
Pagi ini matahari tersenyum dengan hangatnya, menyapa setiap penduduk bumi yang akan memulai aktifitasnya hari ini.
Erina berjalan tergesa-gesa keluar dari rumahnya, mama Sofi dari dalam berteriak menyuruhnya untuk sarapan terlebih dulu. Namun Erina seolah tutup telinga dan pura-pura tak mendengar.
Terlihat Via sudah nangkring di atas motor maticnya sambil menatap penuh keheranan ke arah Erina.
"Kesiangan terooos. Kebiasaan banget sih. Jangan-jangan nggak mandi lagi loe ya?" Via menuding sambil memperhatikan Erina yang sedang memakai sepatu dengan gerakan cepat.
"Sssttt, jangan ungkit-ungkit masalah mandi kalau di sekolah. Oke!" Setelah selesai dengan urusan sepatunya Erina berdiri dan naik ke bagian belakang motor Via.
"Ahh elah, gue umumin pake toa sekolah kalau loe jarang mandi baru tau rasa." Via mulai men-starter motor lalu menarik pedal gasnya.
"Jangan dong beb. Nanti Albi jadi ilfil sama gue." Erina cepat-cepat menutup mulutnya saat sadar akan perkataannya barusan. Dia keceplosan.
"Apa? Hahaha. Jadi sekarang loe mulai berharap sama dia? Hahaha." Via tertawa terbahak-bahak saat tak sadar Erina membicarakan tentang Albi.
Nah, ini yang Erina takutkan. Via pasti akan meledeknya habis-habisan. Lalu dimana dia harus menyembunyikan wajahnya?
"Hah, nggak kok." Erina mengelak sambil buang muka.
"Udahlah beb, ngaku aja sama gue. Loe mulai ada hati kan sama si Albi? Gue ini tau luar sama dalaman loe kayak gimana. Gerak-gerik loe sekarang sama persis waktu loe jatuh cinta sama si Devan waktu itu." Ucap Via.
"Gue nggak mau mikirin masalah cinta-cintaan dulu lah beb. Masalah hidup gue aja belum kelar-kelar. Belum lagi ujian nasional sebentar lagi mulai. Gue harus belajar ekstra biar bisa lulus dan masuk universitas impian gue." Balas Erina yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Via.
"Yah, mau gimana lagi. Kita juga kan masih berusaha buat cari siapa sebenernya pelaku pembunuhan Ameera. Atau kita lanjutin pencariannya nanti aja setelah ujian beres?" Tanya Via.
"Gue juga nggak tau beb."
Tak terasa perjalanan singkat mereka berakhir, motor Via berbelok masuk ke pekarangan sekolah. Menurunkan Erina di depan lapangan kemudian Via tancap gas lagi menuju parkiran.
Erina berdiri mematung menunggu Via di pinggir lapangan. Dia harus mendiskusikan hasil temuannya semalam kepada Via dan juga Albi. Karena sekarang mereka adalah satu tim, sekecil apapun petunjuknya, mereka harus menyelidikinya sedetail mungkin.
Tiba-tiba saja...
BUKK!
Kepala Erina mendadak pening sesaat setelah bola basket itu menghantam kelapanya. Perempuan itu hilang keseimbangan, lalu...
Hap!
Sepasang tangan berhasil menahan tubuh Erina sebelum dia jatuh nenyentuh tanah. Kepala Erina terasa berat, pandangannya kabur. Namun sayup-sayup dia melihat wajah yang ia hafal berada di hadapannya. Bibir orang itu bergumam namun Erina tak dapat mendengar dengan jelas. Sampai akhirnya Erina tak sadarkan diri.
***
Devan berlari kepinggir lapangan saat bola yang dia lempar tadi tak sengaja menghantap kepala seseorang yang sedang berdiri di sana.
Betapa terkejutnya dia saat mengetahui jika orang itu adalah Erina. Tubuhnya limbung, sebelum jatuh menyentuh tanah, cepat-cepat Devan menangkap tubuh itu.
__ADS_1
Hap!
Berhasil, Devan menatap perempuan yang ada dalam rengkuhannya itu.
Deg!
Hatinya terenyuh saat tiba-tiba saja wajah milik perempuan itu berubah menjadi wajah kekasihnya.
"Ameera!" Gumam Devan pelan, dia seperti menemukan sosok Ameera di dalam diri Erina. Ada kemiripan antara wajah Erina dan Ameera. Di tatapnya lekat-lekat wajah itu, sesaat kemudian dia tersadar jika Ameera telah tiada. Mungkin hal itu bisa terjadi sebab Devan sangat merindukan kekasihnya itu.
"Beb!"
"Er!"
Via yang baru selesai memarkirkan motornya tercengang saat mendapati Erina pingsan dalam rengkuhan Devan. Dan Albi yang berjalan beriringan dengan Via secepat kilat mengambil alih tubuh Erina dari pangkuan Devan.
"Er, bangun Er! Loe kenapa?" Panik Albi menepuk-nepuk pipi Erina.
Devan terlihat salah tingkah saat Via menatapnya dengan tatapan mengintrogasi.
"Erina kenapa Dev?" Tanya Via.
"Kepalanya nggak sengaja kenap bola basket gue." Jawab Devan apa adanya.
"Kita harus bawa Erina ke UKS Vi!" Seru Albi, kemudian dia membopong tubuh Erina seorang diri menuju UKS. Via mengekor di belakangnya. Meninggalkan Devan yang sedang bergulat dengan perasaan bersalahnya.
Dea mengintip dari balik jendela kelasnya, dia menatap Albi yang terlihat begitu panik saat Erina jatuh pingsan. Memang seperti itu sepatutnya memperlakukan seseorang yang di cintai.
***
Albi mengoleskan minyak kayu putih pada jari telunjuknya, kemudian menempelkannya pada lubang hidung Erina. Caranya cukup ampuh, Erina mulai terusik, matanya mengerjap saat merasakan wewangian yang menyengat itu.
"Dia sadar!" Seru Via saat tangan Erina terangkat dan memegangi kepalanya.
"Iya. Alhamdulillah." Ucap Albi.
"Awwh." Erina mengerang kesakitan saat merasakan denyutan di kepalanya.
"Er!" Terdengar suara berat itu memanggil. Erina mencoba membuka matanya meskipun terasa berat.
"Bi!" Ucap Erina lirih.
"Loe nggak kenapa-napa beb? Loe nggak hilang ingatan kan?" Tanya Via panik.
"Gue kenapa ya? Kok kepala gue sakit? Loe pikir ini sinetron, pake hilang ingatan segala." Dalam keadaan sakit juga masih sempat-sempatnya menjawab. Ehh, orang bertanya memang haris di jawab kan?
"Haha, iya kali aja gitu loe lupa sama kita-kita. Loe itu tadi kena lemparan bola basketnya ai Devan." Erina hanya mangut-mangut. Via tertawa sumbang, niatnya sih ingin mencairkan suasana. Namun setelahnya keheningan tercipta.
__ADS_1
Albi tenggelam dalam pikirannya sendiri, tatapan Devan terhadap Erina tadi seolah menjadi ancaman bagi dirinya.
"Tas gue mana?" Erina bertanya pada Via.
"Tas? Oh, ini nih." Via memberikan tas yang di bawanya saat Erina pingsan tadi.
Sementara Erina sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya, Albi terus memperhatikan gerak-gerik perempuan itu. Sedangkan Via sibuk berceloteh sendiri.
"Kalau kepala loe masih sakit, mendingan loe balik deh beb. Istirahat di rumah aja." Bahkan telinga Erina tak menangkap apa yang Via bicarakan.
"Loe cari apa?" Tanya Albi penasaran.
Erina berhasil menemukan test pack itu, kemudian dia memamerkannya ke udara.
"Kalian liat ini?" Erina menunjukkan benda kecil tipis itu tepat di depan wajah Albi dan Via.
Mulut Via terbuka lebar saat melihat ada garis merah dua pada benda itu. Begitupun dengan Albi, dia tak menyangka jika akan secepat ini.
"Loe hamil beb? Anak siapa? Astaga! Sebentar lagi gue bakalan punya keponakan. Selamat ya!" Ucap Via yang sungguh sangat ngaco itu. Erina mengerutkan alisnya mendengar tanggapan Via tentang test pack itu. Lalu netranya beralih menatap Albi, ingin melihat reaksi laki-laki itu.
"Alhamdulillah, sebentar lagi kita punya anak Er." Ucap Albi terlihat sumringah.
What? Kenapa mereka jadi gila seperti ini?
Lalu Erina memukul lengan Albi cukup kencang hingga si pemilik lengan merasa kesakitan. Albi mengusap lengannya yang habis di pukul Erina.
"Loe kalau ngomong jangan asal dong Bi. Nanti orang-orang ngira kalau kita beneran udah gituan. Gimana kalau kita di nikahin nanti?" Tanya Erina geram. Mereka benar-benar salah paham. Bagaimana tak salah paham? Erina hanya menunjukkan tanpa menjelaskan.
"Kalau kita dinikahin ya syukur alhamdulillah, gue siap kok buat bertanggung jawab sama loe." Jawab Albi dengan bangganya.
"Loe bener-bener ya Bi!" Sekali lagi Erina meninju lengan Albi. Albi terkekeh geli saat melihat kekesalan di wajah Erina.
"Ini bukan punya gue. Tapi punya Ameera." Terangnya kemudian.
"Apa? Ameera? Loe dapat itu dari mana beb?" Via yang terlihat sangat terkejut dengan penuturan Erina. Sedangkan Albi terlihat biasa saja. Sedikit kecewa karena Erina tidak sedang hamil anaknya. Astaga! Bagaimana mau hamil coba, berhubungan saja tidak pernah. Erina saja masih sering memarahi Albi.
"Gue nemuin ini terselip di bukunya Ameera yang waktu itu gue pinjem." Jawab Erina.
Albi terdiam, berpikir dengan sangat keras. Kemudian otaknya yang cerdas mulai bisa mencerna kemana arah pembicaraan Erina.
"Jadi, menurut loe waktu meninggal ternyata Ameera lagi hamil. Dan bisa aja yang bunuh Ameera itu adalah orang yang menghamili dia karena orang itu nggak mau bertanggung jawab." Ucap Albi berekspektasi.
"Tepat banget. Seratus buat loe!" Balas Erina.
"Berarti yang udah bunuh Ameera itu adalah..." Ucap Via menggantung di udara.
"Devan!" Seru mereka bertiga serempak.
__ADS_1
___________________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...