THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Iqbal tersangka


__ADS_3

Iqbal mengakhiri dongengnya dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Devan yang sejak pertama mendengarkan cerita Iqbal sudah tersulut Emosi, beberapa kali ia hendak memukul Iqbal namun Albi dengan sigap menahannya.


Dan di akhir ceritanya, Albi tak lagi menghalangi Devan untuk menghajar Iqbal. Karena Albi juga merasa kalau si Iqbal itu memang sudah sangat keterlaluan.


"Banci loe Bal, kenapa Ameera sebodoh itu bisa suka sama loe? Atau jangan-jangan loe pake pelet?" Sentak Devan setelah melayangkan satu bogem mentah lagi di wajah Iqbal.


Erina memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, Ya, Erina pun merasa heran kepada Ameera. Kenapa sahabatnya itu merahasiakan hal sebesar itu kepadanya juga Via selama bertahun-tahun? Padahal kalau Ameera bercerita semuanya dari awal, mungkin Via dan Erina akan membuat Ameera mengerti dan menasehatinya.


Kenapa juga Ameera malah menyukai Iqbal padahal kan dia telah memiliki kekasih sesempurna Devan, yang lebih segala-galanya di bandingkan si Iqbal itu. Erina tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.


Pasti saat itu adalah saat saat tersulit bagi Ameera, hati Ameera pasti sangat hancur, dan Erina sebagai sahabat tidak ada di samping Ameera untuk sekedar menghiburnya atau menemaninya karena Erina memang tidak mengetahui masalah yang sedang menimpa sahabatnya itu. Ameera terlalu pandai menyembunyikan rahasianya.


Apa loe bilang? Care? Loe bukan care, tapi so care. Dan satu yang perlu loe tau ya! Masalah gue itu nggak akan pernah ada jalan keluarnya.


Gue tau loe itu muna Er, selama ini loe suka kan sama Devan? Didepan gue aja loe so baik, tapi di belakang, loe itu nusuk gue.


Loe apa? Loe boleh berbahagia sekarang Er. Silahkan loe ambil Devan kalau loe mau, DASAR PENGHIANAT!"


Ucapan Ameera kala itu mendadak berkelebatan di kepala Erina. Erina ingat akan kejadian hari itu, dimana dirinya di marahi habis-habisan oleh Ameera, dia tak menyangka jika itu adalah kali terakhir dirinya melihat Ameera.


Ternyata serumit itu masalah yang sedang di hadapi Ameera sehingga menimbulkan perubahan sikap yang sangat drastis.


Namun nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi, Ameera juga sudah tiada sekarang. Dan kini Erina paham akan satu hal, jika cinta itu gila, kita tak bisa menentukan kepada siapa kita akan melabuhkan hati. Meskipun keinginan kita terlampau kuat untuk melupakan orang yang kita cintai, namun hati tetap akan pulang pada pemiliknya.


"Loe nggak lagi ngarang cerita kan Bal?" Tuduh Albi.


"Nggak Bi, gue berani sumpah." Ucap Iqbal sambil meringis menahan sakit di wajahnya.


"Kalau loe beneran cinta sama Ameera dan merasa loe udah tidurin dia, kenapa loe nggak mau ngakuin bayi yang ada di perutnya Ameera itu punya loe? Ameera pasti sedih banget waktu itu." Bahkan mata Erina sudah berkabur sekarang, membayangkan betapa hancurnya hati Ameera saat itu.


"Itu yang jadi penyesalan terbesar gue." Ucap Iqbal.


Hah, Erina benar-benar tak paham dengan cara pikir si Iqbal ini. Lalu Erina melirik Devan dan Iqbal secara bergantian, kesedihan di wajah Iqbal lebih kental terlihat di bandingkan Devan. Wajah Devan lebih menunjukkan ekspresi kemarahannya.

__ADS_1


Devan menatap Iqbal dengan tangan yang masih terkepal, masih belum puas dia menghajar wajah si brengsek itu.


Berani-beraninya dia mengatakan kalau Devan hanya sekedar pelarian. Dia tak terima di rendahkan seperti itu. Memangnya dia siapa? Devan lebih segala-galanya ketimbang Iqbal. Tapi kenapa Ameera malah memilih dia dan mengkhianati cinta yang Devan berikan untuknya?


Ternyata, Devan telah salah mencintai Ameera, dirinya tak pernah ada di hati Ameera. Jadi jangan salahkan Devan jika dirinya dengan cepat mulai berpindah ke lain hati.


"Lalu loe bunuh Ameera biar bisa lepas tanggung jawab, gitu?" Tanya Albi yang masih bisa bersikap santai.


"Gue udah bilang berapa kali kalau gue nggak bunuh Ameera. Gue sayang sama dia. Rencananya gue bakalan bertanggung jawab setelah kita lulus, tapi Ameera..." Iqbal tak melanjutkan kalimatnya, itu terlalu menyakitkan baginya.


Devan beranjak dari duduknya, kemudian pergi meninggalkan tempat itu begitu saja. Erina menatap kepergian Devan, mungkin laki-laki itu sedang butuh waktu untuk sendiri.


"Gue masih belum percaya sama loe ya Bal, loe bakalan gue jadiin tersangka berikutnya!" Seru Erina.


***


Jika tadi saat berangkat ke pemakaman ini Erina di jemput Devan, maka sekarang pulangnya Erina di antar oleh Albi. Devan sudah menghilang entah kemana. Mungkin dia akan bersemedi untu beberapa waktu kedepan. Semua fakta yang baru mereka ketahui memang sangat mencengangkan.


Erina melayangkan protes saat Albi membelokan motornya saat di perempatan jalan raya.


"Udah diem aja, loe mau gue culik dulu sebentar." Jawab Albi.


"Ihh, masa iya mau culik bilang-bilang?" Sekali lagi Erina memukul bahu Albi. Yang di pukul malah cekikikan.


***


Erina bisa melihat pemandangan kota dari tempatnya berdiri sekarang. Di atas bukit dengan ketinggian kurang lebih 20 meter itu.


Albi membawanya ke salah satu destinasi wisata yang baru di buka beberapa bulan lalu. Hembusan angin terasa menampar pipi Erina, namun perempuan itu sangat menikmatinya.


Hawanya terasa begitu sejuk, Erina betqh ada di sana. Sepertinya Albi sangat menyukai sesuatu yang berhubungan dengan alam. Untuk kedua kalinya Erina di ajak Albi ke tempat wisata outdoor seperti ini.


"Loe kok tau tempat bagus kayak gini sih Bi?" Erina mengalihkan pandangannya dari pusat kota yang ada di bawah sana lalu berbalik menatap Albi yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Gue liat di facebook kemarin, terus inget sama loe, mumpung kita jalan bareng ya udah sekalian aja kesini." Jawab Albi sambil tersenyum. Erina jadi ikut tersenyum.


Lalu keduanya saling terdiam, cukup lama sampai akhirnya...


"Er." Lirih Albi.


"Ya?" Sahut Erina cepat.


Albi nampak menarik nafas, lalu membuangnya perlahan. Dia tidak bisa menundanya lagi atau Devan akan benar-benar merebut hati Erina.


"Gue mau bicara serius sama loe Er." Ucap Albi sambil menatap netra Erina serius.


Erina terlihat grogi di tatap Albi seperti itu, segera Erina membuang wajahnya ke bawah sana. Dadanya sudah dag dig dug tak karuan, jangan sampai Albi mendengar detak jantungnya ini.


"Emm, fotoin gue dong Bi!" Ucap Erina yang terlihat jelas salah tingkahnya. Sungguh, dia pasti tak akan sanggup jika harus balik menatap mata Albi.


Selalu saja foto yang Erina gunakan untuk menghindari perkataan Albi.


Erina merogoh tas selempangnya untuk mengambil ponsel, namun tanpa di duga, Albi mencegah tangan Erina melakukan itu dan malah menggenggam kedua tangan Erina dengan lembut.


Kini tangan keduanya telah berpagutan. Sekali lagi Albi menatap dalam kedua bola mata Erina. Dan kali ini Erina benar-benar tak bisa berpaling dari Albi.


Oh no! Jangan sampai Albi merasakan tangan Erina yang gemetar sekarang.


"Gue sayang sama loe Er." Kalimat sependek itu mampu membuat Erina terhipnotis. Bukankah dulu Albi sering mengatakannya? Dan Erina pasti akan memarahi Albi. Tapi kenapa sekarang rasanya berbeda? Kali ini Erina tak bisa marah.


"Mungkin loe udah bosen denger kalimat gue itu. Tapi gue nggak akan bosen buat bilang kalau gue bener-bener sayang sama loe Er." Ucap Albi sungguh-sungguh.


Tatapan Albi terasa sangat menusuk mengenai mata lalu menembus hingga ke hati Erina.


Perasaan apa ini?


_____________________

__ADS_1


Bertele-tele? Memang 😁


__ADS_2