
"Devan?!" Pekik Erina.
"Malam Er." Penampilan Devan terlihat sangat rapih malam ini, dengan balutan kemeja navy yang di kenakannya, rambut berminyak yang di bentuk ke atas, senyum merekah yang ia tunjukkan, wajahnya nampak berseri-seri.
Ada apakah gerangan? Erina yakin bulan diatas sana pasti akan minder saat melihat Devan.
Sayang, Erina sudah lama move on darinya.
"Malam juga. Loe mau kemana Dev?" Erina tersenyum sungkan membalas salam Devan.
"Sengaja aja kesini. Kenapa? Nggak boleh ya?" Tanya Devan kemudian.
"Nggak bukan gitu. Cuma aneh aja. Ya udah, masuk yuk!" Seru Erina.
"Kita ngobrol di sana aja yuk Er!" Devan menunjuk tangga teras.
"Oh ya udah." Merekapun duduk berdampingan di ujung teras.
"Er, sebenarnya ada yang mau gue omongin ke loe." Ucap Devan serius, menatap netra Erina dengan lekat.
Erina yang di tatap seperti itu jadi bingung sendiri.
"Omongin aja Dev. Masalah apa? Masalah penyelidikan kita? Semuanya udah selesai, udah jelas kalau Dea yang bunuh Ameera." Ucap Erina dengan mantap.
"Nggak Er, ini nggak ada hubungannya sama kasus pembunuhan itu. Ini tentang gue sama loe. Tentang perasaan gue ke loe." Devan kini beralih meraih tangan Erina dan menggenggamnya.
Erina terkesiap. Apa dia bilang? Tentang perasaan? Jangan bilang dia mau...
"Gue baru sadar kalau ternyata gue cinta sama loe Er." Devan semakin dalam menatap ke netra Erina, membuat Erina salah tingkah di buatnya.
Lidah Erina kelu, mulutnya seolah terkunci. Benarkah ini Devan yang sedang menyatakan cinta kepada dirinya? Laki-laki yang dulu sangat Erina idam-idamkan?
Harusnya Erina merasa bahagia, bukan? Tapi kenapa ini malah sebaliknya? Kenapa dia tidak merasakan apa-apa? Harusnya dia merasakan getaran-getaran aneh kepada Devan. Iya kan? Kemana perginya perasaan menggebu-gebu yang dulu Erina rasakan saat melihat Devan?
Tidak, ini gila! Erina mencintai Albi sekarang.
"Gue tau dari gosip yang beredar di kalangan anak-anak sekolah kalau selama ini loe juga cinta kan sama gue?" Tanya Devan mengartikan jika diamnya Erina sebagai jawaban iya.
"...loe mau kan jadi cewek gue Er? Kita saling mencintai." Tanya Devan semakin serius. Ternyata Devan jatuh cinta lagi kepada Erina, begitu? Astaga! Ini sama sekali tidak lucu.
__ADS_1
"Gue memang cinta sama loe Dev!"
***
Albi menendang ban motornya yang mendadak kempes, padahal rumah Erina sudah dekat. Hanya terhalang dua sampai tiga rumah dari sana. Albi tak ingin menunda lagi, diapun memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumah Erina dan meninggalkan motornya.
Namun saat baru saja tiba di depan pagar, Albi malah melihat pandangan yang menyesakkan dada. Erina dan Devan sedang duduk bersanding, mereka terlihat sedang bicara serius. Albi mencoba memasang telinga baik-baik, mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Gue tau dari gosip yang beredar di kalangan anak-anak sekolah kalau selama ini loe juga cinta kan sama gue?"
"...loe mau kan jadi cewek gue Er? Kita saling mencintai."
"Gue memang cinta sama loe Dev!"
DUAARR!
Bagai disambar petir di malam hari, serasa ribuan anak panah baru saja turun dari langit dan menghujam jantungnya. Sakit!
Tangan Albi mengepal saat mendengar jawaban Erina, dia meninju tembok pagar di hadapannya dengan kasar. Dadanya sesak dan bergemuruh hebat. Jadi benar, Erina masih mencintai Devan. Itu sebabnya perempuan itu tak langsung menerima Albi sebagai kekasih, perempuan itu hanya berkelit dengan mengukur-ngulur waktu. Dia hanya memberikan Albi harapan semu.
Lantas, semua pengorbanan yang telah Albi lakukan selama ini untuk mendapatkan hati Erina hanyalah sia-sia. Padahal Albi sudah berbesar kepala kalau Erina akan menerima dan membalas cintanya setelah kasus ini selesai. Namun sepertinya harapan Albi itu terlalu tinggi, sehingga saat terjatuh rasanya sesesak ini.
Kenapa loe tega sama gue Er! Gue cinta sama loe. Apa yang nggak gue kasih buat loe selama ini?
Albi pergi dengan sejuta kesalah pahaman, Albi butuh menenangkan diri dan kembali menata hati. Dia sendiri tak yakin jika hatinya bisa kembali pulih seperti semula mengingat Erina telah menghancurkannya dengan membabi buta.
***
"Tapi itu dulu Dev. Sekarang hati gue udah milik yang lain." Sambung Erina yang sayang tak di dengar oleh Albi, laki-laki itu terlanjur pergi. Andai saja Albi mendengarnya, mungkin dia tak akan merasakan kesakitan di hatinya sekarang.
"Tapi gue tulus cinta sama loe Er!" Ucap Devan yang nada bicaranya mulai melemah.
"Ada yang lebih tulus dari loe Dev." Jawab Erina sambil menunduk.
"Gue bakalan setia sama loe Er." Devan mencoba meyakinkan Erina.
"Ada yang lebih setia dari loe dan udah nunggu gue bertahun-tahun. Loe itu mudah berpaling Dev. Kuburan Ameera aja masih basah tapi loe dengan mudahnya lupain dia." Seru Erina dengan tegas.
"Siapa orangnya Er? Albi?" Tanya Devan sinis.
__ADS_1
Erina tak menyangkal juga tak mengiya-kan, membuat Devan semakin yakin dengan dugaannya kalau Erina mencintai Albi.
"Tapi dia udah menghianati loe Er!" Masih mencari pembenaran.
"Meskipun gue tau kalau Albi nggak jujur dan buat gue kecewa, tapi tetep aja gue nggak bisa benci sama dia Dev!" Nada bicara Erina mulai naik.
"Loe beneran cinta sama dia Er?" Tanta Devan yang mulai melunak. Erina mengangguk mantap.
"Ya udah, gue juga nggak bakalan maksa loe kok Er. Gue cuma pengen ngungkapin aja sama loe. Dan sekarang gue udah lega. Terlepas loe mau terima atau nolak gue. Gue do'ain biar kesalah pahaman di antara kalian cepet selesai.
"Thanks ya Dev loe udah mau ngerti. Maaf gue sedikit bicara kasar sama loe." Balas Erina.
"Tapi kita masih bisa temenan kan?" Tanya Devan.
"Pasti Dev. Loe udah jadi bagian dari hidup gue, loe juga udah banyak bantu gue memecahkan kasus rumit ini." Jawab Erina.
"Besok kita berangkat bareng ya ke acara malam perpisahan?" Pinta Devan.
"Oke, loe jemput aja kesini besok malam."
***
Albi menuntun motor yang bannya kempes keluar dari kompleks perumahan Erina. Sial sekali dirinya hari ini, Erina dan Devan pasti sudah jadian sekarang. Albi menatap kosong pada jalanan yang akan ia lalui. Perkataan Erina tiba-tiba saja berkelebatan dalam pikiran laki-laki itu.
Dasar penghianat!
Gue benci, gue kecewa sama loe Bi.
KECEWA!
KECEWA!
KECEWA!
"Arrrrgh! Sial sial sial!" Albi memaki dirinya sendiri.
___________________
Malam perpisahannya besok guys, kita-kira bakal ada kejutan apa nanti ya??
__ADS_1