THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Mengejar


__ADS_3

Erina dan kawan-kawan digiring keluar secara paksa oleh satpam itu yang ternyata langsung memanggil semua pasukannya.


Mereka di tuduh mau curi data di dalam ruangan itu, tapi memang begitu kenyataannya. Pihak sekolah melarang keras siapapun masuk kedalam sana karena banyaknya data pribadi dan itu bersifat private yang tak boleh sembarangan orang mengetahuinya.


Untung saja mereka tak mendapat sanksi yang begitu berarti mengingat bahwa mereka bukanlah siswa aktif lagi di Bina Muda setalah berakhirnya ujian nasional ini.


***


Untung saja Albi dan Devan tidak mengalami luka yang serius karena tertimpa rak penyimpaanan tadi, kedua laki-laki itu terlihat baik-baik saja seakan kejadian tadi tak berpengaruh apa-apa bagi kesehatan mereka. Mereka mengaku hanya sedikit sakit punggung saja.


"Loe mau pulang bareng gue Er?" Tanya Devan saat mereka berkumpul di parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing.


Erina sedikit tersentak dengan tawaran yang di berikan Devan, mungkin dulu ditegur oleh Devan adalah sesuatu hal yang begitu berharga dan mungkin langka adanya. Apalagi jika sampai dirinya di tawari pulang bersama, pasti Erina akan jingjrak jingkrak kegirangan atau bahkan mungkin sampai guling gulingan di tanah.


Tapi sekarang situasinya berbeda, jika Erina dekat dengan Devan itu pasti akan menguatkan dugaan orang-orang kalau Erina menghabisi Ameera karena ingin merebut Devan. Erina tak ingin itu semua terjadi.


"Jangan mau Er, nanti mobilnya mogok loe di suruh dorongin lagi." Albi yang sudah stay di atas motornya berkoar.


"Hahaha, mana mungkin mobilnya Devan mogok Bi, orang mobil bagus gitu, bilang aja loe jelous kan. Hahay." Via ketawa ketiwi mentertawakan Albi yang wajahnya memerah.


"Iya Vi, yang ada kalau Erina pulang bareng si Albi nanti motornya yang mogok di tengah jalan." Devan melemparkan kembali perkataan Albi.


Sialan!


"Thanks ya Dev udah nawarin gue tumpangan. Tapi kayaknya gue mau pulang bareng Via aja deh, ada yang mau gue bicarain juga sama Via." Tolak Erina secara halus.


"Oh ya udah nggak apa-apa." Devan lantas masuk kedalam mobilnya.


"Kita duluan ya Bi, by!" Ucap Via sambil menancap gas motornya.


"Thanks buat hari ini ya Bi." Ucap Erina sebelum motor Via melesat. Albi hanya mengacungkan jempolnya kearah Erina sambil tersenyum.


Tidddd tidddd!


Suara klakson mobil Devan yang sengaja di bunyikan karena motor Albi menghalangi jalan mobil Devan yang akan lewat. Dengan menyebalkannya Albi malah senyum-senyum sendiri sambil menatap kepergian Erina. Membuat Devan tak sabaran dan sedikit kesal.


"Minggir woy! Gue mau lewat!" Devan berteriak di dalam mobilnya. Albi bisa melihat wajah Devan karena kaca jendelanya sengaja di buka oleh sang pemilik.


"Iya iya bentar ahh." Cepat-cepat Albi memakai helm. Setelahnya, dia menyalakan mesin motor lalu tancap gas.


Mobil Devan yang terakhir keluar dari area sekolah.


***

__ADS_1


"Loe udah nggak ada perasaan apa-apa lagi kan sama si Devan?" Tanya Via di tengah perjalanan, netranya masih fokus pada jalanan.


"Gue juga bingung sama perasaan gue sendiri beb." Jawab Erina terdengar pasrah.


"Loe harus jujur sama perasaan loe sendiri beb, loe mulai suka kan sama si Albi? Dan Devan udah nggak da di hati loe lagi?" Tanya Via lagi.


"Gue cuma malu aja sama Albi beb, dulu gue ilfil banget sama dia, suka marah-marah nggak jelas juga. Pasti Albi sakit hati banget sama perlakuan gue ke dia dulu. Tapi sekarang gue baru sadar, setelah gue deket sama dia, ternyata dia itu orangnya baik, dia selalu ada buat gue, sama kayak loe. Gue nggak tau ini perasaan apa namanya. Dan gue menyimpulkannya kalau Albi sama berartinya sama loe."


"Jadi loe udah nganggap Albi sebagai sahabat loe?"


"Iya gitu deh."


"Terus Devan?"


"Loe tau sendiri kan dulu gue suka sama dia karena dia itu orangnya kalem, nggak banyak tingkah, so cook gitu. Tapi belakangan ini, setelah kita sering main bareng gue nemuin satu fakta kalau ternyata si Devan itu sama pecicilannya kayak Albi. Mereka itu apa ya? Susah gue jelasinnya. Dan satu hal yang perlu loe tau beb, rak penyimpanan data tadi bisa jatuh itu gara-gara tingkah pecicilan mereka. Gue bener-bener nggak nyangka kalau ternyata mereka itu kayak kucing sama tikus." Erina lantas tertawa mengingat kejadian di ruang penyimpanan data tadi.


"Hah? Loe serius beb? Astaga! Sayang gue nggak liat secara langsung pas rak itu jatuh menimpa mereka. Kalau gue ada di sana, gue bakalan videoin detik-detik mereka ketiban rak."


"Hahaha." Keduanyapun kompak tertawa. Membuat reka adegan kejadian itu di dalam memori ingatan masing-masing.


Tawa mereka seketika senyap termakan oleh suara knalpot bising yang berasal dari motor yang kini melaju menyamai motor Via. Dua perempuan itu menoleh ke arah samping kanan, tepat suara bising itu berasal.


Brot brot brot brot (anggap aja suara knalpot bising, jangan anggap suara kentut)


Erina menutup telinganya, bisa bahaya kalau gendang telinganya sampai pecah.


BUKKKK!


"Eh ehh, kenapa nih?" Via kalang kabut saat motornya tiba-tiba saja oleng setelah si pengendara motor knalpot bising itu dengan sengaja menendang motor Via.


"Beb. Hati-hati!" Erina berpegangan dengan erat pada pundak Via, takut jatuh. Sudah dag dig dug juga karena sepertinya Via tak bisa lagi menguasai motornya.


Via hilang keseimbangan, seketika motor yang mereka tumpangi jatuh dan terjungkal.


BRAAAAKK!


"Awwwwh." Via dan Erina mengerang kesakitan saat kulit mereka bersentuhan dengan aspal jalanan yang panas.


Brot brot brot brot...


"Uhuk uhuk uhuk." Mereka terbatuk saat asap tebal berwarna hitam menyembur tepat mengenai wajah mereka. Tentu saja polusi itu berasal dari knalpot bising yang pengendaranya baru saja menendang motor Via. Erina dan Via mengibas-ngibaskan tangannya untuk menyapu asap kendaraan itu.


Si pengendara motor knalpot bising itu berhenti sejenak setelah berhasil membuat korbannya terjatuh. Dia menyunggingkan senyum dibalik helm full facenya.

__ADS_1


"Iyuuuuh. Kurang ajar loe!" Via mengumpat.


"Astaga! Itu orang kayak sengaja banget beb." Seru Erina pada Via yang kini juga sama-sama teduduk di aspal.


"Iya, jangan-jangan itu orang yang selama ini nerror keluarga loe lagi beb?" Balas Via sambil merasai sakit di sekujur tubuhnya.


"Bisa jadi beb. Nyokap bokap gue juga pernah di serempet sama motor knalpot bising." Balas Erina. Mereka berusaha mengatur jalur pernafasan yang terasa sesak telah di hadiahi polusi, asap hitam perlahan hilang tersapu angin.


Albi yang melintas di tempat Erina dan Via terjatuh, sontak menepikan motornya saat mendapati dua perempuan itu sama-sama duduk tak berdaya di atas aspal. Motor Via juga nampak terguling dan menimpa kaki Erina.


"Bi! Cepet kejar orang itu, dia mau celakain kita!" Via berseru saat melihat Albi.


Albi yang tadinya hendak turun dan menolong mereka mengurungkan niatnya saat mendengar seruan Via.


"Terus kalian gimana?" Tanya Albi setengah berteriak takut Via tak mendengar.


"Kita nggak apa-apa, loe kejar itu orang, gue yakin dia ada sangkut pautnya sama orang yang nerror Erina atau mungkin dia pelakunya. Cepet Bi! Itu orangnya udah cabut lagi!" Via bicara tanpa jeda saat melihat motor knalpot bising yang tadi berhenti kini mulai melaju kembali.


Tanpa bicara apapun, Albi segera tancap gas untuk mengejar motor yang melesat secepat kilat itu. Kali ini pelakunya tidak bisa lolos, Albi pastikan pelakunya akan tertangkap dan Albi akan menyeretnya ke hadapan Erina.


Dua motor saling bekejaran di jalanan sengang itu, mereka sama-sama melajukan kendaraannya dengan kecepatan maksimal. Pelakunya tak ingin tertangkap, sedangkan Albi tak ingin kehilangan jejak.


Albi memacu motornya lebih cepat, sehingga kini motor Albi berhasil menyamai motor knalpot bising itu.


"Berhenti loe!" Suara Albi kalah kuat dari suara knalpot milik orang itu.


Motor knalpot bising itu mengurangi laju kecepatannya sehingga Albi yang motornya masih dengan kecepatan penuh melesat jauh di depannya. Itu dijadikan kesempatan untuk si pengendara berputar arah.


Albi yang sadar jika dirinya dikelabui, ikut memutar arah motornya untuk segera menyusul orang yang sedang ia kejar.


Tidiiiid!


"Astaga!" Segera Albi membelokan motornya guna menghindari motor yang datang dari arah berlawanan, beruntung Albi masih bisa menguasai kendaraannya.


"Woi, kalau putar arah ambil jalur sebelah kiri. Main lawan arus loe, bahaya tau!" Seru pengendara motor yang hampir Albi tabrak tadi.


"Iya pak, maaf. Saya lagi buru-buru." Ucap Albi dengan menunjukan raut wajah yang minta dikasihani.


Pengendara motor itu kembali tancap gas sambil bersungut-sungut mengutuki perbuatan Albi.


Karena tanggung, akhirnya Albi melanjutkan tindakan lawan arusnya. Kalau harus putar arah jaraknya lumayan jauh dan juga pasti tidak akan sempat, pengendara knalpot bising itu pasti keburu jauh.


____________________

__ADS_1


Hayooo, Albi berhasil nggak ya ngejar orang itu?


__ADS_2