THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Tertangkap


__ADS_3

Devan dan teman-teman satu bandnya ikut membantu Albi mencari Erina. Semua tempat di penjuru sekolah tak luput mereka datangi bahkan sampai ke atap gedung sekalipun.


Albi menghentikan langkahnya saat melihat Iqbal yang baru saja keluar dari toilet.


"Hey Bal, loe liat Erina nggak?" Tanya Albi dengan nafas tersengal, lelah mencari Erina.


"Nggak tuh. Bukannya tadi dia lagi nonton loe ya di depan?" Jawab Iqbal.


"Tapi sekarang nggak ada. Loe tolong bantuin gue cari Erina ya. Biar cepet ketemu kalau semakin banyak yang ikut cari." Ucap Albi.


Kedua pemuda itupun berjalan menyusuri lorong sekolah untuk menuju halaman belakang, siapa tau saja Erina ada disana. Namun saat hendak berbelok, Albi dan Iqbal melihat pemandangan yang aneh. Dimana seorang perempuan muda tengah di seret-seret oleh wanita paruh baya menuju halaman belakang. Sontak Albi dan Iqbal menghentikan langkahnya. Mereka bersembunyi di balik tembok untuk mengamati apa yang sebenarnya sedang terjadi dan siapa orang yang sedang di seret-seret itu.


"Astaga! Itu si Dea Bi!" Pekik Iqbal sambil menunjuk.


"Wah iya. Woy! BERHENTI!" Albi lantas keluar dari tempat persembunyiannya saat sadar jika perempuan yang diseret itu adalah Dea.


Wanita paruh baya itu adalah Sari, dia terlihat kewalahan menyeret Dea, sadar Albi dan Iqbal sedang berlari ke arahnya, Sari gelagapan dan kebingungan.


Dia ketahuan. Sial!


Sari kemudian menanggalkan tubuh Dea yang tak sadarkan diri tergeletak begitu saja di atas lantai koridor, yang penting menyelamatkan diri dulu agar rencana keponakannya tidak berantakan.


Albi dan Iqbal berhenti saat melihat Sari kucar-kacir lari, mereka lantas melirik Dea yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


"Loe tolong urus si Dea Bal, telfon Devan juga suruh dia datang kesini. Gue mau kejar orang itu, gue rasa ada yang nggak beres." Sejurus kemudian Albi berlari meninggalkan Iqbal.


"Oke." Seruan Iqbal sepertinya tak didengar Albi, temannya itu terlanjur melesat. Iqbal pun segera menelpon Devan sesuai dengan apa yang Albi katakan tadi.


Dia berjongkok dan mengguncang bahu Dea.


"Dea, bangun De!"


***


"Woy, berhenti loe!" Albi berteriak sambil berlari mengejar perempuan yang berusaha menyeret Dea tadi.


Sari yang berperawakan gemuk sedikit kesulitan berlari, lain halnya dengan Albi yang cekatan mengejar Sari. Sesekali Sari menoleh kebelakang, dan ternyata Albi semakin dekat.


Bisa berantakan rencana keponakannya jika Sari sampai tertangkap. Mana dirinya hanya sendirian disana. Dia sudah terlalu percaya diri jika dirinya bisa menyulik Dea sendirian.


Hap!

__ADS_1


Albi berhasil meraih tangan Sari kemudian mencengkram nya kuat-kuat. Dia tak akan membiarkan seorang penjahat itu lolos.


"Anda siapa? Kenapa loe nyeret-nyeret Dea tadi?" Tanya Albi dengan nada tinggi, bahkan suaranya memekakkan telinga Sari. Rupanya Albi tidak mengetahui jika perempuan itu adalah Sari, orang yang selama ini dicari-cari oleh papa Erina.


"Itu bukan urusan anda. Lepaskan saya!" Sari berontak berusaha melepaskan cengkraman Albi di tangannya.


"Jangan harap. Cepat katakan Kenapa anda lakuin itu sama Dea?" Tanya Albi lagi.


"Sudah saya bilang itu bukan urusan anda!" Menjawab sambil berteriak.


"Bi! Siapa dia?" Devan dan Iqbal datang di waktu yang tepat.


"Dev, cepet cari tambang. Ikat orang ini di pohon, gue rasa dia orang jahat. Dia mau culik Dea kayaknya." Ucap Albi pada Devan.


"Gue tau, di deket gudang ada tambang bekas tadi pasang spanduk. Gue ambil dulu!" Iqbal kemudian berlari menuju gudang.


"Gimana sama Dea?" Tanya Albi pada Devan


"Dia lagi diurus sama mereka." Mereka disini tentu saja teman satu bandnya Devan.


***


"Lepaskan saya!" Sari menggoyangkan tubuhnya yang kini terikat tali tambang di sebuah pohon tua yang ada di halaman belakang sekolah itu.


"Kita nggak bakalan lepasin anda sebelum anda jawab siapa anda dan apa motifasi anda mau culik Dea." Albi melotot tajam ke arah Sari.


"Haha. Jangan harap saya akan buka mulut." Sari malah tertawa meledek.


"Astaga! Minta di kasih pelajaran dia kayaknya!" Seru Devan.


Tiba-tiba saja terdengar suara dering ponsel berbunyi. Semua orang nampak mengecek ponsel masing-masing, tapi sepertinya nada dering itu bukan berasal dari ponsel mereka.


"Kayaknya hp punya dia deh. Coba cek!" Seru Devan. Iqbal kemudian merogoh saku jeans yang dikenakan Sari.


"Hey! Berhenti! Jangan sentuh ponselku!" Sari berteriak ketakutan.


"Suamiku." Iqbal melirik Devan dan Albi bergantian.


"Jangan diangkat!" Seru Sari, wajahnya sudah merah menyala sekarang.


"Sumpal mulutnya pake ini!" Albi melemparkan sapu tangan ke arah Devan. Devan membekap mulut Sari sehingga perempuan itu hanya mengeluarkan suara-suara yang tidak jelas.

__ADS_1


Albi mengambil alih ponsel Sari dari tangan Iqbal lalu menggeser icon berwarna hijau di layarnya. Albi lalu men-loadspeaker panggilan itu.


"Sari, dimana kamu? Apa kamu sudah berhasil menculik temannya Erina itu? Apa kamu mendapatkan kesulitan? Sudah aku bilang kalau aku saja yang melakukannya setelah aku berhasil membawa Erina kesini."


Albi membelalak saat mendengar suara dari ujung telpon, kemudian dia mengakhiri panggilan itu begitu saja dan menatap Sari dengan tatapan pembunuhnya. Begitupun Devan. Iqbal yang tak tau duduk permasalahannya hanya diam dan menyimak saja.


Albi tak akan bertindak gegabah, Erina berada di tangan orang jahat sekarang. Bukan tidak mungkin mereka akan menyakiti Erina jika mereka tau Sari ada di tangannya. Lebih baik Albi mengorek informasi dari Sari, dimana Erina berada sekarang.


"Jadi loe Sari? Adiknya Devi?" Albi bahkan melupakan jika Sari lebih tua darinya, dia bicara dengan tidak sopan menggunakan kata loe. Devan melepaskan bekapannya pada Sari.


BUK!


Albi menggebrak pohon itu kasar untuk sekedar menggertak, lalu melotot tajam ke arah Sari untuk meminta penjelasan, tapi Sari sepertinya tidak berniat berkata jujur meskipun sekarang dirinya sudah ketahuan.


"Kalau iya kenapa?" Wajah Sari terlihat menantang.


"Suami loe udah culik Erina? Dimana dia sekarang?" Tanya Albi yang emosinya sedang meledak. Bukannya menjawab, Sari malah tersenyum meremehkan.


"JAWAB! Loe punya mulut kan? HAH?" Albi kalap karena Sari tak menjawab pertanyaannya.


"Anda pikir saya akan memberitahu anda? Hah, tidak akan! Jangan bermimpi." Jawab Sari sinis.


Tangan Albi sudah terkepal hendak meninju wajah Sari, namun Devan menahannya.


"Sabar Bi! Kita nggak bisa lakuin kekerasan sama perempuan." Cegah Devan. Albi mengusap wajahnya kasar.


"Kalau loe Sari, berarti loe tantenya Dea kan? Tapi kenapa loe malah mau nyulik Dea?" Tanya Devan bingung. Albi melirik Devan dengan dahi mengerut. Benar juga apa yang dikatakan Devan. Kalau Dea adalah keponakan Sari, kenapa Sari juga ingin menyakiti Dea?


"Cepat jawab! Dimana Erina sekarang?" Albi mengulang pertanyaan yang sama.


"Erina mungkin sekarang sudah bertemu dengan adik tirinya. Dan adik tirinya itu akan memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk Erina yang tak akan dia lupakan seumur hidupnya. Hahaha." Seperti orang gila Sari tertawa.


"Jadi Dea bukan adik tirinya Erina? Terus siapa anak Devi dan papa Erina sebenarnya?" Tanya Albi bingung bercampur marah.


"Memangnya siapa yang bilang kalau Dea anaknya Devi adik tirinya Erina? Hahaha. Kalian itu terlalu bodoh, kalian pikir didunia ini wanita bernama Devi hanya satu? Hahaha."


Albi dan Devan terdiam, mencoba merenungi perkataan Sari barusan. Jadi Dea bukanlah adik tiri Erina. Lantas siapa sebenarnya adik tirinya Erina itu?


"Kalian hanya membuang-buang waktu mengintrogasi saya disini. Seharusnya kalian sekarang menyelamatkan Erina dari tangan adik tirinya. Hahaha."


_____________________

__ADS_1


Jadi Dea bukan adik tirinya Erina kata Sari guys, terus kenapa Sari malah mau nyulik Dea ya?


__ADS_2