
BRAAKKKKKK!
Suara Via dan Erina seketika senyap mendengar suara hantaman itu. Mereka saling melirik satu sama lain.
"Suara apa tu?"
"Nenek gue beb!" Via berseru histeris.
"Ayo kita liat kesana!"
Keduanya langsung beranjak dan berlari menuju halaman belakang rumah yang di duga sumber suara tadi berasal.
"Nenek!" Wajah Via sudah semerah tomat saat melihat tubuh tua neneknya tergeletak di teras halaman belakang. Segera Via dan Erina mengerumuninya.
"Nek, nenek kenapa nek?" Via mengguncang tubuh kaku neneknya itu. Matanya terlihat masih terbuka, namun bibrinya terkatup, tubuhnya seperti mengeras dan sulit di gerakkan.
"Ehhh, emmmh." Nenek Via hanya menggeram mengeluarkan suara-suara yang sulit di mengerti.
"Vi, nenek loe kok kayak orang stroek sih?" Tanya Erina saat melihat kejanggalan pada neneknya Via itu.
"Hah? Apa? Stroek." Wajah Via sudah menegang sekarang.
***
Nenek Via dilarikan ke rumah sakit saat itu juga. Sebelumnya beliau memang menderita hipertensi sehingga saat jatuh, neneknya langsung terkena stroek. Begitu kata dokter.
Erina menemani Via menunggu neneknya di ruang rawat inap.
"Gue takut terjadi apa-apa sama nenek beb, cuma dia satu-satunya orang yang gue punya di dunia ini. Huhu." Via menangis tergugu, Erina dengan setia meminjamkan bahunya. Sama halnya dengan Via yang selalu setia meminjamkan bahunya untuk Erina ketika dia patah hati saat Devan jadian dengan Ameera.
"Loe yang sabar ya beb. Nenek loe pasti sembuh, loe harus yakin ya!" Ucap Erina. Via mengangguk, sesekali dia menyusit matanya yang basah.
"Dan satu hal yang perlu loe tau, loe nggak sendirian beb, ada gue disini. Gue bakalan ikut jagain nenek loe sampai sembuh. Nenek loe juga kan udah nganggap gue sebagai cucunya sendiri." Erina mengusap pundak sahabatnya itu guna menyalurkan kekuatan.
"Loe udah kasih tau paman loe yang ada di Jakarta itu beb?" Tanya Erina yang membuat Via mengangkat kepalanya dari pundak Erina.
"Belum beb, untung loe ngingetin. Gue kabarin dia sekarang ya! Tolong loe jaga nenek gue dulu!" Erina mengangguk.
Mungkin karena panik Via sampai lupa. Erina menatap neneknya Via yang sedang terlelap di atas kasur rumah sakit itu, rasa kasihan seketika memenuhi rongga hati perempuan itu.
Via pasti sedih sekali dengan kondosi neneknya sekarang.
***
Malam harinya Erina pulang ke rumah, beruntung paman Via yang dari Jakarta sudah tiba pada sore harinya. Dia langsung berangkat ke kota ini setelah Via menghubunginya.
__ADS_1
Erina turun dari ojek online yang mengantarnya pulang, dia melangkahkan kaki masuk ke halaman. Netranya memicing saat melihat orang yang dia kenal sedang duduk di teras. Segera Erina menghampirinya. Orang itu yang sadar Erina telah pulang, langsung beranjak dan berdiri untuk menyambut
"Er!" Sapanya.
"Dev? Loe ngapain dirumah gue malam-malam gini? Kenapa nggak kabarin gue dulu? Kalau ada apa-apa kan bisa lewat grup chat. Tau loe ada disini gue bisa pulang cepet tadi." Erina langsung nyeroscos tak behenti. Devan terlihat mengusap tengkuknya, terlihat grogi.
"Emm, gue lagi jenuh aja di rumah Er. Jadi gue pikir gue bisa maen ke rumah loe. Loe habis dari mana? Jam segini kok baru pulang?" Tanya Devan.
"Gue habis dari rumah sakit. Neneknya Via kena stroek." Jawab Erina.
"Inalillahi." Ucap Devan spontan.
"Hey, neneknya Via belum meninggal. Loe nyumpahin dia cepet mati apa?" Tanya Erina sewot.
"Astaga! Buka gitu Er, inalillahi itu bukan cuma buat orang yang meninggal aja, tapi orang yang lagi sakit dan kena musibah juga." Jelas Devan.
"Oh. Kirain." Erina hanya nyengir kuda.
"Besok loe mau anterin gue ke rumah sakit nggak? Gue mau jengukin neneknya Via juga." Ucap Devan.
"Boleh. Nanti gue kabarin Albi, siapa tau dia juga mau ikut jengukin."
***
Kini Erina dan Devan sedang duduk di sebuah taman yang letaknya masih berada di perumahan tempat Erina tinggal. Keduanya duduk sembarangan di atas rumput yang tumbuh di tengah-tengah taman itu.
Bersanding dengan Devan seperti ini mungkin dulu hanyalah sebuah mimpi yang takan pernah bisa terwujud bagi Erina.
"Nggak kerasa ya sebentar lagi kita bakalan jadi mahasiswa." Ucap Devan tiba-tiba, netranya menatap bintang yang sama dengan yang dipandangi Erina.
"Iya ya Dev. Gue pasti bakalan kangen banget sama sekolah. Terlalu banyak kenangan disana." Erina jadi ikut terhanyut dalam obrolan Devan.
"Ya, loe bener. Kata orang asa-masa sekolah itu masa yang paling indah." Erina mengangguk pertanda dia setuju sengan perkataan Devan.
Mereka kembali menatap bintang yang sama di atas sana. Bintang yang paling bersinar si antara bintang-bintang yang lain.
"Er." Lirih Devan kemudian.
"Ya!" Sahut Erina.
"Menurut loe, gue jahat nggak sih kalau jatuh cinta lagi? Apa dengan begitu gue bakalan menghianati cintanya Ameera?" Pertanyaan Devan membuat Erina menoleh ke arahnya.
Sejenak, Erina terdiam. Dia sedang menyusun kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Devan.
"Loe nggak jahat kok Dev. Loe punya hak buat jatuh cinta lagi. Apalagi kita tau kan kalau ternyata selama ini Ameera cuma jadiin loe pelarian doang. Dan loe nggak bisa terus-terusan ada di dalam keterpurukan, loe harus tetap melanjutkan hidup!" Jawab Erina sambil tersenyum. Devan membalas senyum itu.
__ADS_1
Devan terdengar menghembuskan nafas. Erina benar, hidup harus terus berlanjut meskipun Ameera telah tiada.
"Gue ngerti kok perasaan loe Dev. Jadi pelarian itu pasti rasanya sakit banget, apalagi gue tau loe cinta banget sama Ameera tapi ternyata Ameera..." Erina tak jadi melanjutkan kalimatnya, takut Devan jadi tersinggung.
Puk! Devan menjatuhkan kepalanya tepat di atas pundak Erina.
Ehh.
Erina terlonjak kaget, kenapa tiba-tiba saja Devan bersikap seperti ini? Apa yang harus Erina lakukan sekarang? Menyingkirkan kepala itu? Tapi tidak tega. Membiarkannya saja tapi kenapa terasa risih? Erina jadi serba salah sekarang.
"Gue boleh pinjem bahu loe sebentar ya Er."
Hey, kamu sudah melakukannya sebelum meminta izin. Jadi, izin dari Erina kini sudah tidak penting.
Erina hanya tersenyum menanggapinya, entahlah apa arti dari senyumnya itu.
***
Malam ini Albi akan kembali melancarkan aksinya, dia sudah nangkring di depan karaoke tempat Dea bekerja. Albi belum mengatakan pada Erina kalau ibu Dea ternyata bernama Devi. Perempuan itu pasti akan terbawa emosi tanpa bisa berpikir jernih. Albi akan mengatakannya setelah dia mendapatkan bukti yang kuat jika Dea memanglah adik kandung Erina dan dia juga yang telah meneror perempuan itu.
Albi tidak bisa menuduh sembarangan tanpa adanya barang bukti, bukan? Sudah ada beberapa rencana di dalam kepala Albi untuk bisa membuat Dea buka mulut.
Albi melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, pukul 9 malam. Dia masih duduk di atas motor matic miliknya yang sengaja dia parkirkan di luar area karaoke karena Albi tidak suka dengan keramaian.
Semakin malam sepertinya tempat karaoke ini semakin ramai, ada beberapa mobil yang masuk dan beberapa motor yang nampak keluar dari sana. Albi dengan sabar menunggu Dea. Hanya demi Erina seorang Albi rela mengintai anak gadis orang di tempat seperti ini.
Dari tempatnya berada, Albi melihat Dea yang baru saja keluar dari dalam tempat karaoke itu, sudah pukul 9 lewat, sepertinya jam kerja Dea juga sudah habis.
Sengaja dia bersembunyi di tempat yang agak gelap agar Dea tak menyadari keberadaannya. Kalau dia tau Albi sedang mengikutinya, pasti perempuan itu akan menghindar lagi.
"Dea!" Seru Albi, dia keluar dari tempat persembunyiannya dan menarik tangan Dea secara tiba-tiba.
Membuat sang pemilik tangan ketakutan dengan perbuatan Albi itu.
"Kamu?" Ucap Dea, dia terlihat sangat terkejut saat tiba-tiba saja Albi menarik tangannya.
"Kita harus bicara De." Ucap Albi serius.
"Buat apa? Buat nuduh-nuduh aku lagi? Belum puas kamu sama Erina nuduh aku kemarin? HAH?" Bentak Dea dengan nada tinggi.
Albi melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Dea, emosinya ikut tersulut. Dea memanfaatkan itu untuk kabur, dia berbalik badan hendak pergi. Namun kalimat Albi mampu menghentikan langkah perempuan itu.
"Loe kalau nggak mau terus-terusan dituduh, harusnya loe hadapin dong De. Loe harus buktiin sama gue kalau semua tuduhan-tuduhan Erina ke loe itu nggak bener. Dengan loe menghindar terus kayak gini, itu semakin menguatkan dugaan Erina kalau loe bener-bener bersalah." Ucap Albi panjang lebar.
Dea kembali menoleh ke arah Albi setelah menarik nafasnya dalam-dalam. "Oke." Ucapnya dengan mantap.
__ADS_1
______________