THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Dalam bui 2


__ADS_3

Mama Sofi menangis sesegukan saat tak berhasil membawa Erina pulang dari sel tahanan. Hati ibu mana yang tak akan sedih saat harus melihat putri yang ia besarkan sedari kecil harus mendekam di penjara?


Papa Heri senantiasa menenangkannya, ia berjanji akan segera membebaskan Erina bagaimanapun juga caranya. Telah ada beberapa rencana yang akan ia lakukan setelah ini. Termasuk menemui ayahnya Ameera.


Sedangkan Erina, malam ini dirinya tidur beralaskan tikar di dalam bui.


Jika beberapa waktu lalu sel tahanan adalah momok yang sangat menakutkan baginya, maka sekarang itu adalah kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat.


Erina meringkuk sambil memeluk kakinya, tak ada kain selimut yang bisa menghangatkan tubuhnya dari dinginnya lantai bui itu. Matanya tak dapat terpejam meskipun ini telah lewat tengah malam.


Loe bener-bener tega sama gue Meer, kenapa loe pergi dengan cara gini. Dan gue yang harus menanggung semua kesalah pahamannya.


Siapa sebenernya orang yang udah perkosa dan bunuh loe? Kasih gue petunjuk Meer, gue nggak mau ada di sini. Ini bukan tempat gue!


Mungkin disana loe udah nggak ngerasain sakit lagi, masalah loe ikut hilang seiring dengan nyawa loe yang melayang. Tapi disini gue, gue yang jadi korban. Bahkan mungkin kesakitan gue ini akan terus berlanjut sampai seumur hidup.


Lalu teringat akan ujian nasional yang akan di laksanakan dua hari lagi. Ternyata benar apa yang di katakan pak kepala sekolah, saat ujian tiba, Erina sudah ada di balik penjara.


Tapi, akankah dirinya bisa tetap mengikuti ujian meski ada di sel tahanan? Dirinya benar-benar telah mengecewakan keluarganya, padahal Erina tau sendiri jika kedua orang tuanya sangat membanggakan dirinya. Erina sebagai anak sulung menjadi harapan terbesar bagi mereka. Namun kini Erina telah mematahkan harapan itu.


BRAK!


Erina terlonjak kaget saat jeruji besi di tutup kembali secara paksa setelah dua orang dimasukan kedalamnya.


Erina hanya menoleh sekilas, setelahnya ia kembali buang muka. Merasa tak perduli dengan apa yang terjadi. Kabut kesedihan masih menyelimuti hatinya.


Dua tahanan senior yang entah baru saja kembali dari mana itu menatap Erina dengan tak suka, tempat mereka kini di kuasai oleh penjahat baru.


"Kasus pembunuhan katanya." Ucap si tahanan dua pada tahanan satu.


"Enak banget dia tidur disini sedangkan kita baru aja selesai beresin gudang dari tadi siang!" Seru tahanan satu.


"Ayo, kita beri pelajaran!"


Erina yang mendengar kedua orang itu berbisik-bisik kembali menoleh karena merasa terusik. Terlihat wajah-wajah masam itu mendekati dirinya. Erina mengernyit, jika didalam sinetron-sinetron yang sering di tonton oleh ibunya, Erina bisa jadi akan di rundung oleh mereka. Tapi ini bukan sinetron, Erina tak akan bisa dengan mudah mereka tindas. Erina tak selemah protagonis dalam sinetron-sinetron itu.


"Heh! Bangun kamu, ini tikar kami!" Tahanan satu menendang kaki Erina yang meringkuk. Segera Erina bangkit dari tidurnya dan menatap mereka tidak suka.


Lalu tikar di tarik paksa oleh pemilik aslinya, menyisakan Erina yangs terduduk di ubin.


"Dengar ya, ini adalah kawasan kami. Kami yang berkuasa. Kamu anak baru, harus menurut apa yang penghuni senior disini katakan. Paham!" Seru tahanan dua sambil menuding ke arah Erina. Erina tak menjawab, gertakan seperti itu masih terbilang wajar, yang kurang ajar itu jika main fisik.


Dan, apa yang mereka katakan tadi? Menjadi senior di tempat seperti ini bukanlah suatu kebanggaan, yang ada semakin lama disini, semakin buruk reputasi seseorang. Tapi gelar senior seperti jadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.

__ADS_1


"Ini, kamu tidur pakai ini!" Tahanan satu memungut koran yang ada di sudut ruangan berukuran 3 x 3 meter itu kemudian melemparkannya tepat di wajah Erina.


Astaga!


Erina bahkan reflek memejamkan mata supaya koran itu tak mengenai bola matanya. Segera Erina pungut dan menggelarkannya di lantai lalu mendudukinya, rasa dingin masih bisa Erina rasakan karena alas koran yang sangat tipis.


Kedua tahanan senior juga sudah menduduki tikar yang tadi Erina gunakan.


"Hah, dasar pembunuh. Lebih mendingan kita ya cuma tukang tipu, kamu tau hukuman apa yang akan di berikan kepada pembunuh seperti kamu ini?" Ucap si tahanan dua tiba-tiba.


Erina hanya menoleh, tak berminat untuk sekedar menjawab.


"Kamu akan di jatuhkan hukuman mati, setelah 15 tahun penjara maka kamu akan di eksekusi mati di pulau terpencil. Hiiii, mengerikan sekali."


"Hiii." Mereka kompak bergidig ngeri.


Erina membulatkan matanya mendengar penuturan mereka. Benarkah apa yang mereka katakan? Dia akan di eksekusi mati? Tidak tidak! Ini semua tidak benar, ayahnya pasti akan segera membebaskan dirinya dari tempat terkutuk ini. Dan Erina yakin jika Albi dan Via pasti akan menemukan pelaku yang sebenarnya.


Iya, begitu keyakinan Erina yang ia pegang dengan teguh. Bukankah mereka sendiri yang bilang jika mereka adalah tukang tipu? Ada banyak orang-orang yang perduli kepada dirinya, mereka tidak akan diam saja dan membiarkan Erina menanggung ini semua sendirian.


***


Sabtu pagi yang cerah.


"Kenapa seperti itu pa? Apa bapak yakin dengan keputusan ini?" Tanya polisi sedikit tak percaya.


"Sangat yakin pak. Jika di pikir-pikir, ada yang janggal dengan kasus pembunuhan putri saya ini. Namun terlepas dari itu semua, saya tidak ingin anak itu hancur. Dan kami sudah memutuskan untuk berdamai dengan keadaan. Saya mencoba mengikhlaskan putri saya agar dia juga merasa tenang beristirahat di sana." Jawab pak Nandi dengan keyakinannya.


"...dan saya mohon, tolong tutup saja kasus ini. Saya tidak ingin orang-orang tau jika putri saya ternyata sedang hamil saat meninggal." Tuturnya kemudian.


Polisi nampak menghela nafas kasar.


"Baiklah jika itu telah menjadi keputusan bapak. Kami akan segera memprosesnya."


***


BRAK! BRAK! BRAK!


Petugas menggedor jeruji besi dengan gembok yang menggantung saat melihat semua penghuni sel itu masih terlelap dalam tidurnya.


Wajar saja di pagi menjelang itu mereka masih sibuk bergulat di alam mimpi, semalam mereka baru bisa tertidur menjelang subuh.


"Bangun bangun bangun!" Serunya galak.

__ADS_1


Erina mengucek matanya yang terasa berat, badannya terasa sakit semua. Dia mengedarkan pandangannya saat berhasil membuka mata. Ini bukan kamarnya. Erina pikir jika semalam dia hanya sedang bermimpi masuk dalam penjara. Tapi ternyata setelah bangun, itu semua memang nyata terjadi.


Erina menyugar rambutnya yang berantakan. Pantas saja tubuhnya terasa sakit semua, dia hanya tidur beralaskan koran tipis.


Kedua tahanan itu menggeliat bersamaan saat suara bising petugas menembus gendang telinga mereka. Setelah mengumpulkan nyawa yang berterbangan saat tidur, mereka kemudian duduk menghadap sang petugas.


Entah kapan petugas itu membuka gembok sel sehingga sekarang pintunya sudah terbuka.


"Saudari Erina, anda bebas!" Serunya yang sontak membuat Erina terlonjak keheranan.


"A... Apa?" Tanya Erina tak percaya, dia masih tertegun di tempatnya. Pun dengan kedua tahanan lainnya, mereka saling melempar tatapan tak terima. Mereka adalah senior disana, seharusnya mereka yang terlebih dulu keluar. Bukannya anak kemarin sore itu, baru saja semalam dia menginap disini.


"Jika tidak mau ya sudah tidak apa-apa!" Seru sang petugas yang melihat Erina hanya bengong saja sambil menatapnya.


"Nggak nggak, saya mau bebas." Erina secepat kilat beranjak, lalu menghampiri petugas itu.


"Benar saya bebas sekarang?" Tanya Erina memastikan sekali lagi kalau dirinya tidak sedang salah dengar.


"Iya, kamu bebas sekarang!" Jawab petugas masih dengan wajah galaknya. Memang seperti itu seharusnya seorang petugas, harus terlihat tegas agar para tahanan merasa takut dan segan.


Sebuah senyuman mengembang di bibir Erina saat itu juga, dia meraih tangan petugas itu dan menghadiahinya ciuman bertubi-tubi sebagai ucapan terimakasih.


"Terimakasih bu, terimakasih banyak." Erina tak berhenti mencium punggung petugas itu.


"Sudah, sudah! Tidak usah berlebihan." Petugas menarik paksa tangannya yang di ciumi Erina.


"Pasti Albi sana Via udah menemukan bukti kalau saya tidak bersalah kan. Dan pelaku sebenarnya sudah tertangkap kan Bu?" Tanya Erina.


"Tidak, kamu hanya sedang beruntung karena keluarga korban menarik tuntutannya." Jawab Petugas. Erina mengernyit, benarkah ayahnya Ameera mencabut tuntutannya? Ya sudah lah, yang terpenting sekarang Erina bisa bebas.


"Terus, kita kapan keluarnya bu?"


"Iya, kita lebih lama disini ketimbang dia."


"Seharusnya kita yang lebih dulu keluar."


Mereka berdemo pada petugas yang langsung mendapat sentakan dari petugas itu.


"Sudah diam! Tunggu 3 tahun lagi baru kalian bisa bebas!"


__________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....

__ADS_1


Nggak lama kan si Er di penjaranya... Pelakunya bakalan terungkap masih lama yaa, yang masih sabar nunggu silahkan coret-coretnya di kolom komentar...


__ADS_2