THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Siapa anak Devi?


__ADS_3

"Kalian hanya membuang-buang waktu mengintrogasi saya disini. Seharusnya kalian sekarang menyelamatkan Erina dari adik tirinya. Hahaha."


"Cepat katakan kemana kalian membawa Erina?" Tanya Devan.


"Kalian cari saja sendiri."


Albi sudah sangat muak mendengar jawaban Sari yang seperti hanya mempermainkan mereka. Dia membuka ponsel Sari, siapa tau saja bisa mendapatkan petunjuk. Namun Albi kembali mendesah saat ponselnya di beri pengaman.


"Berapa pin nya?" Geram Albi.


"Kamu pikir saja sampai kepalamu botak! Hahaha." Albi semakin geram dibuat Sari, perempuan itu seperti mengulur-ngulur waktu. Bisa saja sekarang suaminya Sari dan anaknya Devi sudah melukai Erina, sedangkan mereka masih tak tau dimana keberadaan Erina.


"Kalau bukan Dea, siapa sebenarnya anak Devi itu? Apa dia orang yang sama dengan orang udah bunuh Ameera?" Gumam Devan.


"Kalian jaga dia, jangan sampai lepas!" Kemudian Albi pergi meninggalkan Sari, Devan dan Iqbal. Dia tau harus bertanya hal ini kepada siapa.


***


Albi menelpon salah satu teman bandnya Devan yang bernama Soni, dia mengatakan kalau Dea sedang ada di ruang persiapan anak-anak perempuan yang akan tampil. Albi segera menyusul kesana.


"Dea!" Pekik Albi di ambang pintu. Ruangan itu terlihat ramai dengan anak-anak yang sedang berdandan. Semua orang menoleh ke arah Albi, tatapan mereka sepertu mengatakan 'Kenapa anak cowo masuk kesini?' Albi tak menghiraukan tatapan mereka dan hanya fokus kepada Dea.


Ternyata Dea sudah sadar dari pingsannya, wajahnya terlihat pucat pasi. Albi segera menghampirinya.


"Ada apa?" Tanya Dea yang malam ini berpenampilan seperti biasanya, culun dan berkacamata.


"Loe kenal sama Sari? Loe ada masalah apa sama dia sampai-sampai loe hampir diculik sama dia?" Tanya Albi dengan serius.


"Aku nggak kenal sama perempuan tadi. Aku juga nggak tau kenapa dia tiba-tiba aja datang dan membekap aku. Aku juga takut, aku takut dia nyakitin aku." Dea bicara dengan bibir yang gemetar. Albi melihat sebuah ketakutan di wajah Dea.


Albi orang yang bijak, dia bisa tau kapan seseorang sedang berkata jujur dan kapan seseorang sedang berbohong. Dan Albi yakin jika Dea memang tidak tahu menahu soal penculikan Erina. Apa mungkin Dea hanya dijadikan kambing hitam karena kebetulan nama ibu Dea adalah Devi. Lantas, siapa sebenarnya adik tiri Erina itu?


"Erina diculik sama mereka." Ucap Albi tiba-tiba.


Dea terdiam, dia sedang berusaha mengingat kejadian saat dirinya diseter-seret oleh perempuan asing tadi sebelum tak sadarkan diri.


***


Erina yang tak sadarkan diri di seret paksa oleh suami Sari hingga tubuhnya diikat di sebuah kursi tepat di samping kedua orang tuanya.


Mama Sofi berteriak histeris saat melihat putrinya yang tak berdaya diperlakukan bak seekor anjing, diseter-seret dan diikat.


"Tolong lepaskan putri saya, jangan sakiti dia!" Mama Sofi memohon sambil berurai air mata.

__ADS_1


Papa Heri merasa dirinya tak berguna sekarang, disaat keluarganya dalam bahaya, dia tak bisa melakukan apa-apa. Miris sekali.


"Mamaaa!" Baim yang baru sadar jika keadaan dirumahnya sedang kacau balau menangis memanggil mamanya. Tubuh bocah itu juga kini ikut diikat.


"Kamu tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja." Mama Sofi berusaha menenangkan putra bungsunya itu yang menangis ketakutan.


"Siapa bilang? Kalian akan tamat malam ini juga! Hahaha." Suami Sari itu berseru menyeramkan, membuat Baim semakin ketakutan dan menangis semakin kencang.


"Mamaaaaa!" Suara tangisan Baim tak terkendali.


"DIAAAAAM!" Suami Sari membentak Baim yang berisik. Bukannya berhenti menangis, Baim justru semakin menangis tergugu. Diapun menugaskan anak buahnya yang berjaga untuk menyumpal mulut Baim.


Dia membuka ponselnya, mencoba menelpon seseorang yang disinyalir sebagai anak Devi dan papa Heri.


"Dimana om?


"Anak itu sudah di TKP."


"Bagus, aku otw sekarang. Kita akan mengakhirinya malam ini."


"Lalu Dea?"


"Sari sedang menculiknya."


Papa Heri dan mama Sofi saling berpandangan saat orang yang membawa Erina tadi mengucapkan nama Sari.


"Diam lah dengan tenang disana dan jangan banyak tanya!" Sentak nya pada papa Heri.


"Beri tahu siapa anak saya dan dimana dia berada sekarang?" Tanya papa Heri yang sama sekali tak terpengaruh dengan sentakan demi sentakan yang ia terima.


"Anda akan mengetahuinya sebentar lagi. Dia sedang dalam perjalanan menuju kemari, bukankah Sari sudah mengatakan kepada anda waktu direstoran itu kalau anakmu akan datang menemui anda tanpa harus anda mencarinya?" Suami Sari tersenyum sinis.


"Jadi anda yang menolong Sari waktu itu?" Papa Heri menarik kesimpulan demikian. Lagi-lagi suami Sari hanya menyeringai tanpa menjawab.


"Jadi anakku yang sudah meneror keluargaku selama ini?" Tanya papa Heri lagi.


"Harusnya kalian mengetahuinya sejak awal. Kamu sudah menelantarkan anak kandungmu dan memilih bersama dengan perempuan ini." Ucap suami Sari sambil menuding kepala mama Sofi.


"Bukan saya yang menelantarkannya, mereka disembunyikan oleh ibu mertuaku."


"Banyak bicara kamu! Cepat sumpal mulutnya juga!"


Kemudian suami Sari itu kembali menelpon sang istri untuk menanyakan dimana keberadaannya sekarang. Puncak acara akan segera dimulai dan Sari seharusnya sudah berada di sana sekarang untuk menyaksikan semuanya. Namun nomor Sari mendadak tidak aktif, dia menyuruh salah satu preman suruhannya untuk menyusul Sari ke sekolah dan memastikan jika semuanya berjalan sesuai dengan yang mereka rencanakan.

__ADS_1


Suami Sari beralih pada Erina yang tak sadarkan diri, dia menuangkan air ke dalam gelas lalu menyiramkannya tepat di wajah Erina.


Erina terlihat gelagapan terbangun dari pingsannya saat semburan air menampar wajahnya. Nafasnya tersengal saking kagetnya. Suara tawa menyadarkan Erina.


"Hahaha, akhirnya kamu sadar juga nak!"


Erina mengernyit sambil memperhatikan orang itu. Wajah dan rambutnya kini telah basah, bahkan air tumpahan itu juga mengenai pakaiannya.


"Siapa kamu?" Tanya Erina, ketakutan kini mulai menjalar memenuhi rongga dadanya. Apalagi saat tubuhnya tidak bisa digerakkan, Erina baru sadar jika dirinya kini sedang diikat.


Kemudian Perempuan delapan belas tahun itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, ini adalah rumahnya. Bisa Erina lihat kedua orang tua dan adiknya juga diikat sama seperti dirinya.


"Mama, papa, Baim!" Pekik Erina. Anggota keluarganya itu tak bisa menjawab karena mulut mereka yang di sumpal.


Kenapa Erina bisa ada disini? Terakhir kali yang Erina ingat dirinya sedang berada di sekolah dan menonton Albi yang sedang tampil di acara malam perpisahan. Sebelum Erina merasakan kepalanya yang pening dan Erina tak mengingat apapun lagi setelahnya.


Astaga!


Erina diculik!


"Siapa kamu?" Erina mengulang pertanyaan yang sama.


"Kamu tidak akan mengenal saya, tapi kamu pasti mengenal keponakan Sari. Hahaha." Tawa menyeramkan kembali dia dengarkan.


"Apa maksudnya? Sari? Apa kamu orang suruhannya Sari? Jadi kalian yang udah neror keluarga saya selama ini?" Tanya Erina dengan dadanya yang kembang kempis menahan marah dan juga ketakutan.


"Perkenalkan, saya adalah suami Sari."


Erina, papa Heri dan mama Sofi membulatkan mata dengan sempurna saat mengetahui jika dia adalah suaminya Sari.


"Terus dimana si Dea anaknya Devi yang pengecut itu? Kenapa dia nggak muncul? Apa dia takut? Kenapa malah menyuruh kalian membantai kami seperti ini?" Erina berteriak seperti orang gila sekarang.


"Hahaha. Dea? Dea bukan keponakan Sari. Kamu sudah salah paham."


Erina terkejut, dia tak ingin percaya sebenarnya bagaimana bukan Dea anaknya Devi? Sudah jelas-jelas Dea tidak menyangkal jika nama ibunya Devi.


"Terus kalau bukan Dea, siapa anak papa dari Devi itu?"


"Gue!"


Semua mata yang ada di tempat itu menoleh ke arah sumber suara.


______________________

__ADS_1


Hayo hayo, siapa sih dia? cewe apa cowo? Jangan lupa tinggalkan jejaknya, corat coret juga di kolom komentar...


Cuma mau kasih info aja, mungkin author nggak akan update selama satu minggu kedepan karena author mau honeymoon dulu sama suami ke planet Mars 😂😂😂🙈✌️


__ADS_2