THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Ojek khusus Erina


__ADS_3

Pagi itu sedikit mendung, matahari masih enggan menampakkan sinarnya. Hanya awan gelap yang menyelimuti langit pagi ini, di tambah kabut yang tak kunjung mau menguap pergi.


Erina memakai cardigannya, rok abu-abu yang selama 3 tahun ini menjadi seragam kebanggaannya membalut paha hingga sebatas lutut. Setelah ini, seragamnya itu akan segera di museumkan.


Perempuan itu berjalan dengan lunglai keluar dari rumah, melewati halaman dan menyusuri jalanan, sengaja ia berjalan kaki untuk sekedar menikmati udara sejuk pagi itu. Sedikit santai karena pagi ini ia tak kesiangan. Hari ini jadwalnya pergi ke sekolah, hasil kelulusan sudah keluar dan semua murid di wajibkan datang untuk mengambil hasilnya.


Langkahnya terlihat tak bersemangat mengingat kini Via tidak bersamanya lagi. Sahabatnya itu sudah berangkat ke Jakarta kemarin sore, rasanya ada yang aneh saat pergi ke sekolah tanpa di jemput oleh Via.


Erina menghembuskan nafas berat, ia pasti akan sangat merindukan sahabatnya itu. Bagaimana bisa Erina lupa? Via bagian terbesar dalam hidupnya, dia yang selalu ada di saat Erina terpuruk.


Nyatanya, udara sejuk pagi ini tak mampu menyegarkan pikiran Erina yang terasa semrawut beberapa bulan terakhir ini.


Tin... Tin...


Suara klakson yang dibunyikan pemiliknya membuyarkan lamunan Erina. Langkah perempuan itu seketika terhenti, dia segera menoleh ke samping, tepat motor itu berada. Orang kurang kerjaan mana yang berani-beraninya merusak lamunan Erina?


"Ojek neng." Seru orang itu dari atas motor sambil merekah kan senyum terbaiknya. Erina mengernyitkan dahi saat melihat orang itu.


"Bi, sejak kapan loe jadi tukang ojek?" Tanya Erina sedikit terkekeh.


"Sejak sekarang. Tapi ojek khusus buat Erina aja, nggak terima penumpang lain." Albi menanggapi sambil terkekeh pula.


Erina sedikit tersanjung dengan rayuan gombal Albi. Entahlah kalimatnya itu mengandung semacam rayuan atau tidak.


"Ya ya ya, tampang loe udah cocok jadi tukang ojek sih." Ucap Erina sedikit berkelakar. Albi terkekeh semakin kencang.


"Loe kok jalan kaki sih Er? Kan loe bisa telfon gue, dan detik itu juga bakal langsung melesat ke tempat loe berada." Ucap Albi dengan nada lebaynya.


"Haha, iya gue percaya, loe pasti bakalan langsung tring menghilang dan tau-tau udah ada di samping gue kalau gue telfon minta jemput." Balas Erina sedikit meringis.


"Via jadi berangkat ke Jakarta?" Tanya Albi kemudian.


"Jadi, kemarin sore dia berangkat." Wajah Erina berubah murung saat membahas Via, pasti perempuan itu sangat sedih mengingat hanya tinggal Via sahabat satu-satunya yang masih tersisa.


"Udah loe nggak usah sedih. Disini kan ada gue. Nanti Via juga pasti bakalan sering main kok kesini. Rumahnya nggak di jual kan?" Tanya Albi.


"Iya katanya nggak di jual kok." Erina mencoba untuk kembali mengulas senyum.


"Ya udah, kita berangkat yuk. Nanti keburu siang."


Saat Erina hendak naik ke atas motor Albi, tiba-tiba...


Tin... Tin...


Sebuah mobil berhenti tepat di samping motor Albi. Erina dan Albi menoleh berjamaah. Ternyata mobil Devan, perlahan kaca mobilnya turun, lalu nampak lah wajah pengemudinya.


"Er, loe mau berangkat ya? Bareng gue aja yuk!" Seru Devan dari dalam mobilnya.

__ADS_1


"Sory Dev, gue mau berangkat bareng Albi."


Ingin rasanya Albi tertawa terbahak-bahak melihat wajah merah Devan, mungkin dia malu di tolak mentah-mentah oleh Erina. Tapi sekuat tenaga Albi menahan tawanya agar tidak meledak.


Erina sudah naik ke jok belakang motor Albi.


"Kita duluan ya Dev. Baaaay!" Sengaja Albi memanjangkan seruannya saat di akhir kalimat sebelum akhirnya ia tancap gas. Motor Albi pun langsung melesat.


Devan memukul setir yang tak berdosa itu karena merasa kesal. Albi berada satu langkah di depannya.


***


"Bi, gimana kalau kita nggak berhasil nemuin pelaku yang udah bunuh Ameera? Malam perpisahan itu minggu depan. Sedangkan sekarang Via juga udah nggak ada buat bantuin gue lagi." Ucap Erina di tengah perjalanan menuju sekolah.


Albi menghembuskan nafas di balik helmnya. Dia memang belum mengatakan pada Erina tentang keluarganya Dea, dia belum memiliki bukti yang kuat. Hasil rekaman kemarin saat dirinya bicara dengan Dea, tidak banyak membuktikan kalau memang Dea lah pelakunya. Sepertinya Albi harus segera melancarkan rencana terakhirnya.


Albi akan memberi tahu Erina setelah rencananya membuahkan hasil.


"Bi, kok loe malah diem sih?" Erina menepuk pundak Albi karena sedari tadi laki-laki itu hanya bergeming.


"Nggak kenapa-napa kok Er. Loe harus optimis ya, pelakunya pasti bakalan ketangkap sebelum acara malam perpisahan." Ucap Albi.


"Kok loe seyakin itu sih Bi? Kita belum punya bukti apa-apa. Mamanya Violla juga kan ternyata bukan Devi." Ucap Erina pesimis.


"Percaya sama gue deh Er."


"Stop Bi, gue turun disini aja!" Erina menepuk pundak Albi sebanyak tiga kali menyuruhnya untuk berhenti.


Albi menekan rem pada kendaraan roda duanya itu. Erina segera turun dan sedikit merapihkan rambutnya yang berantakan karena tertiup angin.


"Ehh Er, sini deh. Ada yang mau gue kasih tunjuk ke loe." Seru Albi tiba-tiba.


Erina mengernyit, namun begitu dia tetap mendekat ke arah Albi.


"Apaan Bi?" Tanya Erina.


"Sini!" Erina yang sudah mendekat, kini semakin merapat pada Albi.


Dan setelah Erina benar-benar ada di hadapan Albi, tiba-tiba saja...


Cup


Deg!


Erina tertegun saat bibir Albi mendarat dengan mulus di pipi kanannya. Mimpikan ini? Dada Erina kini sudah berdebar 1000 kali lipat dari biasanya, dia tak tau sudah semerah apa pipinya sekarang. Lidahnya kelu, otaknya bleng. Kenapa semakin hari, Erina semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya saat bersama dengan Albi?


Dan si pelaku yang membuat dunia Erina jungkir balik itu kini sudah melesat bersama dengan motornya ke arah parkiran. Albi tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mencuri cium dari Erina.

__ADS_1


Tanpa sadar, Erina memegang pipinya yang tadi dicium oleh Albi. Senyum di bibirnya merekah sembari menatap punggung Albi yang semakin menjauh dari pandangannya. Bibir Albi terasa begitu hangat dan lembut saat menyentuh pipi Erina.


Astaga!


Kenapa Erina bisa segila ini? Apa iya Erina mulai mencintai laki-laki itu? Albi juga terlihat sangat mempesona belakangan ini. Perempuan itu semakin yakin untuk melabuhkan hatinya pada Albi terlepas dia berhasil atau tidak menemukan pelaku pembunuhan Ameera.


Erina pun segera memasuki gedung sekolah yang berdiri kokoh di hadapannya. Sebuah senyuman terus mengembang mengiringi langkah kaki perempuan itu. Perlakuan Albi tadi bisa sedikit mengalihkan kesedihannya dari Via.


***


Erina duduk sendirian di salah satu bangku yang ada di koridor, suasana disana cukup ramai oleh anak-anak kelas XII yang hendak mengambil hasil kelulusan. Sedangkan murid kelas X dan XI sudah masuk kelas masing-masing mengingat jam pelajaran sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu.


Tak ada satu orangpun yang mau menyapa dirinya, mungkin mereka masih mengira kalau Erina yang telah menghabisi nyawa Ameera.


Erina menghembuskan nafas kasar, mengabaikan mereka yang terlihat berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya, entah apa yang mereka bicarakan, Erina sama sekali tak perduli. Dia memilih sibuk dengan dunianya sendiri.


Sekolah terasa aneh tanpa Via dan Ameera, biasanya kedua sahabatnya itu tak akan berhenti mengoceh, membuat hari-hari Erina di sekolah tak pernah sepi. Kesedihan kembali menghampiri hati Erina saat memori kebersamaannya bersama Via dan Ameera berkelebatan di benaknya.


Saat mereka berlarian melewati koridor ini karena kesiangan dan takut di marahi pak Bambang, saat mereka beristirahat di bawah pohon rindang, saat kebut-kebutan dan menerobos gerbang yang hampir di tutup. Tak jarang mereka mendapat omelan dari pak satpam.


Erina tersenyum kecut, kini semua itu tinggallah kenangan, Via dan Ameera sudah pergi jauh meninggalkannya sendirian disini. Tinggal Erina seorang diri yang pasti takan pernah bisa move on dari mereka berdua.


Rasa rindu, sedih, dan kecewa kini menyeruak menggerogoti rongga hati Erina. Hampir saja Erina meneteskan air mata saat mengingat mereka, sahabat terbaik yang pernah Erina miliki. Namun secepat kilat Erina menyusut ujung matanya yang sedikit berair itu.


Drrrrrt drrrrrt.


Ponsel didalam saku Erina bergetar, segera Erina mengambilnya untuk melihat ada pesan masuk dari siapa. Matanya menyipit saat mendapati nomor asing telah mengiriminya beberapa foto.


Mata Erina yang semula menyipit, kini terbuka lebar-lebar sesaat setelah dia membuka foto dari nomor asing itu.


3 buah foto yang semuanya berisikan gambar Albi bersama dengan Dea yang sedang duduk bersanding di sebuah bangku taman. Albi terlihat menatap serius ke arah Dea yang sedang tertunduk dalam.


Apa maksudnya ini?


Apa arti tatapan Albi terhadap Dea ini?


Apalagi disana Dea terlihat sangat cantik dan berbeda.


Hatinya memanas, dadanya terasa nyeri dan sesak. Baru saja tadi Albi membawanya terbang tinggi hingga menembus awan, dan kini laki-laki itu malah menjatuhkannya ke dasar jurang yang terdalam.


Dunianya seakan runtuh, lututnya bergetar, matanya kembali berkaca-kaca yang mungkin siap pecah kapan saja.


Tega loe Bi! Ternyata diam-diam loe temuin Dea tanpa sepengatahuan gue


Erina menyugar rambutnya dengan kasar, belum hilang rasa sedihnya di tinggalkan oleh sahabat-sahabatnya, kini Albi juga mulai tak jujur kepada dirinya. Erina seakan kehilangan pijakan kakinya sekarang. Lantas, pada siapa lagi dirinya harus berpegangan saat hendak terjatuh?


___________________

__ADS_1


Hanya bisa up 1 episode hari ini, othornya lagi kurang enak badan 🙏


__ADS_2