THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Menyelamatkan Erina


__ADS_3

Flash Back Dea.


Saat itu Dea sedang berada di tengah-tengah keramaian, menyaksikan idolanya tampil sebagai bintang tamu di acara perpisahan itu. Tiba-tiba saja ponsel di saku celananya bergetar, panggilan dari bapak. Segera Dea mengangkatnya. Namun Dea tak dapat mendengar sebab suara riuh dari anak-anak yang bersorak sorai dan ikut bernyanyi.


Dea pun mencari tempat yang agak sepi agar dapat mendengar apa yang bapaknya ingin sampaikan.


"Ada apa pak?" Tanya Dea setelah dirinya jauh dari keramaian.


"Kamu ini bagaimana sih Dea? Kamu nggak liat di rumah nggak ada makanan? Dasar anak nggak tau diri, malah kelayapan malam-malam kayak gini?!" Bapak terengar marah.


"Iya pak, Dea pulang sekarang bawa makanan." Dea pun mengakhiri panggilan telpon itu sepihak. Menghela nafas berat.


Hidupnya tidak sama dengan kebanyakan anak remaja pada umumnya. Hidup Dea hanya dihabiskan dengan bekerja dan juga mengurus kedua adiknya yang masih kecil. Bahkan untuk bisa datang ke acara ini saja Dea harus menunggu sepulang bekerja di karaoke. Meskipun sangat terlambat, namun Dea merasa senang, setidaknya dia bisa melihat penampilan sang idola.


Saat sedang asyik dengan pikirannya, Dea melihat ada bayangan hitam di atas lantai yang menandakan jika ada seseorang sedang berdiri di belakang tubuhnya. Dea hendak menoleh kebelakang untuk melihat siapakah gerangan orang itu? Namun tiba-tiba saja mulut Dea di sumpal oleh orang itu tanpa sempat Dea melihat siapa orangnya.


Sebelum tak sadarkan diri, Dea merasakan kepalanya pening, pandangannya mulai kabur. Samar-samar dia mendengar suara orang itu berbicara melalui telpon.


"Erina sudah kamu bawa ke rumahnya? Bagus! Aku akan segera bawa temannya ini kesana, aku sudah berhasil membiusnya."


Setelahnya, Dea benar-benar tak sadarkan diri dan saat terbangun, Dea sudah berada diruang ganti anak perempuan yang akan tampil. Dia merasakan seluruh tubuhnya remuk, mungkin akibat dirinya diseret oleh Sari.


***


Albi mengepalkan tangannya sesaat setelah Dea menceritakan kronologi kejadian sebelum dirinya tak sadarkan diri. Jadi mereka membawa Erina ke rumahnya? Albi yakin jika otak dibalik penculikan Erina dalah adik tirinya, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sari.


Namun yang jadi pertanyaannya disini, siapakah adik tirinya Erina itu?


"Loe yakin Erina dibawa ke rumahnya?" Tanya Albi.


"Iya, aku yakin banget. Kita harus kesana sekarang! Kasian Erina." Jawab Dea dengan mantap. Albi mengangguk, kemudian merekapun pergi meninggalkan ruangan itu.


***


Albi dan Dea mendatangi Sari yang sedang di jaga oleh Devan dan Iqbal. Soni dan dua temannya ikut serta Albi ajak, Albi pasti akan sangat membutuhkan bantuan mereka.


"Gimana? Udah ada info soal Erina?" Tanya Devan saat melihat kedatangan Albi.


"Erina dibawa kerumahnya. Kita harus cepet-cepet pergi kesana." Jawab Albi. Sari yang mendengar itu, sontak terlihat panik. Bagaimana bisa mereka tahu? pikirnya.

__ADS_1


"Kalian itu terlalu bodoh. Kenapa kami membawa anak itu kerumahnya? Erina berada di tempat yang jauh sekarang!" Ucap Sari.


Albi mengernyit, dia tak akan percaya dengan mulut penuh dusta perempuan itu. Albi yakin jika dia hanya ingin mengelabui Albi dan mengulur-ngulur waktu saja. Albi tak sebodoh itu.


"Jangan percaya, dia itu pembohong. Loe Bal sama loe Dev ikut gue, kita ke rumah Erina sekarang. Dan kalian bertiga gue minta tolong buat jagain dia ya! Plis jangan sampai dia kabur! Oke!" Perintah Albi.


"Siap, Bi!" Seru mereka serempak.


Sari semakin gelisah, bagaimana kalau mereka berhasil menyelamatkan Erina? Lalu keponakannya akan tertangkap, pasti dirinya juga akan ikut di seret-seret nanti.


"Loe tenang aja, tante ini bakalan aman di tangan kita." Ucap Soni.


"Gue percaya. Ya udah, kita berangkat!" Albi, Devan dan Iqbal mengambil ancang-ancang untuk pergi, namun...


"Aku ikut ya Bi!" Seru Dea yang membuat ketiga laki-laki itu berhenti.


"Ini terlalu bahaya, De! Kita nggak lagi main-main. Yang lagi kita hadapi ini pembunuh." Cegah Albi.


"Udahlah Bi, siapa tau aja nanti kita butuh Dea." Iqbal berkomentar.


Albi diam sejenak, menimang-nimang.


"Ya udah, tapi loe harus hati-hati!" Dea mengangguk pelan. Entahlah, seharusnya Dea membenci Erina kan? Setelah Erina menuduh dan menuding-nuding dirinya yang telah menghabisi nyawa Ameera. Tapi kenapa Dea malah merasa simpati sekarang?


***


"Jadi, loe juga yang udah bunuh Ameera?" Tanya Erina. Sumpah demi apapun, Erina tak bisa membayangkan, Via bisa sekejam itu menghabisi nyawa Ameera, sahabat seperjuangannya sendiri.


"Loe masih nanya? Gue udah enek banget liat si ratu drama itu, sok sokan ngambek ngambek segala lagi. Ehh tau-tau nya bunting. Dan loe, Astaga! Loe itu bener-bener tolol Er, ngapain loe pake main cabut-cabut aja itu pisau di perutnya si ratu drama? HAH? NGAPAIN? HAHAHAHA."


"Tapi atas ketololan loe, itu jadi keberuntungan buat gue. Semua orang nyalahin loe dan nggak ada saru orangpun yang curiga sama gue. Haha."


Erina bergeming, di dalam hati dia mengakui jika itu adalah kesalahan terfatal yang pernah ia lakukan di dalam hidupnya. Erina mulai terisak.


"Semua belum terlambat beb, masih banyak waktu buat kita bisa perbaiki semuanya. Kita mulai semuanya dari awal ya, gue terima loe jadi adik gue, kita bakalan jadi adik kakak yang kompak. Asalkan loe jangan kayak gini, plis lepasin kita!"


"TERLAMBAT! Semuanya udah berakhir sejak ibu gue mati. Loe pikir gimana perasaan gue selama ini? HAH? Ibu, satu-satunya orang tua yang gue miliki meregang nyawa di depan mata kepala gue sendiri. Dan itu semua terjadi karena pria brengsek ini!" Via menuding pelipis papa Heri, papa kandungnya sendiri dengan tidak sopan.


Erina tercengang dan geleng-geleng kepala melihat tingkah bar-bar Via. Kenapa sikap sahabatnya ini bisa berubah 180° seperti ini? Ini bukan Via yang Erina kenal. Via yang ini sangat brutal.

__ADS_1


"Loe pikir gue nggak panas apa? Liat hidup loe yang bahagia dan sempurna tanpa kekurangan apapun. Sedangkan gue, gue nggak punya siapa-siapa, gue nggak punya apa-apa. Bahkan nenek mulai sakit-sakitan sekarang. Gue nggak terima kalian hidup bahagia di atas penderitaan gue. Udah cukup gue main terror-terroran sama kalian kemarin. Sekarang waktunya kalian gue singkirin. Kalian akan habis malam ini juga! Hahaha." Via sudah seperti orang gila, marah-marah, lalu wajahnya berubah sedih kemudian tertawa sendiri.


Erina terisak, dia berharap akan ada orang yang membantu dirinya terlepas dari Via gila ini. Ya, Via sudah mirip psikopat sekarang.


"Tapi kenapa loe juga bunuh Ameera? Apa salah dia? Kenapa loe tega ngabisin dua nyawa sekaligus?"


"Si ratu drama itu udah terlalu jauh tau tentang rahasia gue. Jadi mau nggak mau dia harus terima akibatnya!"


***


"Tante ngapain sih pake mau culik-culik si Dea segala? Apa bagusnya dia coba? Cupu gitu, di jual juga nggak bakalan laku dia. Iya nggak bro? Hahaha." Soni terlihat puas menggoda Sari sedari tadi, lumayan untuk dijadikan bahan hiburan. Pikirnya.


"Iya, bener banget tuh. Ehh tapi kalau diliat-liat tante ini cakep juga ya meskipun umurnya udah tuwir! Hahaha." Temannya yang lain mencolek dagu Sari dengan tidak sopan.


Sari terlihat sangat murka, dia tidak terima dilecehkan oleh bocah-bocah tengil itu.


"Lepaskan saya atau kalian akan tau akibatnya?!" Gertak Sari galak.


"Oh ya? Memangnya tante bisa apa? Udahlah tante, santai aja. Kita main-main disini. Kapan lagi coba tante di modusin sama brondong-brondong kece kayak kita ini. Jiaahaha."


Sari menyeringai jahat saat melihat dua preman suruhan suaminya kini berada di belakang ketiga bocah tengil itu. Bala bantuan telah tiba. Lalu...


BUKKKK!!


BUKKKK!!


BUKKKK!!


Tiga anak remaja laki-laki itu jatuh tersungkur saat preman sewaan Sari menghantam bahu mereka menggunakan balok kayu dengan sangat keras. Mereka langsung tak sadarkan diri dan tumbang begitu saja di atas tanah.


"Mampus kalian!"


"...cepat lepaskan saya!" Salah satu dari mereka segera membuka tambang yang membelenggu tubuh Sari.


"Telpon temanmu yang lain, suruh mereka menghalangi jalan anak-anak tadi untuk mengulur waktu. Jangan sampai mereka tiba di rumah Erina sebelum Via selesai melakukan tugasnya."


"Siap bos!"


____________________

__ADS_1


Nah, si Via kira-kira mau ngapain nih sama keluarganya Erina? Habis ini flash back waktu malam pembunuhan Ameera dulu ya...


Tetap tinggalkan jejak setelah membaca....


__ADS_2