THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Cari lagi


__ADS_3

Devan memperhatikan Erina dan Albi yang sedang bercengkrama, jarak mereka hanya berkisar sekitar 10 meter. Tatapan Devan terlihat tidak suka saat Erina bicara sambil memegang tangan Albi.


Cih!


Cepat-cepat Devan membuang pandangannya ke arah lain, enggan menyaksikan drama itu terlalu lama. Via yang melihat itu merasa ada yang janggal, kenapa Devan seperti orang yang tidak senang saat menyaksikan kedekatan Albi dan Erina. Via kemudian menyimpulkan satu hal.


"Loe suka sama Erina Dev?" Pertanyaan dari Via sontak membuat Devan menoleh padanya.


"Kenapa loe nanya gitu?" Bukannya menjawab, Devan malah balik bertanya, dengan alis yang mengerut pula.


"Karena gue perhatiin, tatapan loe ke Erina itu sama kaya tatapan loe ke Ameera dulu." Jawab Via yang langsung di balas dengan sunggingan senyum dari Devan.


"Kenapa loe senyum-senyum kaya gitu? Jangan bilang dugaan gue bener kalau loe suka sama Erina. Albi lagi PDKTin Erina Dev, kasian dia udah nunggu Erina dua tahun terakhir ini." Ucap Via yang mengambil kesimpulan.


"Baru PDKT ini kan, belum jadian. Orang yang udah nikah aja bisa cerai, apa lagi ini yang baru PDKT. Lagian Erina juga kan selama ini selalu nolak si Albi." Kemudian Devan terkekeh kecil.


Astaga!


Benarkan dugaan gue.


Dengan tidak menyangkalnya Devan Via bisa mengartikan jika jawaban dari pertanyaannya adalah iya, Devan menyukai sahabatnya. Secepat itu kah Devan berpindah ke lain hati?


Via tak habis pikir, dia kemudian beranjak meninggalkan Devan dan menghampiri Albi dan Erina.


"Gimana Bi?" Tanya Via.


"Orangnya kabur. Tapi kalian tadi inget nomor plat nomornya nggak? Gue nggak sempet perhatiin tadi." Jawab dan tanya Albi.


"Gue rasa motor itu motor bodong deh, karena gue nggak liat ada plat di belakang motornya." Jawab Via.


"Loe bener beb, gue juga nggak liat itu motor ada platnya." Erina berujar.


Kemudian mereka saling terdiam, memikirkan cara apalagi yang kemungkinan mereka bisa lakukan untuk menangkap pelakunya.


***


Hari yang sangat melelahkan, Erina membanting kan tubuhnya ke atas kasur empuk nan nyaman itu. Merasai lembutnya sehelai kain seprai yang seakan membelai tubuhnya. Melepaskan penat setelah seharian penuh beraktifitas yang menguras emosi dan tenaganya. Kini waktunya untuk beristirahat buka? Baiklah, selamat beristirahat badan!


Namun baru saja Erina memejamkan matanya, suara dering telpon yang nyaring menyentak dirinya, sukmanya kembali menyatu ke dalam raga. Sontak mata Erina kembali terbuka, meraba-raba kasur berbalut seprai itu guna mencari keberadaan benda kesayangannya yang menjerit-jerit minta di angkat.


Baiklah.


Nama Albi tertera di sana. Segera Erina menggeser icon hijau dengan mata yang setengah terpejam.


[Iya Bi, ada apa?]

__ADS_1


[Er, kita harus menyusup ke rumahnya Ameera sekarang.] Perkataan Albi berhasil membuat mata Erina terbuka lebar-lebar. Rasa kantuknya mendadak jadi hilang.


[Loe gila ya Bi? Ini udah hampir tengah malam.] Jawab Erina setengah membentak, merasa jika ucapan Albi itu konyol.


[Justru tengah malam gini yang punya rumah udah pada tidur. Jadi kita bisa lebih leluasa buat nyelinap masuk kesana.]


[Loe bener juga sih Bi. Tapi jangan malam ini juga dong, badan gue sakit semua gara-gara jatuh dari motor tadi. Lagian loe juga kan tadi habis ketiban rak, badan loe juga pasti sakit kan?]


[Ya lumayan sakit sih Er. Ya udah deh besok malam aja ya kita beraksi. Tapi loe jangan bilang ke si Via sama si Devan, kita berdua aja yang pergi kesana.]


[Lho, kenapa cuma kita berdua aja?]


[Kalau Devan sama Via ikut, bisa ribet urusannya. Loe tau sendiri kan si Devan itu biang rusuh. Yang ada nanti kita malah ketahuan kayak di ruang penyimpanan tadi.]


Biang rusuh katanya, orang yang ngomongnya itu biang rusuh.


Tapi, ada benarnya juga apa yang di katakan Albi, semakin sedikit orang gang menyelinap, maka sedikit pula kemungkinan terciduknya.


[Ya udah deh Bi. Besok malam kita berdua pergi ke rumahnya Ameera. Loe jemput gue ya!]


[Oke deh Er. Ya udah, sekarang loe tidur ya biar besok pas bangun badannya fresh.]


[Iya Bi.]


Sambungan telfonpun terputus, lalu layar ponsel Erina berubah tampilan menjadi potret dirinya bersama Albi saat di danau buatan waktu itu, kemudian sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah sunggingan.


***


Liburan panjang telah tiba, Via di ajak doinya untuk karaokean karena hobi Via memang berteriak-teriak. Untuk melepaskan beban dihati katanya, apalagi beberapa bulan terakhir Via disibukan dengan persiapan ujian. Membuat stres pikiran. Lalu kepergian Ameera. Belum lagi masalah Erina yang masih belum menemui titik terang.


Meskipun dengan suara yang terbilang pas-pasan, Via nampak bahagia bisa meluapkan emosinya dengan bernyanyi.


Tak lupa dia mengambil foto dirinya bersama sang kekasih, lalu mempostingnya di WhatsApp. Erina menjadi orang pertama yang berkomentar.


[Nggak ajak-anak loe beb, gue juga kan pengen karaokean.]


[Giliran di ajak tampil buat nanti acara perpisahan aja nggak mau.]


[Kan nggak PD beb kalau tampil depan banyak orang mah.]


[Yo dah, kita bisa atur jadwalnya, nanti gue kesini lagi bareng loe.]


"siapa?" Tanya doinya Via yang bernama Rizal itu.


"Erina katanya pengen kesini juga." Jawab Via sambil meringis.

__ADS_1


"Kenapa nggak di ajak sekalian?" Tanyanya lagi.


"Nggak ahh, nanti gangguin kita lagi. Hihi." Cengiran khasnya Via tunjukan.


"Ya udah, mau lanjut apa udahan?" Tanya Rizal.


"Udahan ahh, tenggorokannya udah sakit gini. Udah habis 5 lagu juga." Jawab Via. Rizal tersenyum mengingat kekasihnya itu dengan antusiasnya bernyanyi.


"Ya udah, kita cari minum makan sama dulu di kafe deket-deker sini ya!" Ucap Rizal yang dibalas dengan anggukan oleh Via.


Merekapun berjalan keluar sambil bergandengan tangan dari ruang karaoke. Dan saat baru saja keluar, Via merasakan kantung kemihnya yang penuh, dia butuh toilet sekarang.


"Yang, aku mau ke toilet bentar ya. Kamu tunggu di mobil aja! Nanti aku nyusul." Seru Via.


"Aku antar ya?" Tawar Rizal.


"Jangan, aku bisa sendiri kok."


Masa iya mau di antar, yang ada nanti doinya Via bisa di gebukin sama semua penghuni toilet cewek.


Akhirnya setelah melalui sedikit drama, Via dan Rizal berjalan ke dua arah yang berlawanan.


Setelah selesai dengan urusan didalam toilet, Via berjalan keluar dari sana sambil membetulkan dress-nya yang sedikit terlipat.


Via tak begitu memperhatikan jalan sehingga ia tak sengaja menabrak seseorang.


"Sory sory, gue nggak sengaja." Ucap Via penuh penyesalan.


Orang yang baru saja Via tabrak itu mendongak sambil berucap lirih.


"Nggak apa-apa kok." Ucapnya.


Tapi tunggu dulu! Via seperti hafal dengan suara itu. Lantas Via memperhatikan dengan seksama lawan bicaranya itu.


Mata Via sampai tak berkedip saat melihat sosok yang kini tengah berdiri di hadapannya. Sekali lagi Via memindai penampilan perempuan itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, lalu kembali lagi ke ujung rambut.


Via tidak sedang salah lihat kan? Rambut yang selalu di kepang ala-ala kuda, kini tergerai dengan gelombang di bagian bawahnya, terlihat begitu indahnya. Seragam putih dekil yang ia gunakan ke sekolah membuat penampilannya terlihat lusuh, tapi kini Via tak melihat ke lusuhan di dalam diri perempuan itu. Yang ada dia terlihat sexy dengan menggunakan rok di atas lutut dan atasan brokat pink lengan pendek.


Lalu, dimana kacamata tebal yang selalu dia gunakan saat di sekolah? Bahkan perempuan itu terlihat lebih cantik ketimbang dirinya sekarang. Via hampir saja tak mengenalinya.


Sedangkan perempuan itu sontak saja menundukkan kepalanya dalam-dalam saat sadar jika orang yang menabrak dirinya adalah Via. Dia terlihat gelagapan, grogi, ketakutan atau salah tingkah atau apa apalah, Via sendiri tak bisa membaca mimik wajahnya.


"Dea!" Pekik Via saat dia yakin 100% jika yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Dea.


_______________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....


__ADS_2