
Sore itu, Erina memasukan semua perlengkapan sekolah dari mulai seragam putih abu-abunya, buku, sepatu yang baru dia cuci tadi pagi ke dalam tas. Sambil sesekali menyusut bulir yang terus mendesak untuk keluar.
Mama Sofi yang kebetulan sedang lewat di depan pintu kamar Erina melihat putrinya yang sedang berkemas itu, karena pintu kamar Erina sedikit terbuka. Mama Sofi mendorong masuk pintu hingga terbuka lebar dan menegur putri sulungnya itu.
"Mau kemana Er? Kenapa semua pada di masukin ke tas?" Tanyanya kemudian.
Erina yang sadar akan keberadaan sang mama, menyusut pipinya yang sembab sebelum berbalik badan. Malu kalau mamanya itu sampai tau jika dirinya sedang menangis. Yang ada nanti Erina ditanyai yang macam-macam dan urusannya tidak akan selesai dalam waktu yang sebentar. Mamanya itu kan sangat protektif.
"Malam ini Erina nginep di rumah Via ya ma. Sekalian ada beberapa tugas yang belum Erina kerjain. Boleh kan?" Sebisa mungkin Erina memasang wajah cerianya.
"Boleh. Tapi inget, jangan keluyuran!" Sahut sang mama.
"Iya ma. Makasih ya mommy ku tersayang." Erina berhambur kedalam pelukan mama Sofi.
***
Erina turun dari ojek online yang mengantarnya sampai ke rumah Via ini, setelah membayar ongkosnya, si tukang ojekpun pergi. Erina berjalan memasuki pekarangan rumah Via, dia bisa melihat motor matic milik Via teparkir dengan cantik disana.
Pasti dia pergi menggunakan mobil milik gebetan barunya sehingga motornya ditinggalkan begitu saja. Meskipun tau Via belum pulang, Erina tetap nekat pergi kesana.
Tok... Tok... Tok..
Erina mengetuk pintu rumah Via. Cukup lama ia menunggu sampai akhirnya pinru di buka seseorang dari dalam.
"Ehh, nak Erina. Maaf ya, tadi nenek lagi solat tanggung." Ucap neneknya Via menyambut kedatangan Erina.
"Iya nggak kenapa-napa kok. Via nya belum pulang ya nek?" Tanya Erina.
"Iya belum. Kayaknya sebentar lagi deh. Tapi tadi Via whatsApp nenek kalau kamu datang, suruh tunggu aja di kamarnya." Jawab sang nenek.
__ADS_1
Wah, gaul juga ya neneknya Via ini, mainannya whatApp, jangan bilang dia juga suka tiktokan.
Akhirmya, Erinapun masuk kedalam rumah dan menunggu Via di kamarnya. Sedangkan nenek Via pergi ke arah dapur. Entahlah dia akan melakukan apa. Mungkin membuat makanan untuk tamunya ini. Harap Erina.
Bertemu dengan nenek Via tadi sedikit mengalihkan perhatiannya dari rasa sedih. Namun setelah berada di kamar Via ini, kesedihan Erina kembali muncul kepermukaan. Apalagi saat melihat banyaknya foto kebersamaan dirinya dengan Via dan juga Ameera yang terpajang di dinding kamar Via.
Erina menatap foto-foto itu dengan perasaan yang berkecamuk. Perlahan tangannya terangkat, mengusap foto wajah Ameera dan Via bergantian.
"Loe sahabat gue, loe yang selalu ada buat gue. Tapi kenapa harus Devan sih Meer? Meskipun gue tau gue nggak mungkin bisa menggapai Devan, tapi kenapa rasanya sesesak ini? Gue benci perasaan ini Meer, gue benci sama diri gue sendiri. Guepun nggak mau memiliki perasaan seperti ini, gue mau semuanya baik-baik aja. Tapi semakin gue coba buat relain dia sama loe, semakin hati gue sakit Meer." Ucap Erina lirih.
Krek!
Suara decitan pintu menyadarkan Erina, segera ia menghapus bulir air mata yang hampir saja menetes. Mengalihkan perhatiannya dari potret mereka dan menatap ke arah pintu. Ternyata nenek Via yang datang.
"Sambil menunggu, kamu cicipi dulu dimsum buatan nenek ini." Nenek Via menaruh piring beriaikan dimsum diatas meja belajar.
"Terimakasih nek, Erina selalu ngerepotin kalau main kesini." Ucap Erina sungkan.
Erina sedang tak berselera untuk makan, dia malah memilih menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Mencoba melupakan beban dalam pikirannya. Baru saja matanya akan terpejam, suara decitan pintu kembali terdengar.
"Beb, loe udah nunggu lama? Sory ya. Tadi jalanan macet." Terdengar suara Via memenuhi ruangan itu. Sontak Erina beranjak dan berhambur memeluk sahabatnya itu.
"Beb... Huhuhu." Erina menangis dalam pelukan Via.
Via mencoba membimbing Erina untuk duduk kembali di atas kasur. Setelahnya ia menatap lekat manik wajah sembab sahabatnya itu.
"Loe nangisin dia beb?" Tanya Via yang paham akan isi hati Erina. Erina mengangguk pelan.
"Saran gue, lebih baik loe terima aja si Albi. Dengan begitu gue yakin lama kelamaan loe bakal lupa sama Devan. Percaya deh beb." Via sudah mewanti-wantinya sejak awal, namun sahabatnya itu sangat keras kepala. Hingga kini Via tau perasaan cintanya kepada Devan telah tumbuh semakin besar, dengan begitu maka akan semakin sulit pula untuk melupakannya.
__ADS_1
"Nggak bisa beb, kenapa harus Ameera coba? Gue pasti nggak akan sanggup kalau tiap hari harus liat mereka berduaan." Erina menyambar tissu di atas meja belajar lalu mengelap ingusnya.
"Sebab dia jadiannya sama Ameera Maka dari itu loe harus lupain dia. Loe nggak mau kan persahabatan yang udah lama ini hancur cuma gara-gara cowo?" Tanya Via.
"Apa gue bakalan bisa beb? Gue nggak memiliki hati sebesar itu buat menerima semuanya. Huhuhu." Erina menangis tergugu.
"Loe pasti bisa beb, gue tau loe orang yang kuat. Loe cuma butuh sedikit waktu aja. Gue bakalan selalu dukung loe. Jadi loe jangan berpikir loe sendirian menghadapi masalah ini. Loe cari gue kalau loe lagi butuh sandaran." Ucap Via.
"Thanks ya beb, gue nggak tau gimana jadinya kalau nggak ada loe. Tapi, buat malam ini aja beb. Biarin gue nangis. Siapa tau aja setelah ini air mata gue kering dan nggak bakalan bisa nangisin dia lagi. Huhu." Tangisnya semakin kencang saat membayangkan jika saat ini Ameera dan Devan sedang merayakan hari jadi mereka.
"Iya nggak apa-apa. Tapi loe janji habis ini loe belajar buat ikhlasin mereka. Loe orang baik beb, Tuhan pasti udah nyiapin orang yang baik juga buat loe."
Erina mengangguk samar. Sesekali menyusut air mata dan ingus secara bergantian pakai tisue. Setelahnya, dia melahap dimsum buatan neneknya Via tadi.
Iyuuh.
Via menatap keheranan pada sahabatnya itu. Jorok juga ya ternyata dia, tangannya itu kan bekas mengelap ingus tadi, terus sekarang dia gunakan untuk makan. Tapi, biarkan sajalah. Mungkin dengan cara itu bisa membuat hati Erina sedikit lebih tenang.
Dan akhirnya, malam itu Erina habiskan hanya dengan menangis. Via dengan setianya menemani dan menenangkan. Dia meminjamkan bahunya untuk Erina jadikan sandaran.
Via menepuk keningnya sendiri saat persediaan tisue habis, malah bajunya yang menjadi tumbal untuk menyusut air mata dan ingus Erina.
"Loe nggak pernah ngerasain apa yang gue rasain sih beb." Ucap Erina.
"Iyalah, gue nggak pernah ngerasain namanya sakit hati. Karena gue yang selalu membuat hati mantan-mantan gue patah."
Via sudah menduga, jika hari dimana Devan dan Ameera jadian, akan menjadi hari patah hati nasional. Karena Devan dan Ameera sama-sama banyak penggemarnya. Erina salah satu penggemar fanatik nya Devan. Untung saja Via selalu membentengi hatinya dari makhluk sejenis laki-laki sehingga meminimalisir yang namanya patah hati.
______________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...