
"Ya, halo Meer?"
"Er, Er, plis bantu gue Er!" Suara Ameera terdengar gemetar dan ketakutan. Jauh berbeda dengan nada bicaranya tadi siang saat memarahi Erina.
"Bantu apa Meer? Loe kenapa?" Tanya Erina ikut panik.
"Gue... Gue udah tau siapa orang yang selama ini neror loe Er. Dan sekarang gue lagi di buntuti sama orang itu. Gue takut Er, dia ngancam bakalan bunuh gue kalau gue sampai bocorin ini semua sama orang lain. Plis loe datang kesini sekarang juga, bantuin gue Er!" Dalam satu kali tarikan nafas Ameera bicara tanpa jeda, intonasinya terdengar pelan, setengah berbisik.
Darah Erina berdesir deras saat mendengar penuturan sahabatnya. Jadi, Ameera sudah mengetahui siapa orang yang menerornya selama ini? Dugaannya pasti tidak akan melenceng. Pasti pelakunya adalah si Dea.
Namun, kecemasan yang luar biasa seketika melanda hati Erina. Saat sadar kalau Ameera kini sedang berada dalam bahaya. Orang itu tidak main-main sepertinya, selain keluarganya, peneror itu juga mengincar nyawa Ameera.
"Serius loe Meer? Loe lagi dimana? Gue cabut kesana sekarang juga." Ucap Erina menggebu-gebu.
"Gue di kostan Er, loe cepetan kesini ya. Gue takut banget." Intonasinya semakin melemah.
"Kasih tau gue sekarang Meer, siapa orangnya? Siapa orang yang udah neror gue selama ini?" Keingin tahuan Erina semakin tak terkontrol, dia sudah sangat geram dan ingin melabrak si Dea yang so polos itu setelah Ameera membeberkan bukti-bukti jika Dea memang yang telah menerornya.
"Dia... Dia adal..."
BUKK!!
"Hmmmm, hmmmm."
Tut... Tut... Tut...
Belum sempat Ameera mengatakan siapa orang itu, panggilan mendadak terputus, Erina semakin frustasi, kenapa Ameera memutuskan sambungan telponnya dan menggantung Erina seperti ini? Dan, suara apa itu tadi? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Ameera?
"Halo Meer? Meer?!" Seperti orang bodoh Erina berteriak pada ponselnya. Padahal ia tahu kalau telponnya sudah mati.
Merasa ada yang janggal, Erina kembali menghubungi nomor Ameera untuk meminta penjelasan lebih
Namun sayang, nomor Ameera mendadak tidak aktif.
Astaga!
Jangan-jangan peneror itu menyakiti Ameera, Erina berpikir jika dirinya harus menyelamatkan Ameera sebelum peneror itu melukai sahabatnya. Erina harus mengkap basah orang itu secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Iya.
Erina berlari mendekati lemari pakaian, mengambil cardigan dan cepat-cepat memakainya. Dia akan pergi ke kostan Ameera sekarang juga.
***
Erina mengeluarkan motor matic milik mamanya dari garasi, tak berpamitan pada orang tuanya karena sepertinya mereka sudah terlelap. Lagipula sudah tidak ada waktu lagi, Ameera membutuhkan pertolongan sesegera mungkin.
Dalam keheningan malam, suara deru motor terdengar bising. Erina menancap gas dan segera meluncur menuju kostan Ameera.
Setiap detik yang ia lalui terasa begitu lambat jika dalam situasi genting seperti ini. Jika bisa, Erina ingin menghilang saja dan langsung muncul di kostan Ameera tanpa harus berlama-lama mengabiskan waktunya menyusuri jalanan.
__ADS_1
15 menit berkendara dan bergulat dengan dinginnya angin malam, Erina akhirnya sampai juga di kostan Ameera. Dia langsung turun dari motornya dan berlari menuju kamar Ameera.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar itu. Hening dan gelap. Erina tak mendengar suara apapun dari kamar kost Ameera, bahkan lampu di dalam sana sepertinya tidak menyala. Dia kini ragu apa Ameera benar-benar ada di dalam sana atau tidak?
Tok... Tok... Tok...
Erina mengetuk pelan pintu di hadapannya, selang beberapa detik tak kunjung ada tanggapan. Lantas ia mencoba memutar handle pintunya, dan berhasil terbuka, semudah itu. Kenapa bisa? Apa Ameera lupa mengunci pintunya?
Keraguannya semakin besar, entah kenapa perasaan Erina berubah menjadi tidak enak. Bulu kuduknya mendadak berdiri semua. Mungkin karena efek cuaca yang dingin.
Erina sudah terlanjut datang ke sana, diapun memantapkan langkahnya untuk masuk kedalam kamar kost Ameera. Hal pertama yang ia lakukan adalah, menekan saklar lampu yang ia ketahui berada tepat di samping pintu.
Klik!
Byaaar!
Ruangan yang semula gelap gulita, kini menjadi terang benderang. Pemandangan pertama yang sangat mencolok dan tertangkap oleh netra Erina adalah, tubuh Ameera yang tergeletak di atas lantai.
Mata Erina seketika terbelalak saat melihat darah segar membanjiri ubin putih itu. Terlalu syok Erina mematung di tempatnya.
"Er!"
Deg!
Suara Ameera terdengar memanggilnya. Ameera masih hidup, namun suaranya tertahan seperti menahan kesakitan yang teramat sangat.
"Sakit Er!" Suara Ameera terdengar lemah, bahkan hampir tak terdengar. Dia memegangi perut ratanya, Erina terlonjak kaget saat melihat sebilah pisau menancap di perut Ameera.
"Meer, siapa yang udah lakuin ini sama loe?" Tanya Erina dengan bibir pucat pasi.
"Sakit Er! Tolong!" Bukannya menjawab, Ameera terus mengeluh kesakitan dengan suara lirih yang mengerikan.
Erina tak tau harus berbuat apa sekarang. Baru kali ini dia di hadapkan dengan situasi pelik seperti ini, dimana nyawa seseorang sedang di pertaruhkan. Ameera membutuhkan pertolongan secepat mungkin.
Reflek tangan Erina terulur, entah mendapat keberanian dari mana dia mencabut pisau yang menancap di perut Ameera itu. Berharap rasa sakit yang Ameera rasakan bisa sedikit berkurang setelah pisau itu terlepas dari perutnya.
Namun nyatanya, itu akan menjadi bumerang bagi Erina. Dan dia harus membayar dengan harga yang sangat mahal untuk itu semua, untuk membuktikan jika dirinya tidak bersalah.
Ameera meringis kesakitan masih dengan suara yang tertahan, rasa ngilu yang teramat sangat saat Erina menarik keluar pisau dari perutnya.
Mata sayu yang beberapa detik lalu masih terbuka, kini perlahan terpejam, dan takan pernah terbuka lagi untuk selamanya.
"MEERA? AMEERAAAAAA?" Erina berteriak histeris saat melihat Ameera menutup mata untuk yang terakhir kalinya. Dia sangat syok, jiwanya terguncang, kewarasannya sedang di pertaruhkan disini. Sahabat karibnya, meregang nyawa di depan matanya sendiri. Dan tak ada satu hal pun yang bisa Erina lakukan untuk mencegah itu terjadi. Bagaimana mungkin Erina bisa menerima kenyataan getir ini dengan mudah?
Sahabat seperjuangannya, sahabat karibnya. Partner terbaik dalam segala hal, sudah terlalu banyak hal yang mereka lalui bersama. Suka dan duka, canda dan tawa, di saat hujan badai, di tengah terik dan panasnya matahari sekalipun mereka seperti tak terpisahkan. Dan dalam hitungan detik, semuanya menjadi hancur lebur. Itu semua hanya tinggalah cerita. Ameera akan menjadi sejarah dalam perjalanan hidup Erina.
Karena kematian bukanlah tentang siap atau ketidak siapan, namun suatu kepastian yang akan di lalui setiap makhluk hidup untuk menuju keabadian.
__ADS_1
"Meeraaa, haaaa."
Suara teriakan Erina mengundang kepanikan si ibu pemilik kost Ameera, dengan langkah panjang, ibu kost berjalan memasuki kamar Ameera karena sumber suara berasal sari sana.
"Astaga!" Si ibu kost menutup mulutnya dengan tangan saat melihat tubuh Ameera terbujur kaku dan Erina berada tepat di sampingnya sambil memegangi pisau berlumuran darah.
Mata Erina dan si ibu kost bertemu, tangan Erina gemetar saat sadar jika dirinya kini menggenggam barang bukti dan ibu kost menyaksikan itu semua. Segera Erina melempar pisau itu ke sembarang arah. Namun semua sudah terlambat. Dalam hati Erina mengutuki kebodohan yang ia lakukan. Dia tak sempat berpikir panjang, hanya kepanikan yang menguasai dirinya sehingga ia bisa se-ceroboh itu.
"Kamu sudah membunuh Ameera?!" Ucap si ibu kost dengan wajah pias nya. Properti yang ia miliki kini sudah menjadi tempat pertumpahan darah.
"Nggak, bukan saya yang bunuh Ameera!" Erina membela diri.
"Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri kalau kamu yang sudah membunuh anak kost saya." Tuduhnya lagi. Erina menggelengkan kepalanya, itu semua tidak benar.
"Jangan lari kamu. Saya akan telpon polisi sekarang juga!" Serunya. Kemudian dia melakukan sebuah panggilan yang Erina yakini kepada polisi.
Hah? Apa? Polisi? Bagaimana ini?
Erina gelagapan, kemudian melirik tubuh Ameera yang kini sudah tak bernyawa. Darah lengket sudah mengotori pakaian yang Erina kenakan.
Erina tak kuasa, masih tak percaya. jika yang meregang nyawa dihadapan matanya adalah Ameera, sahabat terbaiknya. Hatinya begitu terenyuh. Apalagi yang bisa Erina lakukan selain menangisi jasad Ameera?
"Meera, bangun Meer! Loe harus lurusin semua kesalah pahaman ini." Erina menangis tergugu di depan jasad Ameera. Tega sekali sahabatnya itu, sudah pergi meninggalkannya begitu saja lalu membawa malapetaka bagi dirinya.
"Meera, plis jangan kayak gini. Hukum gue apapun itu, asalkan jangan dengan cara seperti ini. Gue mohon loe bangun Meer. Loe belum sempet kasih tau ke gue siapa orang itu? Kenapa loe harus pergi secepat ini Meer? Kenapa? Kenapa?" Air mata Erina kini tumpah dan membanjiri jasad Ameera.
Entah berapa lama Erina menangis di depan jasad Ameera, sampai ia tak sadar jika segerombol orang masuk ke kamar kost Ameera itu.
"Dia pelakunya!" Itu suara ibu kost.
"Bawa dia ke kantor!" Erina mendongak saat mendengar suara yang memerintah itu. Dan detik berikutnya, sebuah tangan menuntunnya untuk berdiri.
Tanpa bicara sepatah katapun, orang berseragam polisi itu menyematkan borgol pada kedua tangan Erina.
"Saya tidak bersalah pa, bukan saya pelakunya." Erina berusaha membela diri. Namun sekeras apapun ia berusaha untuk mengelak, nyatanya barang bukti mengarah kepadanya dan saksi mata melihat Erina memegang pisau itu.
Astaga Tuhan! Bangunkan aku dari mimpi buruk ini.
Polisi menggiring Erina keluar dari kamar kost itu. Sebelum benar-benar pergi, Erina menoleh pada Ameera yang tubuhnya kini sedang di evakuasi petugas. Tetesan air mata mengiringi setiap langkah kaki Erina.
Meer, kenapa loe tega sama gue? kenapa loe harus berakhir dengan cara seperti ini?
Gue nggak nyangka kenapa loe harus pergi secepat ini? Dan meninggalkan sejuta tanda tanya besar di hati gue.
Plis Meer, bangun! Lurusin semua kesalah pahaman ini dan bilang ke semua orang kalau bukan gue yang udah bunuh loe!
__________________
__ADS_1
Tetap tinggalkan jejak setelah membaca...