
"Ini nggak mungkin, ini nggak mungkin." Via terlihat mondar mandir dengan gelisah, dia tak bisa diam dengan tenang mengingat Erina yang ternyata masih hidup.
Penampilannya sangat berantakan sekarang, selama berada di sana, Via tak merawat dirinya dengan benar, sepanjang hari yang dia pikirkan hanya bagaimana caranya agar Erina bisa mati. Rambutnya terlihat gimbal akibat keseringan menggaruk kulit kepala, mandi? Jangan ditanya, Via malas hanya untuk sekedar menyentuh air. Tubuhnya terlihat lebih kurus sejak saat dirinya menginjakkan kaki di rutan itu. Makan? Via sama sekali tidak berselera.
Dua orang tahanan lain yang melihat kelakuan Via bergidig ngeri. Hampir setiap hari mereka mendengar Via yang tanpa sebab tertawa sendiri, lalu kemudian menangis, dan memaki entah pada siapa.
"Gila kali itu orang." Bisik salah satu tahanan pada temannya. Temannya mengangguk setuju. Mereka merasa resah dengan adanya Via di sana, padahal sebelum kedatangan Via, sel itu terasa tentram dan damai.
Lalu, malam harinya.
Dua penghuni tahanan yang bernama Lina dan Heni tertidur dengan nyenyaknya, sedangkan Via masih terlihat bergumam tak jelas sendiri di pojokan. Lalu suara dengkuran Heni menarik perhatiannya. Via menoleh. Saat melihatnya, entah kenapa wajah orang itu terlihat mirip wajah Erina dimata Via.
Senyum evil muncul di bibir Via, perlahan dia mendekat. Ini saatnya untuk balas dendam. Via mencekik leher Heni yang dia sangka sebagai Erina itu.
"Ahhh!" Heni seketika terbangun saat merasakan sesak. Dia memukul tangan Via agar terlepas, namun Via yang dirinya sedang di kuasai amarah tak mudah melepaskan tangannya begitu saja.
"Kali ini loe nggak bakalan selamat Er! Loe harus mati di tangan gue!" Matanya merah menyala seperti elang yang hendak memburu mangsa.
"T... Tolong!" Heni menepuk bahu Lina yang tidur tepat di sampingnya untuk meminta bantuan.
"Astaga! Berhenti! Dasar orang gila!"
Beruntung temannya itu langsung terbangun, dia berusaha untuk melepaskan tangan Via yang mencekik Heni.
Tak berhasil dengan cara itu, dia lantas memanggil petugas untuk menghentikan perbuatan Via yang bisa saja menghabisi nyawa Heni karena kesulitan bernafas.
Dua orang petugas datang dan membantu melepaskan mereka.
"Tahanan ini selalu membuat onar." Ucap petugas setelah Via berhasil di amankan.
"Iya, kami merasa terganggu dengan dia disini. Sangat meresahkan. Orang ini sepertinya sudah tidak waras." Balas Lina. Sedangkan Heni terlihat berusaha untuk mengatur saluran pernafasannya yang tersendat. Seorang petugas segera memberinya minum.
Via sama sekali tak merasa bersalah, dia justru menatap Heni dengan penuh kebencian, masih menganggap jika dia adalah Erina.
***
Waktupun bergulir, semua masih berjalan sebagaimana semestinya. Bumi tak berhenti berputar meskipun Erina kehilangan dua sahabatnya, ia masih tetap berputar pada porosnya. Matahari masih terbit dari ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Air masih mengalir dari hulu ke hilir. Bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, memikat kumbang yang lalu. Awan masih menghantarkan hujan untuk tanah. Bumi masih memiliki gravitasi sehingga manusia tetap bisa berpijak di atasnya.
Hidup masih terus berlanjut, meskipun kebahagiaan dan kesedihan selalu berjalan beriringan.
Erina menatap gedung yang terdiri dari lima lantai di hadapannya dengan senyum yang sulit di jelaskan, matanya menyipit. Kampus ini akan menjadi tempat dimana dirinya menuntut ilmu selama beberapa tahun kedepan. Di tempat ini Erina akan memulai segalanya dari awal, tanpa adanya Via, Ameera dan juga Albi.
Erina berharap, di manapun mereka berada, semoga mereka selalu berada dalam kebahagiaan dan di lindungan oleh sang maha pencipta. Erina selalu menyelipkan tiga nama itu di dalam do'anya.
Huft!
Hembusan nafas berat terdengar, akan seperti apa hidupnya nanti di tempat baru ini? Semua masih jadi misteri untuk saat ini.
Seorang perempuan yang Erina kenali dari perawakannya melintas tepat di depannya.
Itu adalah Dea. Segera Erina menegurnya.
"Dea! Tunggu!" Dea terlihat berjalan sambil menundukkan kepalanya. Dea berhenti saat Erina memanggilnya.
"Loe kuliah disini juga De?" Tanya Erina dengan berbinar. Akhirnya ada orang yang dia kenal kuliah di kampus ini juga.
"I.. Iya Er, aku dapat beasiswa disini." Jawab Dea masih sambil menunduk.
"Ck!" Erina berdecak, kemudian mengangkat dagu Dea agar menatap ke arahnya.
"Mulai sekarang, loe harus angkat kepala kalau lagi bicara sama orang. Oke. Biar kedepannya nggak ada orang yang berani merendahkan loe. Kayak perlakuan gue dulu ke loe." Ucap Erina.
Dea terlihat salah tingkah. "Iya Er." Kali ini Dea bicara sambil menatap Erina sambil tersenyum.
"Nah gitu dong. Ayo kita masuk!"
__ADS_1
Keduanya pun berjalan beriringan memasuki gedung kampus baru mereka. Hari ini adalah hari pertama ospek. Sambil berjalan, keduanya terlibat perbincangan.
"Gue itu sebenernya malu sama loe De." Ucap Erina.
"Malu kenapa?" Tanya Dea.
"Gue itu jahat banget sama loe dulu. Gue udah maki-maki loe, gue marah-marahin loe, gue nuduh loe yang nggak-nggak. Gue berprasangka buruk sama loe. Tapi, loe dengan kebaikan hati loe mau nolong gue. Gue nggak tau nasib gue sama keluarga gue kayak gimana kalau loe nggak datang waktu itu. Mungkin aja kita udah jadi sate dan hangus kebakar. Sekali lagi, makasih ya De." Erina mengedikkan bahu lalu keduanya terkekeh bersamaan.
"Kamu sama keluarga masih di beri umur panjang." Jawab Dea malu-malu.
"Sekali lagi, gue minta maaf sebesar-besarnya sama loe. Gue nganggap orang baik jahat, tapi sebaliknya yang keliatan baik malah dia orang jahat. Bener apa kata Via kalau gue ini tolol." Erina terkekeh sendiri mengingat kebodohan-kebodohan yang pernah ia lakukan.
Meskipun Erina telah berterimakasih dan meminta maaf kepada Dea jauh-jauh hari, namun entah mengapa rasanya Erina merasa perlu untuk terus meminta maaf.
"Kamu nggak perlu terus-terusan minta maaf kayak gini, aku udah maafin kamu kok dari dulu." Balas Dea.
"Mulai sekarang, kita berteman ya De. Gue udah nggak mau percaya sama orang lain lagi sekarang." Ucap Erina.
"Waspada itu perlu, tapi jangan sampai mencurigai dengan berlebihan. Kamu orang yang menyenangkan Er, kamu pasti bakalan dapat banyak teman disini."
Benar apa kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Selama ini Erina menganggap jika Dea itu orang yang membosankan, selalu menjawab singkat kalau ditanya, takut dengan orang lain.
Namun, jika kita yang memulai percakapan terlebih dulu, Dea akan berubah menjadi orang yang hangat dan penuh pengertian. Dia bisa jadi pendengar yang baik.
"Entahlah! Oke, gue bakalan cari teman sebanyak-banyaknya. Tapi gue cuma mau punya satu sahabat. Dan gue maunya loe. Loe mau kan jadi sahabat gue mulai sekarang?" Tanya Erina penuh harap.
Dea mengangguk pelan.
"Aku mau, nggak ada alasan buat aku nolak kamu jadi sahabat aku. Kamu sahabat pertama dan sahabat satu-satunya buat aku Er." Keduanya kemudian saling berpelukan tanda mulanya persahabatan mereka.
Saat mereka hendak kembali berjalan, sesosok laki-laki misterius menghalangi jalan. Laki-laki itu mengenakan topi, masker dan kacamata. Paket komplit yang membuat Erina tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Apalagi orang itu diam sambil menunduk.
Erina menarik lengan Dea yang dia apit dengan kedua tangannya untuk lewat jalan sebelah kiri untuk bisa terhindar dari orang yang menghalangi jalannya itu. Namun, si laki-laki itu juga ikut menggeser tubuhnya ke sebelah kiri pula dan itu otomatis kembali menghalangi jalan Erina.
Kembali Erina menggeser Dea, ke sebelah kanan kali ini. Namun lagi-lagi laki-laki itu mengikuti pergerakannya. Sehingga Erina tak bisa lewat lagi.
Kesal, Erina segera menegurnya. Kurang kerjaan banget sih ini orang. Menggerutu di dalam hati. Dea cekikikan sendiri melihat kekesalan di wajah Erina.
"Permisi mas, saya sama sahabat saya mau lewat. Anda bisa menyingkir nggak? Atau mau saya singkirin?" Tegur Erina dengan judesnya.
Dea semakin kencang tertawa, melihat itu Erina merasa bingung dan menyenggol lengan Dea.
"Loe kenapa sih De? Harusnya loe juga marah sama orang ini." Protesnya.
"Nggak kenapa-napa kok." Dea berusaha meredamkan tawanya.
Laki-laki di hadapannya itu membuka topi yang dia kenakan, lalu masker. Erina mengerut saat melihat bibir seksi milik laki-laki itu, sepertinya Erina familiar dengan bibir itu.
Dan terakhir dia melepas kacamatanya. Mata Erina membulat dengan sempurna saat kini dirinya bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki menyebalkan itu. Binar kebahagiaan terpancar dari wajah Erina, dia terkejut, benqr-benar terkejut.
"Bi!" Pekik Erina sumringah.
"Hai Er, apa kabar? Udah lama ya kita nggak ketemu." Ucap Albi yang diiringi seulas senyum. Senyum yang Erina rindukan akhir-akhir ini. Erina masih bengong saking kagetnya.
"Aku ke toilet dulu ya." Dea pamit undur diri pun sepertinya Erina tak sadar. Albi mengacungkan jempolnya ke arah Dea. Dea membalas acungan jempolnya dengan jempol pula.
"Ini beneran loe Bi? Loe kenapa bisa ada disini? Harusnya loe ada di luar pulau sekarang kan?" Tanya Erina yang masih setengah percaya.
Albi tersenyum mendengar pertanyaan Erina yang bertubi-tubi.
"Nggak jadi, gue maunya kuliah disini aja bareng loe."
"Lho, kok bisa? Terus gimana sama cita-cita loe?" Tanyanya lagi.
"Cita-cita gue bukan cuma buat jadi abdi negara, tapi ada cita-cita lain yang juga harus gue kejar."
__ADS_1
"Apa?"
"Dicintai sama orang gue cintai juga cita-cita terbesar dalam hidup gue. Jadi untuk saat ini, gue mau mewujudkannya dulu." Senyuman di bibir Albi tak luntur sejak pertama menatap Erina.
"Oh ya?" Erina tersenyum malu-malu, wajahnya bersemu merah. Sepertinya Erina tau kemana arah pembicaraan Albi kali ini.
"Dan gue mau nagih hutang sama loe Er."
"Hah? Hutang apa? Perasaan gue nggak pernah minjem duit sama loe." Wajah Erina mulai panik.
"Loe bilang waktu itu loe bakalan jawab pertanyaan gue setelah kasus pembunuhan Ameera selesai. Dan sekarang, kita semua udah pada tau siapa pelaku sebenarnya. Itu hutang terbesar loe sama gue Er. Loe harus lunasin sekarang juga. Atau hidup loe nggak bakalan bisa tenang. Bayangan gue bakalan terus menghantui pikiran loe."
"Hah? Hahaha kirain gue hutang apa." Erina tertawa sumbang. Detik berikutnya, Albi meraih tangan Erina dengan lembut. Yang sontak membuat dada perempuan itu berdebar.
"Gue serius Er sama loe. Gue sayang sama loe, setelah gue melakukan banyak istikharah, cuma wajah loe yang muncul dalam mimpi gue. Dan itu membuat gue semakin yakin buat memperjuangkan loe. Dan yang jadi pertanyaannya sekarang, loe mau nggak terima cinta gue?" Albi bicara sambil terus menatap mata Erina dengan serius, tak tertangkap nada bercanda dalam setiap kata-katanya.
Erina tersenyum, kata-kata Albi selalu mampu membuat hatinya bergetar. Dan itu semakin membuat Erina yakin kalau Albi memang yang terbaik untuknya. Tak ada alasan untuk Erina tak menerima cinta Albi. Erina juga mencintai Albi, Albi mampu menggeser posisi Devan di hatinya.
"Iya Bi. Gue mau. Gue juga sayang sama loe." Erina berkata sambil menunduk, menyembunyikan wajah merahnya.
"Serius Er? Kita pacaran mulai sekarang?" Tanya Albi untuk memastikan
Sekali lagi Erina mengangguk dengan mantap. Albi menarik Erina kedalam pelukannya. Untuk sekejap mereka merasai perasaan hangat yang membalut sepasang hati yang kini beradu dan menyatu.
Albi kini percaya, jika didunia ini tak ada yang tak mungkin. Dulu Erina memang tak tercapai oleh tangannya, namun dengan kekuatan do'a dan usaha, serta kesabaran dan kepercayaan yang ia miliki, akhirnya Erina berada di dalam pelukannya.
Dea tersenyum di balik tembok persembunyiannya. Ternyata dia tak benar-benar pergi ke toilet, dia hanya memberikan waktu untuk Albi dan Erina untuk bisa mengungkapkan isi hati satu sama lain.
Dea sadar diri, dia tak mungkin bisa bersanding dengan Albi. Mengikhlaskan adalah jalan terbaik yang bisa dia tempuh. Mengingat dirinya kini harus bekerja keras dan membesarkan kedua adiknya, belum terbesit dibenaknya untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Apalagi dengan penampilan Dea yang sama sekali tidak ada menarik-menariknya. Pastilah tidak akan ada laki-laki yang mau mendekat. Jangankan mendekat, menoleh saja mungkin tak akan ada yang sudi.
Awan gelap harus menurunkan hujan sebelum akhirnya langit menerbitkan pelangi yang indah. -Erina-
Nahkoda harus berusaha melawan ombak yang menghantam kapal di tengah samudra untuk bisa tiba di dermaga. -Albi-
Seperti sangkar yang merelakan burung terbang bebas demi kebahagiaan burung itu sendiri. -Dea-
***
Sementara itu, disini Via berada sekarang, di sebuah rumah sakit khusus untuk menampung orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Kewarasannya benar-benar telah hilang. Semua trauma yang pernah di alaminya membuatnya tak bisa menerima kenyataan hidup, dia berambisi untuk menghabisi nyawa Erina dan keluarganya, namun saat semua ambisinya tak tercapai, jiwanya mulai terguncang dengan hebat.
Via duduk sendirian di pojokan kamar di mana dia di isolasi. Tak ada seorangpun yang diperbolehkan menemuinya termasuk papa Heri dan mama Sofi. Erina apalagi.
Jika itu sampai terjadi, maka Via akan mengamuk dan tak segan-segan mencekik siapapun itu yang berani masuk kesana. Tak terkecuali petugas, petugas harus dengan pengawalan ekstra agar bisa mengobati Via. Tak jarang mereka memberikan suntikan agar Via bisa sedikit lebih tenang.
Jangan melempar anak panah pada kaca, bisa jadi anak panah itu berbalik menyerang pada diri kita sendiri -Author-
_________________________
THE END....
Hai semua, terimakasih buat kalian yang udah ikut memecahkan kasus misteri pembunuhan Ameera ini. Tanpa kalian aku nggak tau bakalan bisa namatin cerita ini atau nggak... Komentar kalian sangat membangun dan menjadi semangat tersendiri buat aku untuk bisa menulis dari satu episode ke episode berikutnya...
Meskipun bertele-tele tapi Alhamdulillah novel keempat aku ini tamat juga... Sekali lagi aku ucapin terimakasih banyak untuk yang udah kasih like, komentar, vote, hadiah, sama tipsnya juga... Aku pasti bakalan kangen banget baca komentar dari kalian...
Sampai jumpa di karya-karya aku selanjutnya, jangan di unfaf dulu ya, siapa tau aja nanti ada cerita Erina dan kawan-kawan di kampus baru mereka. Kira-kira mereka bakalan berhadapan dengan psikopat mana lagi nih? Tapi aku juga nggak tau bakalan rilis kapan. Hihihi 😁
Oh ya, sekalian promo novel aku yang lainnya nih. Bisa di kepoin dan yang pasti masih berhubungan dengan misteri.
-BUKAN SALAH TAKDIR (Sheerin-Levin + Nindi-Bima)
-YOU'RE MY SUNDOWN. (Peira-Fajar-Ikmal)
-TAKDIR MEMBAWA CINTA. (Billa-Bisma)
Sekali lagi aku ucapin terimakasih banyak... Love you semua 🥰🥰 Kalian luar biasa...
__ADS_1