
Albi dan Erina kini sedang duduk berhadap-hadapan sambil menikmati es krim yang mereka pesan sebelumnya. Sengaja Erina menyuruh papanya pulang duluan karena dia sedang butuh waktu untuk mendinginkan pikirannya dengan sekedar memakan es krim.
Erina juga sudah memberi tahu Via jika dirinya dan Albi sedang berada di kedai favorit mereka. Dan katanya sebenar lagi Via mau menyusul.
"Loe lagi apa sih Bi?" Tanya Erina karena sedari tadi Albi hanya memainkan ponselnya saja dan mengabaikan dirinya. Bahkan es krim pesanan Albi sudah meleleh dalam cup sedari tadi.
"Gue lagi cari foto nyokap nya Violla di IG sama FB." Jawab Albi tanpa memalingkan pandangannya dari layar ponsel.
"Hah? Loe kok bisa kepikiran cari foto mamanya Violla di IG?" Tanya Erina kepo.
"Gue nggak liat ada foto nyokap Violla tadi di rumahnya. Dan gue rasa papa loe harus tau gimana bentuk wajah mamanya Violla itu. Biar nanti kalau gue dapet fotonya, kita tunjukan sama papa loe dan memastikan dia itu Devi atau bukan." Albi menjawab pertanyaan Erina sambil terus menatap pada ponselnya.
Kenapa Erina tidak kepikiran sampai kesana? Ternyata Albi benar-benar pintar. Wajar sih, dia kan selalu masuk 3 besar juara kelas.
Erina beranjak dari duduknya, lalu berjalan memutari meja bundar itu, kemudian dia kembali mendaratkan bokongnya tepat di samping Albi.
Albi mengernyit saat melihat Erina tiba-tiba saja mepet-mepet duduk di sebelahnya. Ada sedikit rasa senang dengan sikap nyosor-nyosor nya Erina ini.
"Loe kenapa Er?" Tanya Albi sambil menyeringai menatap Erina. Apalagi saat sadar kalau dirinya kini sedang di rangkul oleh perempuan itu. Entahlah Erina sadar atau tidak dengan tindakannya ini, saking antusiasnya melihat apa yang sedang Albi lakukan.
"Ayo scroll lagi. Loe udah dapet belum
fotonya?" Malah jadi Erina yang men-scroll layar ponsel yang sedang di pegang Albi karena tak sabaran. Sedangkan Albi hanya diam saja sambil memperhatikan wajah Erina dari jarak sedekat itu.
Cantik. Satu kata yang sangat tepat untuk menggambarkan sosok Erina di mata Albi. Hampir tidak ada kekurangan di dalam diri perempuan itu.
"Kok berhenti sih Bi!" Seru Erina sambil mengguncang lengan Albi karena tak mendapat respon. Itu berhasil membuyarkan lamunan singkat Albi, seketika Albi tersadar dan terlihat salah tingkah.
"Ahh, iya Er." Lantas Albi kembali memfokuskan perhatiannya pada layar ponsel.
Mereka berdua kemudian sibuk meng-kepoi akin Instagram milik Violla dari postingan lama sampai yang terbaru. Namun mereka merasa frustasi karena tak kunjung menemukan apa yang mereka cari, Violla kebanyakan memposting foto dirinya bersama dengan teman-temannya saat sedang shopping, wisata ataupun kulineran.
"Coba kita liat facebooknya aja Bi! Siapa tau si Violla posting foto emaknya disana!" Erina berseru. Padahal kan dia bisa saja meng-kepoi Facebook Violla menggunakan akunnya sendiri di ponsel miliknya, namun entah karena sudah terlanjur atau apa Erina jadi keterusan ingin nempel dengan Albi.
Ehh? Pertanda apa ini?
Tapi biarkan sajalah, toh Albi pun sepertinya tidak merasa keberatan dengan apa yang Erina lakukan. Malahan laki-laki itu juga menikmatinya.
__ADS_1
"Iya Er, sabar!" Albi terkekeh mendengar Erina bicara dengan tan sabaran.
"...nggak ada juga!"
"Terus kebawah!"
"Iya iya! Ini juga kebawah."
Entah sejak kapan Via datang, tau tau dia sudah berdiri di belakangbkursi yang Erina dan Albi duduki sambil geleng-geleng kepala melihat mereka yang sedang asyik dempet-dempetan.
Sudah tak bisa di ragukan lagi, Erina mulai menyukai Albi, seulas senyum menghiasi bibir Via. Diapun tak tahan untuk tak menggoda sahabatnya itu.
"Woy, pacaran mulu kalian kerjaannya!" Perkataan Via mengagetkan Erina dan Albi yang sedang sibuk berdebat sambil memainkan polsel. Entah apa yang sedang mereka kerjakan.
Sontak Erina dan Albi menoleh pada Via yang kini sudah menjatuhkan tubuhnya di kursi yang sebelumnya Erina duduki tepat di hadapan Erina dan Albi.
"Beb!" Seru Erina berbinar-binar.
"Tau kalian lagi pacaran gue nggak bakalan datang kesini!" Ucap Via sambil bersungut-sungut, pura-pura marah.
"Btw, gue seneng banget beb karena loe udah bisa bebas sekarang. Jadi loe bisa ikut ujian lusa. Gue nggak bisa bayangin gimana kecewanya, selama 3 tahun kita berjuang buat belajar, dan di akhir-akhir perjuangan ini loe malah nggak bisa ujian atau bahkan nggak lulus. Gue pasti sedih banget beb, gue pengennya kita lulus bareng-bareng kayak 3 tahun terakhir ini kita lalui semuanya bareng-bareng. Loe, gue, Ameera." Intonasi Via melemah di akhir kalimat. Saat membahas Ameera. Niatnya sih tadi ingin menggoda Erina yang menempel pada Albi, tapi sekarang kok jadi mellow seperti ini?
"Gue juga seneng beb bisa bebas dari sel tahanan mengerikan itu. Gue ngerti kok gimana perasaan loe, karena guepun merasakan perasaan yang sama sama loe. Tapi ya mau gimana, nasi udah jadi bubur. Ameera nggak akan bisa hidup lagi." Erina jadi ikut-ikutan sedih.
Albi merasa gerah berda di tengah-tengah dua perempuan yang sedang di landa galau itu. Ini tak bisa di biarkan dan tak boleh terus berlanjut. Hidup harus tetap berjalan meskipun kita telah kehilangan seseorang.
"Stop guys! Masa berkabung udah selesai, oke! Sekarang waktunya kita buat cari tau siapa pelaku yang sebenarnya. Setuju?!" Ucap Albi memberi semangat kepada timnya itu.
Erina dan Via sama-sama menghela nafas dan berusaha tersenyum menanggapi perkataan Albi.
"Iya Bi. Meskipun ayahnya Erina ngelarang kita buat mencari tau apa yang sebenernya terjadi sama Ameera sebelum dia meninggal, tapi gue ngerasa kalau gue harus tetep nemuin orangnya. Dia nggak bisa bebas gitu aja setelah bunuh Ameera dan fitnah gue. Gue nggak terima!" Seru Erina sambil mengepalkan tangannya merasa kesal.
"Ayahnya Ameera larang kita buat ngungkap kasus kematian nya Ameera? Tapi kenapa? Tunggu-tunggu! Bukannya loe bisa bebas karena ayahnya Ameera cabut tuntutannya ya?" Tanya Via sedikit bingung.
"Iya, gue juga nggak paham kenapa ayahnya Ameera marah sama kita pas ke rumahnya tadi dan bilang mau cari pelaku yang sebenernya." Erina mendengus.
"Gue rasa, ada sesuatu yang di sembunyiin sama keluarganya tentang kematian Ameera ini sehingga mereka nggak mau lagi ngungkit-ngungkit masalah ini. Tadi loe denger sendiri kan Er kalau mamanya Violla yang minta om Nandi buat cabut tuntutannya? Bisa jadi dia nggak mau polisi atau ada orang yang berusaha untuk cari tau yang sebenernya kalau..." Albi menghentikan kalimatnya, dia yakin jika kedua perempuan itu satu pemikiran dengan dirinha.
__ADS_1
"Karena mereka sebenernya yang udah bunuh Ameera?" Erina dan Via berseru kompak.
"Tepat banget guys!" Ucap Albi sambil menjentrikkan jarinya.
"Gue juga sempet mikir gitu, waktu pemakamannya Ameera mereka sama sekali nggak ada sedih-sedihnya, yang ada mereka malah kelihatan bahagia." Tutur Via.
"...tapi setau gue naman nyokapnya Violla itu Vinny, bukan Devi." Sambung Via kemudian.
"Iya, memang namanya Vinny, tapi bisa aja kan dia malsukan identitas?" Sergah Erina.
"Bisa jadi sih mereka memalsukan identitas biar nggak ketahuan." Balas Via.
"Dan satu hal yang harus loe tau beb. Ternyata anaknya bokap gue itu sekolah di sekolahan yang sama sama kita. Dan gue yakin seratus persen kalau si Violla itu adik gue!" Ucap Erina dengan keyakinannya.
"Apa? Loe tau dari mana kalau anaknya bokap loe sekolah di BM juga?" Tanya Via penasaran.
"Tadi siang katanya bokap gue ketemu sama si Sari Sari itu. Dan dia bilang kalau anak bokap gue sekolah di BM juga. Tapi Saru nggak bilang detailnya, dia keburu kabur." Dongeng Erina mengulang cerita papanya.
"Jadi loe belum tau adik loe itu cewe atau cowo?" Tanya Via lagi. Erina menggeleng lemah.
"Berarti kita harus buat list apa aja yang harus kita lakuin buat mengungkap kasus ini. Udah ada banyak banget ini petunjuknya, cuma kita masih butuh bukti yang kuat buat bener-bener yakinin kalau mereka pelakunya." Seru Via dengan menggebu.
"Gue setuju Vi. Pertama kita harus menyusup ke rumahnya Ameera buat cari barang bukti atau foto nyokapnya Violla biat kita tunjukin ke papanya Erina. Dia itu beneran Devi atau bukan. Dan kita juga harus cari tau siapa orang yang udah hamilin Ameera, mungkin aja dia menyembunyikan rahasia di kamarnya." Tutur Albi menjelaskan isi di kepalanya.
"Iya Bi. Gue setuju. Kita harus diem-diem masuk ke rumah Ameera dan jangan sampai ketahuan." Erina sangat antusias.
"Dan satu hal lagi guys, kita harus cari data murid di sekolah kita, siapa aja yang nama ibunya Devi. Kita harus selidiki mereka juga." Usul Via.
"Loe bener Vi. Kita juga bakal cari tau tentang itu. Tapi menurut gue, kita mulai pencariannya setelah selesai UN biar sekarang kita fokus buat belajar dulu. Lagi pula sekarang loe udah masuk zona aman kan Er. Oke nggak guys?" Albi melirik Via dan Erina bergantian untuk meminta persetujuan.
"Oke, gue setuju."
"Gue juga!"
__________________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, kira-kira bakalan ada hilal apa lagi ya nanti...?
__ADS_1