
"Gue sama Ameera saling jatuh cinta, kita sepakat buat menjalin hubungan. Tapi ternyata ayahnya Ameera adalah musuh bokap gue, mereka terlibat konflik dalam bisnis. Kitap un memutuskan buat backstreet karena kita takut kalau orang tua kita tau mereka bakalan marah dan melarang kita buat pacaran.
Meskipun kita jarang jalan bareng dan tegur sapa di sekolah, tapi hubungan gue sama dia terus berlanjut sampai kita kelas XII, kita lebih sering pacaran lewat hp. Dan sampai akhirnya Ameera memutuskan buat ngekost, gue jadi berani samperin dia kesana. Pada malam hari tentunya."
"Jangan bilang loe sama Ameera sering berhubungan badan sejak Ameera ngekost!" Potong Erina.
"Nggak, dengerin dulu cerita gue!" Ucap Iqbal galak. Ehh, kenapa jadi Erina yang di marahi? Disini kan Erina yang sedang marah?
"Lalu bokap gue menyodorkan seorang perempuan dan berniat menjodohkan gue sama perempuan itu dengan alasan bisnis. Gue terpaksa tunangan sama dia, Ameera nggak terima, dia marah sama gue dan minta gue ngakuin hubungan kita ke semua orang termasuk orang tua kita. Tapi gue nolak, gue takut di gorok sama bokap gue karena udah berani-beraninya macarin anak musuhnya.
Ameera mutusin gue meskipun gue tau dia masih sangat mencintai gue, begitupun sebaliknya. Gue marah sama dia karena nggak berselang lama Ameera malah jadian sama loe Dev. Gue masih sangat cinta sama Ameera, gue nggak ada rasa sama tunangan gue.
Gue cemburu liat loe sama Ameera tiap hari berangkat dan pulang bareng. Di sekolah juga kalian nempel terus. Harusnya gue yang bersanding sama dia dan gue juga yang di kenal sebagai pacarnya Ameera. Gue pikir Ameera jadian sama loe cuma buat pelarian doang." Dongeng Iqbal.
"Kurang ajar loe! Loe bilang gue cuma pelarian!" Devan beranjak dari duduknya hendak memukul Iqbal karena merasa tak terima dengan perkataan Iqbal. Albi dengan sigap menahannya.
"Tenangin dulu diri loe Dev! Masalahnya nggak akan kelar kalau pake emosi!" Seru Albi bijak.
Ya, Albi memang bijak. Erina.
Devan berusaha menahan amarahnya, dia kembali duduk dengan gelisah mendengarkan dongeng Iqbal selanjutnya.
"Malam itu, gue samperin Ameera ke kostan nya karena gue udah nggak tahan liat kalian pacaran di depan mata gue setiap hari, gue masih sangat mencintai Ameera..."
***
Flash Back sekitar 2 bulan yang lalu...
"Mau apa lagi loe kesini? Loe udah punya tunangan, samperin aja tunangan loe itu sana!" Sentak Ameera kasar.
"Gue nggak cinta sama dia Meer, gue cintanya sama loe. Gue mau balikan lagi sama loe, gue juga tau loe masih cinta sama gue. Gue bisa liat itu dari mata loe." Ucap Iqbal tak tau malu.
__ADS_1
"Kalau loe cinta sama gue kenapa loe tunangan sama dia? Kalau loe cinta sama gue kenapa juga loe nggak bisa perjuangin gue? Loe itu pengecut Bal, loe takut sama bokap gue. Kalau loe cinta harusnya loe perjuangin gue apapun yang terjadi." Dengan berurai air mata Ameera bicara.
"Gue minta maaf Meer, mulai sekarang gue janji, gue bakalan mengakui loe ke semua orang termasuk bokap gue. Gue janji nggak bakal bikin loe sedih lagi Meer."
"Loe bohong Bal, dari dulu loe selalu bilang kayak gitu. Tapi mana buktinya? Nggak ada, gue cuma pacar yang loe sembunyiin. Gue nggak berarti apa-apa buat loe." Kemudian Ameera menangis tergugu, mengingat dirinya hanyalah kekasih yang tak di anggap dan terus diberi harapan palsu oleh Iqbal brengsek itu. Tubuh Ameera melorot dan terduduk lesu di atas ubin.
Iqbal segera menghampiri Ameera dan merengkuh tubuh perempuan itu, membawa ke dalam dekapannya. Namun Ameera yang sedang dikuasai oleh amarah, mendorong kasar tubuh Iqbal hingga laki-laki itu jatuh tersungkur ke belakang.
"Maafin gue Meer, gue benar-benar nyesel. Kasih gue satu kesempatan lagi." Ucap Iqbal bersungguh-sungguh. Ameera menjambak rambutnya sendiri, sudah tak bisa terhitung seberapa banyak air mata yang telah ia buang sia-sia hanya untuk menangisi Iqbal pengecut itu. Tapi kenapa setelah ia disakiti secara bertubi-tubi Ameera masih tetap mencintainya?
"Gue memang cinta sama loe Bal, tapi gue benci sama loe! Loe nggak pernah nganggap gue ada." Tangis Ameera semakin histeris.
Iqbal tak pantang menyerah, apalagi dia tau kalau perempuan itu masih mencintainya, begitupun sebaliknya. Diapun kembali menghampiri Ameera yang masih menangis meraung-raung.
Iqbal terus berusaha menjinakkannya, sekali lagi dia memeluk tubuh Ameera, kali ini tak ada penolakan. Iqbal semakin mengeratkan pelukannya.
"Nggak gitu Meer, gue juga cinta sama loe. Plis maafin gue, kita balikan lagi ya, gue bakalan batalin tunangan gue sama dia. Loe juga harus putusin si Devan. Gue bakalan bilang sama bokap gue juga sama bokap loe tentang hubungan kita. Kalau mereka nggak setuju, gue bakalan bawa loe kabur, dan kita bisa nikah nanti setelah kita lulus sekolah." Ucap Iqbal bersungguh-sungguh
Iqbal mengusap kepala perempuan itu dengan sayang, dia yakin sedikit lagi dirinya bisa menaklukan hati Ameera.
"Gue benci sama loe Bal!" Pukulan Ameera semakin lama semakin melemah, mungkin perempuan itu mulai lelah. Atau pendiriannya yang mulai goyah?
Karena meskipun Ameera membenci Iqbal, namun rasa cinta mengalahkan segalanya. Ameera sangat mencintai laki-laki brengsek itu.
"Nggak Meer, loe nggak benci sama gue, loe cinta sama gue. Kita saling mencintai, nggak akan ada yang bisa pisahin kita lagi, gue janji gue bakalan akuin loe kesemua orang mulai sekarang. Loe harus percaya sama gue kali ini Meer." Perkataan Iqbal terdengar tulus di telinga Ameera.
Perlahan mata Ameera mulai terpejam, terlalu lelah menangis sampai tanpa sadar dia tertidur dalam pelukan Iqbal.
Iqbal mengguncang tubuh Ameera yang berada dalam pelukannya.
"Meer, loe cinta kan sama gue?" Tanya Iqbal sambil menatap lekat wajah cantik Ameera.
__ADS_1
"Gue cinta sama loe Bal." Meskipun matanya terpejam, namun bibirnya bergumam. Entah dia benar-benar tertidur atau tidak.
Perlahan Iqbal mendekatkan wajahnya pada wajah Ameera, merasa tertarik dengan bibir merah muda milik perempuan itu. Apalagi saat bibir itu bergumam dan mengatakan kalau Ameera mencintai dirinya.
Tak ada satu hal pun yang bisa menghalangi cintanya termasuk ayah mereka. Ameera hanya milik Iqbal seorang, akan Iqbal pastikan takan ada seorangpun yang bisa merebut Ameera dirinya termasuk Devan.
Cup!
Iqbal mengecup bibir yang setengah terbuka itu. Tak cukup sampai disana, bibir Iqbal menerobos masuk kedalam mulut Ameera.
Mata Ameera seketika terbuka lebar saat merasakan bibirnya menghangat. Ternyata Iqbal pelakunya. Memangnya siapa lagi?
Baiklah, sebelum ini Ameera juga pernah beberapa kali meraskan hangatnya kecupan dari bibir Iqbal. Jadi ini bukanlah hal yang baru lagi baginya. Ameera mencintai Iqbal, dia rela memberikan apapun yang laki-laki itu inginkan darinya, meskipun laki-laki itu sudah banyak melukai hatinya.
Ameera seakan hanyut kedalam permainan lidah Iqbal di dalam mulutnya, lidah Iqbal menari-nari dan menyapu setiap rongga mulut Ameera. Sentuhan yang selalu Ameera dambakan, Ameera merindukan momen-momen ini bersama Iqbal.
Ameera balik membalas ciuman Iqbal, ******* bibir Iqbal di bibir Ameera terasa begitu lembut dan menggelitik. Saling mencecap, saling bertukar saliva, sampai bibir Iqbal dengan nakalya menggigit leher Ameera.
Eh, sejak kapan Iqbal berpindah pada leher Ameera? Perasaan tadi bibir mereka masih berpautan.
Kenapa Ameera merasakan dirinya sedang tidak berpijak pada bumi sekarang? Iqbal mengajaknya terbang melayang dengan perbuatan tak senonohnya.
Tapi Ameera menyukainya, ada getaran aneh di dalam diri Ameera ketika merasakan desah nafas Iqbal di belakang daun telinganya. Rasanya seperti ada aliran listrik yang menyengat seluruh tubuhnya.
Iqbal mencecap leher Ameera hingga berkali-kali hingga meninggalkan bekas kemerahan disana. Ameera mengelinjang kenikmatan.
Uummmh.
____________________
Gantung ahh, lanjut nanti ya...
__ADS_1