
Albi mantap Dea yang sejak mereka duduk di taman itu hanya diam saja sembari menunduk. Dea yang mendapat tatapan seperti itu dari Albi semakin dalam saja menunduk. Dia terlihat salah tingkah sambil memainkan jemarinya dalam diam.
Albi tak kunjung buka suara, laki-laki itu malah sibuk memindai Dea. Entah apa maunya.
Albi yang sejak kemarin menggebu-gebu ingin mengintrogasi Dea, kini saat perempuan itu sudah ada di hadapannya, Albi mendadak gagu. Albi jadi salah fokus saat memandang wajah Dea yang benar-benar beda dari biasanya.
"Kalau nggak ada yang mau di omongin aku mau pulang." Dea mulai geram dan beranjak dari duduknya, namun dengan sigap Albi menahan.
"Tunggu dulu De." Seru Albi sambil menarik tangan Dea. Sontak itu membuat tubuh Dea tertarik dan kembali duduk.
"Oke, gini. Loe pasti udah tau kan tentang teror yang kerap kali di dapet sama Erina selama ini? Ada orang yang naruh bangkai tikus di bangkunya waktu itu." Ucap Albi memulai pembicaraan.
"Terus kalian nuduh aku yang laluin itu? Maaf Bi, aku nggak ada waktu buat lakuin hal-hal konyol seperti itu. Lagi pula apa alasan aku harus neror neror Erina?" Jawab Dea, ternyata dia bisa juga bicara lebih dari lima kata.
"Entahlah De, gue sama anak-anak masih berusaha buat cari pelakunya. Terus adik Erina Baim hilang dan tau-taunya Baim sama loe ada di Kiara Condong." Ucap Albi kemudian.
"Waktu itu ada reseller yang pesan barang lumayan banyak di olshop tempat aku kerja, pemilik olshop minta aku anterin langsung ke rumah resellernya di Kiara Condong. Pulangnya aku nemuin anak laki-laki lagi nangis di pinggir jalan sendirian. Aku jadi ingat sama adik-adik aku. Gimana kalau seandainya adik aku ada di posisi dia? Apa akan ada orang yang nolong? Hati aku tergerak. Aku ajak anak itu ke kebun binatang sekedar buat menghibur dia yang ketakutan. Karena alhamdulillah waktu itu aku di kasih tips sama resellernya." Dea bicara sambil membuang pandangannya ke sembarang arah, enggan menatap lawan bicaranya atau dia tidak akan bisa bicara sepanjang itu.
Albi baru tau cerita dibalik di temukannya Baim waktu itu. Dan Dea ternyata memiliki banyak kerja sampingan.
Gadis yang rajin. Tidak, kebutuhan ekonomi yang mendesak Dea untuk melakukan itu semua.
"Makasih karena loe udah nolongin Baim waktu itu." Ucap Albi tulus.
"Aku melakukannya atas dasae kemanusiaan." Balas Dea.
"Terus, ibu loe namanya Devi?" Tanya Albi lagi. Perekam suara sudah dia siapkan di ponselnya sedari tadi. Nanti akan ia setorkan kepada Erina sebagai barang bukti.
"Ibu aku meninggal waktu melahirkan adik bungsu. Memangnya kenapa kalau nama ibu aku Devi?" Dea tak berkelit saat Albi mengatakan jika ibunya bernama Devi, berarti memang ibunya Dea itu Devi. Namun, benarkan Devi ibunya Dea adalah Devi yang sedang mereka cari? Mengingat di Indoneaia banyak sekali perempuan bernama Devi.
"Nggak kenapa-napa kok." Albi memilih tak mengatakan permasalahan papanya Erina dimasa lalu. Albi pikir, Dea tak perlu tau.
"...bapak loe itu bapak tiri ya?" Memancing lagi, siapa tau dapat ikan. Eh, informasi.
"Kenapa kamu nanyanya kayak gitu?" Tanya Dea tak terima, kali ini dia mau menatap Albi, ternyata laki-laki itu juga sedang menatap ke arahnya. Sejak pertama mereka duduk di sana juga Albi tak melepaskan pandangannya dari Dea. Albi takut kecolongan.
"Nggak kenapa-napa, cuma sikapnya kasar gitu sama loe. Gue pikir dia bukan bapak kandung loe." Kilah Albi.
"Aku anak kandungnya lah." Jawab Dea dengan sangat yakin. Namun Albi tidak yakin, mungkin saja Dea tidak tau kebenarannya.
"Boleh gue minta foto ibu loe?" Ucap Albi dengan hati-hati.
"Buat apa?" Dea menyentak seperti tak terima.
__ADS_1
"Ya udah nggak apa-apa kalau loe nggak mau kasih. Gue nggak maksa kok." Padahal dalam hati Albi berencana akan melancarkan aksinya untuk mencuri foto ibunya Dea untuk di tunjukkan pada papanya Erina. Kemarin dia melihat foto perempuan paruh baya di rumah Dea, kemungkinan besar dia adalah ibunya. Tapi kemarin situasinya tidak memungkinkan untuk Albi mencuri foto itu. Bapaknya Dea benar-benar menyeramkan.
"Waktu itu apa loe sadar gue, Erina sama Via ikutin loe?" Tanya Albi lagi.
"Aku sadarnya waktu Erina jatuh di belakang kandang kambing. Waktu itu bapak minta uang buat judi." Jawab Dea terang-terangan. Sudah terlanjur tak punya muka di depan Albi.
Albi mengangguk paham.
"Kalau nggak ada yang mau di bicarakan lagi aku mau pulang. Kasian adik aku pasti udah nungguin." Ucap Dea.
"Ya udah, gue anterin!"
Dea mengangguk.
Tanpa Dea dan Albi sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi mantau pergerakan keduanya. Tak lupa orang misterius itu juga mengambil beberapa foto mereka.
***
Dua hari kemudian.
Via datang kerumah Erina sambil berderai air mata. Ada apa dengan sahabatnya Erina itu? Erina yang baru saja membuka pintu rumahnya langsung mendapat pelukan memilukan dari Via.
"Beb." Via berhambur memeluk Erina. Yang mendapat pelukan malah tertegun.
"Rizal beb." Ucapnya disela isakan.
"Doi loe kenapa? Kita duduk dulu beb!" Erina kemudian membimbing Via untuk duduk di kursi yang ada di teras itu.
"Loe tenang dulu ya beb. Coba loe bicara pelan-pelan, doi loe kenapa?" Tanya Erina sambil mengusap punggung sahabatnya itu.
"Rizal ternyata selingkuh beb. Dia nggak setia sama gue. Padahal loe tau sendiri kan kalau gue udah mulai sayang sama dia?" Ucap Via, wajahnya sudah di banjiri oleh air mata.
"Apa? Doi selingkuhin loe? Kurang ajar banget itu cowok berani-beraninya dia nyakitin sahabat gue!" Tangan Erina mulai terkepal, jika si Rizal Rizal itu ada di hadapan Erina, Erina akan pastikan kalau kepalan tangannya akan mendarat di wajah laki-laki itu.
"Menurut loe, apa gue sekarang lagi dapet karma? Kerena dulu gue sering banget mainin hati mantan mantan gue tanpa mau tau gimana perasaan mereka. Dan sekarang giliran hati gue udah gue kasih buat dia, dia malah selingkuhin gue. Sakit hati gue beb." Via menunjuk-nunjuk dadanya yang terasa nyeri.
"Iya beb. Gue ngerti perasaan loe pasti hancur banget sekarang. Ini bukan karma, tapi petunjuk. Loe beruntung bisa tau gimana busuknya dia sekarang dari pada nanti setelah loe lebih dalam cinta sama dia loe bakal ngerasain sakit yang lebih sakit dari ini. Percaya sama gue beb. Allah udah nyiapin laki-laki yang lebih baik buat loe, yang jelas itu bukan si Rizal Rizal itu." Erina mencoba memberi dukungan untuk Via, sama halnya Via yang selalu memberi dirinya dukungan bahkan di saat-saat tersulit sekalipun.
"Udahlah, loe jangan nangis lagi ya cantik!" Erina membantu mengusap pipi Via yang basah. Via jadi tertawa garing setelah tadi nangis-nangis memilukan.
"Gue pasti keliatan lebay banget ya sekarang?Dasar Via bego!"
"Loe nggak lebay kok, apa lagi bego. Wajar loe sedih, wajar loe nangis karena loe punya hati beb. Justru kalau loe nggak bisa nangis itu baru nggak wajar, loe bisa di sangka nggak punya hati nanti."
__ADS_1
"Loe bener beb. Berarti gue perempuan normal kan ya?" Via lalu terkekeh, mengutuki kebodohannya menangisi mantan pacarnya yang playboy.
"Nah itu loe tau." Erina bisa bernafas lega karena ternyata sedihnya Via tidak berkelanjutan. Sahabatnya itu memang strong, dia pasti akan cepat move on.
"Beb!" Seru Via, dia menyentuh tangan Erina, merasa berat untuk membicarakan hal ini.
"Kenapa?"
"Loe tau kan kalau keadaan nenek gue lagi nggak baik-baik aja sekarang?" Tanya Via kemudian.
"Iya, gimana keadaan nenek loe sekarang? Apa udah ada perkembangan? Sory ya gue belum sempet nengokin lagi kesana." Jawab Erina.
"Nenek gue keadaannya semakin parah beb, paman gue udah mindahin nenek ke rumah sakit pusat di Jakarta. Dia juga nyuruh gue buat kuliah di sana biar paman gue bisa mantau gue sama nenek secara bersamaan." Ucap Via akhirnya.
"Apa? Loe mau kuliah di Jakarta beb?" Erina terkejut mendengar pernyataan Via.
"Iya, gue udah nggak bisa tinggal di kota ini lagi. Gue nggak mungkin ngurus nenek sendirian disini sambil kuliah, sedangkan nenek gue sakit parah." Ucap Via lagi, kali ini berhasil membuat lutut Erina lemas.
"Loe mau tinggalin gue beb?" mata Erina kini sudah berkaca-kaca, membayangkan Via, sahabatnya yang masih tersisa akan pergi meninggalkannya.
"Gue juga nggak mau, tapi keadaan yang memaksa." Erina langsung memeluk sahabatnya itu, isak tangis kemudian terdengar dari keduanya. Via kembali menangis setelah tadi sempat terjeda.
"Gue nggak punya sahabat lagi selain loe beb."
"Gue janji gue bakalan sering main kesini. Nanti juga loe bisa main ke Jakarta. Oke!"
"Tapi semuanya bakalan beda beb kalau loe nggak ada."
Via melepaskan pelukannya, dia berganti menangkup wajah sahabatnya itu.
"Loe harus janji satu hal sama gue beb." Ucap Via.
"Janji apa?" Tanya Erina.
"Loe harus terima si Albi. Gue yakin dia pasti bakalan bisa gantiin posisi gue, bahkan lebih. Dia itu tulus sayang sama loe beb." Via bicara sambil menatap serius pada netra Erina.
"Albi itu beda, nggak akan ada yang bisa gantiin posisi loe di hidup gue beb."
Keduanya kembali saling berpelukan, tangis haru juga mulai kembali pecah.
__________________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....Penderitaan Erina bakalan dimulai setelah Via pergi ya ini bakalan jadi konflik terakhir sebelum tamat jadi mohon bersabar untuk para readers yang budiman..
__ADS_1