THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Ketahuan


__ADS_3

"Mati gue!" Via menepuk keningnya sendiri saat melihat satpam yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Sedang apa kamu? Kenapa jam segini belum pulang?" Tanya si satpam yang tau-tau sudah ada di hadapan Via sebelum perempuan itu sempat bersembunyi.


Segera Via mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Erina kalau dia kepergok satpam.


"Hey, orang tua sedang bertanya bukannya menjawab malah mainan handphone. Dasar anak tidak sopan!" Gerutu si satpam.


"Ehh, nggak pa. Ini saya mau pulang kok sekarang. Tadi habis dari toilet dulu." Kilah Via sambil cengar-cengir agar satpamnya tidak curiga.


"Ya sudah, kalau urusannya sudah selesai kamu cepat pulang!" Serunya kemudian.


"Iya pa." Jawab Via sambil mengangguk.


Via melihat si satpam kembali melanjutkan langkahnya. Dibuangnya nafas dengan kasar, beruntung si satpam tidak merasa curiga.


"Selamat, selamat." Gumam Via sambil mengelus dada.


Hwachim.


Astaga!


Suara apa itu? Via menggigit bibir bawahnya saat si satpam kembali berbalik badan dan menatap kearahnya dengan tatapan curiga.


"Kamu bersin barusan?" Si satpam menodongkan benda yang ada di tangannya kepada Via.


"Ehh, iya pa. Maaf." Jawab Via gelagapan karena tak siap untuk ditanya.


"Tapi kenapa suaranya seperti suara laki-laki dan berasal dari dalam sini?" Tanya satpam itu sambil mendelik ke ruang penyimpanan data.


"Bapak salah dengar kali." Kilah Via.


"Bapak mau ngapain?" Via terlihat kelabakan saat si satpam mulai mendekati pintu ruang penyimpanan itu.


"Saya mau cek, sepertinya ada yang aneh di dalam sana." Pak satpam terlihat merogoh saku celana dinasnya untuk mencari kunci ruangan itu.


Via semakin deg degan saja menunggu detik demi detik yang berlalu, apalagi saat wajah si satpam menunjukkan reaksi kebingungan.


"Kuncinya kemana ya? Perasaan saya selalu membawanya kemana-mana?" Gumam pak satpam itu.


"Mungkin jatuh kali pak, coba bapak cari dulu di pos atau di sepanjang perjalanan menuju kesini tadi." Via tersenyum penuh kenangan. Jelas si pak satpam tidak akan menemukan kunci itu di saku celananya, orang Devan sudah mencurinya tadi.


"Ya, sepertinya ketinggalan di pos."


Via menghembuskan nafas lega saat si satpam sudah berbalik badan dan hendak berlalu. Namun baru saja si satpam mengayunkan selangkah kakinya....

__ADS_1


"Aaaaaaaaaa."


BUKKKKK!


Astaga!


Suara apa lagi itu? Via sangat hafal jika itu adalah suara teriakan sahabatnya, Erina. Sebenarnya, apa yang sedang mereka kerjakan di dalam sana sampai-sampai mengeluarkan suara-suara bising seperti itu? Seharusnya, tangan mereka yang bekerja bukan mulut mereka. Susah payah Via tadi sudah akan berhasil mengusir si satpam.


"Siapa itu?" Tanya dan bentak si satpam, tanpa memikirkan apapun lagi, si satpam langsung mendorong pintu ruang penyimpanan itu.


Mata si satpam terbelalak kaget saat mendapati ternyata ruangan itu tidak di kunci. Kecurigaannya semakin besar, dia melirik sekilas ke arah Via yang sedang nyengir kuda. Memangnya apa yang bisa Via lakukan selain pasrah setelah dirinya ketahuan dan terciduk sedang menyusup?


"Hehe."


Detik berikutnya si satpam masuk kedalam, dan keterkejutannya semakin berlipat ganda saat melihat pemandangan yang ada di balik pintu. Dua anak manusia sedang saling tindih-menindih di atas lantai, banyak sekali map yang berserakan disana. Ruangan itu jauh dari kata rapi, bahkan bisa di katakan sama dengan kapal pecah. Seorang murid perempuan terlihat susah payah berusaha membetulkan rak yang sepertinya habis jatuh dan menimpa dua murid itu.


"Astaga! Apa-apaan ini?" Tanya si satpam dengan nada tinggi. Emosinya tak tertahankan lagi.


***


"Via WA gue, di luar lagi ada satpam." Ucap Erina sesaat setelah membaca pesan dari Via.


"Kita harus ngumpet dulu, bisa aja kan si satpamnya masuk kesini." Ucap Devan.


"Iya, kita sembunyi di belakang rak itu aja!" Seru Albi. Merekapun bergegas sembunyi di balik rak yang ditunjuk Albi tadi.


Ditengah keheningan yang tercipta, indra pendengaran Erina bisa menangkap perbincangan antara Via dengan orang yang ia duga adalah satpam meskipun agak samar-samar.


Devan merasakan hidungnya gatal saat debu-debu berterbangan ke udara. Pantas saja tadi Erina sampai kelilipan.


Hwachim.


Erina dan Albi sontak membulatkan matanya sambil menatap Devan yang sedang menutupi hidung dan mulutnya. Devan yang mendapat hadiah pelototan itu hanya menunjukan deretan gigi putihnya.


"Loe kalau mau bersin liat situasinya dong. Kita lagi ngumpet ini, gimana kalau kita ketauan!" Albi marahi Devan setengah berbisik, dia menyikut lengan Devan karena kesal.


"Namanya juga reflek, gue nggak tau kalau gue mau bersin." Devan membela diri.


"Kalau kita ketahuan berarti salah loe ya!" Albi menuding ke arah Devan.


"Kita nggak bakal ketahuan kalau loe nggak berisik terus. Orang bersin gue pelan." Devan tak mau kalah sepertinya.


"Pelan dari mananya, bersin loe itu udah kayak di pakein speaker aktif tau nggak!" Sekali lagi Albi menyikut lengah Devan, Devan yang merasa tak terima balik membalas Albi.


"Astaga! Udah jangan ribut, nanti kita bener-bener ketahuan." Erina melerai saat merasakan getaran pada rak yang sedang digunakan mereka untuk sembunyi.

__ADS_1


Albi dan Devan terus saja saling sikut menyikut, sampai Erina melihat pergerakan pada rak yang sepertinya tak sengaja tersikut oleh Devan entah oleh Albi.


Gawat!


Rak itu sepertinya akan roboh.


Reflek Erina berteriak dan menggeser posisinya agar tak tertimpa rak yang ukurannya dua kali lipat dari tinggi badannya itu.


"Aaaaaaa."


BUKKKKKK!


Erina menutup mata dan telinganya saat rak itu benar-benar akan terjungkal. Albi dan Devan yang tidak sempat menghindar, harus merelakan tubuh mereka tertimpa oleh rak kayu tersebut.


"Awwh." Devan dan Albi sama-sama mengaduh kesakitan, namun dengan intonasi suara yang masih bisa terkontrol. Erina membuka sedikit matanya setelah mendengar suara hantaman keras tadi, untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.


Mata Erina membulat saat mendapati map-map yang sudah berserakan di lantai. Dan dimana kedua laki-laki yang sedari tadi kerjaannya bertengkar saja itu?


"Er, bantuin gue! Singkirkan rak nya!" Itu suara Albi, terdengar suaranya tapi tak terlihat wujudnya.


"Cepetan Er, si Albi sana rak nya berat banget!" Suara Devan menimpali.


Astaga!


Erina baru ngeh kalau mereka berdua kini tertimpa rak yang roboh.


"Dev, Bi, kalian baik-baik aja kan?" Tanya Erina setengah berbisik takut ketahuan. Tak sadar jika tadi suara teriakannya sudah seperti speaker korslet dan mereka membuat mereka ketahuan.


"Gue nggak baik-baik aja Er, cepet singkirkan rak nya!" Devan sambil mengerang, seperti menahan kesakitan. Tentu saja, posisi Devan berada paling bawah, dia tertimpa badan Albi dan juga rak penyimpanan data.


"Ehh, iya bentar bentar." Kemudian Erina mendekat, mencoba membangunkan rak yang menimpa badan kedua laki-laki itu. Lumayan berat juga ternyata, Erina sedikit kewalahan.


"Berat banget ini." Ucap Erina.


Saat sedang berusaha untuk menyingkirkan rak itu, tiba-tiba saja pintu ruang penyimpanan terbuka, Erina sudah pasrah jika harus ketahuan. Sepertinya memang belum rezekinya mendapatkan informasi di tempat ini.


"Astaga! Apa-apaan ini?" Erina melihat satpam penjaga sekolah berdiri di ambang pintu, sedangkan Via hanya terlihat kepalanya saja di belakang satpam itu.


"Ehh, hehe." Erina nyengir saat mendapat pertanyaan yang menyentak itu. Rak yang sudah terangkat setengahnya, kembali terlepas dari cengkraman tangannya. Hingga benda berat itu kembali menghantam tubuh yang ada di bawah naungannya.


BUKKKKK!


"Awww." Albi dan Devan kompak mengerang saat Erina melepaskannya dengan pasrah.


_____________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2