
Mama Sofi terlihat sedang menonton sinetron kesayangannya, sedangkan papa Heri sibuk berkutat dengan laptopnya di sofa yang sama dengan yang diduduki sang istri. Sedangkan Baim sudah tepar sejak isya tadi.
Saat tiba-tiba saja...
Klik!
Dalam sekali kedipan mata, televisi mati seketika, seisi rumah berubah menjadi gelap gulita. Pasangan suami istri itu merasa sangat terkejut dengan terputusnya aliran listrik ini.
"Ma, mama lupa bayar tagihan listrik apa?" Tanya papa Heri.
"Mana ada pa, mama selalu tepat waktu bayar tagihan listrik." Jawab mama Sofi.
"Terus ini kenapa bisa mati listrik begini?" Tanya papa Heri lagi.
"Ya mama juga nggak tau. Ada pemadaman masal kali pa." Menjawab sekenanya.
"Tapi rumah yang di depan kayaknya nyala nyala aja itu ma?" Ucap papa Heri saat melihat ada cahaya lampu yang masuk melalui celah jendela.
"Masa sih? Kita cek kedepan yuk pa!"
Pasangan suami istri itupun sepakat untuk mengecek keadaan diluar sana. Apa benar hanya rumah mereka saja yang mengalami mati listrik?
***
Erina berdiri di barisan paling belakang, dia memperhatikan Albi yang kini sudah duduk di sebuah kursi di atas panggung sambil menopang gitarnya. Semoga saja Albi tidak menyadari keberadaan Erina di sana.
^^^Aku memang terlanjur mencintaimu^^^
^^^Dan tak pernah kusesali itu^^^
Deg!
Kenapa harus lagu itu? Pikir Erina. Erina terpaku di tempatnya berdiri sambil terus memperhatikan Albi.
^^^Seluruh jiwa telah kuserahkan^^^
^^^Menggenggam janji setiaku^^^
Mata Albi tak berhenti mencari sosok itu, Albi harap Erina mendengarkan jeritan hatinya kali ini. Agar perempuan itu bisa tau seberapa besar Albi mencintainya.
^^^Kumohon jangan jadikan semua ini^^^
^^^Alasan kau menyakitiku^^^
Dan, dapat. Albi menemukan sosok itu berdiri di barisan paling belakang. Albi tak akan melepaskan pandangannya dari Erina.
Lagu ini Albi persembahkan untuknya.
^^^Meskipun cintamu tak hanya untukku^^^
^^^Tapi cobalah sejenak mengerti^^^
Gue memang cinta sama loe Dev!
Gue benci sama loe!
Dasar pembohong!
Penghianat!
Gue kecewa sama loe!
Kecewa!
__ADS_1
Kecewa!
Namun, kalimat-kalimat Erina kembali terngiang saat Albi menatap netra itu dalam keremangan yang ada. Kata-katanya itu terasa menusuk dan membuat nyeri ulu hati Albi.
^^^Bila rasaku ini rasamu^^^
^^^Sanggupkah engkau menahan sakitnya^^^
^^^Terkhianati cinta yang kau jaga?^^^
Erina mencintai Devan dan hanya mempermainkan perasaannya saja. Perempuan itu memberi Albi harapan semu. Kendati demikian, kenapa kadar cinta Albi terhadap Erina tak pernah berkurang sedikitpun?
^^^Coba bayangkan kembali^^^
^^^Betapa hancurnya hati ini, kasih^^^
Albi bernyanyi sambil memukul-mukul dadanya sendiri, menegaskan jika hatinya teramat sakit.
^^^Semua telah terjadi^^^
^^^Hu-oh-uh-oh-wo^^^
^^^Wo-uh-wo^^^
^^^Uh-oh, uh-uh-uh-oh^^^
Erina berlari meninggalkan keramaian yang ada, dia tak sanggup jika harus melihat Albi lebih lama lagi. Albi akan pergi jauh, Erina sudah tak memiliki harapan untuk bisa bersama dengannya lagi.
Dia terus berlari, menyeret kakinya menuju toilet, melewati koridor remang dan sepi. Sesekali dia menyusut pipinya yang basah.
Kenapa disaat Erina mulai mencintai Albi, justru laki-laki malah harus pergi meninggalkannya?
Gue bakalan pergi dari pulau ini
Ya Tuhan? Apa ini karma?
Apa ini balasan karena dulu aku selalu menampiknya dan membuat hatinya terluka dengan semua sikapku? Mengabaikannya, mengacuhkannya, menolaknya?
Dan disaat aku mulai menyadari jika hanya dialah yang selalu ada untukku, yang selalu berdiri di hadapanku dan membelaku mati matian kau malah merenggut perasaan cintanya untukku.
Bisakah engkau putar kembali waktu ke masa-masa dulu? Aku ingin memperbaiki semuanya, aku tak akan menyia-nyiakannya lagi, aku tak akan membuat hatinya merasakan kesakitan lagi.
Ku mohon Tuhan, sekali saja berikan aku kesempatan.
Buk!
Erina jatuh terkulai di lantai koridor remang itu, isak tangisnya kembali pecah, apalagi saat nyanyian Albi kembali terdengar dan jatuh mengenai telinganya. Nyanyiannya terdengar sangat memilukan dan menyayat hati Erina.
^^^Bila rasaku ini rasamu (rasamu, oh)^^^
^^^Sanggupkah engkau menahan sakitnya^^^
^^^Terkhianati cinta yang kau jaga?^^^
^^^Coba bayangkan kembali^^^
^^^Betapa hancurnya hati ini, kasih^^^
^^^Semua telah terjadi^^^
Erina menyugar rambutnya, lagu Albi serasa menusuk-nusuk jantungnya dan membawanya semakin jauh kedalam lubang penyesalan.
"Arrrrrggh!"
__ADS_1
Saat tiba-tiba saja Erina mendengar suara derap langkah kaki di belakangnya, namun Erina tak menghiraukan hal itu, dia terus saja tenggelam dalam rasa bersalahnya.
Hingga akhirnya...
"Hmmmmp, hmmmmp!" Sebuah tangan besar membekap mulut Erina menggunakan sapu tangan, Erina berontak dan mencoba melepaskan tangan itu. Namun apa yang terjadi? Kepala Erina mendadak jadi terasa sangat pusing, sebelum akhirnya Erina tak sadarkan diri. Sepertinya sapu tangan itu telah diberikan obat bius.
Seringai jahat terlihat di balik topeng hitam yang di kenakan pemilik tangan besar itu. Dia menyeret tubuh Erina yang tak berdaya di sepanjang koridor.
^^^Aku memang terlanjur mencintaimu^^^
Albi mengakhiri lagunya. Dia berharap Erina bisa merasakan perasaan Albi melalui lagu ini, tapi sepertinya perempuan itu sudah pergi sebelum Albi menyelesaikan lagunya.
Dia pergi kemana?
Suara tepuk tangan dari murid-murid terdengar meriah setelah Albi selesai bernyanyi. Laki-laki itu segera turun dari panggung. Digantikan oleh MC yang memandu acara malam ini.
Tak sengaja Albi berpapasan dengan Devan yang sepertinya akan tampil setelah ini.
Albi membuang muka dan enggan menatap Devan, dia melewati Devan begitu saja, bahkan Albi menubruk bahunya cukup kencang demi meluapkan kekesalannya.
"Tunggu dulu Bi!" Seru Devan.
Albi seketika menghentikan langkahnya.
"Loe pikir kalau gue sama Erina udah jadian kan?" Tanya Devan, Albi akhirnya mau kembali menatap ke arah Devan.
"Gue udah nggak perduli sama urusan kalian." Jawab Albi.
"Loe salah besar. Erina nggak nerima gue waktu gue nembak dia. Gue tau loe nguping pembicaraan gue sama Erina malam itu. Gue liat loe ada disana. Tapi loe malah pergi gitu aja tanpa loe denger kalimat apa yang Erina katakan selanjutnya."
"Maksud loe apa?" Albi mengernyit tak mengerti.
Devan lantas membuka layar ponselnya dan memutar rekaman suara disana.
Gue memang cinta sama loe Dev!
Tapi itu dulu Dev. Sekarang hati gue udah milik yang lain.
Tapi gue tulus cinta sama loe Er!
Ada yang lebih tulus dari loe Dev.
Gue bakalan setia sama loe Er.
Ada yang lebih setia dari loe dan udah nunggu gue bertahun-tahun. Loe itu mudah berpaling Dev. Kuburan Ameera aja masih basah tapi loe dengan mudahnya lupain dia.
Siapa orangnya Er? Albi?
Tapi dia udah menghianati loe Er!
Meskipun gue tau kalau Albi nggak jujur dan buat gue kecewa, tapi tetep aja gue nggak bisa benci sama dia Dev!
Albi tertegun bahkan disaat pertama rekaman itu diputar. Jadi, dia sudah salah paham?
Astaga! Kenapa bisa Albi sebodoh ini?
"Jadi loe bisa tarik kesimpulan kan, kalau ternyata Erina cintanya sama loe? Ge harap loe jangan sakitin dia lagi." Ucap Devan yang terlihat berusaha untuk tegar.
Albi melemparkan gitarnya kepada Devan, tak perduli lagi jika benda itu jatuh sekalipun. Yang terpenting sekarang adalah Erina, dia harus segera menemui perempuan itu dan meluruskan kesalah pahaman yang telah terjadi di antara mereka.
Devan tersenyum simpul sambil menatap kepergian Albi, dia berharap setelah ini Erina tak akan merasakan kesedihan lagi.
________________________
__ADS_1
Maaf ya terlalu berbelit-belit, tapi ini memang udah ada di outline-nya author, terimakasih buat yang udah mau baca sampai sini...