
"JAWAB! LOE NGGAK BISA JAWABKAN?!" Nada bicara Erina semakin tinggi, emosinya tak terkendali. Dia sudah mengangkat tangannya ke udara, dan bersiap untuk melayangkan tamparannya pada wajah so polos Dea itu.
Namun sebelum telapak tangannya mendarat di pipi Dea, sebuah tangan menahan tangan Erina.
"Cukup Er!" Seru si pemilik tangan.
Erina menoleh pada orang yang baru saja menghentikan aksi brutalnya itu. Terlihat Albi disana. Hati Erina semakin mendidih sebab Albi menahan tangannya. Dengan begitu, secara tidak langsung Albi membela Dea. Erina tak terima.
"Lepasin tangan gue!" Sentak Erina kasar, dia menghentak-hentakkan tangannya agar tangan Albi mau menyingkir, namun nyatanya tangan Albi semakin kuat saja mencengkram lengan Erina.
Dea membuka matanya saat mendengar keributan, tadi dia sudah memejamkan mata dan bersiap menerima tamparan dari Erina.
"Loe kenapa sih Er? Kita bisa bicarain ini baik-baik tanpa harus main fisik." Ucap Albi, sebisa mungkin laki-laki itu bertutur dengan lembut agar tak menyinggung perasaan Erina.
Erina balik menatap Albi dengan tajam, bukan hanya kepada Dea, tapi pada Albi pun Erina marah. Berani-beraninya Albi menyembunyikan sebuah fakta kalau ibunya Dea ternyata bernama Devi. Erina tak terima, seharusnya hal sekecil apapun Albi harus memberi tahu dirinya.
"Dasar penghianat loe Bi! Sejak kapan loe tau kalau ibu dia namanya Devi?" Sentak Erina, suaranya sudah naik jadi 8 oktaf mungkin. Albi mengernyit, laki-laki itu nampak gelagapan.
"Jadi loe udah tau kalau Dea anaknya Devi?" Tanya Albi kemudian.
"Tuh kan, loe udah tau duluan masalah ini. Tapi kenapa loe nggak kasih tau ke gue? Loe paham kan sekecil apapun informasi itu sangat berarti buat gue. Apalagi ini masalah besar. Dan loe berani-beraninya sembunyiin semuanya dari gue. Oh atau jangan-jangan loe sekarang udah kesemsem kan sama Dia!" Erina menunjuk ke arah Dea, dia berteriak-teriak seperti orang kerasukan saking emosinya.
Dea yang di tuding-tuding seperti itu, terlihat kikuk. Mereka sedang membahas apa sebenarnya? Kenapa nama ibu Dea di permasalahkan oleh mereka?
"...jadi meskipun loe tau kebenarannya loe memilih buat tutup mata. Dan seandainya gue nggak liat data si Dea tadi, mungkin loe bakalan sembunyiin ini dari gue selamanya!" Sungguh demi apapun, Erina tak bisa mengendalikan kemarahan dalam dirinya, dia merasa di khianati oleh orang yang mulai dia percaya.
"Nggak gitu Er, gue bakalan kasih tau loe kalau gue udah punya bukti yang kuat. Loe jangan salah paham ya! Tenangkan diri loe dulu, jangan emosi kayak gini!" Albi menyentuh bahu Erina, mencoba untuk membuat Erina mengerti.
Namun dengan kasar Erina menepis tangan Albi. Murid-murid yang tadi bertebaran di seantero koridor, kini mulai mengerumuni Erina yang berapi-api memarahi Dea dan Albi. Mereka kepo, ada masalah apa sebenarnya sampai-sampai si Erina ngamuk seperti itu.
__ADS_1
"Kurang bukti apa lagi sih Bi? Sari bilang kalau anaknya Devi sekolah disini dan dia bakalan balas dendam sama keluarga gue. Dan dia itu anaknya Devi, berarti memang dia yang udah neror gue. Dan malam itu Ameera telfon gue kalau dia tau siapa peneror itu. Ameera pasti udah tau kalau dia itu biang keroknya dan dia bunuh Ameera buat menghilangkan saksi. Loe perlu bukti apa lagi sih? HAH? SEMUANYA UDAH JELAS KALAU DIA YANG UDAH BUNUH AMEERA!" Dada Erina bahkan terasa sesak setelah bicara panjang lebar seperti itu tanpa jeda. Emosinya terus saja meletup-letup bagaikan air yang mendidih.
Albi terdiam mendapat sentakan demi sentakan dari Erina. Meskipun dia tau kalau Dea adalah anaknya Devi, tapi kenapa Albi merasa kalau bukan Dea pelakunya?
"Halah, loe udah tau salah masih aja lempar kesalahan sama orang lain." Violla menimbrung.
"Tutup mulut loe! Ini bukan urusan loe! Mau gue lempar loe dari atas gedung sekolah ini? HAH?" Erina melotot kearah Violla.
"NGAKU LOE SEKARANG! KALAU LOE YANG UDAH BUNUH AMEERA! LOE NGGAK BISA NGELAK LAGI, SEMUA BUKTINYA UDAH ADA!" Sekali lagi Erina mendorong bahu Dea dengan kasar.
Dea kini mulai terisak, dia benar-benar di pojokkan oleh Erina tanpa dia ketahui apa kesalahan yang telah ia lakukan. Semut saja yang kalau diinjak pasti akan menggigit, apa lagi Dea yang punya hati. Dia tak terima dituduh sebagai pembunuh Ameera.
"Kenapa sih Er? Kamu selalu aja nuduh-nuduh aku kayak gitu? Aku nggak pernah nerer neror kamu, apalagi bunuh Ameera! Bukannya kamu sendiri yang udah bunuh Ameera? Kenapa kamu malah nyalahin aku?" Ucap Dea dalam isak tangisnya.
"BUKAN GUE YANG BUNUH AMEERA, TAPI LOE!" Erina lagi-lagi mendorong bahu Dea, bukan sekali dua kali tapi berkali-kali. Dea bahkan hampir terjatuh kalau Albi tak sigap menahannya.
"Udah Er, berhenti nyakitin dia!" Albi menahan tangan Erina yang menjoroki Dea lalu menahan tubuh Dea yang hampir saja terjatuh.
Jiwa bapernya mulai membuncah, padahal kalau dirinya bisa sedikit mengendalikan diri dan mau membicarakan masalah secara baik-baik mungkin semuanya tak akan serumit ini. Namun sekali lagi, setan merah yang ada dalam diri Erina sedang menguasai perempuan itu dan memaksa Erina untuk bersikap semaunya.
"Loe bener-bener ya Bi! Huhuhu." Gantian kini Erina yang menangis, dia sudah tak tahan lagi. Albi menghianati dirinya, Ameera sudah tiada dan Via juga sudah pergi meninggalkannya. Erina sudah tak memiliki siapa-siapa lagi sekarang, hidupnya sudah hancur lebur, dunianya porak poranda.
"Loe kok malah nangis sih Er?" Albi terlihat kebingungan, dia mengusap tengkuknya yang terasa panas. Dua perempuan di hadapannya kini menangis, lantas apa yang harus Albi lakukan?
Albi melepaskan tangan Dea, kemudian menghampiri Erina yang juga sedang menangis tergugu.
"Udah jangan nangis, kita bisa selesain masalahnya baik-baik. Oke!" Albi menyentuh bahu Erina, namun lagi-lagi perempuan itu menepisnya.
"PERGI LOE DARI SINI LOE BI! DASAR PENGHIANAT! GUE BENCI! GUE KECEWA SAMA LOE!" Erina bicara sambil berderak air mata, dia mendorong bahu Albi kuat-kuat seiring dia mengucapkan kata-kata itu.
__ADS_1
Albi hampir saja terjatuh kalau dia tak bisa mempertahankan keseimbangannya, dia menatap wajah sembab Erina, hatinya terasa nyeri saat Erina mengatakan kalau perempuan itu kecewa kepada dirinya.
Ini semua memang kesalahan Albi. Andai saja sejak awal Albi mau berkata jujur mungkin Erina tak akan salah paham seperti ini dan menganggapnya sebagai penghianat. Tadinya Albi ingin so jadi pahlawan untuk Erina dengan mengungkap sendiri kebenaran tentang siapa anak Devi sebenarnya. Namun sekali lagi, semuanya malah jadi rumit seperti ini. Erina sudah terlanjur kecewa pada Albi.
Devan yang entah baru datang dari mana melihat keributan itu, segera dia menghampiri Erina yang sedang memarahi Albi habis-habisan. Kepo, kesalahan apa yang Albi lakukan sampai Erina memarahinya seperti orang kebakaran jenggot begitu?
"Loe kenapa nangis Er?" Tanya Devan saat melihat wajah Erina yang sudah di banjiri air mata.
"Dia itu penghianat Dev, dia sembunyiin fakta kalau ternyata Dea adalah anaknya Devi dari gue." Lapor Erina.
"Gue nggak bermaksud kayak gitu Er!" Albi hendak menyentuh tangan Erina, namun Devan mencegahnya, dia seperti ingin membesar-besarkan kesalahan Albi.
"Jangan sentuh dia. Oh gue tau sekarang, apa jangan-jangan loe sekongkol kan sama Dea? Loe ikut terlibat juga dalam kasus pembunuhannya Ameera? Dan loe pura-pura peduli sama Erina buat nutupin kebusukan loe itu? Iya kan? Ngaku loe!" Wajah Devan terlihat menantang, Albi tercengang mendengar penuturan Devan. Bagaimana bisa dia menarik kesimpulan seperti itu? Albi mulai terpancing emosinya, apalagi saat melihat Erina yang berpegangan pada lengan Devan.
"Loe jangan asal bicara ya Dev! Loe kalau nggak tau duduk permasalahannya mendingan diem dan tutup mulut loe itu!" Seru Albi dengan nada tinggi, telunjuknya kini hampir menyentuh wajah Devan.
"Apa? Loe mau ngelak? Dasar PENGHIANAT!" Devan berseru dengan penuh penekanan pada kata penghianat, terlihat sangat menantang. Membuat Albi semakin kalap. Oke, mulutnya bisa diam sekarang, namun tangannya yang mulai bicara.
BUKKKK!
Kepalan tangan Albi mendarat dengan mulus di wajah Devan.
___________________
Mampus loe Dev. 😁😂
Oke, drama belum berakhir, disini Albi bakalan terus memperjuangkan Erina meskipun Erina kecewa sama dia, karena jujur Albi sangat mencintai perempuan labil dan nggak punya pendirian itu. Sikap Erina yang marah-marah kayak gitu menurut othor wajar sih, mengingat si Erina kan anak baru gede yang belum punya banyak pengalaman.
Pasti semua orang juga pernah melalui masa-masa mencari jati diri kayak si Erina ini.
__ADS_1
Disini Albi memiliki sikap yang dewasa ya, dia bisa berpikir panjang sebelum bertindak yang nantinya dia bakalan membimbing Erina menjadi lebih baik lagi. Dia itu bisa menutupi kekurangan Erina.