhi.
"Apa boleh Meer?" Tanya Iqbal lembut. Ameera mengangguk yakin, hanya Iqbal yang ia butuhkan sekarang. Ameera mencintai Iqbal, Ameera menginginkan Iqbal, hanya Iqbal yang bisa membuatnya terbang melayang.
Iqbal kemudian mengacungkan miliknya yang sudah menegang sedari tadi, menerobos masuk kedalam lembah milik Ameera, melewati rumput hitam yang menghalangi jalan masuknya.
"Aaaaaah." Tubuh Ameera menggeliat, dia pikir rasanya akan lebih nikmat saat Iqbal memasukannya, tapi ternyata rasanya sangat sakit.
"Baaal!" Ameera bergerak gelisah di bawah Iqbal. Segera Iqbal membungkam bibir Ameera menggunakan bibirnya agar suara ******* Ameera senyap.
Milik Iqbal sudah menyentak masuk sepenuhnya, merobek milik Ameera yang sangat berharga. Awalnya memang terasa sangat perih dan menyakitkan, namun setelah Iqbal mulai bergerak maju mundur, perlahan rasa perih itu menguap pergi, tergantikan dengan rasa nikmat yang tak Ameera tau apa namanya itu.
__ADS_1
"Emmmmh, aaaahh uuuuuuh!" Ameera semakin tak terkendali, bibirnya meracau tidak jelas menikmati gerakan milik Iqbal didalam miliknya. Sentuhan bibir Iqbal di bibirnya, hentakan demi hentakan milik Iqbal yang keluar masuk kedalam miliknya, remasan demi remasan tangan Iqbal di kedua benda kenyal miliknya, membuat Ameera kian melambung ke angkasa.
Hingga Iqbal semakin mempercepat gerakannya, Ameera mulai mencapai pelepasannya, namun sepertinya tidak dengan Iqbal, dia masih bergerak lincah mengeluar masukkan miliknya kedalam milik Ameera.
Ameera bahkan sampai menitihkan air mata saat cairan miliknya semakin deras keluar sedangkan Iqbal semakin liar bergerak di atasnya.
"Baaal, huhu." Ameera tak bisa lagi menahan rasa yang bergejolak di hatinya. Perempuan itu menangis, bukan tangis penyesalan, melainkan tangis kenikmatan, kenikmatan yang mungkin tak pernah Ameera jumpai di sudut bumi manapun.
"Gue cinta sama loe Meer." Ucap Iqbal lirih. Iqbal menggelinjang, dia sudah memasuki puncak kenikmatannya, cairan milik Iqbal menyembur masuk ke dalam rahim Ameera.
Kedua tubuh polos itu kini sudah dibanjiri peluh. Iqbal menjatuhkan dirinya di samping Ameera yang kini menangis tergugu, Iqbal mendekapnya dari samping.
"Kenapa nangis? Nyesel?" Tanya Iqbal lirih. Ameera menggeleng.
"Terus kenapa?" Tanya Ameera. Tak mungkin Ameera mengatakan kalau dirinya ingin lagi, itu terlalu memalukan.
"Gue janji Meer, setelah kita lulus nanti, gue bakalan langsung nikahi loe. Kalau ayah loe sama ayah gue nggak restuin, loe mau kan kawin lari sama gue?" Tanya Iqbal lagi.
Ameera mengangguk dalam pelukan Iqbal, ia dekap lebih erat lagi tubuh Iqbal, Ameera sangat mencintai Iqbal, sangat. Semoga keputusannya ini memanglah tepat, semoga Iqbal benar-benar menepati janjinya.
Pagi harinya Ameera merasakan sakit di sekujur tubuhnya setelah semalam di terjang oleh Iqbal, kepalanya juga terasa sangat pusing. Ameera memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Dia mencoba menghubungi Iqbal.
"Kenapa? Gue butuh loe sekarang Bal." Balas Ameera.
"Sayang, sudah selesai mandinya?"
Dahi Ameera mengerut saat mendengar suara perempuan dari sebrang telpon.
Siapa perempuan itu? Kenapa memanggil Iqbal dengan sebutan sayang? Apa itu tunangannya? Tapi Iqbal bilang dia akan segera membatalkan tunangannya.
"Meer, nanti gue telpon lagi ya." Tanpa mau mendengarkan perkataan Ameera lagi, Iqbal memutuskan panggilan telponnya.
Hati Ameera mencelos. Dia mulai gelisah, apa Iqbal akan benar-benar menepati janjinya?
Ameera meng-non aktifkan ponselnya karena merasa sebal kepada Iqbal.
__ADS_1
Hari berikutnya Ameera masih merasakan sakit itu, dia pikir dia masih memerlukan waktu untuk berisirahat dan menenangkan diri setelah dia kehilangan miliknya yang sangat berharga.
Dia hanya butuh sendiri sekarang. Kalau Iqbal peduli, laki-laki itu pasti akan datang tanpa di minta. Sengaja Ameera mematikan ponselnya, karena yang sedang dia butuhkan sekarang adalah merenung dan menyendiri.
Apa keputusannya sudah tepat? Apa Iqbal takan mengingkari lagi janjinya? Bagaimana kalau Iqbal kembali membohongi dirinya? Bahkan sampai detik ini Iqbal belum lagi datang setelah melalui malam panas bersamanya. Ameera gelisah sendiri memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.
Ameera merasa malu menunjukan wajahnya di depan Erina dan juga Via, apapagi Devan. Dia sudah tidak punya muka sekarang. Sehingga saat Devan, Erina maupun Via datang ke kostannya, Ameera memilih untuk tak keluar. Yang dia lakukan sepanjang hari hanyalah menangis. Dia takut Iqbal tak menepati janjinya.
Hari ketiga, Ameera mulai kembali beraktivitas di sekolah. Ameera kembali harus merasakan sakit di hatinya saat dia berpapasan dengan Iqbal di koridor, Iqbal bersikap seolah-olah mereka adalah dua manusia yang tak saling mengenal. Jangankan menyapa, meolehpun tidak. Dia bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
Iqbal sudah kembali menjadi Iqbal yang dulu, yang tak pernah menganggap Ameera ada. Pantas saja dia tak pernah datang setelah malam itu. Iqbal hanya menginginkan tubuhnya saja. Kata-kata cinta yang dia ucapkan malam itu semuanya bulsyit!
Ameera benci Iqbal, Ameera benci Iqbal.
Ini semua terjadi karena kebodohan Ameera, seseorang takan bisa semudah itu berubah. Iqbal tetaplah Iqbal, Iqbal yang tak pernah menganggap Ameera ada, Iqbal yang tak pernah mengakui Ameera sebagai kekasihnya, Iqbal yang selalu memberi nya harapan semu.
Ameera kecewa, hatinya hancur. Iqbal benar-benar brengsek. Tapi malam itu Ameera juga menikmatinya, Ameera terbuai dengan semua kata-kata cinta bulsyitnya Iqbal dan sentuhan-sentuhan menyesatkannya itu.
Ameera ingin marah. Dia meluapkan kemarahannya pada semua orang. Erina, Via dan Devan kena imbasnya. Ameera bersikap ketus pada orang-orang yang peduli terhadap dirinya hanya karena Iqbal sialan itu.
Setiap malam yang Ameera lakukan hanyalah menangis, menangis dan menangis. Iqbal sama sekali tak ada niatan untuk menemui Ameera ataupun menjelaskan bagaimana hubungan mereka selanjutnya.
Ameera bertekad untuk melupakan Iqbal sialan itu meskipun Iqbal telah merenggut semua yang ia miliki. Biarlah malam itu menjadi kenangan indahnya bersama Iqbal, Ameera cukup menyimpannya di dalam hati. Sendirian.
Sikap Ameera berubah drastis setelah malam dimana kesuciannya hilang. Ameera yang sekarang sangat dingin, mudah tersinggung dan marah. Saat Devan memberinya perhatian, Ameera akan membentaknya. Begitupun dengan Via dan Erina, mereka sangat sedih dengan perubahan sikap Ameera ini.
Ada yang aneh dengan tubuh Ameera, perutnya selalu mual saat pagi hari, kepalanya sering pusing belakangan ini. Hobi marah-marahnya semakin parah. Dia telat datang bulan.
Segera Ameera melakukan tes dan hasilnya positif. Ameera memberitahu Iqbal jika dirinya tengah mengandung dengan menunjukkan alat tes kehamilan.
"Itu anak siapa Meer?" Satu pertanyaan yang terlontar dari mulut Iqbal mampu menampar dan mencabik hati Ameera.
Ameera hancur, sehancur-hancurnya saat Iqbal tak mau mengakui jika janin yang ada di perutnya adalah benih yang dia tanam malam itu.
Ameera mencari-cari kesalahan Erina dan memarahi sahabatnya itu habis-habisan, demi meluapkan semua kemarahan yang ada di hatinya kepada Erina.
__ADS_1
__________________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....