THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Kehilangan jejak


__ADS_3

Albi mengambil tikungan ke arah kanan untuk mencari orang yang sedang ia kejar, namun dia sudah tak mendengar suara bising yang di keluarkan oleh motor tadi.


Kemana perginya orang itu?


Albi tak menyerah, laki-laki itu terus melaju, menyusuri jalanan yang ada dengan kecepatan sedang kali ini.


****! Albi memukul stang motornya dengan fruatasi.


Dirinya benar-benar telah kehilangan jejak sekarang. Setelah berputar-putar dan kembali ketempat semula ia, motor tadi tak kunjung ia temukan.


Ia memutuskan kembali ke tempat Erina terjatuh tadi untuk melihat bagaimana kondisi Erina dan Via. Tadi Albi tak sempat mengecek keadaan mereka sebab buru-buru mengejar si pengendara motor knalpot bising itu.


***


Setelah motor Albi melesat untuk mengejar orang yang membuat mereka terjatuh, kini mobil Devan yang melintas. Tanpa perlu Via ataupun Erina berkoar-koar minta tolong, nyatanya Devan cukup pengertian.


Mobil Devan terlihat menepi, lalu keluarlah si pemiliknya dari balik pintu mobil itu.


"Astaga Er, Vi! Kalian kenapa?" Panik Devan berlari kecil menghampiri mereka.


"Tolong awasin motornya dulu Dev!" Seru Erina yang memang kakinya terhimpit badan motor Via. Meskipun Via kakinya tak ikut terhimpit, tapi perempuan itu sulit untuk bangkit karena pinggangnya terasa sakit.


Devan segera mengangkat motor itu dan menyingkirkannya dari kaki Erina. Setelah menyetandarkannya ke tepi jalan, Devan kbali menghampiri kedua perempuan itu yang sepertinya masih kesulitan untuk berdiri.


"Kalian nggak kenapa-napa?"


"Bantuin kita Dev!"


Devanpun membimbing Erina dan Via secara bergantian hingga ke trotoar.


"Gimana ceritanya kalian bisa jatuh kayak gini?" Tanya Devan sambil memperhatikan mereka dengan intens, meminta penjelasan.


"Ada orang yang sengaja nendang motor gue tadi." Adu Via.


"Fix, dia orang yang nerror gue selama ini. Berarti dia juga yang udah bunuh Ameera." Erina bicara dengan sangat yakin.


"Itu tadi si Albi lagi ngejar orangnya?" Tanya Devan yang tadi sempat melihat sekilas saat motor Albi melesat.

__ADS_1


"Iya, semoga aja Albi berhasil nangkap orangnya." Seru Via.


"Itu tangan sama kaki kalian luka. Sebentar, gue ada P3K, gue ambil dulu di mobil." Devanpun berjalan ke arah mobilnya.


"Gue nggak nyangka, dia itu berani nyerang kita secara terang-terangan dijalanan, gue jadi takut." Ucap Erina pada Via.


"Kita harus lebih hati-hati kalau lagi di jalan beb, bisa aja orang itu berusaha buat celakain kita lagi." Tutur Via yang diiringi anggukan kepala dari Erina.


Devan datang membawa kotak P3K dan sebotol air mineral.


"Sini Vi! Gue pakein obat merah, loe cuci dulu lukanya pake ini!" Devan menyerahkan botol air mineral kepada Via lalu membongkar kotak itu dan mengeluarkan obat merah serta kapas. Via mengangguk sambil menerima pemberian Devan itu.


Setelah selesai membersihkan luka-luka di tangan dan juga kakinya, Via memberikan botol air mineral yang isinya tinggal setengah itu kepada Erina.


"Ini loe juga cuci luka loe!" Seru Via. Erina menurut dan melakukan juga apa yang Via lakukan tadi.


Devan membantu memberikan obat merah pada luka Via.


"Aww, perih Dev! Sini ahh biar gue sendiri!" Via mengambil alih kapas yang sudah di basahi obat merah dari tangan Devan.


Kini Devan beralih pada Erina yang terlihat kesulitan saat hendak memberikan obat merah pada sikut kanannya, sebab tangan kiri Erina juga terluka.


Devan dan Erina sama-sama memperhatikan luka yang sedang Devan obati itu. Tanpa sadar wajah mereka kini sudah sangat dekat dan kening mereka hampir menyatu.


Deg!


Glek!


Devan menelan salivanya dengan susah payah saat netranya beralih dari luka ke wajah pemilik luka itu. Dan disaat itu pula mata Erina dan mata Devan bertemu, tatapan keduanya terkunci dalam satu titik yang sama.


Entah magnet apa yang membuat Devan sulit untuk memalingkan pandangannya dari netra Erina, magnet itu seolah memaksa Devan untuk tetap tinggal. Bola mata Erina yang jernih mampu membuat orang yang menatapnya merasakan kedamaian. Begitupun dengan Devan, laki-laki itu betah berlama-lama menatap mata dengan bola berwarna hitam pekat itu.


Pantas saja Albi sampai tergila-gila dengan perempuan ini, ternyata Erina memiliki keunikan tersendiri yang baru Devan ketahui keberadaannya. Jelas saja Devan baru tau, karena selama ini di mata dan hati Devan hanya Ameera. Dan sekarang Ameera telah tiada, bahkan sebelum perempuan itu pergi, dia menghianati cinta yang Devan berikan untuknya. Lantas, bolehkan sekarang Devan berpaling? Berpaling pada cinta lain yang lebih nyata?


Albi datang di waktu yang kurang tepat, dia harus menyaksikan adegan Erina dan Devan yang saling bertatap-tatapan. Jangan ditanya bagaimana perasaan Albi saat itu. Dunia terasa roboh dan menimpa dirinya, wajahnya terlihat sangat lesu, lebih lecek dari kain lap pel yang tak di cuci setelah di gunakan.


Patah. Hati Albi patah. Dia yang berjuang keras selama ini untuk menaklukan hati perempuan itu, tapi malah Devan yang menuai hasil dari perjuangannya.

__ADS_1


Hah, adilkah semua? Akhirnya apa yang Albi takutkan selama ini menjadi kenyataan. Albi menelan salivanya yang mendadak menjadi pahit. Takan ada orang yang tau seberapa besar rasa cinta yang Albi miliki untuk Erina, bahkan Albi sendiri tak dapat menakar seberapa besar rasa cintanya kepada perempuan itu.


Via menepuk keningnya sendiri saat melihat kesenduan di wajah Albi. Laki-laki itu pasti sedang patah hati sekarang, Erina yang dia perjuangkan mati-matian kini terlibat aksi tatap-tatapan bersama dengan rivalnya.


Apa keputusan memasukan Devan kedalam timnya memang sudah tepat? Atau justru akan menjadi bumerang bagi kekompakan tim ini? Sulit juga jika melibatkan hati dalam urusan rumit ini.


Seharusnya mereka mengenyampingkan dulu ego, namun sekali lagi, hati takan pernah bisa di salahkan.


BUKK!


Albi menendang ban mobil Devan yang berada tepat di sampingnya dengan dongkol, dirinya sedang dikuasai oleh perasaan cemburu, hatinya terbakar dan terasa sangat panas.


Erina yang mendengar suara itu spontan membuang pandangannya dari Devan, dia terlihat salah tingkah. Sedangkan Devan merasa kecewa karena mata indah itu berpaling, karena ingin lebih lama lagi menatap mata teduh itu.


Mata Erina langsung tertuju pada sumber suara yang cukup keras tadi.


"Bi!" Lirih Erina yang bisa didengar dengan jelas oleh Devan yang masih belum beranjak dari posisinya.


Albi tak ingin menunjukkan rasa kesalnya pada perempuan yang ia sayangi karena jika ia sedang marah, emosinya tak bisa terkontrol. Jadi lebih baik Albi pergi saja.


"Bi tunggu!" Erina beranjak dari duduknya dan menghampiri Albi yang hendak berlalu.


Sebelum itu terjadi, Erina meraih dan menahan tangan Albi.


"Loe mau kemana Bi?" Tanya Erina.


"Gue nggak kemana-mana kok Er." Menjawab tanpa menatap pada Erina.


"Gimana, apa loe berhasil nangkap orang itu Bi?" Tanya Erina penuh harap.


Erina menyusulnya hanya untuk bertanya apa dia berhasil menangkap pelakunya atau tidak. Tidak lebih dari itu, Erina hanya membutuhkan dirinya untuk bisa memecahkan kasus pembunuhan Ameera. Dan jika pelakunya telah tertangkap nanti, Albi pasti akan Erina lupakan.


Sedih memang mengingat hal itu, namun Albi sudah terlanjur berjanji akan selalu ada sampai akhirnya nanti. Dan seorang laki-laki yang di pegang itu adalah kata-katanya, sekali Albi telah berjanji, dia tidak akan pernah mengingkari.


"Sory Er, gue nggak berhasil. Orangnya kabur dan gue kehilangan jejaknya." Meskipun kecewa, Albi tetap berusaha bertutur baik.


__________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2