
Hari beranjak senja, warna jingga mulai memenuhi langit bagian barat saat Erina, Albi dan Baim pulang dari kedai ice cream. Kini ketiganya sedang meluncur pulang. Senang rasanya bisa menghabiskan waktu bersama dengan perempuan yang kita kagumi, apalagi ketika perempuan itu merespon kita. Ini pertanda baik. Pikir Albi.
"Stop bang, stop!" Baim yang sedang di bonceng berteriak si depan sana.
Cittttt...
Albi mengerem motornya sehingga berhenti mendadak.
BUKK!
"Aww." Erina meringis kesakitan sambil memegangi keningnya saat kening itu membentur helm yang di kenakan Albi.
"Astaga Er, sory!" Albi berbalik badan saat mendengar Erina meringis.
"Sakit ya? Sini!" Tangan Albi reflek terulur, mengelus kening Erina. Terlihat sedikit memar, benturan tadi memang lumayan keras.
Deg!
Erina dapat dengan jelas melihat sorot mata dibalik helm yang kacanya terbuka itu, sorot mata yang memancarkan kekhawatiran. Tangan lembut yang sedang mengelua keningnya, terasa begitu hangat sehingga rasa sakit yang Erina rasakan sedikit tersamarkan.
Albi menatap manik mata Erina yang juga tengah menatapnya. Bulu mata yang lentik, terlihat teduh, mata yang selama ini mampu membuat dirinya terpukau. Mata yang dulu hanya bisa ia pandang dari jarak jauh, kini berada tepat di hadapannya.
Ini semua terasa seperti mimpi indah untuk Albi, saat dulu menggapai perempuan itu menjadi hal yang mustahil terjadi, namun sekarang seperti mendapat sebuah ke ajaiban, sedikit demi sedikit Albi telah berhasil menghancurkan dinding kokoh yang membentengi hati perempuan itu.
Hanya tinggal menunggu sebentar lagi saja, Albi pastikan jika dirinya bisa memiliki perempuan itu.
Sampai akhirnya sebuah tangan kecil menarik-narik jaketnya dan meleburkan semua khayalan Albi.
"Bang, Baim mau ke pasar malam itu." Ucap Baim sambil menunjuk keramaian yang ada.
Albi dan Erina terkesiap saat memdengar Baim bicara. Cepat-cepat mereka saling mengalihkan pandangan, salah tingkah. Erina jadi gugup sendiri. Kenapa dirinya bisa terhipnotis saat menatap mata Albi tadi?
"Gimana bos?" Tanya Albi.
"Ayo kita kesana bang. Baim mau naik kuda-kudaan." Jawab Baim dengan antusias. Meskipun hari sudah beranjak petang, namun sepertinya Baim belum juga merasa ngantuk. Semangatnya justru bertambah dua kali lipat saat melihat banyaknya wahana permainan disana.
"Baim, ini udah malam. Nanti mama marah sama kakak lho." Yang di bonceng di belakang berkoar.
"Sebentar aja kok kak. Ya ya ya." Baim memasang wajah imutnya, jurus yang ambuh untuk membujuk kakaknya itu.
Erina menarik nafas sambil menggeleng, ada Albi. Dia tidak mungkin menceramahi Baim di hadapannya. Malu.
"Udahlah Er, sebentar aja. Nanti biar gue yang bicara sama nyokap loe." Ucap Albi.
"Ya udahlah terserah." Pasrah akhirnya.
"Ayo bos kecil, kita gas pool." Seru Albi bersemangat. Si Baim yang minta ke pasar malam, tapi kenapa Albi yang terlihat antusias?
Akhirnya Albi membelokan motornya untuk di parkirkan.
***
__ADS_1
Erina tertawa saat menunggangi kuda-kudaan, wahana itu berjalan memutar. Aneh rasanya, kenapa bisa semenyenangkan ini? Kapan ya terakhir kali Erina merasakan hal seperti ini? Sudah lama sekali. Tapi sekarang, rasanya seperti bernostalgia.
Diliriknya Baim yang duduk di kuda sebelah, juga sedang tertawa lepas, di sampingnya Albi berdiri sambil memegangi adiknya itu, takut Baim jatuh katanya.
"Bi, sini deh cobain loe juga naik ini." Ucap Erina, ingin membagi kebahagiaan yang ia rasakan.
"Nggak deh Er, Baim nanti siapa yang pegangin? Lagian juga kudanya penuh semua." Ucap Albi.
"Nggak apa-apa, abang naik aja bareng kak Erina. Baim udah gede kok, bisa naik kuda sendiri. Kan udah ada pengamannya juga ini." Ucap Baim.
Oke, ini kesempatan yang bagus Bi!
Albipun beralih pada kuda Erina.
"Nggak akan muat Er!" Ucap Albi.
"Muat kok. Sini!" Erina menggeser posisi ya agar sedikit maju agar memberikan ruang yang agak lapang dibagian belakang kuda supaya bisa Albi naiki.
Tanpa protes lagi, Albipun naik. Wahana masih terus berputar. Kebahagiaan nampak terlihat nyata di wajah semua orang yang menaikinya. Melupakan sejenak masalah hidup yang mungkin belum menemukan titik terang. Membuat malam yang dingin ini menjadi terasa hangat.
Rambut hitam panjang Erina yang tergerai menampar wajah Albi saat sang bayu menerbangkannya. Wangi semerbak tertangkap oleh indra penciuman Albi, laki-laki itu menghirup dalam-dalam aroma khas yang dikeluarkan rambut Erina. Ini menjadi moment yang sangat berharga bagi Albi.
BUKKK!
Tiba-tiba wanaha berhenti berputar. Albi terkesiap, spontan memegang pegangan kuda yang juga sedang di pegang Erina. Sehingga tangan Albi kini melingkari tubuh Erina. Erina menoleh sesaat setelah wahana berhenti.
Glek!
Adegan saling tatap-tatapan pun tak terelakan. Meskipun bibir tertutup, namun sorot mata mereka yang berbicara. Saling menyanjung dan menikmati indahnya mahakarya Tuhan.
Sebuah lagu romantis lantas diputar oleh pemandu wahana melalui speaker, membuat moment ini semakin berkesan bagi Albi. Laki-laki itu berharap, bumi berhenti berputar untuk batas waktu yang lama untuk bisa menikmati keindahan wajah Erina. Sebab, Albi tak rela jika harus saat-saat seperti ini berlalu begitu saja dengan mudahnya.
Ku tuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu
Takan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi tuk menyuratkan cinta ini
Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia karena telah ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berfikir tentang hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari yang ku jalani sampai kini
Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini tak lagi berpijak pada dunia
__ADS_1
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu
Untukmu hidup dan matiku
Bila musim berganti sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci, ku kan tetap disini
Bila habis sudah waktu ini, tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu
Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu
***
"Makasih ya Bi, hari ini loe udah teraktir kita banyak banget." Ucap Erina ditengah langkah mereka.
"It's oke Er. Gue seneng kok bisa ngabisin malam minggu ini bareng loe." Jawab Albi.
"Sama Baim, nggak seneng bang?" Bocah yang sedang memakan kembang gula ikut menimbrung.
"Haha, iya deh. Abang juga seneng kok bisa ngajak bos kecil ini jalan-jalan." Albi mengacak-acak rambut Baim yang mulai memanjang.
Erina tersenyum melihat kelakuan mereka.
"Sering-sering ya bang teraktir Baim kayak gini." Ujar bocah itu lagi.
Itu sih maunya kamu Baim! Erina geleng-geleng kepala mengingat adiknya minta ini minta itu kepada Albi, dan dengan mudahnya Albi mengabulkan semua keinginan Baim.
"Pasti dong. Asalkan bareng kakak kamu yang cantik ini perginya." Albi menaik turunkan alisnya menoleh ke arah Erina.
"Apa sih Bi?!" Erina memukul lengan Albi karena grogi telah dipuji seperti itu. Pastilah pipinya sudah memerah sekarang, untung saja disini cukup gelap, semoga Albi tidak menyadari perubahan raut wajah Erina.
Lalu Albi dan Baim tertawa bersamaan, ternyata meskipun dalam keremangan, dua laki-laki berbeda generasi ini menyadari kegugupan di wajah Erina.
Akhirnya malam itu Erina mendapat sekali banyak ejekan, rayuan dan gombalan dari Albi yang membuat wajahnya semakin bersemu merah menahan perasaan senang juga malu. Malu di gombali dihadapan bocah kecil. Pikirnya. Dan kenapa juga bocah itu seperti sekongkol dengan Albi, Baim jadi ikut-ikutan menggoda Erina. Jangan sampai kalau sudah besar nanti, Baim tertular sikap tengilnya Abli.
__________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...