
Di kediaman Erina.
"Iya ma, ternyata cuma rumah kita aja yang listriknya mati, rumah tetangga pada nyala semua." Ucap mama Sofi setelah mereka berada di luar rumah.
"Iya ma, kayaknya ada masalah sama KWHnya. Papa cek dulu sebentar." Kemudian papa Heri berjalan menuju ke ujung teras, tempat KWH listrik berada. Mama Sofi mengikuti sang suami dari belakang, menyalakan senter dari ponsel sebagai sumber penerangan.
Klik.
Lampu kembali menyala setelah papa Heri menarik saklar pada KWH.
"Ternyata saklarnya ngejepret ma." Ucap papa Heri.
"Ya udah, kita masuk lagi yu pa!" Kemudian keduanya kembali masuk kedalam rumah sambil bergandengan mesra.
"Jangan bergerak!" Terlihat dua orang pria berbadan kekar mengarahkan sebilah pisau yang mereka pegang masing-masing ke arah mama Sofi dan papa Heri. Sepertinya mereka masuk ke dalam rumah saat papa Heri sibuk dengan KWH listrik tadi.
Astaga!
Bagaimana ini?
Mama Sofi dan papa Heri mengangkat kedua tangannya ke udara, rumah mereka dimasuki maling.
"Siapa kalian?" Papa Heri tak bisa melihat wajah mereka karena mereka menggunakan topeng kain. Keringat dingin mulai membasahi pelipis mama Sofi, dia terlihat sangat ketakutan.
"Jangan banyak bertanya!" Gertak salah satunya.
Dua orang lainnya muncul dari belakang tubuh mama Sofi dan papa Heri, mereka membekap mulut keduanya.
Ternyata jumlah mereka ada empat orang. Papa Heri dan mama Sofi diseret ke arah dapur, mereka di paksa duduk di atas kursi sebelum akhirnya mereka mengikat tubuh pasangan suami istri itu menggunakan tali tambang.
"Lepaskan kami, ambil apa yang kalian inginkan. Asal jangan sakitu kami!" Seru papa Heri.
"Diam lah, kami tak butuh uangmu. Uang bos kami lebih banyak dari pada hartamu! Haha." Keempat orang itu kini berdiri mengelilingi mama Sofi dan Papa Heri.
"Pa, bagaimana ini?" Mama Sofi sudah ketakutan setengah mati, kakinya bergetar hebat.
"Siapa bos kalian? Apa yang kalian inginkan dari kami?" Papa Heri berbicara dengan nada tinggi. Dia tak bisa berbuat lebih, tubuhnya diikat sekarang.
***
"Loe ada liat Erina nggak?" Albi bertanya pada salah satu murid yang tadi berdiri di depan Erina sebelum perempuan itu pergi.
"Nggak liat tuh." Murid itu menjawab tanpa menoleh pada Albi, dia sedang sibuk menyaksikan penampilan Devan bersama bandnya.
Albi pergi dengan perasan kesal karena merasa di abaikan.
Dia lanjut mencari Erina di tengah kerumunan manusia, namun ia tak kunjung menemukannya.
__ADS_1
Kemana perginya perempuan itu?
Albi kembali bertanya kepada siapa saja yang bisa ia mintai tanya, namun tak ada satupun dari mereka yang tau dimana keberadaan Erina.
Albi mulai frustasi.
Dia berjalan meninggalkan keramaian, lalu masuk ke area gedung sekolah. Mungkin perempuan itu pergi ke toilet. Pikirnya.
Laki-laki itu berdiri mematung di depan toilet wanita, sesekali melongok kedalam. Bisa dia lihat dari tempatnya berdiri kalau semua pintu toilet terbuka lebar yang menandakan tidak ada siapapun di dalam toilet itu.
Albi lantas meninggalkan tempat sepi itu, dia berencana mencari Erina ke tempat lain. Saat melintasi koridor, tak sengaja kakinya membentur sesuatu di lantai, benda itu kemudian tergeser beberapa meter karena tendangan kecil dari kaki Albi.
Dahi laki-laki itu mengernyit, kemudian dia melangkahkan kakinya dan memungut benda yang tak sengaja ia tendang tadi. Albi memperhatikannya cukup lama.
"Jepitan?" Ucap Albi, sesaat dia tersadar jika benda itu adalah milik Erina. Benda kecil indah ini tersemat di rambut Erina tadi, Albi melihatnya saat mereka bicara di koridor ini.
"Er!" Ucapan Albi menggelegar memenuhi udara koridor.
***
Di rumah Erina.
Satu orang lainnya muncul dari balik pintu dapur, berarti jumlah mereka ada lima orang. Mata mama Sofi membelalak saat dia datang tak sendirian, Baim setengah tertidur berada di pangkuannya.
"Jangan sakiti anak saya!" Seru mama Sofi histeris. Dia takut anak bungsunya kenapa-napa. Mereka orang jahat.
"Tenang saja, kami tidak akan menyakitinya. Tapi bos kami yang akan melakukannya nanti. Hahaha."
"Diam lah jangan banyak bicara!" Salah satu pria itu membentak.
Baim di letakkan di kursi yang lain, kemudian mereka juga mengikat tubuh kecil bocah itu. Kemudian Baim menggeliat karena merasa tidurnya terusik. Bocah berumur enam tahun itu terlihat linglung memperhatikan sekitarnya.
"Tolong lepaskan kami!" Mama Sofi tak berhenti memohon meskipun beberapa kali mendapat sentakan.
"Bos sedang dalam perjalanan menuju kemari." Lapor salah satu pria setelah membaca pesan di ponselnya.
"Bagus, kita akan mendapatkan uang yang banyak setelah ini. Haha." Mereka tertawa bersamaan.
"Aku bisa memberi uang lebih banyak dari yang bos kalian berikan. Katakan saja berapa jumlahnya. Asalkan kalian lepaskan kami." Ucap papa Heri bernegosiasi.
Pria yang di sinyalir sebagai ketua penjahat itu menyeringai dibalik topeng kainnya saat mendengar tawaran papa Heri
"Haha, kami tidak akan tertarik dengan penawaranmu. Kami orang-orang setia." Ucapnya kemudian.
"Siapa sebenarnya bos kalian itu? Cepat katakan!" Papa Heri mulai emosi.
"Berisik sekali dia! Cepat, beri lakban mulut mereka agar diam!"
__ADS_1
"Kalian tidak perlu khawatir, bos sedang dalam perjalanan menuju kemari. Nanti kalian juga akan tau siapa bos kami itu."
***
Pria misterius itu memasukkan Erina yang tak sadarkan diri kedalam mobilnya dengan susah payah. Tak ada yang menyadari akan hilangnya Erina, semua orang sedang sibuk menonton konser di depan panggung. Apalagi seorang penyanyi solo pria yang saat ini sedang tampil, mereka semua berteriak histeris sesaat penyanyi itu menaiki panggung dan ikut bernyanyi mengikuti irama.
"Halo? Aku sudah berhasil membawanya. Kini giliranmu, Sari!" Ucap pria misterius yang membekap mulut Erina hingga pingsan tadi. Dia melirik Erina yang tak sadarkan diri di jok belakang mobilnya.
"Hahaha, kerja bagus, suamiku. Aku akan menculik temannya itu. Aku sedang mengamatinya." Ucap orang yang dipanggilnya Sari itu di ujing telpon.
"Apa kamu yakin bisa melakukannya sendiri?" Tanya orang yang Sari bilang suaminya itu.
"Sangat yakin suamiku, dia hanya anak lemah. Aku bisa menanganginya sendiri. Kamu bawa saja anaknya Heri ke sana. Jangan membuatnya menunggu!"
"Baiklah."
Sambungan telponpun terputus begitu saja.
Pria itu lantas melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah.
***
Albi bahkan telah mengobrak-abrik seantero gedung sekolah untuk mencari Erina namun perempuan itu tak kunjung ia temukan. Dia kemudian mencoba menghubungi Erina, ponselnya memang aktif, namun tak kunjung ada jawaban.
"Angkat dong Er, plis!" Albi bergumam dengan gelisah, tiba-tiba saja perasaannya berubah menjadi tidak enak.
Pertanda apa ini?
Sekali lagi Albi mencoba menghubunginya, namun kali ini nomornya malah tidak aktif.
"Sialan!" Albi memaki ponselnya yang tidak berdosa.
Kemudian Albi menghampiri Devan yang sedang ngobrol dengan anak bandnya.
"Dev, loe tau Erina dimana?" Tanya Albi dengan wajah merah menyalanya.
"Nggak tau, gue belum ketemu sama dia lagi sejak kita berpisah tadi di parkiran." Jawab Devan.
"Erina hilang Dev, dia nggak ada dimana-mana." Lapor Albi.
"Ahh masa sih? Udah loe cari ke semua tempat?" Tanya Devan yang kini mulai ikut panik.
"Iya udah. Gue udah cari dia kemana-mana tapi dia nggak ada. Gue takut terjadi sesuatu yang buruk sama dia." Jawab Albi.
"Ya udah, kalian bantuin kita cari Erina ya. Cari ke semua tempat, kebelakang sekolah juga kalau perlu." Devan memberikan arahan kepada teman-teman bandnya.
___________________
__ADS_1
Nah, sampai sini pada paham siapa yang culik Erina? Nanti juga bakalan ada flashback waktu malam pembunuhan Ameera ya,
Jadi, tetap tinggalkan jejak setelah membaca...