
Flash back Via
Semuanya masih baik-baik saja sebelum akhirnya datang kejadian itu.
Siang itu, Via yang baru saja pulang mengantarkan Erina dan Ameera ke rumah masing-masing melihat ada motor suami tante Sari terparkir di halaman rumahnya.
Adik dari ibunya itu jarang sekali berkunjung kemari mengingat dirinya yang menetap di Jakarta ikut serta dengan sang suami.
Hubungan antara Via dan juga Sari sangatlah dekat, Sari telah menganggap Via sebagai putrinya sendiri mengingat sampai usia pernikahannya dengan sang suami menginjak tahun ke 15 tahun, mereka masih belum di karuniai keturunan.
Via segera masuk ke rumah untuk menemui tantenya itu. Namun langkah Via terhenti saat mendengar neneknya sedang bicara serius dengan Sari dan juga suaminya di ruang tamu.
Via tak jadi masuk, dia memilih mendengarkan secara diam-diam, kira-kira mereka sedang membicarakan apa?
"Aku tidak salah lihat Bu, dia memang Heri, ayah kandungnya Via. Dia bahkan mengejarku tadi. Untung saja aku berhasil lolos dan mas Bayu sempat menyerempetnya juga." Tutut Sari.
Apa? Ayah kandung Via? Bukankah kata nenek ayah Via sudah meninggal waktu dirinya masih bayi? Via tak bisa menahan diri untuk tak menanyakannya secara langsung.
"Tante bilang apa? Ayah kandung Via? Siapa ayah kandung Via tante?" Tanya Via yang masih berdiri di ambang pintu.
Nenek, Sari dan om Bayu menoleh ke arahnya. Semua saling berpandangan. Melihat itu Via semakin penasaran.
"Jawab dong tante? Jadi selama ini ayah Via masih hidup?" Sekali lagi Via bertanya.
"Duduklah dulu Vi. Tenangkan dirimu!" Nenek menepuk kursi di sampingnya. Via menurut.
Via melihat ketiganya secara bergantian, meminta penjelasan.
"Nenek tak memberitahumu yang sebenarnya karena nenek takut kalau Heri akan mengambilmu dari nenek. Nenek tak punya siapa-siapa lagi, kamu cucu nenek satu-satunya. Nenek sudah kehilangan ibumu, nenek tak ingin kehilangan kamu juga." Tutur Nenek yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Heri?" Via merasa tak asing saat mendengar nama itu.
"Iya, ayahmu bernama Heri. Tante tadi bertemu dengannya di restoran." Ucap Sari.
"...dia selingkuh dengan perempuan bernama Sofi, dan ternyata selingkuhannya itu juga sedang hamil. Heri lebih memilih bersama selingkuhannya dan meninggalkan Devi yang sedang hamil kamu." Lanjutnya.
"Apa? Sofi?" Dada Via bergemuruh saat sadar kalau nama Heri dan Sofi adalah nama kedua orang tua Erina, sahabatnya sendiri. Tidak mungkin kan Heri dan Sofi yang Sari maksud adalah mereka?
"Tunggu tante." Via lantas membuka ponselnya, membuka sosial media milik Erina yang banyak mengunggah fotonya bersama keluarga.
"Apa mereka adalah Heri dan Sofi yang tante maksud?" Tanya Via sambil memperlihatkan layar ponselnya. Sari melihatnya dengan teliti.
"Iya, ini Heri dengan pelakor itu. Kamu mengenal mereka?" Sari terlihat terkejut.
"Mereka orang tuanya Erina, sahabat Via."
"Kurang ajar sekali mereka, mereka hidup dengan bahagia sedangkan kamu banyak menderita selama ini, Devi mengalami gangguan jiwa setelah ditinggalkan Heri, beruntung dia bisa melahirkanmu dengan selamat." Tangan Sari mengepal.
Devi meregang nyawa setelah menelan obat nyamuk cair, Via yang saat itu baru berumur 8 tahun melihat bagaimana ibunya sekarat dan meregang nyawa di depan mata kepalanya sendiri dengan mulut berbusa.
Jiwa Via sempat terguncang hebat, dia mengalami trauma sehingga harus mendapatkan perawatan khusus. Selang beberapa tahun Via dinyatakan sembuh dari traumanya dan kembali menjalani hidup sebagaimana semestinya. Hanya nenek yang dia miliki sebagai tumpuan hidupnya.
Namun setelah sebab kemtian Devi kembali di ungkit, trauma itu kembali pada dirinya. Via tak terima, masih dia ingat dengan jelas bagaimana teman-teman semasa kecilnya mengolok-olok dirinya karena memiliki seorang ibu yang gila.
Via marah, ternyata penyebab kehancuran hidupnya bersumber dari keluarga Erina. Via tak terima, mereka menjalani hidup mereka dengan bahagia tanpa kekurangan apapun. Sedangkan dirinya dan sang ibu harus menderita selama bertahun-tahun.
__ADS_1
"Ini nggak adil. Via harus kasih si Heri sama si Sofi itu pelajaran!" Via beranjak, namun Sari menahannya.
"Sabar Via, kamu jangan gegabah. Tante tau kamu pasti marah, tapi kita harus main cantik untuk membalaskan dendam atas kematian Devi. Tante janji tante akan membantu kamu membalaskan dendam ini."
Sari benar-benar menepati janjinya, dia membantu Via dalam memuluskan rencana meneror keluarga Erina. Bayu, sang suamipun turut andil. Suami Sari itu juga sengaja menyerempet mama Sofi yang pulang dari pasar.
Sari menculik adiknya Erina dan membawanya pergi, setelah itu Sari meninggalkan Baim begitu saja tanpa ingin tau bagaimana nasib bocah itu selanjutnya.
Sari juga diam-diam masuk ke kamar Erina dan menakut-nakutinya dengan menyamar sebagai hantu. Rencananya berhasil, Erina sampai ketakutan saat itu.
Via sengaja menaruh bangkai tikus di bangku Erina saat pulang sekolah sehingga keesokan harinya seisi kelas gempar dengan temuan mengerikan itu.
***
Malam itu, Ameera tak tau harus mengadukan masalah yang sedang dia hadapi kepada siapa. Dia tak mungkin memberitahu ayahnya perihal kehamilannya. Lalu Erina, Ameera sudah tak punya muka untuk bertemu dengannya lagi.
Apalagi tadi siang Ameera sudah memarahinya habis-habisan. Harapan Ameera hanya tinggal Via, Ameera akan mengadu kepada Via saja. Mungkin sahabatnya itu memiliki solusi yang baik untuk permasalahan dirinya, Ameera sudah tak kuat menanggung beban ini sendirian.
Ameera memgunjungi rumah Via malam itu, dengan harapan besar Via bisa membantunya keluar dari masalah ini.
Namun, apa yang Ameera dapatkan? Dia mendengar semua percakapan Via dengan seorang perempuan paruh baya tentang rencana mereka yang akan kembali meneror Erina.
Ameera terpaku di tempatnya, dia tak memyangka jika ternyata Vialah yang telah meneror Erina selama ini. Lalu siapa perempuan itu?
"Vi, gue nggak nyangka loe setega itu sama Erina. Ternyata loe itu musuh dalam selimut!" Ameera menimbrung percakapan Via dengan Sari.
Keponakan dan bibi itu terkejut setengah mati saat mendapati Ameera kini berdiri di ambang pintu dengan wajah menantang.
"Gue bakalan laporin ini semua ke Erina!" Ameera mengancam.
"Meer?! Kalau loe berani buka mulut, gue pastiin loe nggak bakalan berumur panjang!"
"Cepat kejar dia Via! Jangan sampai dia buka mulut! Kalau perlu habisi dia!"
Via segera menyusul Ameera sebelum sahabatnya itu keburu jauh.
Ameera berlari menjauh dari rumah terkutuk Via itu, sial jalanan sepi malam itu, tak ada kendaraan umum yang melintas. Ojek yang tadi membawanya ke rumah Via sepertinya sudah pergi.
Ameera berpikir untuk segera menelpon Erina dan memberitahu kalau Vialah orang selama ini meneror dirinya. Namun dia tak menemukan keberadaan ponsel di saku celana maupun tasnya. Ponselnya ketinggalan di kostan.
Double sialan!
"Meera! BERHENTI!"
Ameera menoleh kebelakang namun tak sedikitpun mengurangi laju larinya. Terlihat Via yang juga sedang berlari ke arahnya.
Via yang sekarang terlihat sangat menakutkan, Ameera tak mengenali Via yang ini, perempuan itu ketakutan saat Via menatapnya penuh dengan ancaman.
Ameera terus berlari sehingga tak terasa kostannya sudah berada di depan mata. Suasana kostan juga sangat sepi, tak ada satu orangpun yang bisa Ameera mintai tolong. Kemana perginya orang-orang yang biasanya nongkrong di depan kost ini?
Ameera memasukan kunci pada lubang pintu dengan tangan gemetar, sesekali menoleh ke belakang, Via belum terlihat.
Syukurlah pintu segera terbuka. Sekali lagi Ameera menoleh, terlihat Via yang tengah berlari menuju ke arahnya. Cepat-cepat Ameera masuk dan tak lupa mengunci pintu.
Benda pertama yang Ameera cari adalah ponsel miliknya, dia harus meminta bantuan dan memberi tahu Erina perihal Via yang ternyata adalah musuh dalam selimut. Ameera frustasi mencari keberadaan ponselnya di kasur, sedangkan Via terus saja menggedor pintu kostnya sambil melontarkan kata-kata ancaman akan menghabisi Ameera kalau sampai Ameera membocorkan rahasianya.
__ADS_1
Tangannya gemetar memegangi ponsel, dia segera menghubungi Erina. Namun panggilannya terputus begitu saja, Erina tak mengangkat telponnya. Ameera tak menyerah, dia kembali menghubungi Erina dan kali ini berhasil tersambung.
"Ya, halo Meer?"
"Er, Er, plis bantu gue Er!" Suara Ameera terdengar gemetar dan ketakutan.
"Bantu apa Meer? Loe kenapa?" Tanya Erina panik.
"Gue... Gue udah tau siapa orang yang selama ini neror loe Er. Dan sekarang gue lagi di buntuti sama orang itu. Gue takut Er, dia ngancam bakalan bunuh gue kalau gue sampai bocorin ini semua sama orang lain. Plis loe datang kesini sekarang juga, bantuin gue Er!" Dalam satu kali tarikan nafas Ameera bicara tanpa jeda, intonasinya terdengar pelan, setengah berbisik.
"Serius loe Meer? Loe lagi dimana? Gue cabut kesana sekarang juga." Ucap Erina menggebu-gebu.
"Gue di kostan Er, loe cepetan kesini ya. Gue takut banget." Intonasinya semakin melemah.
"Kasih tau gue sekarang Meer, siapa orangnya? Siapa orang yang udah neror gue selama ini?"
"Dia... Dia adal..." Belum sempat Ameera menyelesaikan kalimatnya, pintu kost sudah terjelabak terbuka.
BUKK!!
Ameera melihat Via berlari ke arahnya.
"Aaaaaaaaa."
Cepat-cepat Via mematikan sambungan telpon yang dilakukan Ameera.
"Diem loe!" Via membekap mulut Ameera, berjalan menuju pintu dan menutupnya kembali. Tubuh Ameera terseret, keringat dingin membanjiri tubuh Ameera sekarang. Dia sangat ketakutan. Dia berusaha untuk melepaskan diri namun sia-sia, tenaga Via yang memegangi dirinya sudah seperti monster.
Via melepaskan bekapannya saat dirasa Ameera ingin mengatakan sesuatu. Baiklah, mungkin itu permintaan terakhirnya.
"Tolong lepasin gue Vi! Gue janji gue nggak bakalan kasih tau Erina tentang ini semua. Plis Vi!"
"Terlambat, loe udah denger semuanya. Gue nggak mau ambil resiko sekecil apapun. Loe melakukam kesalahan besar karena tau semua rahasia gue. Loe harus lenyap Meer!"
"Nggak Vi. Plis, gue masih pengen hidup."
Via mengambil pisau di atas meja makan kecil yang ada di kamar kost Ameera itu, tangannya dibungkus menggunakan sarung tangan plastik.
"Plis Via lepasin gue!" Ameera menangis saat tangan Via berhasil meraih pisau.
Apa iya ini akhir dari hidupnya?
Jleb!
***
Via merasa senang saat Erina masuk kedalam penjara, dia merasa puas membayangkan kakak tirinya itu akan membusuk di sana. Namun Via sepertinya haris bekerja lebih keras lagi untuk menyingkirkan Erina saat ayahnya Ameera mencabut tuntutan dan membiarkan Erina bebas begitu saja.
Apalagi saat Erina bersikeras untuk mengungkap kasus pembunuhan Ameera.
Via tau rencana Erina dan kawan-kawan yang akan menjebak Sari di restoran, melarang sang tante untuk pergi ke sana hari itu. Karena memang hampir setiap hari Sari membeli makanan siap saji disana. Sehingga rencana mereka sama sekali tak membuahkan hasil.
Via juga sengaja memelankan laju motornya saat om Bayu menendang motornya di jalanan. Lalu saat di alun-alun, Erina pamitan untuk membeli kacang rebus. Disaat itu Via mengabari pada om Bayu jika inilah saat yang tepat untuk menabrak Erina.
Tapi Devan datang seperti pahlawan kemalaman, dia menyelamatkan Erina. Rencana Via gagal lagi. Namun Via masih memiliki seribu satu cara untuk mencelakai Erina nantinya.
__ADS_1
__________________________
Lanjut nanti yaa,, tetap tinggalkan jejak setelah membaca...