
Mama Sofi yang mendapat kabar jika Erina bisa pulang hari ini bergegas pergi ke kantor polisi untuk menjemput sang putri. Perasaannya sudah campur aduk sekarang antara haru, bahagia dan tak percaya.
Di dalam taksi itu mama Sofi menelpon sang suami untuk memberitahu kabar bahagia ini.
"Pa, Erina sudah bisa bebas. Mama sekarang lagi on the way menuju kantor polisi buat jemput dia." Suara mama Sofi terdengar bahagia.
"Oh ya? Syukurlah kalau begitu ma. Tapi kenapa bisa dia bebas semudah ini?" Tanya papa Heri di sebrang telfon sana.
"Bukankah papa yang bicara kepada pak Nandi untuk membebaskan Erina?" Tanya mama Sofi sedikit bingung.
"Tidak ma, papa belum sempat bertemu dengan pak Nandi karena mendadak klien papa minta bertemu jadi papa tidak jadi pergi ke rumah pak Nandi tadi pagi." Tutur papa Heri meluruskan kesalah pahaman yang ada.
"Terus kenapa bisa pak Nandi mencabut tuntutannya pada Erina?"
Dan hal itu sukses menjadi tandatanha besar bagi kedua orang tua Erina.
"Ya sudah, nanti biar papa sendiri yang bicara dengan ayahnya Ameera itu. Mama jemput dulu saja Erina. Urusan papa belum selesai disini."
"Iya pa." Sambungan telponpun terputus.
***
Akhirnya Erina bisa sedikit bernafas lega saat dirinya keluar dari rumah tahanan itu. Kendati demikian, tugasnya sama sekali belum usai. Dia harus tetap mencari siapa dalang dibalik pembunuhan Ameera ini.
Segera dia menginformasikan kabar baik ini kepada dua orang yang paling mencemaskan dirinya setelah mama dan papanya. Yaitu Via dan Albi. Mereka pasti akan sangat senang melihat Erina kini telah terbebas.
"Loe serius beb? Ahh, syukurlah ayahnya Ameera mau cabut tuntutannya. Gue bener-bener lega loe udah bebas sekarang. Emm, nanti gue ke rumah loe agak sorean ya beb. Gue lagi bareng doi nih sekarang. Hihi." Begitu kata Via saat Erina menelponnya.
Ya ya ya, Erina paham akan sahabatnya itu yang sedang dimabuk asmara. Selama ini kan dia selalu bergonta ganti pacar, paling lama tidak sampai satu bulan sudah cari gebetan baru lagi. Namun sekarang sepertinya Via serius menjalin hubungan dengan pacarnya yang ini, sudah hampir dua bulan mereka pacaran, belum ada tanda-tanda Via mau memutuskannya, justru mereka terlihat semakin lengket saka. Via sepertinya mulai mencintai doinya itu.
Via memang tak banyak cerita belakangan ini pada Erina sebab permasalahan yang sahabatnya itu sedang hadapi.
Erina ikut merasa senang dan berharap kalau laki-laki itu benar-benar tepat untuk Via.
Lain halnya dengan Albi, siang itu dia cepat-cepat meluncur ke rumah Erina setelah mendapat kabar baik ini.
Kini Erina dan Albi duduk berhadap-hadapan di teras, mereka terlihat bicara dengan serius.
"Tadi pagi gue ke rumah Ameera, gue mau bicara sama ayahnya dan meyakinkan dia kalau bukan loe yang udah bunuh Ameera, biar dia cabut tuntutannya sama loe." Ucap Albi memulai ceritanya.
"Dan ayahnya Ameera benar-bener dengerin apa yang loe bilang Bi." Ucap Erina mengambil kesimpulan dari cerita Albi.
__ADS_1
"Nggak Er, bahkan gue belum ketemu sama ayahnya Ameera. Pas gue datang kesana, dia udah pergi." Tutur Albi yang langsung membuat dahi Erina mengernyit.
***
Papa Heri keluar dari restoran tempat pertemuannya dengan seorang klien dari luar kota. Rapat baru selesai setelah makan siang, banyak yang harus mereka bahas masalah bisnis yang baru saja mereka mulai ini.
Papa Heri membuka pintu mobilnya yang terparkir sejak pagi di parkiran restoran itu saat tiba-tiba saja seseorang tak sengaja menabrak dirinya.
"Maaf maaf, saya tidak sengaja!" Seru orang yang baru saja menabrak papa Heri itu sambil mengatupkan tangannya di dada.
Papa Heri menoleh untuk melihat orang ceroboh mana yang baru saja menabrak dirinya.
Deg!
Kedua pasang mata itu saling bertemu dan sama-sama terkejut saat menyadari siapa orang yang sedang berdiri di hadapan mereka.
"Sari!" Papa Heri memekik tak percaya, sedangkan orang yang di panggilnya Sari itu nampak kelabakan. Dia bersiap untuk kabur, namun sebelum itu terjadi, papa Heri dengan sigap mencengkram tangan orang yang belakangan ini meresahkan keluarganya.
"Lepaskan aku!" Seru Sari sambil berusaha untuk melepaskan diri. Namun sial, cengkraman papa Heri terlalu kuat.
"Beri tahu aku dimana Devi dan anakku berada Sari!" Ucap papa Heri dengan geram dan penuh tekanan. Kali ini dia akan memastikan jika Sari tak bisa lari lagi.
Tanpa diduga, wanita itu malah tertawa mendengar pertanyaan papa Heri. Tawa yang meremehkan.
"Cepat beri tahu aku dimana mereka! Sebelum aku bertindak kasar kepadamu!" Papa Heri aemakin kuat mencengkram tangan Sari, Sari semakin sulit menggerakan tangannya.
"Mereka akan membalaskan dendam kepadamu. Tunggu saja sampai saatnya tiba, mereka yang akan datang menemuimu. Jadi kamu tidak usah repot-repot mencari mereka. Hahaha." Sekali lagi dia tertawa.
"Jadi benar kalian yang selama ini meneror keluargaku? Hah?" Tanya papa Heri geram. Ternyata benar dugaannya selama ini, jika peneror itu ada kaitannya dengan masa lalu.
"Kamu masih bertanya mas Heri? Kamu bisa hidup bahagia bersama pelakor itu, sedangkan kakakku menderita selama bertahun-tahun karena kelakuan bejadmu itu. Ini adalah akhir kebahagiaanmu mas Heri, setelah ini, jangan harap kalian bisa lagi tertawa di atas penderitaan keluarga kami!" Tutur Sari dengan nada tinggi, intonasinya terdengar seperti orang kesurupan, apalagi saat tak berhasil melepaskan diri dari cengkraman papa Heri.
"Tapi itu sudah berlalu lama sekali Sari. Aku belum sempat meminta maaf lagi karena kalian terlanjur menghilang saat aku datang kesana dulu. Tolong beri tahu aku Sari, dimana mereka?! Aku berhak tau dimana darah dagingku sekarang! Aku ingin bertemu dengannya." Papa Heri mendesak, emosinya sudah meluber karena Sari tak kunjung mau memberitahunya.
"Untuk apa kamu ingin bertemu dengannya? Dia sangat membencimu! Dia tidak akan sudi bertemu denganmu!" Bentak Sari.
"Tolong Sari, aku harus bertemu dengan mereka untuk meminta maaf." Nada bicara papa Heri melemah, dia pikir dengan cara kasar tidak mampu membuatnya membuka mulut, siapa tau dengan bicara baik-baik Sari mau mengerti.
"Baiklah, anaknya Devi bersekolah di sekolahan yang sama dengan putrimu. Silahkan cari sampai ketemu!" Ucap Sari akhirnya.
Deg!
__ADS_1
Papa Heri tertegun. Benarkah anaknya itu bersekolah di tempat yang sama dengan Erina? Berarti dia sudah dekat dengan anaknya itu.
"Tapi siapa? Katakan padaku siapa namanya!" Desak papa Heri yang mulai tersulut lagi emosinya.
BUK!
Papa Heri jatuh terjungkal dan membentur mobilnya saat sebuah kaki menghantam tubuhnya. Seseorang ternyata telah menendangnya dari atas motor yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya.
"Ayo cepat!" Suara berat itu berseru, secepat kilat Sari naik keatas motor dan dengan cepat pula motor itu melaju meninggalkan area restoran.
Menyisakan papa Heri yang sedang berusaha untuk bangkit dari jatuhnya.
"Sari! Sari!" Papa Heri berteriak marah saat melihat motor yang ditumpangi Sari sudah melesat secepat angin yang berlalu.
Di atas motornya, Sari menoleh ke arah papa Heri yang berdecak penuh kekesalan. Senyum penuh kemenangan ia pamerkan karena telah berhasil kabur dari papa Heri.
"Untung saja kamu datang tepat waktu." Seru Sari.
***
"Apa? Jadi loe juga belum sempet ketemu sama ayahnya Ameera? Mama bilang, papa juga belum sempet ketemu sama ayahnya Ameera buat minta maaf dan membujuknya buat bebasin gue. Tapi kenapa ayahnya Ameera bisa semudah itu mencabut tuntutannya terhadap gue ya?" Erina nampak berpikir keras.
Albi bergeming, benar juga apa yang di katakan Erina. Tidak mungkin seseorang bisa dengan mudahnya mencabut tuntutan atas kasus pembunuhan. Biasanya keluarga korban akan meminta pelakunya di hukum seberat-beratnya.
"Apa jangan-jangan ada sesuatu yang di tutup tutupi sama keluarganya masalah kematian Ameera ini?" Tutur Albi sambil menerawang sesuatu.
"Tunggu dulu deh Er. Di keluarganya Ameera kan ada ibu tirinya sama Violla yang nggak suka sama Ameera. Apa mungkin mereka yang udah nusuk Ameera sampai meninggal dan mereka menyuruh ayahnya Ameera buat nutup kasus ini biar polisi berhenti menyelidiki kasus ini?" Albi mulai menyampaikan isi di kepalanya. Sontak itu membuat Erina juga berpikiran yang sama.
"Iya. Loe bener, Violla sama mamanya memang benci banget sama Ameera. Kita harus cari tau kebenarannya Bi. Via juga dari awal udah curiga sama mereka." Erina seperti menemukan harapan baru untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan Ameera yang sebenarnya. Dea ia lupakan, sekarang kecurigaannya tertuju kepada Violla dan ibunya.
"Dan loe pernah cerita sama gue sama Via kan, kalau bokap loe pernah nikah sebelum sama mama loe dan mantan istrinya itu lagi hamil barengan sama mama loe. Apa jangan-jangan mamanya Violla itu adalah mantan istrinya bokap loe ya? Dan Violla adalah adik tiri loe yang lagi papa loe cari-cari itu. Dia mau balas dendam dengan cara neror loe. Habis itu Ameera tau rencana busuk mereka dan mereka bunuh Ameera untuk menghilangkan saksi." Albi berkata panjang lebar mengutarakan pemikirannya.
Mendadak dada Erina jadi sesak saat mendengarkan kemungkinan yang Albi katakan, apalagi sikap Violla yang merundung dan seakan-akan dia sangat membenci dirinya. Bisa jadi dia adalah adik tiri Erina.
"Perkataan loe bener-bener masuk akal Bi. Apalagi loe tau sendiri kan gimana si Violla itu selalu menyudutkan gue, dia itu kayak melemparkan semua kesalahannya sama gue." Ucap Erina.
"Kita harus pergi ke rumah Ameera buat membuktikan kalau dugaan kita ini bener atau salah Er!" Seru Albi.
"Iya Bi! Ayo kita kesana!" Erina sudah bersiap dan beranjak, saat tiba-tiba mobil papanya memasuki halaman.
________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...
Jangan sungkan berikan kritik dan sarannya, ditunggu corat-coretnya juga di kolom komentar...