THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Menemukan


__ADS_3

Erina benar-benar tak memberitahu Via maupun Devan jika dirinya akan menyusup malam ini sesuai apa yang Albi perintahkan.


Setelah 30 menit mereka menempuh perjalanan sepi nan gelap, Akhirnya Albi menepikan motornya agak jauh dari rumah Ameera agar tidak terlalu mencolok.


Mereka harus berjalan kurang lebih 10 meter untuk mencapai rumah Ameera.


Bak sepasang perampok yang hendak maling, Albi dan Erina mengendap-endap berjalan dan memantau rumah megah Ameera itu dari depan pagar rumahnya.


"Gimana caranya kita masuk Bi?" Tanya Erina dari balik masker 3 lapisnya.


"Kita manjat pagar ini Er." Jawab Albi sambil menuding pagar yang hanya setinggi badan Erina itu.


"Hah? Oke deh. Gue coba." Erina pun bersiap mengambil ancang-ancang, membuka kedua kakinya lebar-lebar, namun sulit untuk mencapai puncak pagar itu.


"Eh, hati-hati Er!" Albi terkesiap saat melihat Erina kesulitan memanjat pagar itu, diapun berinisiatif memangku Erina hingga kaki perempuan itu berhasil mencapai puncak pagar. Setelahnya jadi sedikit lebih mudah. Erina Erina melompat dari atas pagar itu hingga masuk ke halaman rumah Ameera.


"Cepetan loe naik Bi!" Seru Erina pada Albi yang masih berada di luar pagar.


"Oke." Albi mulai memanjat, berbeda dengan Erina tadi, gerakan laki-laki itu terlihat lincah saat menaiki pagar lalu melompat dan mendarat tepat di depan Erina. Semudah itu Albi menerjang pagar. Oke, dia kan laki-laki.


"Kamar Ameera yang mana?" Tanya Albi.


"Itu tuh!" Erina menunjuk bagian samping kanan rumah itu yang berada di lantai dua.


"Oke, sepertinya nggak terlalu sulit." Ucap Albi saat mengira-ngira jika tingginya kamar itu sekitar 3 meteran, ada sebuah balkon yang menonjol ke teras bawah.


Pucuk dicinta ulam tiba, Albi melihat ada tangga lipat di halaman samping rumah itu.


Singkat cerita merekapun berhasil naik ke balkon kamar Ameera berkat bantuan tangga lipat tersebut. Erina menatap ke bawah, memastikan kalau keadaannya aman. Dia sendiri tak menyangka jika dirinya bisa senekat ini mau menyelinap masuk ke rumah orang di tengah malam seperti ini. Semua ini tak pernah ada dalam rencana hidup Erina sebelumnya.


Netra Erina beralih pada Albi, terlihat Albi tengah mencongkel jendela kamar Ameera, cepat-cepat Erina menghampirinya.


"Bi, loe niat banget ya nyusup? Pake bawa-bawa linggis kecil segala lagi!" Ucap Erina.


"Ya kan emang udah rencana mau nyusup ke sini, ya harus bawa alat buat bobol jendelanya lah biar kita bisa masuk." Jawab Albi yang masih berjibaku dengan linggisnya.


"Loe berbakat jadi penyelinap Bi." Kekeh Erina.


"Tapi gue susah buat menyelinap masuk ke dalam hati loe Er." Albi ikut terkekeh. Sontak Erina memukul bahu Albi cukup kencang.

__ADS_1


Di gombali terus perasaan. Erina kan jadi suka.


Eh!


"Nah, udah kebuka. Ayo masuk!" Ucap Albi saat dia menarik jendelanya keluar.


"Wah, iya bener. Ayo!"


Albi masuk terlebih dulu, kemudian di susul Erina. Mata keduanya menyapu setiap sudut ruangan yang kira-kita berukuran 5 x 4 meter itu. Tidak terlalu banyak barang, yang paling menonjol keberadaannya hanya kasur, lemari pakaian 3 pintu dan meja belajar.


Wajar sih, Ameera kan ngekost, pastilah kamar ini jarang sekali digunakan oleh pemiliknya. Dan semua barang Ameera di bawa ke kostan nya.


"Bongkar barang-barangnya Ameera dulu Er, kita harus cari tau kira-kira Ameera hamil sama siapa." Ucap Albi setengah berbisik sambil menunjuk pada lemari pakaian Ameera.


"Oh, oke." Erina kemudian berjalan mendekati lemari, membukanya perlahan.


Namun apa yang Erina dapatkan? Erina tak menemukan apapun di dalam lemari itu. Lemarinya kosong melompong.


"Kosong Bi!" Lapor Erina.


Albi mendekat dan melihat, ternyata benar kosong.


Albi menggaruk-garuk tengkuknya sambil matanya terus jelalatan kesana kemari. Dan netranya tak sengaja menangkap kardus-kardus yang bersembunyi di bawah kolong kasur.


"Er, itu apaan?" Tanya Albi sambil menunjuk kolong kasur.


"Mana?" Erina mengikuti arah telunjuk Erina.


"Itu."


Erina mendekat ke arah kasur, berjongkok dan mengambil salah satu kardus itu.


"Berat Bi!" Pekik Erina saat tak berhasil menariknya keluar. Albi segera menghampirinya dan membantu kegiatan Erina.


Kardus dengan ukuran cukup besar itupun berhasil mereka tarik.


"Buka Bi!" Seru Erina lagi, Albi mengeluarkan cutter dalam saku sweeter nya, lalu menyayat kardus itu dengan mudahnya. Sepertinya Albi sudah mempersiapkan benda-benda tajamnya untuk malam ini.


Perlahan Erina membuka kardus itu dan mendapati baju-baju Ameera di dalamnya.

__ADS_1


"Ini baju Ameera Bi, mungkin barang-barang dari kostan nya Ameera di bawa kesini." Ucap Erina.


"Berarti barang-barang Ameera yang lainnya juga ada di kardus-kardus itu." Balas Albi sambil menunjuk lagi pada kolong kasur.


Albi opn mengeluarkannya satu persatu, Erina membuka kardus yang berhasil di keluarkan Albi menggunakan cutter tadi.


Sekitar ada 6 dus ternyata, Albi berhasil mengeluarkan semuanya dan sudah tak ada lagi yang tertinggal disana.


3 dus berisikan baju-baju Ameera, satu dus berisikan buku-buku, satu isinya sepatu dan satunya lagi tas juga ada bingkai foto. Erina menjajarkan semua kardus menjadi satu barisan.


"Ameera di foto sama siapa nih?" Erina mengambil foto berbingkai di dus terakhir yang ia buka.


"Siapa Er?" Albi mendekat pada Erina, ikut melihat foto yang di maksud perempuan itu.


Kemudian dahi keduanya sama-sama mengerut saat melihat wajah laki-laki yang bersama Ameera di dalam foto itu di corat coret oleh spidol hitam. Di dalam foto tersebut Ameera dan laki-laki itu memakai seragam putih abu-abu.


"Ini cowok siapa sih? Kenapa Ameera coret coret gini mukanya?" Tanya Albi penasaran. Sedangkan Erina masih terus menatap foto itu karena merasa ada yang janggal.


"...apa mungkin si Devan ya?" Sambung Albi.


"Nggak nggak, foto ini di ambil tanggal 15 september 2015. Berarti waktu kita masih kelas X, sedangkan setau gue Ameera deket sama Devan itu pas kita kelas XII awal semester dua." Tutur Erina saat melihat tanggal yang tertera di pojok bagian bawah foto itu. Albi mangut-mangut mendengar penjelasan Erina


"Terus waktu itu Ameera lagi pacaran sama siapa?" Tanya Albi.


"Gue nggak tau, setau gue Ameera nggak pernah pacaran." Jawab Erina.


"Kok loe nggak tau sih? Loe kan sahabatnya dari SMP." Ucap Albi.


"Ya emang Ameera nggak pernah pacaran setau gue Bi." Erina kembali harus mengulang perkataannya.


"Tapi kalau diliat-liat kayaknya cowok ini sekolah di Bina muda juga deh, dia pake bet lambang sekolah kita." Albi menunjuk pada seragam bagian lengan laki-laki yang bersanding dengan Ameera itu.


"Kalau dari postur badannya kok kayaknya nggak asing ya Bi?" Ucap Erina.


"Iya loe bener Er. Bongkar lagi itu barang-barangnya, siapa tau dapet petunjuk lebih lanjut."


_____________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...

__ADS_1


__ADS_2