
Cuaca siang itu cukup terik, matahari tengah menunjukan seberapa besar dirinya berkuasa merajai siang hari.
Setelah mengantar Erina sampai di depan rumahnya, Via langsung pulang karena neneknya mewanti-wanti untuk tidak keluyuran. Sedangkan Ameera, dia pulang bersama Devan. Entahlah, Erina merasa jika Devan tak langsung mengajak Ameera pulang. Mereka pasti mengunjungi suatu tempat yang romantis untuk pacaran.
Astaga! Erina! Stop thinking about him!
Biarkan mereka melakukan apapun. Itu bukan urusan loe! Fokus loe sekarang cuma satu. Move on!
Ya, move on. Erina yakin dengan bergulirnya waktu, perlahan ia bisa menghapus nama Devan di hatinya. Pasti. Begitu Erina memantapkan hatinya.
"Assalamualaikum." Erina mengucap salam seraya berjalan memasuki rumahnya.
Tidak ada sahutan dari penghuni rumah. Dimana mamanya? Dimana Baim yang menggemaskan? Tumben sekali rumah sepi seperti ini. Erina pun melangkah menuju dapur, mencari sang mama untuk minta makan. Perutnya sudah keroncongan minta di isi. Wajar saja, ini sudah lewat dari jam makan siang.
Namun, Erina tak juga menemukan sang mama didapur. Diapun berpikir untuk pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Saat melewati kamar mama Sofi, Erina melihat pintu yang sedikit terbuka. Terdengar mamanya sedang berbicara, tapi entah dengan siapa.
Rasa penasaran Erina muncul seketika. Dia tak dapat menahan diri untuk tak melihat siapa lawan bicara mamanya itu.
"Mama!" Seru Erina sambil mendorong pintu. Terlihat seorang perempuan berpakaian serba putih dan mamanya menoleh secara bersamaan ke arah Erina. Itu adalah dokter Fenti, sahabat baik mamanya.
"Er, kamu sudah pulang sayang?" Tanya mama Sofi. Erina melihat ada yang janggal disana. Mamanya sedang terbaring di atas kasur dengan tangan sebelah kanannya yang diperban. Begitupun kakinya. Sontak itu memicu kepanikan pada diri Erina.
"Mama, mama kenapa?" Erina berhambur menghampiri mama Sofi. Raut wajahnya berubah menjadi panik. Dia tau mamanya sedang tidak baik-baik saja.
"Mamamu di tabrak orang tidak di kenal tadi." Malah dokter Fenti yang menjawab.
"Apa? Ditabrak? Kenapa bisa?" Tanya Erina semakin cemas.
"Mama juga nggak tau. Tadi pas mama pulang dari pasar, mama lagi nunggu abang ojol. Tiba-tiba aja ada motor yang melaju kencang ke arah mama. Padahal mama lagi berdiri di pinggir jalan lho. Atau cuma perasaan mama aja ya kalau motor itu sengaja nabrak mama?" Dongeng mama Sofi.
"Terus yang punya motor tanggung jawab?" Tanya Erina lagi.
"Nggak, motornya pergi gitu aja setelah nabrak mama." Jawab mama Sofi.
"Kayaknya beneran deh. Ada seseorang yang sengaja mau nabrak mama. Tapi siapa ya?" Erina berpikir keras. Siapa kira-kira orang yang tega melakukan ini semua? Dia rasa keluarganya tak pernah memiliki musuh.
"Mama jadi inget cerita papa kamu semalam. Ternyata pas papa kamu ngejar Sari, ada seseorang yang sengaja nyerempet papa." Ucap mama Sofi sambil menerawang.
"Apa? Papa kok yakin kalau dia sengaja diserempet?" Tanya Erina.
"Katanya, papa ngejar Sari di jalur sepeda. Tiba-tiba aja motor itu datang dan hampir nabrak papa. Beruntung papa cepet menghindar, jadinya dia cuma keserempet aja."
__ADS_1
Erina terdiam, berusaha untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
"...ini cuma kebetulan aja atau gimana sih? Kok mama rasa ada yang aneh gitu. Mama sama papa hampir di tabrak sama motor." Ucap Mama Sofi.
"Iya mah mungkin cuma kebetulan aja kali. Lain kali mama harus lebih hati-hati lagi." Pesan Erina. Mama Sofi mengangguk sambil tersenyum menanggapinya.
"Baiklah Sofi, aku pamit ya. Aku harus kembali ke rumah sakit sekarang." Ucap dokter Fenti sambil membereskan kembali peralatannya kedalam kotak.
"Terimakasih Fen, aku jadi merepotkan kamu." Balas mama Sofi.
"It's oke. Bukan masalah. Kalau ada keluhan lain, jangan segan telfon aku ya!" Ucap dokter Fenti ramah.
"Tapi luka mama nggak terlalu parah kan dok?" Tanya Erina.
"Tidak terlalu. Makanya mama kamu tidak perlu sampai dirawat di rumah sakit. Oke Erina! Jaga mama kamu baik-baik ya! Jangan biarkan dia melakukan pekerjaan yang berat. Dan sepertinya dia juga harus libur dulu berjualan brownisnya." Ucap sang dokter diiringi kekehan kecil di akhir kalimat.
"Ahh, iya brownis. Gimana ini? Pesanan brownis lagi banyak-banyaknya sekarang." Sedang sakit juga mama Sofi masih saja memikirkan brownisnya.
"Udahlah ma, cancel aja semuanya. Kesehatan mama lebih penting."
"Nah, dengarkan nasihat anakmu itu Sof!"
Dokter Fenti dan Erina tertawa bersamaan melihat kecemasan di wajah mama Sofi. Bukannya mencemaskan ke adaannya sendiri, mama Sofi malah mencemaskan pesanan brownisnya.
Keesokan harinya.
Erina kembali kesekolah dengan senyum yang mengembang, tak ada mata yang bengkak dan merah lagi. Tak ada kacamata yang melekat di wajahnya lagi. Erina telah menyingkirkan semua musuh terbesar di dalam hatinya. Dia ingin memulai semuanya dari awal. Erina yang baru kini sudah terlahir. Erina dengan hati yang lapang, Erina yang mendukung Ameera agar bisa bahagia bersama dengan Devan.
Mungkin dengan membiarkan semua berjalan apa adanya bisa membuat kebahagiaan selalu berada di pihak Erina.
"Pulang sekolah nanti kita karaokean yu! Gue udah gatel nih pengen teriak-teriak." Ucap Via.
"Gue sih oke. Nggak tau deh yang punya pacar baru." Balas Erina sambil menyenggol lengan Ameera.
"Gue juga ayo. Gue memang udah punya pacar sekarang. Tapi gue nggak akan sampai lupain kalian. Sahabat-sahabat gaje gue." Ketiganya pun cekikikan berjamaah sambil memasuki ruang kelas.
Mereka kemudian duduk di bangku masing-masing. Si Dea sudah stand by di bangkunya. Entah pukul berapa dia datang, Erina menobatkannya sebagai murid teladan.
Erina memasukan tasnya ke dalam kolong meja, kebiasaan yang sering Erina lakukan.
Tiba-tiba saja bau menyengat tertangkap oleh indra penciuman Erina. Baunya tidak sedap. Erina tak tahan untuk tidak bicara.
"Ehh, bau apaan sih ini?" Tanya Erina pada dua sahabatnya.
__ADS_1
Ameera yang menghadap ke depanpun berbalik badan ke arah Erina.
"Apa sih?" Tanya Ameera yang sepertinya bau itu belum sampai ke hidungnya.
"Iya ihh beb. Bau banget. Loe nggak mandi lagi ya?" Via bicara sambil menutup hidungnya.
"Astaga! Gue mandi kok." Erina mencium bau keteknya sendiri. Entahlah, bau keteknya tak tercium.
"Ehh iya bener. Bau bangkai ini mah." Ameera yang baru ngehpun ikut-ikutan menutup hidung.
"Ehh Dea, loe nggak ngerasa bau apa?" Tanya Ameera.
"I iya bau." Ucap Dea berbata-bata. Namun dia tak menutup hidung seperti yang dilakukan Ameera, Erina dan Via.
Segerombolan murid masuk ke dalam kelas, membuat suasana semakin riuh. Tak berselang lama, pak Zianpun ikut masuk untuk memulai mata pelajaran pertama.
"Oke anak-anak. Kumpulkan tugas yang kemarin. Saya akan mengeceknya hari ini." Seru pak Zian.
Erina menarik tasnya yang berada di kolong meja. Dan...
PUK!!
"Aaaaaaaaaaaaaa." Erina menjerit histeris saat sebuah makhluk ikut terbawa oleh tasnya dan jatuh tepat di pangkuannya. Makhluk itu sangat mengerikan dan berlumuran darah. Sudah gepeng dan berbau menyengat. Bangkai tikus.
Sumpah demi apapun Erina tidak pernah membayangkan hal ini terjadi di dalam hidupnya.
Suasana kelas seketika menjadi heboh saat mendengar teriakan Erina. Terutama Via yang duduk tepat di samping Erina.
Sontak Erina berdiri dan makhluk itu terjatuh begitu saja menyentuh lantai. Dengan kaki gemetar Erina menahan ketakutannya. Ternyata sumber bau busuk yang dia cium adalah dari bangkai tikus itu.
Albi yang melihat kepanikan di wajah Erina sontak beranjak dari duduknya, menjadi orang pertama yang menenangkan Erina disaat semua murid merasa panik dan jijik dengan adanya bangkai seekor tikus di bangku Erina.
"Er, loe nggak apa-apa?" Albi memperhatikan wajah Erina. Terlihat jelas ketakutan di sana. Perempuan itu pasti sangat syok.
Erina tersadar saat Albi menegurnya. Albi. Kolong meja. Kenapa Erina merasa Albi memiliki sangkut pautnya dengan kolong meja? Karena selama ini Albi yang sering menaruh benda-benda unik di sana. Apa jangan-jangan bangkai tikus itu juga Albi yang menaruhnya di sana?
Ketakutan di wajah Erina seketika berubah menjadi murka. Erina berpikir jika Albi lah yang bertanggung jawab atas semua ini.
"GUE TAU, PASTI LOE YANG UDAH NARUH BANGKAI TIKUS ITU DI KOLONG MEJA GUE KAN?" Ucap Erina dengan lantang. Kemarahannya tak dapat di kendalikan. Albi sudah sangat keterlaluan. Maksudnya apa coba? Apa dia ingin balas dendam karena selama ini Erina selalu menolak cintanya?
Albi tertegun saat mendapat bentakan dari Erina.
__________________
__ADS_1
Terror dimulai... Kira-kira bener nggak ya ada yang sengaja naruh bangkai tikus di kolong meja Erina? Atau tikus itu sengaja mati di sana? tapi kok bisa gepeng gitu??