
Albi menatap Dea, satu yang menarik perhatiannya, rambut bergelombang yang indah dan make up sederhana yang melekat di wajah perempuan itu.
"Loe beneran Dea?" Tanya Albi sambil menuding ke arah Dea.
"Menurut kamu?" Tanya Dea judes.
Hey, sejak kapan bisa bersikap ketus seperti ini? Dia kan orangnya pemalu. Albi melongo mendengar nada bicara Dea yang ketus.
Dea bersikap seperti itu karena sebal dan benar-benar sakit hati oleh perlakuan Albi terhadapnya. Laki-laki itu membawanya terbang ke awang-awang dengan mendekati dirinya lalu menjatuhkannya ke dasar jurang yang dalam dengan semua tuduhan-tuduhannya.
Menyakitkan bukan?
Albi bukannya menjawab, dia malah sibuk memperhatikan penampilan Dea bahkan sampai tak berkedip. Dia seakan lupa tujuan utama dirinya datang kemari.
Dea jadi merasa risih sendiri di tatap Albi seperti itu. Ternyata semua pria itu sama, tidak si abang mie tek-tek, tidak si Albi.
Buru-buru Dea memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Kalau nggak ada perlu mendingan kamu pulang, udah malam. Aku mau istirahat." Dea melewati Albi begitu saja dan membuka pintu usang rumahnya.
Albi terkesiap, dia menahan tangan Dea yang hendak membuka pintu itu.
"Tunggu De!" Seru Albi sambil mencengkram tangan Dea agar perempuan itu menghentikan aktifitas membuka pintunya.
Dea menoleh pada tangan Albi yang menyentuh tangannya. Terasa hangat.
Tidak tidak, Albi hanya mencintai Erina. Dia hanya ingin memanfaatkan kamu De!
"Ada temen main kok nggak disuruh masuk sih De." Ucap Albi yang sontak membuat Dea menoleh ke arahnya.
"Kamu nggak pantes ada di gubuk seperti ini, ini bukan tempat kamu. Lebih baik kamu pulang sekarang. Dan satu hal yang perlu kamu tau Bi, aku nggak pernah punya temen!" Dea menyentak tangan Albi dengan kasar. Ini pertama kali dalam hidupnya Dea marah-marah pada seseorang.
Biasanya kalau ada orang yang menyakiti hatinya, yang bisa Dea lakukan hanyalah menangis. Namun kali ini rasanya berbeda, Dea ingin meluapkan kekesalannya pada laki-laki yang ia kagumi dalam diam itu.
Albi bisa menangkap kesedihan yang teramat dalam saat menatap netra Dea, apa lagi saat dirinya berkata kalau dia tidak pernah punya teman.
__ADS_1
Gadis yang malang.
Apa iya Dea yang polos ini setega itu meneror Erina dan membunuh Ameera? Albi mulai ragu.
"Gue temen loe De." Dea hanya tersenyum kecut menanggapinya.
"Gue cuma mau balikin novel loe, gue udah selesai baca." Albi menyodorkan novel yang ia bungkus dengan paperbag, Dea dengan gerakan cepat menyambarnya dari tangan Albi.
"Loe habis pulang kerja ya De? Kerja dimana?" Tanya Albi so akrab. Memang Albi orangnya gampang akrab.
"Bukan urusan kamu!" Seru Dea sinis.
Albi menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat mendapat respon negatif dari lawan bicaranya itu. Padahal Albi juga tau kalau Dea bekerja di tempat karaoke, Via yang mengatakannya waktu itu.
"Oh ya De, nama ibu loe Devi ya?" Tanya Albi mulai menjalankan aksinya.
Dea menatap Albi dengan mata bulatnya saat mendengar nama itu di sebut. Tiba-tiba saja kemarahan Dea semakin menjulang tinggi, kenapa dia harus mempertanyakan nama itu?
"Aku cape, mau istirahat. Lebih baik kamu pulang dan jangan ikut campur sama urusan aku. Dan jangan pernah menginjakkan kaki kamu lagi di gubuk aku ini. Ngerti kamu!" Nada bicara Dea sama persis dengan Erina yang sering memarahinya dulu. Tapi sekarang Erina sudah jarang memarahinya. Albi jadi rindu Erina yang hobinya marah-marah.
Eh!
Namun Albi begitu cekatan, dia menahan pintu reyot itu agar tidak tertutup. Dia harus menemukan kebenarannya malam ini juga. Dia sudah tanggung berada disana.
Aksi saling dorong mendorong pintu pun tak terelakkan, Dea berusaha menutup pintunya, sedangkan Albi berusaha menahan agar pintunya tak tertutup.
"Plis De, ada yang harus gue bicarain sama loe!" Seru Albi sambil menahan pintu. Dea sedikit kewalahan, tenaga Albi lebih kuat sepertinya.
"Pulang sana kamu Bi!" Seru Dea.
BRAAAKKK!
Pintu reyot rumah Dea seketika roboh, engselnya terlepas. Albi mendorongnya dengan sangat kuat dan tentu saja pintu butut itu langsung tumbang terjelabak kedalam.
Dea menganga tidak percaya dengan apa baru saja Albi lakukan. Albi telah menghancurkan pintu reyot rumahnya.
__ADS_1
"Sory De, gue nggak bermaksud." Albi pun merasa terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Laki-laki itu merasa bersalah telah menghancurkan properti orang meskipun sebelumnya pintu itu memang sudah rusak.
"Oaaa, oaaa, oaaa." Suara tangisan bayi langsung memecah ketegangan yang terjadi di antara Dea dan Albi.
"Kak, ada apa? Kenapa berisik? Adik bayi jadi menangis." Seorang bocah perempuan yang umurnya kira-kira 10 tahunan itu muncul dari sebuah ruangan. Itu adik Dea. Bocah itu menganga saat melihat Albi yang berdiri di ambang pintu dan pintu rumahnya yang sudah terlepas dari tempat yang seharusnya.
Dea segera berlari masuk kedalam kamarnya, Albi dengan tidak tau malunya ikut masuk kedalam. Rasa ingin taunya semakin besar. Albi penasaran, sebenarnya kehidupan macam apa yang dijalani oleh perempuan introver itu?
Albi bisa melihat Dea yang memangku seorang bayi yang kira-kira umurnya satu tahun setengah itu, Albi tertegun. Siapa bayi itu? Adik bayi? Begitu kata bocah perempuan tadi. Apa dia adiknya Dea?
"Mau apa lagi kamu disini? Belum puas kamu hah?" Bentak Dea sambil memangku bayi yang sedang menangis itu saat melihat Albi yang berdiri mematung di ambang pintu kamarnya. Sayang kamarnya itu tidak memiliki pintu dan hanya tertutup kan gorden sehingga Dea tidak bisa mengelak dari Albi.
Albi bisa melihat cucuran air mata di wajah cantik Dea. Perempuan itu menangis. Sejak kapan Dea menangis? Apa Albi yang membuatnya menangis seperti itu?
Udara di kamar pengap nan usang itu kini dipenuhi dengan isak tangis dari Dea dan bayi yang sedang ia pangku.
"Sory Dea, gue bener-bener nggak bermaksud..." Ucapan Albi menggantung di udara saat sadar jika memang dirinyalah yang telah membuat kekacauan di rumah Dea malam-malam seperti ini.
"Mendingan kamu pergi sekarang Bi!" Ucap Dea yang diiringi isak tangis.
"Dea!" Suara berat terdengar menyentak dari arah luar.
Segera Dea berjalan keluar dari kamar masih dengan menggendong bayi itu untuk melihat siapa orang baru saja berseru tadi, melewati Albi dan menyenggol bahu laki-laki itu.
"Kenapa pintu rumah bisa hancur seperti ini? HAH?" Dari dalam kamar Albi bisa mendengar suara bentakan itu, segera Albi keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dea di marahi oleh siapa.
"Maaf pak!" Dea menunduk dalam, bayi yang Dea gendong malah semakin kencang saja menangis nya, mungkin bayi itu kaget dengan bentakan bapaknya Dea.
Saat Albi keluar dari kamar Dea, dia bisa melihat seorang pria paruh baya yang menggunakan pakaian ala-ala preman berdiri di ambang pintu yang tadi pintunya Albi robohkan. Dea memanggilnya pak, mungkinkah dia bapaknya Dea?
"Hey! Siapa kamu?" Pria paruh baya itu menunjuk ke arah Albi, tatapannya terlihat sangat tajam.
Glek
Albi menelan saliva nya susah payah. Bukankah dia salah satu preman yang dia lihat bersama Dea di gang sempit waktu itu? Dea memberinya uang kala itu. Jadi dia bapaknya Dea?
__ADS_1
______________________
Jangan lupa jejaknya guys, kritik dan saran diperlukan... Like dan komentar masih sangat dibutuhkan, karena jumlah pembaca naik tapi yang like melorot...