THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Galau


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Albi mengetuk pintu rumah Dea yang sepertinya sudah diperbaiki setelah dirusak oleh dirinya malam itu.


Krek!


Tak berselang lama, pintu usang itu dibuka seseorang dari dalam. Terlihat anak perempuan sedang memangku bayi. Itu adalah adiknya Dea.


"Kak Dea nya ada dek?" Tanya Albi semanis mungkin. Anak bernama Vina itu menatap Albi dengan tatapan aneh, sedikit beringsut juga, mungkin dia ketakuran. Terakhir kali Albi datang, dia membuat onar di kediamannya ini.


"Kakaknya lagi kerja." Meskipun dia nampak ketakutan, namun tetap menjawab dengan baik.


Ah iya, Dea bekerja dari siang sampai malam. Albi hampir lupa akan hal itu.


"Terus bapak kamu ada di rumah?" Tanya Albi lagi.


"Bapak lagi ngojek." Menjawab seperlunya.


Ahh, ini kesempatan bagus. Albi akan melancarkan aksinya. Laki-laki itu terdiam sejenak, memikirkan cara bagaimana dia bisa mengusir adik Dea dari rumahnya.


"Emm, Dek bisa beliin kakak bakso yang di depan lapang sana nggak? Nanti kakak kasih upah. Kamu mau nggak?" Tanya Albi sedikit berjongkok untuk menyamai posisi Vina.


Anak berumur sepuluh tahun itu tak langsung menjawab, dia terlihat sedang berpikir. Sepertinya tawaran Albi cukup menarik bagi Vina, dia bisa sedikit mengurangi beban kakaknya jika dia bisa mendapatkan uang dari Albi.


"Ya udah, mana uangnya." Vina menengadahkan tangannya ke arah Albi. Albi merasa senang, sejauh ini rencananya berjalan dengan lancar.


Cepat-cepat Albi merogoh dompet yang dia simpan di saku jeansnya dan mengambil dua lembar uang berwarna merah dari dalamnya sebelum di berikan kepada Vina.


"Kamu belinya 3 bungkus ya. Kembaliannya nanti buat kamu." Ucap Albi. Vina menatap uang yang kini ada di telapak tangannya, belum pernah dia memegang uang sebanyak itu.


"Ini beneran kak kembaliannya buat aku semua?" Vina bertanya.


"Iya buat kamu semua. Tapi kakak numpang ke toilet sebentar ya? Kakak kebelet nih." Albi menjawab sambil meringis agar aktingnya terlihat natural.


"Ya udah. Kakak masuk aja, toiletnya ada di belakang. Aku beli baksonya sekarang." Balas Vin.

__ADS_1


"Ya ya ya."


Albi masuk kedalam setelah melihat Vina berjalan meninggalkan rumahnya itu. Albi menyapu setiap sudut rumah Dea dengan pandangannya, di ruangan yang tak terlalu besar itu Albi bisa dengan mudah menemukan foto yang malam itu Albi lihat.


Albi mendekati meja kecil yang ada di sudut ruangan kemudian mengambil foto seorang ibu hamil bersama dengan Dea dan juga Vina. Albi sangat yakin kalau wanita paruh baya itu adalah Devi, ibunya Dea. Dia lantas memasukkan foto berukuran 5R itu kedalam saku jaketnya. Pekerjaannya dirumah ini sudah selesai, semudah itu, ini jauh lebih mudah daripada yang Albi bayangkan.


Albi tinggal menyetorkan ini kepada Erina dan papanya untuk membuktikan apa Devi ibunya Dea adalah Devi yang sama dengan Devi sedang mereka cari atau bukan. Maka dengan begitu permasalahannya akan selesai, takan ada kesalah pahaman lagi diantara dirinya dan Erina. Dan ini juga akan membuktikan apa Dea bersalah atau tidak. Karena bagaimanapun juga Erina benar, anak Devi pastilah dalang dibalik pembunuhan Ameera.


Albi harap semua yang ia lakukan ini akan baik untuk semua orang. Kebenaran tetap harus di tegakkan bukan? Meskipun Albi selalu merasa kasihan saat melihat Dea yang berjuang mencari rupiah demi membesarkan adik-adiknya, untuk bisa makan dan sekedar bertahan hidup.


Albi segera membuang pikiran-pikiran anehnya, dia harus segera pergi dari tempat itu sebelum bapaknya Dea pulang dan dirinya akan ketahuan. Dia keluar dari rumah Dea itu setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan, sebelum pergi, tak lupa dia menutup pintu.


Saat tiba di lapangan, Albi berpapasan Dengan Vina yang sepertinya sudah selesai membeli bakso pesanan Albi.


"Kak, ini baksonya." Ucap Vina sambil mengarahkan kantong kresek berisikan bakso kepada Albi. Albi memegang bahu Vina untuk memberikan pengertian.


"Kakak lagi buru-buru dek, ada urusan mendadak. Baksonya buat kamu aja ya, bilangin aja sama kak Dea nanti kalau kakak nyariin dia kesini." Ucap Albi. Anak itu mengangguk patuh dan tak banyak bertanya lagi.


Albi memutuskan untuk pulang ke rumah dulu setelah ini, untuk sekedar membersihkan diri sebelum nanti malam dia akan kembali menemui Erina di rumahnya. Semoga kali ini Erina mau mendengarkan dirinya dan mereka akan menemukan solusi terbaik untuk keluar dari masalah ini.


Erina sedang mendengarkan musik melalui headset, rutinitas yang ia lakukan beberapa hari terakhir ini untuk sekedar mengusir rasa jenuh yang selalu saja mengusik hari-harinya.


Lagu selow nan mellow dia putar, bukan hilang rasa suntuknya, malah galau yang menghampiri hatinya. Saat-saat seperti ini, saat sendiri seperti ini hati Erina rawan rapuh. Dia harus kembali teringat pada kedua sahabatnya yang kini telah pergi jauh.


Biasanya, hari-hari yang Erina lalui tak pernah sepi seperti ini saat Ameera dan Via masih ada bersamanya. Sedang apa mereka disana? Apa mereka juga merindukan Erina sama seperti Erina merindukan mereka?


Satu persatu orang di hidupnya kini telah pergi, Albi telah menghianati kepercayaannya. Laki-laki itu telah membohonginya habis-habisan. Dia lebih memilih menutupi kesalahan Dea dan tak berkata jujur kepada Erina.


Bolehkan Erina membenci Dea? Tapi kenapa dia tak bisa membenci Albi Meskipun Albi telah membuat hatinya patah?


Cukup Er!


Udah Er, berhenti nyakitin dia!


Bahkan kata-kata pembelaan dari Albi untuk Dea terus saja terngiang di pikiran Erina, saat Albi menahan tubuh Dea yang hendak terjatuh, tangan Dea yang menyentuh Albi. Saat Dea menatap Albi. Semua bayangan itu membuat Erina muak.

__ADS_1


Gue sayang sama loe Er.


Mungkin loe udah bosen denger kalimat gue itu. Tapi gue nggak akan bosen buat bilang kalau gue bener-bener sayang sama loe Er.


Gue mau loe jadi cewek gue Er. Meskipun loe udah sering nolak gue, tapi gue masih sangat berharap sama loe. Meskipun gue tau loe pasti bakalan nolak gue lagi. Gue akan berusaha sampai loe mau dan bilang iya.


Bulsyit!


Semua kata-kata manis yang di ucapkan Albi hanya omong kosong. Nyatanya saat ada perempuan yang lebih cantik, dia berpaling. Apa semua laki-laki di dunia ini sama?


Papanya dulu meninggalkan Devi demi mama Sofi. Lalu Devan, dia mengaku jatuh cinta lagi setelah kepergian Ameera.


Ini kesalahan Erina, harusnya dia tak semudah itu memberikan hatinya kepada Albi, seharusnya dia bisa belajar dari pengalaman. Jika patah hati itu teramat sakit.


Oke, dulu saat Erina patah hati karena Devan jadian dengan Ameera ada Via yang setia meminjamkan bahunya. Namun sekarang? Bahu siapa yang akan ia jadikan sandaran? Tidak ada, Erina hanya bisa menangisi kebodohannya seorang diri.


"Er, ada temen kamu itu di depan." Tiba-tiba saja mama Sofi masuk ke dalam kamar Erina. Erina melepaskan headset yang menutupi telinganya.


"Siapa ma? Albi?" Tanya Erina, sebenarnya dia sangat berharap jika Albi yang benar-benar datang. Dia ingin melihat sejauh mana Albi mau memperjuangkan dirinya. Mungkin Erina akan memaafkan Albi jika laki-laki itu bersungguh-sungguh. Karena jujur Erina mulai merasakan getaran aneh saat bersama Albi, Erina cemburu saat tau Albi diam-diam bertemu dengan Dea di belakangnya. Erina kecewa saat Albi membohongi dirinya. Itu semua karena Erina mulai berharap pada Albi, namun saat harapan tak sesuai dengan apa yang dia inginkan, hanya kekecewaan yang ia dapatkan.


Ya, begitulah Erina dengan segala keplin-planan nya.


"Kamu liat aja sendiri di depan!" Setelah itu mama Sofi menghilang dari pandangan Erina.


Erina beranjak, mendekati cermin, menatap bayangan dirinya disana, membetulkan penampilannya yang berantakan. Sudah percaya diri sekali kalau Albilah yang datang.


Dia tak membuang waktu lagi, diapun segera turun kebawah untuk menemui Albi.


Krek!


Erina memutar handle pintu dan membukanya pelan. Dahinya mengernyit saat melihat orang yang kini berdiri di hadapannya.


"Devan?!"


__________________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2