
Albi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, Dea yang duduk di jok belakang terlihat gelisah. Hembusan angin kencang menampar wajah keduanya.
Devan di boncengi Iqbal dengan motornya, mobil Devan susah keluar karena banyaknya anak-anak yang menonton dan menghalangi jalan.
Albi sedikit tertinggal, motor gigi Iqbal melesat lebih cepat dari motor matic miliknya.
"De, tolong loe telponin kantor polisi. Pake hp gue!" Albi menyodorkan ponselnya pada Dea.
"Ini beneran hp kamu Bi? Kenapa wallpapernya foto ibu-ibu yang tadi?" Dea sedikit berteriak agar Albi bisa mendengarnya.
"Oh ya? Kayaknya ketuker. Ini!" Kali ini Albi benar-benar menyerahkan ponselnya.
"Berapa pin nya?" Tanya Dea.
"150200."
Itu kan tanggal lahirnya Erina, Albi ternyata sangat serius pada Erina. Rasnya cintanya tidak main-main. Andai saja ada laki-laki seperti Albi yang juga tukus mencintai Dea, pasti Dea akan merasa sangat beruntung.
"Udah bisa?" Tanya Albi. Seketika Dea tersadar.
"Ehh iya bisa." Gelagapan menjawab.
"Laporin kalau ada kasus penculikan. Loe tau kan alamat lengkap rumah Erina?"
"Iya." Deapun segera menghubungi nomor darurat kantor polisi setempat.
"Hp kamu nggak ada pulsanya ya Bi?" Tanya Dea saat terdengar suara operator yang memberitahu jika sisa pulsanya tidak mencukupi.
"Ahh masa sih? Perasaan baru kemarin gue isi ulang."
"Pake hp aku aja."
"Nah, cakep tuh."
Mendadak Albi menghentikan motornya saat melihat motor Iqbal terjungkir, bahkan Devan dan Iqbal sampai tertindih. Cepat-cepat Albi turun untuk membantu mereka. Sedangkan Dea masih sibuk menelpon.
"Kenapa kalian bisa jatuh?" Tanya Albi sambil menyingkiran motor yang menimpa kedua tamannya itu.
"Motor gue ada yang nendang tadi. Mendingan loe cepet deh pergi kerumah Erina, gue rasa ada orang yang sengaja ngehalangin jalan kita." Ucap Devan sambil berusaha untuk berdiri dari jatuhnya.
"Aaaaaaa."
Ketiga laki-laki itu menoleh ke arah Dea, seseorang nampak berusaha merebut ponsel yang sedang Dea gunakan untuk menelpon.
"Woy lepasin dia!" Albi berlari kearah mereka dan...
BUKKK!
Kaki Albi melayang dan mendarat dengan sempurna di tangan preman yang sedang berusaha merebut ponsel dari tangan Dea. Ponsel miliknya seketika jatuh menyentuh aspal.
__ADS_1
Preman itu merintih kesakitan.
Albi menggunakan kesempatan itu untuk menghajarnya, preman itu melawan, beruntung Devan dan Iqbal sigap membantu sehingga membuat preman itu tak berkutik.
Tentu saja, satu lawan tiga.
"Kurang ajar loe! Loe pasti orang suruhannya Sari, kan?"
"Jangan kepancing Bi. Kita harus cepet sampai di rumah Erina." Seru Devan.
Mereka kembali menaiki motor masing-masing.
"Loe nggak kenapa-napa De?"
"Nggak apa-apa kok Bi!"
"Gimana? Loe berhasil lapor ke polisi kan?" Tanya Albi.
"Iya Bi, untung aja waktu preman itu rebut hp tadi aku udah selesai nelponnya."
"Syukurlah, semoga polisi cepet datang ke rumah Erina."
Belum sempat Albi dan Iqbal menekan pedal gas pada motor masing-masing, segerombolan motor bising mencegat jalan mereka. Itu adalah geng motor yang sama dengan yang waktu itu menghajar Albi saat Albi hendak mengejar orang yang hampir menabrak Erina.
Astaga!
Satu persatu dari mereka turun dan mendekat kearah motor Albi juga Iqbal.
"Turun loe pada!" Salah satu preman itu menodongkan pisau kepada Albi.
Albi, Devan dan Iqbal tak punya pilihan lain, jalan mereka di hadang oleh motor-motor mereka. Mau tidak mau Albi dan kawan-kawan harus meladeni mereka.
Albi turun dari motornya, begitupun Devan dan Iqbal. Dea berada dalam situasi mengerikan sekarang, apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Seraaaang!"
Perkelahian pun kembali terjadi. Kali ini tiga lawan enam. Meskipun jumlah mereka tak seimbang, namun Albi dan kawan-kawan berusaha untuk melawan dan menyerang.
BUKKK!
BUKKK!
Devan menendang perut lawannya saat ada kesempatan.
Iqbal mengelak dari serangan demi serangan yang terus menghujam ke arahnya.
Sedangkan Albi, dalam sekali gerakan tangannya, dia berhasil membanting tubuh lawannya hingga terbaring di aspal. Dia memukul wajahnya dengan membabi buta.
BUKKK!!
__ADS_1
BUKKK!!
Preman lain yang sadar jika temannya sudah kalah, mencoba untuk membantunya. Dia memukul punggung Albi dari belakang. Albi yang tak menyadari akan adanya serangan, ikut jatuh tersungkur. Itu dijadikan lawannya sebagai kesempatan untuk menghajar Albi.
BUKKK!!!
BUKKK!!!
Albi kinimenerima akibatnya, preman itu memukuli Albi tanpa ampun. Devan dan Iqbal segera membantu Albi dengan menyerang balik preman itu, preman itu di buat tak berkutik dengan serangan Devan dan Iqbal.
Perkelahian tak sampai disana. Mereka terus berbaku hantam, kadang Albi dan teman-temannya yang dipukuli, kadang mereka yang menyerang dan membuat lawannya babak belur.
Perkelahian mereka seperti tak akan ada akhirnya, kedua kubu sama-sama tangguh dan tak terkalahkan.
***
"Beb, loe bener-bener tega. Kebersamaan kita selama ini apa nggak ada artinya sama sekali buat loe? Kita udah lewatin banyak hal bareng-bareng beb. Gue sayang sama loe. Tapi dengan nggak berperikemanusiaan nya loe bunuh Ameera. Dimana letak hati loe?"
"Bulsyit! Gue kasih tau sama loe ya! Gue ini nggak punya hati. Hati gue udah mati dan kalian semua yang udah bikin hati gue mati." Berteriak tepat di depan wajah Erina, bahkan sampai air liurnya mengenai wajah Erina.
"Oh iya, gimana sama pelakor? Apa ada yang mau di sampaikan buat yang terakhir kalinya sama anak kesayangannya ini?" Via berjalan mendekati mama Sofi dan melepaskan paksa lakban dari mulutnya.
"Via, saya tau saya salah. Tapi tidak seperti ini cara membalas kesalahan saya. Tolong bebaskan kami. Ayo kita memulai hidup baru. Saya akan menyayangi kamu sama seperti saya menyayangi Erina dan Baim, saya akan menebus semua kesalahan saya dengan menerima kamu sebagai putri saya sendiri." Ucap mama Sofi bersungguh-sungguh.
"CUKUP!" Via kembali menempelkan lakban pada mama Sofi, merasa muak dengan semua kata-kata manis yang dia ucapkan.
Itu semua bulsyit!
"Gue nggak tertarik sama tawaran loe itu. Gue nggak butuh orang-orang munafik kayak kalian. Orang-orang kayak kalian ini pantasnya buat di lenyapin dari muka bumi ini. OM!" Via menjentikkan jarinya memanggil sang om yang sedari tadi bersiap-siap.
Suami Sari itu datang bersama anak buahnya sambil menenteng beberapa jeliken minyak tanah.
Apa? Minyak tanah?
Erina semakin ketakutan saat melihat jeliken ditangan para penjahat itu.
"Via, loe jangan bercanda Vi. Ini sama sekali nggak lucu. Suruh mereka bawa jauh-jauh benda itu." Pelipis Erina kini sudah di banjiri peluh, ketakutan yang luar biasa sedang dia rasakan.
"Hahaha. MIMPI LOE! Kalian nggak akan selamat malam ini. Om, siram minyak tanahnya ke seluruh sudut ruangan sekarang!" Titah Via.
Suami Sari dan orang-orang suruhannya bekerja dengan sangat baik, menyiram minyak tanah itu ke semua penjuru.
"Ahhhhmmmp." Erina memekik saat minyak tanah itu juga di siram ke seluruh tubuhnya.
"Via, plis Via jangan kayak gini. Maafin gue Vi, Viaaaa!" Erina berteriak ketakutan, justru itu malah membuat Via semakin senang.
_____________________
Tolongin gih guys... Nggak tega othor ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1