THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Dea


__ADS_3

"Loe Dea kan?" Via menuding tepat di depan wajah Dea.


"Maaf, aku duluan ya!" Masih dengan wajah yang menunduk Dea berlalu pergi begitu saja dari hadapan Via, meninggalkan sejuta tanda tanya besar di hati perempuan yang kini berdiri sambil melongo tak percaya.


Plak!


Via menampar pipinya sendiri guna mengembalikan kesadarannya. Perempuan tadi memang Dea, air mukanya begitu mirip meskipun dipolesi make up yang cukup tebal.


Tapi, ngapain itu anak berkeliaran di tempat ini? Dengan penampilan seperti itu lagi. Via kepo, diam-diam dia mengikuti Dea. Dia pergi ke arah dimana Dea pergi tadi. Namanya juga Via, jika dia menginginkan sesuatu, maka dia harus mendapatkannya, bagaimanapun caranya. Meskipun Via harus mengobrak-abrik seluruh isi tempat karaoke ini untuk menemukan satu orang bernama Dea, Via jabanin.


Dan ternyata Via tak perlu membuang-buang waktu juga energinya untuk menemukan Dea.


Via bisa menemukan Dea hanya dengan warna bajunya yang mencolok itu. Di sebuah ruangan berdindingkan kaca, Dea nampak tengah duduk bersanding dengan seorang pria paruh baya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, sepertinya ruangan itu kedap suara.


Via tercengang saat melihat pria paruh baya itu mengelus-ngelus tangan Dea. Via tidak sedang salah lihat kan? Iya benar. Indra penglihatan Via masih berfungsi dengan baik.


Iyuuuh, menjijikan sekali.


Via tak kehabisan akal, dia mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya kemudian mengambil beberapa foto Dea bersama dengan pria paruh baya itu, siapa tau saja berguna nanti dan akan Via kirimkan nanti ke grup chat rahasianya Erina.


***


Grup chat langsung gempar sesaat setelah Via memposting foto Dea tadi. Grup yang hanya beranggotakan empat orang itu kini berubah menjadi tempat ghibah online.


[Itu si Dea ngapain di tempat karaoke?] Devan.


[Tadi gue sempet nanya sih sama salah satu karyawan, ternyata si Dea kerja disana.] Via.


[Masa ahh itu si Dea? Yang di foto mah cantik banget.] Albi.


🙄 tanggapan Erina pada pesan kiriman Albi.


[Beneran, tadi gue habis karaokean sama pacar gue, nggak sengaja ketemu dia. Kayaknya kita harus buntuti dia lagi deh.] Via.


[Ogah, masih trauma gue!] Erina


[Satu satu dulu, masalah Violla sama emaknya juga nggak kelar-kelar.] Devan.


[Ya udah gini aja, bagi tugas. Loe Dev sama Via selidikin si Dea, gue sama Erina cari informasi tentang Violla sama nyokap nya.] Albi.


[Nggak mau ahh, tukeran loe sama Via gue sama Erina.] Devan.


[Jadi loe nggak mau sama gue Dev.] Via mengirim emoticon murka.

__ADS_1


[Ehh, bukan gitu maksudnya Vi!] Devan membubuhkan emoticon damai.


***


Erina langsung meluncur ke rumah Via sesaat setelah membalas pesan sahabatnya itu di grup chat.


"Jadi sebenernya yang udah bunuh Ameera itu siapa sih?" Erina menjambak rambutnya sendiri, merasa frustasi karena perasaan usahanya selama ini tak kunjung membuahkan hasil. Yang ada semakin kesini semakin rumit saja urusannya.


"Gue juga nggak tau. Kita itu belum punya bukti yang kuat buat menetapkan siapa pelakunya semua tersangka kita memiliki potensi yang sama." Balas Via.


"Si Dea bener-bener misterius dan mencurigakan. Kemungkinan dia pelakunya karena Ameera udah tau kalau ternyata dia itu adik gue dan dia jiga yang udah neror gue. Untuk menghilangkan saksi dia bunuh Ameera. Tapi kita belum tau siapa ibunya." Ucap Erina.


"Itu PR kita, kita harus cari tau dan buntutin dia lagi." Via.


"Minta tolong aja sama Devan beb, gue bener-bener trauma kalau harus pergi ke gang sempit itu lagi." Balas Erina.


"Tapi Violla lebih besar kemungkinannya beb." Via.


"Terus siapa juga orang yang udah hamilin Ameera? Apa dia juga terlibat dalam kasus pembunuhannya Ameera? Apa mungkin adik gue itu bukan cewek tapi cowok? Tapi siapa?"


Via terdiam, tak memiliki jawaban untuk pertanyaan Erina.


"Aaaaaah! Pusing kepala gue sumpah, pengen gue jedotin ke tembok rasanyaa!" Erina berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Apa menurut loe muka gue mirip sama Ameera nggak?" Tanya Erina.


"Hah? Kenapa loe nanya kayak gitu?" Bukannya menjawab Via malah balik bertanya.


"Devan bilang kalau mata sama bibir gue mirip sama Ameera." Jawab Erina.


"Seriusan Devan bilang gitu?" Tanya Via. Erina mengangguk samar. Fix, dugaan Via kalau si Devan menyukai Erina semakin kuat saja.


Kemudian Via berjalan ke arah meja belajar, mengambil foto yang di bingkai dengan rapi, terlihat tiga anak remaja perempuan berseragam putih abu-abu tengah tertawa bahagia sambil saling rangkul merangkul. Erina masih ingat betul kapan foto itu di ambil.


Saat itu mereka sedang beristirahat di bawah pohon rindang favorit mereka dan Ameera baru saja mendapat hadiah ponsel keluaran terbaru dari ayahnya sebagai hadiah ulang tahun. Lantas merekapun mengabadikan banyak sekali moment kebersamaan mereka, foto itu salah satunya.


Via kembali duduk disamping Erina dan menunjukan benda yang baru saja dia ambil itu pada sang sahabat.


"Loe tadi nanya kan menurut gue loe mirip sama Ameera atau nggak?" Erina kembali mengangguk.


"Menurut gue bagian dari mata loe yang mirip sama Ameera itu cuma bola matanya yang sama-sama warna hitam. Dan bibir loe nggak ada mirip-miripnya sama Ameera." Via menjawab pertanyaan Erina sambil netranya menatap foto itu.


"Berarti Devan bohong gitu? Tapi kenapa dia bilang kayak gitu ke gue?" Tanya Erina lagi.

__ADS_1


"Loe percaya sama gue. Gue udah berapa tahun jadi sahabat loe sama Ameera? Gue yang lebih tau detail muka loe sama Ameera. Gue rasa si Devan cuma lagi halu aja. Atau mungkin menurut dia tatapan mata loe sama senyum loe yang mirip sama Ameera bukan bentuknya. Dia kan...." Via menggantungkan kalimatnya di udara, enggan membesarkan hati perempuan itu dengan mengatakan kalau Devan menyukainya. Via tau betul bagaimana dulu Erina bersusah payah untuk melupakan laki-laki itu. Dia tak ingin usahanya membangun rasa nyaman di hati Erina untuk Albi menjadi sia-sia.


Via lebih setuju Erina bersama Albi saja.


"Dia kenapa?" Tanya Erina.


"Mungkin dia kangen sama Ameera gitu maksudnya." Jawab Via setelah lama berpikir.


Erina hanya mangut-mangut saja.


***


Malam harinya, Albi benar-benar menjemput Erina dikediaman papa Heri. Dia sudah stand by di atas motornya yang sengaja ia parkir di depan gerbang. Laki-laki itu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir tengah malam. Dan dia akan menculik anak gadis orang.


Setelah menunggu hampir 20 menit, Albi melihat pintu rumah yang sedari tadi ia pantau terbuka, seorang gadis nampak mengendap-endap keluar dari dalam sana. Itu Erina. Albi terkesiap, netranya terus mengikuti setiap pergerakan perempuan itu dari mulai dia menutup kembali pintu, menguncinya, berjalan lalu membuka gerbang.


"Sorry banget ya Bi loe jadi nunggu. Gue harus mastiin kalau orang rumah udah pada tidur semua." Ucap Erina setelah berada di hadapan Albi.


"Nggak apa-apa Er, baru 20 menit doang, 20 tahun lagi nunggu loe juga gue sanggup kok." Ucap Albi yang diiringi senyum manisnya.


Mulai lagi deh setelah sekian lama nggak kumat.


"Ya udah, kita cabut sekarang!" Erina tak menggubris dan memilih untuk segera pergi saja.


"Nah!" Albi mengangsurkan sebuah sweater hodie pada Erina.


"Buat apa?" Meskipun bingung Erina tetap menerimanya.


"Buat loe pake biar couplean sama gue. Biar nggak kedinginan juga. Kita kan mau menyusup, jadi biar muka kita nggak terlalu mencolok kalau sampai ketahuan karena ada hodienya." Jawab Albi menjelaskan.


"...masa iya kita harus pake penutup muka, kita kan penyusup bukan rampok." Tuturnya kemudian.


Hah, ada-ada saja si Albi ini. Erina membentangkan sweeter itu, dan benar saja, ternyata sama persis dengan yang Albi pakai. Warnanya hitam, polos tanpa ada gambar apapun. Segera Erna memakainya. Parfum khas Albi menempel di sweeter itu.


"Loe pakein parfum ya sweeternya?" Tanya Erina.


"Ya, biar kalau loe kangen sama gue loe bisa cium sweeternya." Kemudian Albi terkekeh.


"Huu, dasar!" Erina menggerutu sambil mengulum senyum.


__________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...

__ADS_1


__ADS_2