THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Menyebalkan


__ADS_3

Tiddd.... Tiddd...


Baru saja telapak kakinya menyentuh teras, suara klakson motor itu terdengar dibunyikan seseorang. Erina menoleh karena merasa tak asing dengan suara klakson itu.


Hey, itu kan suara klakson motor mamanya. Erina bisa melihat di balik pagar sana Albi yang tengah nangkring diatas motor, sambil tersenyum manis ke arahnya.


Jangan tertipu lagi Er, dia kerjaannya cuma tebar pesona aja ke semua perempuan!


Erina menatap Albi dengan sebal, sambil melipat tangannya di depan dada, dia berjalan untuk membukakan pagar rumahnya.


"Sini motornya, biar gue aja yang masukin." Ucap Erina sinis, memegang setang motor, berniat mengambil alih motornya.


Albi yang menyadari perubahan nada bicara Erina semenjak di polres tadi, mengerutkan dahinya sambil menatap Erina. Padahal, sebelumnya Erina sudah menjinak dan menunjukkan sikap lembut kepadanya. Tapi kenapa sekarang berubah lagi? Tak habis pikir. Perempuan itu susah di tebak. Benar apa kata Via, Albi harus ekstra bersabar.


Dia enggan turun dari motor meskipun Erina mengusirnya.


"Loe kenapa sih Er?" Tanya Albi lirih.


"Kenapa? Gue nggak kenapa-napa. Udah sini, motornya." Erina bersikeras membuat Albi menyingkir. Namun Albi lebih keras dari Erina. Dia masih bergeming di sana.


"Maaf ya Er, tadi gue anterin Dea dulu ke rumahnya. Jadi agak lama nyampe sini nya." Ucap Albi yang sontak mengundang kembali percikan api yang sudah mulai padam di hati Erina saat dia menyebut nama Dea.


"Ya terus, apa urusannya sama gue?" Tanyanya sewot. Kesal juga karena mereka boncengan berdua, apalagi sambil naik motor miliknya lagi. Erina seperti memfasilitasi kedekatan mereka.


"Kenapa loe berubah lagi sih Er? Padahal kan tadi siang loe udah baik sama gue?" Tanya Albi.


Pikir aja sendiri! Ingin rasanya Erina berteriak seperti itu di depan wajah Albi. Namun apalah dayanya, dia terlalu gengsi.


"Udah sana loe buruan pergi! Motornya mau gue masukin!" Seru Erina mulai geram karena Albi tak kunjung mendengarkan perkataannya malah sibuk mengintrogasi Erina.


"Ya udah, kalo loe nggak mau jawab. Gue juga nggak akan turun." Nah kan, apa maunya coba?


"Loe itu bener-bener ngeselin ya Bi!" Erina memukul lengan Albi cukup kencang.


Albi melirik lengannya yang baru saja di pukul Erina. Tidak begitu sakit. Tapi, apa arti pukulan itu.


"Lagi dong!" Albi malah mengejek sambil menaik turunkan alisnya. Menggoda.


Astaga!


Kenapa Erina jadi geli sendiri saat melihat reaksi Albi itu? Dan apa ini? Kenapa Erina ingin tertawa mendengar nada bicaranya yang manja itu?


Ini benar-benar gila. Entah Erina yang gila atau Albi. Atau mungkin dua-duanya sudah menggila sekarang.


"Ihh, loe itu ya! Udah buruan sana pergi!" Geram Erina, wajahnya pasti semerah tomat sekarang. Godaan Albi berhasil membuat kemarahannya sedikit mereda.


Albi cekikikan sendiri melihat kemarahan Erina yang kini berubah menjadi salah tingkah. Oke, dia paham akan satu hal sekarang. Jika perempuan sedang merajuk, rayu saja. Insyaallah hatinya akan luluh.


"Ya udah, biar gue yang masukin motornya ke dalam ya!" Seru Albi yang mulai men-starter lagi motornya.


Erina membuka pagar lebar-lebar, mengizinkan tanpa berkata.


"Mau gue boncengin lagi nggak?" Tanya Albi sebelum motornya benar-benar melewati pagar.


"Albi!" Erina mencebik, sudah sangat kesal karena Albi terus-terusan menggodanya. Lagi-lagi Albi tertawa melihat wajah merah Erina. Diapun segera membawa motor masuk ke bagasi yang memang sudah terbuka.


Setelahnya, Albi kembali berjalan menghampiri Erina yang masih berdiri mematung di dekat pagar.

__ADS_1


"Ini kuncinya Er!" Albi menyodorkan kuncinya pada sang pemilik.


Belum sempat Erina menyentuhnya, Albi sudah menariknya kembali. Apa maksudnya coba?


"Hey!" Seru Erina saat merasa di permainkan.


"Gue nggak di tawarin masuk dulu gitu Er? Di buatin kopilah minimal." Ucap Albi, mulai kumat lagi penyakit menyebalkan nya.


"Nggak ada. Loe pulang cepetan. Balikin kuncinya sini!" Ucap Erina.


"Ya udah deh Er. Udah malam juga, loe pasti cape kan pengen istirahat setelah seharian cari Baim."


Nah, itu loe tau! Dasar!


Tanpa drama lagi, Albi meraih tangan Erina, meletakkan kunci motor di atas telapak nya.


Bagus deh, dia pasti akan segera pergi setelah ini.


"Gue balik ya. Good night Er!" Ucap Albi sambil tersenyum. Bulan sabit saja kalah manisnya dengan senyum Albi.


"Oke!" Balas Erina.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Albi melenggang pergi. Erina menatap tangannya yang baru saja di pegang Albi. Kenapa jadi terasa hangat?


Astaga! Tidak tidak tidak!


Kemudian beralih menatap Albi yang punggungnya semakin menjauh.


Ehh, dia pulang naik apa ya? Kasihan juga dia harus berjalan kaki seperti itu. Erina baru ingat kalau motor Albi di titipkan di sebuah minimarket saat mencari Baim tadi. Tapi ya sudahlah, dia kan laki-laki.


Ahh, entahlah! Erina benar-benar pusing jika harus memikirkan tentang perasaannya terhadap Albi sekarang. Sepertinya otaknya perlu beristirahat sehingga bisa di bawa berpikir dengan jernih lagi.


***


Dua hari kemudian.


Pagi hari yang cerah, tidur Erina begitu nyenyak semalam. Sehingga ia terbangun dengan badannya yang terasa fresh.


Pergi ke sekolah adalah rutinitasnya sehari-hari. Seperti biasa, Via datang menjemputnya ke rumah dan mereka pergi ke sekolah bersama.


"Ameera nggak loe jemput beb?" Tanya Erina di tengah perjalanan menuju sekolah.


"Palingan juga udah ada cowoknya yang jemput. Udah, loe jangan mikirin dia." Balas Via.


"Ehh, itu loe bawa brownis berapa box? Pesenan siapa aja? Pesenan gue ada kan? Emangnya nyokap loe udah sembuh bener beb? Udah bikin lagi brownis?" Kalau bertanya, Via tidak bisa satu-satu, semua pertanyaan pasti dia borong. Erina sampai dibuat kebingungan harus menjawab pertanyaannya yang mana dulu.


"Iya, gue bawa 4. Punya loe satu. Punya si Zoya 2." Jawab Erina.


"...dan nyokap gue udah baikan sekarang." Imbuhnya.


"Nah, satu lagi buat siapa?" Tanya Via lagi.


Ehh, iya ya? Niatnya sih Erina ingin memberikan satu box brownis itu untuk Albi. Sebagai ucapan maaf dan terimakasihnya. Tapi, apa Erina akan sanggup untuk melakukan itu? Entahlah, kita lihat nanti saja.


"Buat siapa aja deh beb, liat entar. Kalau nggak ada yang mau beli gue makan sendiri aja." Jawab Erina.


***

__ADS_1


Via terlihat sedang memakan brownis di bangkunya. Lupa sarapan tadi di rumah katanya. Sedangkan Erina celingukan sendiri, mencari keberadaan Albi. Sepertinya dia belum datang. Jadi gelisah sendiri. Lantas kalau Albi datang nanti, apa iya dia harus memberikan brownis itu padanya? Pasti akan malu sekali. Erina berpikir untuk mengurungkan saja niatnya.


"Ehh beb, katanya mau di makan itu brownisnya." Tegur Via saat sadar Erina hanya diam saja sedari tadi.


"Emm, nanti aja beb, gue masih kenyang, tadi sarapan dulu di rumah kan." Jawab Erina. Via hanya mengangguk sambil menyiuk lagi brownis nya, lalu memasukannya ke dalam mulut.


"Cocok nih buat gue bawa ke rumah camer nanti." Ucap Via.


"Jiah, lulus sekolah aja belum udah mikirin camer loe. Emangnya loe seriusan sama yang sekarang ini?" Tanya Erina.


"Ya nggak juga sih. Hihi. Tapi minggu ini gue mau ke rumahnya. Katanya mau di kenalin sama orang tuanya. Malu eyy." Ucap Via diiringi dengan tawa renyahnya.


"Halah, biasanya loe nggak punya malu. Itu muka udah tebel banget kan. Hahaha." Keduanya lantas tertawa bersamaan.


Erina melihat Dea yang menoleh ke arahnya dan juga Via. Saat Erina balik menatapnya, si Dea malah buru-buru memalingkan pandangannya dengan gugup. Seperti baru saja ketahuan sedang menguping. Padahal sih Erina tidak masalah.


Tapi entah kenapa Erina masih merasa kesal kepada Dea. Tentang Albi, tentang hilangnya Baim juha. Sejak kejadian itu, Erina belum menyapa Dea lagi. Bukannya jahat, tapi Erina masih mencurigai Dea. Diam-diam dia juga sedang menyelidiki Dea. Apa yang sedang Dea lakukan di Kiara Condong waktu itu? Apa iya Dea ada kaitannya dengan teror yang Erina dapatkan dan penculikannya Baim?


"Hey Er!" Ditengah lamunannya, sebuah suara merdu menyapa dirinya. Sontak lamunan Erina buyar, kembali ke dunia nyata.


Terlihat wajah tampan itu sedang berdiri di depan bangkunya. Ahh, pagi-pagi ini sudah di suguhi pemandangan indah seperti ini.


Astaga!


Sadar Er! Loe kan udah bisa move on dari Devan. Jangan sampai sikap ramahnya Devan malah membuat hati loe kembali jatuh sama dia!


Sebisa mungkin Erina bersikap biasa, menyembunyikan rasa kagumnya di dasar hatinya yang terdalam.


"Hay!" Jawab Erina. Mau apa coba dia? Tumben sekali menyapa Erina duluan?


"Ameera berangkat bareng kalian ya?" Tanya Devan kemudian. Menyapa karena ada maunya. Menanyakan Ameera.


Sudahlah Erina, jangan terlalu ke-PDan.


"Nggak kok. Gue pikir Ameera berangkat bareng sama loe tadi." Jawab Erina sewajarnya.


"Ameera nggak bareng loe Dev? Gue nggak mampir ke kost-annya tadi. Gue pikir kalian mau berangkat bareng." Via menimbrung.


"Tadi gue memang ke kost-annya. Tapi kayaknya Ameera nggak ada. Gue pikir dia berangkat bareng kalian." Jawab Devan.


"Bentar, gue telfon dia dulu. Jangan-jangan dia kesiangan lagi." Ucap Erina. Sudah bersiap mengeluarkan ponselnya.


"Gue juga udah telfon dia tadi. Tapi nomornya nggak aktif." Ujar Devan.


"Kita coba dulu, siapa tau sekarang aktif." Balas Erina, sudah menyambungkan telfon pada Ameera. Menempelkan ponselnya ke daun telinga.


"Nggak biasanya dia kesiangan kayak gini." Via bergumam. Yang dia tau, Ameera itu anaknya gesit, selalu bangun awal. Tidak seperti Erina.


"Gimana?" Tanya Devan.


"Nomornya masih nggak aktif." Jawab Erina.


Mereka di buat kebingungan dengan Ameera. Apalagi saat Pak Bambang masuk, menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai. Sedangkan Ameera belum juga tiba disana.


_______________


Perubahan sikap Ameera di mulai dari sekarang ya! Akan ada kejutan apa lagi kira-kira? Kita lihat nanti ya guys...

__ADS_1


__ADS_2