THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Bukan Devi?


__ADS_3

Teeett...


Teeett...


Erina menekan tombol yang ada di samping pintu utama rumah Ameera. Selang beberapa lama, pintu terbuka.


"Kalian? Ngapain kalian kesini?" Tanya Violla yang baru saja keluar dari balik pintu.


"Gini La, boleh nggak gue cek barang-barangnya Ameera? Soalnya barang gue ada yang belum sempet Ameera balikin sebelum dia meninggal." Ucap Erina pura-pura. Itu adalah sebuah pancingan agar si pemilik rumah mau keluar.


"Barang apaan? Barang-barang Ameera udah di jual ke tukang loak, jadi loe cari aja sana di tempat barang-barang loak!" Ucap Violla judes. Sudah judes, tukang bohong lagi. Orang semalam Erina baru saja membongkar barang-barang milik Ameera.


Via menarik nafas agar tak tersulut emosi, padahal hatinya sudah kepanasan ketika Violla bicara sambil memecak seperti itu.


"Ehh, tunggu dulu! Jangan-jangan yang semalam mau ngerampok rumah gue itu loe ya? Iya, suaranya teriakannya mirip kayak suara loe." Ucap Violla yang baru ngeh dengan suara teriakan semalam saat mendengar suara Erina tadi.


"Heh! Loe jangan asal nuduh ya, kurang kerjaan banget Erina ngerampok di rumah loe!" Via mengelak, padahal dia tau kalau semalam Erina dan Albi memang menyelinap ke rumah ini.


"Nggak kok, ngapain juga gue ngerampok rumah loe." Kilah Erina.


"Hey, ada apa ini ribut-ribut?" Nah, pas sekali. Orang yang di cari akhirnya nongol juga.


Albi di balik tembok pagar rumah itu bersiap mengarahkan kameranya pada mamamya Violla itu, tak lupa ia zoom karena jaraknya lumayan jauh ternyata. Ia mengambil beberapa gambar, setelah dirasa cukup, Albi mengirim pesan pada Via kalau dia telah berhasil mendapatkan foto mamanya Violla.


"Ini nih ma, mereka mau cari barang-barangnya Ameera. Mencurigakan banget kan, Violla yakin kalau semalam yang nyelinap masuk ke rumah kita itu mereka." Adu Violla.


Mama Violla menatap tak senang ke arah Via dan Erina.


"Saya cuma mau cari barang saya yang waktu itu di pinjam Ameera tante, saya butuh barangnya sekarang." Ucap Erina.


"Alasan. Saya tau kamu pasti lagi cari bukti buat membela diri. Iya kan?" Sentak wanita paruh baya itu.


"Nggak kok tante." Erina menyangkal.


"Bukankah suami saya sudah tegaskan kepada kamu, berhenti mencari tau siapa orang yang sudah menghamili Ameera? Kenapa kalian keras kepala?!" Mama Violla menuding ke arah Erina.


"Nggak tante." Mungkin maksud Erina tidak hanya mencari tau siapa yang menghamili Ameera, tapi juga yang sudah membunuhnya.


"Kamu itu masih beruntung karena suami saya sudah berbaik hati mau mencabut tuntutannya kepada kamu. Kalau tidak, kamu sekarang pasti mendekam di penjara dan akan membusuk di sana!" Ucapnya penuh penekanan.


Erina menunduk, pasrah saja. Biarlah dia mau bicara apa, yang penting rencananya berhasil.


Ponsel di genggaman Via bergetar, cepat-cepat Via membaca pesan yang ternyata dari Albi itu.


Via membisikan sesuatu pada Erina saat mama Violla masih saja memecak sambil memarahi Erina.


"Albi udah dapet fotonya." Bisik Via pada sahabatnya itu. Mata Erina berubah menjadi berbinar.


"Hey, orang tua sedang bicara malah bisik-bisik! Tidak sopan ya kalian!" Serunya galak.


"Ya udah tante, kami permisi kalau gitu. Maaf sudah menganggu istirahatnya!" Via langsung menarik tangan Erina tanpa mendengar kata balasan dari mamanya Violla itu.


Mama Violla masih marah-marah saat Erina dan Via berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


"Dasar orang nggak jelas, udahlah ma kita masuk aja!" Seru Violla yang kemudian nyelonong masuk duluan.


***


"Gimana Bi?" Tanya Erina saat sudah ada di hadapan Albi.


"Beres, fotonya usah gue kirim ke grup. Nanti loe kasih tunjuk ke bokap loe ya!" Jawab Albi.


"Oke. Gue nggak sabar pengen tau, nyokapnya Violla itu beneran Devi atau bukan." Ucap Erina.


"Iya, kita tinggal nunggu hasil dari si Devan. Kira-kira dia berhasil nggak ya nemuin foro ibunya si Dea?" Ucap Via.


Mereka bertigapun sepakat untuk pulang saja. Mereka rasa sudah cukup pencariannya untuk hari ini.


***


Malam harinya dirumah Erina.


"Ma, papa belum pulang?" Tanya Erina pada sang mama yang sedang mixeran di dapur.


"Belum, sebentar lagi mungkin." Jawab mama sambil tak berhenti mengocok adonan brownis itu.


Erina keluar saja dari dapur untuk menghindari suara bising yang di timbulkan mixer kesayangan mamanya itu.


Perempuan itu memilih menunggu papanya pulang di ruang tengah bersama Baim yang sedang khusyu nonton film kartun kesukaannya. Sesekali bocah itu terkekeh saat ada adegan lawaknya.


"Hey Ibrahim!"


"Nonton terus, udah ngerjain PR belum?" Tanya Erina.


Erina menghembuskan nafas, kemudian bersandar pada sandaran kursi yang ia duduki, memainkan ponselnya sambil menunggu papanya pulang.


"Assalamualaikum."


Pas sekali, Erina beranjak dari duduknya dan buru-buru menghampiri papanya yang baru saja pulang bekerja.


"Waalaikumsalam pa." Tak lupa Erina mencium punggung tangan papanya itu.


"Mama kemana?" Tanya papa Heri.


"Ada di dapur lagi bikin brownis. Pa, ada yang mau Erina kasih liat ke papa." Ucap Erina serius.


"Oh ya? Apa?" Jawab papa sambil melangkah menuju kursi yang tadi Erina duduki, kemudian dia mendaratkan bokongnya disana.


Erina cepat-cepat menyusul sang papa dan duduk tepat di sampingnya.


"Ini pa, Erina udah dapet foto mamanya Violla. Papa liat deh, dia Devi atau bukan?" Erina menunjukan ponselnya kepada papa Heri yang sedang mengendurkan dasi.


Papa Heri segera menoleh pada layar ponsel yang Erina sodorkan. Tak cukup jelas, papa Heri mengambil alih ponsel dari tangan putri sulungnya itu.


Dahi papa Heri mengerut saat mengamati foto seorang perempuan paruh baya yang usianya seperti di bawah papa Heri itu.


"Gimana pa? Dia Devi kan?" Tanya Erina tak sabaran.

__ADS_1


"Bukan, ini bukan Devi." Jawab papa Heri dengan mantap.


Jawaban papanya itu membuat Erina kecewa. Kalau mamanya Violla itu bukan Devi, terus adik tirinya Erina itu siapa dong?


Lutut Erina mendadak jadi lemas, dia membenturkan punggungnya ke sandaran kursi dengan kasar.


Lalu apa yang harus dia lakukan lagi untuk mencari keberadaan Devi dan anaknya itu?


"Terus kita haris gimana lagi pa?" Tanya Erina terdengar putus asa.


"Papa masih terus berusaha mencari Sari, dua kali papa bertemu dengannya di restoran Asolali, papa yakin kalau Sari sering mengunjungi tempat itu. Papa akan mencoba untuk memancingnya." Ucap papa Heri.


"Hah? Gimana caranya?" Tanya Erina.


***


Malam itu, grup chat sedang ramai-ramainya.


[Ternyata mamanya Violla itu bukan Devi guys. Bokap gue yang bilang waktu gue kasih liat fotonya tadi.] Erina


[Hah? Jadi mamanya Violla bukan Devi? Terus siapa yang udah bunuh Ameera kalau gitu?] Via.


[Bisa aja kan mamanya itu operasi pelastik jadi wajahnya berubah.] Albi


[Gue juga nggak tau deh. Pusing bener kepala gue.] Erina.


[Nanti gue pijitin.] Albi


[Bisa jadi tuh, kok makin rumit gini ya urusannya?] Via.


[Gue nggak ketemu sama Dea tadi.] Lapor Devan yang baru nongol.


[Tapi loe udah ketemu rumahnya kan?] Erina


[Iya udah. Kata adiknya, Dea lagi kerja.] Devan.


[Pasti kerja di karaoke itu.] Via


[Kayaknya.] Devan


[Terus kita harus gimana lagi sekarang?] Via


[Bokap gue ngasih ide buat mancing Sari.] Via


[Lho kok cari Sari sih? Kita kan lagi cari Devi sama anaknya.] Via


[Ya kan cuma si Sari ini yang tau dimana keberadaan Devi sama anaknya.] Erina


[Idenya apa Er?] Albi


Chattingan di grup terus berlanjut hingga tak terasa waktu hampir menunjukan tengah malam.


_______________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2